
"Kalian mesra sekali, aku jadi iri," sebuah suara mengagetkanku. Spontan ku tolehkan pandanganku ke depan. Kursi di barisan depanku sudah memutar sempurna dan membuat kami saling berhadapan. Dua pasang mata yang berbeda kepemilikan menatapku dengan sorot mata yang berbeda. Sepasang mata teduh menyipit berbalut senyum dan sepasang mata dengan sorot dingin menghujam tepat di pandangan mataku. Mereka!
Pak Aryan
Mas Rud
Deg!
Seketika jantungku seolah menjeda detaknya. Pasokan oksigen ke otakku berhenti. Pikiranku tak bisa mengartikan apa yang ada di hadapanku. Napasku tercekat, ini situasi yang sangat tidak baik untukku. Berhadapan dengan tiga lelaki yang mewarnai hariku beberapa waktu terakhir ini, sungguh membuatku tak bisa berpikir.
"Makanlah, Sayang," kata-kata Dion memberiku sedikit asupan energi untuk mengembalikan sukmaku yang sempat mengembara.
Dengan susah payah, mi goreng di piringku ini, berusaha ku telan. Berat ... berat sekali rasanya. Aku tak memiliki gangguan dengan kehadiran mata yang berada di seberang Dion, tapi aku bermasalah dengan lelaki yang tepat di hadapanku.
Canggung!
Berada di depannya, aku tak tahu bagaimana dengan perasaanku. Desiran rasa yang susah ku jabarkan. Tak ingin ku pandang wajahnya, ku hindari tatapan manik mata yang tajam itu. Ku pilih untuk fokus menyantap miku.
"Hei, Sa! Apa kamu tak berniat menawariku makan?" celetuk Pak Aryan memecah kesunyian.
Ingin ku jawab tapi aku teringat jika tunangan di sebelahku ini juga menaruh cemburu untuk Pak Aryan. Akhirnya ku pilih untuk mempercepat menguras piringku. "Habis, Pak," ucapku kemudian. Ini adalah cara teraman meredam kecemburuan sekaligus memecah kekakuan.
"Dion, apa kamu tidak berniat mentraktirku?" Pak Aryan seolah jadi moderator, penghubung komunikasi di tengah kekakuan suasana ini.
"Kamu yang seharusnya mentraktir kami semua," balas Dion mulai mencairkan suasana dengan sedikit gurauannya.
Di tengah percakapan antara Dion dan Pak Aryan, aku mencuri pandang pada sosok di depanku. Tak ku sangka dia juga sedang menatapku. Beberapa detik kami terpaku, saling menatap dan membiarkan perasaan kami bergulir begitu saja.
__ADS_1
Tatapannya yang menghanyutkan itu masih sama, menghanyutkan. Aku tak mau seperti ini tapi nyatanya aku tak bisa menolak apa yang terjadi. Aku tersentak saat tiba-tiba jemariku digenggam Dion. Segera ku alihkan pandanganku. Ku pandang Dion, dia masih ngobrol dengan Pak Aryan. Namun aku yakin dia menyadari apa yang baru saja terjadi antara aku dan Mas Rud, hingga dia menggenggam tanganku sebagai kode.
Pandanganku, ku hujamkan pada tanganku yang berada di genggaman Dion. Menyadarkanku bahwa dia adalah lelaki yang ingin ku ajak melewati lika-liku percintaanku. Bukan lelaki di hadapanku yang sudah menjadi masa lalu. Iya ... masa lalu yang menyakitkan.
"Apa kalian kedinginan? Dari tadi aku perhatikan selalu saling menggenggam," tanya Pak Aryan kembali melunakkan suasana canggung.
"Saya takut ditinggalkan, Pak. Saya gak mau sendirian," jawabku menyindir Mas Rud.
Entahlah, kenapa aku bisa melakukan itu. Apakah ini caraku untuk meluapkan kemarahan pada Mas Rud yang telah tega meninggalkanku tanpa penjelasan? Ataukah isyarat agar Dion tak meninggalkanku dengan kedua lelaki ini, khususnya Mas Rud. Aku sendiri tak mengerti, perasaan apa yang sedang berkecamuk di hatiku.
Aku mencintai Dion, ingin bersamanya. Namun, Mas Rud? Mengapa aku harus canggung di hadapannya?
"Aku, mau ke toilet, dulu," izinku pada Dion begitu aku menyelesaikan makan dan minumku. Rasanya engap sekali harus berbagi napas dengan mereka bertiga, terlebih harus menahan pandangan di hadapan Mas Rud. Aku benar-benar tersiksa.
"Untuk apa sebenarnya aku ke toilet?" gumamku.
Apakah hanya untuk menghindarinya? Melarikan diri dari kungkungan perasaan yang menyiksa. Sungguh pengecut sekali diriku. Keyakinan yang selalu ku gembar-gemborkan di hadapan Dion mengapa luluh seketika saat Mas Rud ada di hadapanku. Aku tak lagi mencintainya! Ku yakinkan itu tapi kenapa ada rasa canggung yang menggila?
Rosa ... abaikan Mas Rud! Ingat janji yang telah kamu ucapkan untuk Dion. Bukan untuk kebahagiaan orang lain tapi untuk dirimu sendiri. Untuk membuktikan bahwa kamu bisa menjaga hatimu.
