
Mencintaimu, membuat hidupku penuh warna. Pernah berwarna hitam pekat, saat lagi-lagi kamu menghancurkan harapanku untuk menjagamu. Pernah memerah darah, kala ku lihat tangismu tak terhenti karenanya, Mas Rudmu yang cemen itu. Dan kini, hatiku bersemu merah jambu karena berhasil memilikimu setelah langkah panjang yang harus ku lalui.
Memilikimu, aku pikir adalah puncak rasaku. Nyatanya, kini rindu malah bersanding manis dengan cintaku. Meninggalkanmu dua hari saja, ternyata sudah berhasil membuncahkan rasa untuk segera menemuimu.
Perjalanan udara satu jam dari Yogya ke Jakarta, rasanya lebih panjang dari waktu sang bulan untuk menunggu tenggelamnya sang mentari. Dan, perjalanan satu jam dari bandara ke apartemenku, rasanya melebihi panjangnya penantian malam untuk menunggu pagi yang cerah.
Ku rebahkan ragaku di ranjang sebentar, sebelum aku bersiap untuk menjemputmu pulang kerja. Ku pandangi wajah manismu yang ku simpan di galeri HPku. Bukan wajahmu yang sekarang, tapi wajah polosmu saat masih berseragam putih biru. Wajah yang sanggup membuatku jatuh cinta saat pertama melihatmu. Wajah yang begitu manis dengan senyum sempurnamu. Dan gigi gingsulmu itu, makin membuatku terjerat pesona indahmu.
Menikmati indahmu, selalu membuatku melupakan begitu banyak waktu yang ku miliki.
Dan ... oh benar, kali ini pun aku sudah menghabiskan waktuku untuk menikmati keindahanmu, aku sudah harus segera bersiap menjemputmu.
"Aku harus wangi dan rapi," gumamku.
Selalu teringat jelas di benakku, saat pertama kali kamu memujiku, memuji karena aku yang selalu rapi dan wangi. Dan itu, akan selalu aku berikan kepadamu, membahagiakanmu adalah bagian dari cintaku padamu.
Waktuku untuk segera menemuimu terpending 30 menit untuk berusaha tampil semaksimal mungkin. Aku mencari celah dari penampilanku, "Aku terlalu tampan untuk bisa menemukan kelemahanku,"
Segera ku sambar kunci mobilku di nakas. Ku bawa mobilku melaju membelah kepadatan jalanan menuju kantormu. Hatiku semakin bergelora saat detik untuk segera menikmati senyum manismu tinggal sekejap mata. Ku masuki area kantormu, dan ku dapat melihatmu diantara 4 orang yang sedang berdiri di lobi.
Sayang, siapa lelaki di sampingmu itu? Sosial distancing, Sayang! Jangan buat aku tak sehat karena melihatmu begitu dekat dengan lelaki berkemeja maron itu.
"Kekasihku, jangan sampai virus cintamu mengontaminasi hati lelaki itu," gumamku dalam kekhawatiran.
Ku hentikan mobilku tepat di hadapan mereka. Harusnya ini jadi momenku untuk mengagetkanmu, Sayang. Namun, justru aku yang terkejut dengan kehadiran lelaki itu di dekatmu.
Dimana aku pernah melihatnya? Wajahnya nampak tak asing di mataku. Hmmm ... ya ... aku mengingatmu ....
__ADS_1
"Aku pemilikmu, dan aku yang akan selalu memenangkan hatimu, Sayang." gumamku penuh keyakinan.
Aku tak boleh terlihat seperti seorang pecundang di hadapnya. Ku siapkan senyum terhangatku, dan ku ayunkan langkahku mendekati kalian berempat.
"Hai, semua," sapaku untuk semua pemilik mata yang melihatku menggamit pinggang indah Rosaku.
Ku khususkan pandanganku pada lelaki asing itu, "Kita bertemu lagi."
"Dion, pacar Rosa," kenalku dengan penegasan status pada lelaki yang kemudian ku ketahui bernama Aryan itu.
Tenang sekali kamu, wahai lelaki yang ku yakini menaruh rasa untuk kekasih hatiku. Baiklah, aku ikuti permainanmu. Aku berikan kamu sedikit waktu untuk dapat mengenal kami. Ahh ... aku yakin bukan kami yang ingin kamu kenal, tapi hanya Rosa ku.
Ku putuskan untuk menemani kalian nonton sekaligus ku tawarkan mobilku untuk membawa kita, padamu lelaki yang akan terjebak dalam lingkar romansa cinta segitiga bersamaku dan Rosaku. Akan ku pastikan seberapa besar rasa yang kau tawarkan pada pemilik rasaku.