Ku buang napas kasar. Memejamkan mata beberapa saat untuk menguatkan diri. Menguatkan hati yang sudah kuat tapi sedikit mengendur karena dia. "Aku benci Mas Rud!" pekikku tertahan.
*****
Pak Aryan PoV
"Kalian mesra sekali, aku iri?" ucapku mengejutkan kalian.
Rupanya aku salah, kalian bukan lagi terkejut tapi lebih besar dari itu, kalian shok. Terlebih kamu, Rosa. Dan aku menyadari semua itu bukan karena kehadiranku melainkan kehadiran lelaki di sampingku, Rud.
Ku tangkap gurat keresahan di wajahmu. Sebesar apa rasa yang pernah kalian miliki hingga aku bisa menangkap buncahan rasa yang begitu kuat di antara kalian berdua. Kaku ... kaku sekali suasana. Tak ku temukan dirimu yang biasanya ceplas-ceplos di hadapanku.
__ADS_1
"Makanlah, Sayang," ucap Dion yang ingin mengubah fokusmu dari Rud ke makanan yang ada di piringmu.
Rupanya lelakimu itu juga merasakan apa yang ku rasa. Ah ... tentu saja! Semua orang juga bisa melihatnya. Itu sangat kentara. Ku lihat kamu sangat berusaha keras untuk menata hatimu. Namun aku yakin kamu kesulitan melakukannya.
"Hai, Sa! Apa kamu tak berniat menawariku makan?" ku coba bergurau untuk mengurai ketegangan kalian semua.
Berharap akan ada keketusan yang biasanya kamu ucapkan saat aku menggodamu. Namun lagi-lagi aku gagal. Bukannya menjawab, kamu malah secepat kilat menelan mi yang masih tersisa. "Habis, Pak." ucapmu.
Aku lupa, Sa! Lupa, jika lelakimu itu bukan hanya cemburu pada Rud tapi juga cemburu dengan kehadiranku. Aku? Pantaskah dia mencemburuiku? Jika kamu saja hanya menganggapku sekadar teman, tak lebih dari itu.
"Dion, apa kamu tidak berniat mentraktirku? Ku tumbalkan diriku malam ini untuk menjadi moderator, penghubung komunikasi agar ada keriuhan suasana bukan kebekuan yang menusuk.
"Kamu, yang seharusnya mentraktir kami semua," balas kekasihmu dengan sedikit senyum yang dia paksakan.
Ya ... ya ... ya ... aku bisa melakukan itu! Bukan hanya sekadar mentraktir. Bahkan aku bisa membeli cinta Rosamu itu, jika aku sudah kehilangan akal sehatku. Namun, kamu bisa tenang, aku masih cukup waras untuk bisa menjaga martabatku.
Cinta bukan sesuatu yang bisa didapatkan dengan uang. Mungkin banyak di luaran sana, wanita yang rela menggadaikan cintanya untuk sebuah kemewahan. Namun itu tak berlaku pada Rosamu. Dia wanita yang mengagungkan cinta di atas materi. Dan itu hal istimewa dari wanitamu, wanita yang sebenarnya ku inginkan meskipun aku tahu itu hanyalah sebuah mimpi. Tak ada yang salah dengan sebuah mimpi. Aku bebas bermimpi asalkan aku harus sadar jika aku terbangun, maka mimpi tinggallah mimpi. Bunga tidur yang akan layu dan mati.
Di tengah percakapanku dengan lelakimu, aku sebenarnya sadar jika kamu dan Rud terjebak dalam telepati. Pandangan mata kalian bersatu, hati kalian berbicara tentang rasa yang masih tersimpan. Dalam ... mungkin terlalu dalam perasaan kalian hingga mata dan hati kalian saja bisa mencurahkan rasa yang pernah ada dan belum hilang sepenuhnya.
Aku juga menangkap jika lelaki di depanku ini sebenarnya menyadari yang terjadi di antara kalian berdua. Hanya saja ia berpura-pura tak mengetahuinya. Ia tetap mengobrol denganku. Namun gesturnya tak bisa membohongiku. Dia menggenggam erat tanganmu. Aku tahu dia sedang mengingatkanmu jika saat ini, ada dia yang memilikimu, bukan lelaki yang sekarang sedang kamu pandang.
"Apa kalian kedinginan? Dari tadi ku perhatikan kalian terus-terusan gandengan tangan," ucapku untuk melunakkan ketegangan.
"Saya takut ditinggalkan, Pak. Saya gak mau sendiri," jawabmu yang terdengar ambigu di telingaku.
Aku yakin, Dion tak akan meninggalkanmu. Cintanya yang begitu besar bisa aku rasakan. Bahkan aku sebagai lelaki, memberinya applause untuk itu. Lalu ... siapa yang akan meninggalkanmu? Akan atau sudah? Oh ... aku tahu sekarang! Rupanya Rudlah yang sudah pernah meninggalkanmu. Bodoh sekali dia! Apapun alasan yang mendasarinya, ku nilai dia sudah salah besar mengambil keputusan itu. Karena yang bisa ku tangkap bukan hanya kamu yang terluka tapi dia pun sama.
Sungguh lingkaran cinta yang sangat membingungkanku. Ada apa sebenarnya antara kamu, Dion dan Rud?
"Aku mau ke toilet dulu," tiba-tiba kamu ingin meninggalkan kami bertiga.
__ADS_1
Ini situasi yang ku nantikan. Apa yang akan terjadi berikutnya? Aku ingin mendengar apa yang akan kalian bicarakan.