Ketenanganku, perlahan dan pasti mulai terusik dengan kebucinan Rendra dan Maya.
"Aku tau diri, Rosa pasti memilihmu, Kawan," ucapmu yang semakin mendidihkan titik-titik amarahku.
Hai, Aryan! Aku paham makna di balik kalimatmu itu. Kau menginginkan milikku. Kau tau Aryan, rasanya ingin ku bungkam saja mulutmu itu.
Jika saja kamu tak segera turun dari mobilku, ku pastikan bahwa kamu akan mengerti bagaimana aku menjadi seorang yang egois untuk mempertahankan milikku. Untunglah, kamu masih selamat dan aku juga akan menyelamatkan gadisku dari bidikan rasamu.
Kepekatan kecemburuan yang melingkupi hatiku, membuatku tak sanggup lagi untuk membawamu ke tempat lain.
Maaf, Sayang, aku harus membawamu ke apartemenku.
Tempat ini terlarang untukmu, tapi aku tak tau lagi di mana aku bisa menjelaskan apa yang ku rasakan selain di tempat ini.
__ADS_1
"Kamu milikku, hanya milikku," ucapku egois saat apartemenku sudah menjadi setting latar untuk sebuah pelukan yang ku alamatkan untukmu.
Cup!
Aku khilaf, mengambil sentuhan pertama di bibirmu. Aku terbakar rasa dan kini aku menyesalinya. Aku takut ... aku takut kamu menurunkan rating bintang untuk kesopananku padamu. Bagaimana aku harus menghapusnya? Menghapus sentuhanku di bibirmu dan ingatan ketidaksopananku padamu.
Cup!
Aku tersentak saat tiba-tiba saja, kamu mencuri sentuhan di bibirku. Aku tak pernah berani meminta ini padamu, tapi malah kamu yang merelakannya untukku.
Ku tempelkan telunjukku di bibirmu, "Simpan ini setelah aku menghalalkanmu."
"Kesalahanku karena telah mencurinya dan pembalasan yang kamu berikan, adalah kesalahan yang jangan sampai kita ulangi lagi, sebelum aku merengkuhmu dalam tanggung jawabku sebagai imammu. Aku khilaf telah mengambil hal yang amat kamu jaga, aku gagal menjagamu, maafkan, aku!" Aku melepaskan tanganmu yang masih melingkar di leherku.
Melihatmu menunduk karena malu, sungguh membuatku semakin gemas. Aku bahagia kamu mulai berani padaku, meski bukan ini yang ku inginkan. Ku acak rambut di puncak kepalamu, "Jadilah Rosa yang menggemaskan, jangan agresif."
"Aku ada sesuatu untukmu," ungkapku seraya memakaikan sebuah gelang rantai berwarna silver bermata biru di pergelangan tanganmu.
Taukah kamu, Sayang, ini adalah gelang yang diamanatkan Eyang untukmu, hadiah dari beliau yang dititipkan waktu aku ke Yogya kemarin. Eyangku sangat menyukaimu. Beliau bilang, jangan sampai gelang ini terlepas dari tanganmu, biarkan gelang ini terikat dengan lenganmu. Seperti itulah, aku juga akan selalu menggandengmu untuk melewati setiap langkah yang akan kita lalui bersama selamanya.
Aku tau, kamu selalu penasaran dengan semua hal yang ku titipkan padamu, anting dan gelang ini. Ku ungkap alasan di balik anting dan ku biarkan gelang ini, memberimu penjelasan hanya lewat pikiranku. Aku senang membuatmu seperti ini, Aku menikmati rengekan manjamu di hadapanku.
Aku memang suka sekali menggodamu, Sayang. Seperti saat kamu tak sadar sedang minum di bekas bibirku, dan kamu terlihat amat lucu saat terlambat menyadarinya. Percayalah, hal sekecil ini saja sudah membahagiakanku, membuang kecemburuan yang sebentar lalu membakar hebat emosiku.
Bahagia seperti ini kadang membuatku takut untuk bertindak kebablasan terhadapmu. Ku biarkan kau mandi, agar aku bisa melepas kegemasan yang akan semakin liar. Akan ku siapkan makan malam untukmu, spesial. Ini adalah caraku mencintaimu.
"Mencintaimu berarti mempersiapkan diriku untuk selalu membahagiakanmu. Termasuk skill memasakku. Akan ku pastikan, kamu tak akan menyesal karena memilihku. Kamu akan mendapatkan paket komplit. Diriku yang tampan, mapan dan membahagiakan dengan penuh pengalaman. Itu aku ... iya ... aku ... bukan Aryan!
__ADS_1