
Pak Aryan PoV
Hening ...
Ku sibukkan pikiranku dengan mengisi dua nama lelaki yang berada di dekatku ini. Dion sang tunangan yang sibuk dengan HP di tangannya dan juga sang mantan yang menatap dingin ke luar jendela. Aku yang berstatus teman, ingin mengubah hening ini menjadi riuh santai tapi aku enggan. Tak ku pahami bagaimana mereka menjalin hubungan sebagai orang yang sama-sama memiliki rasa padamu.
"Rud, apakah aku perlu mencarikanmu wanita single agar kamu tak lagi mengejar Rosaku?" Dion memecah sunyi.
Rud yang diajak berbicara masih menampakkan wajah dinginnya. "Kembalikan saja Rosa padaku! Hanya dia yang ku mau," jawab Rud dengan senyum seringainya.
Panas ... dinginnya AC yang berembus ku rasa sedang tersesat di antara kekakuan yang tercipta antara dua hati yang sedang bertikai. Kalian berdua sibuk saling mencurigai, apa kalian tidak sadar? Kalian kecolongan, di sini juga ada aku yang mencintai wanita yang kalian perebutkan. Aku! Seorang pencinta yang tak berharap untuk dicintai. Kalian itu harusnya sadar, cinta itu membahagiakan. Membahagiakan orang yang kalian perebutkan. Harusnya, biarkan Rosa untuk memilih siapa lelaki yang dia inginkan di antara kalian. Atau mungkin aku yang malah dia inginkan.
Aryan ... kamu jangan kePDan!
Iya ... iya ... aku sadar diri.
"Apakah kamu tidak malu, mengejar wanita yang sudah menolakmu?" Dion kembali menyindir Rud.
"Harusnya pertanyaan itu kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Sepuluh tahun ditolak tapi tetap mengejar-ngejar. Apa itu tidak lebih memalukan?" ungkit Rud untuk membuat Dion kalah telak.
Mereka sibuk berdebat tentang malu dan mengejar. Sepertinya mereka tidak sadar jika aku sedang mengejar wanita yang kalian kejar. Namun bedanya, aku tidak malu mengakui jika aku rela hanya dianggap sebagai teman. Dan buatku itu tidak memalukan.
"Aku mengejar Rosa dengan status single-nya. Tak sepertimu yang masih kekeh mengejar walaupun dia sudah berstatus milikku," Dion tak mau mengalah.
"Selama akad itu belum terjadi, tak ada pemilik sah atas diri Rosa. Aku masih berhak untuk merebutnya," ucap Rud dengan senyum smirknya.
"Silakan kamu rebut! Aku yakin Rosa masih ingat bagaimana kejadian yang membuatku bisa merebutnya darimu," balas Dion telak.
Semakin panas! Perdebatan mereka teramat seru untuk ku tinggalkan, aku bahkan menantikan baku hantam. Ah ...jahatnya aku!
Tidak!
Hal itu tak boleh terjadi. Rosa akan merasa bersalah jika kalian sampai saling pukul karenanya.
Sudahlah, berdamailah kalian!
Ku tinggalkan mereka berdua, biarlah lelaki yang sudah dewasa itu menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin.
Ku tuju toilet yang berada di antara dua gerbong yang sedang melaju dengan kencangnya. Ku sandarkan tubuhku, menunggumu keluar.
Ceklek!
Pintu toilet di depanku dibuka dari dalam. Ku lihat kamu keluar dengan wajah yang lebih segar. Ku hadang langkahmu sebelum sempat berjalan menuju ke tempat dudukmu.
"Mereka sedang mengobrol, tunggulah di sini," perintahku.
Langkahmu terhenti dan memilih bersender pada dinding tepat di sebelahku yang juga bersender. "Apakah mereka sedang berdebat?" tanyamu.
Ternyata kamu pun bisa menebak yang terjadi setelah kepergianmu. Aku jawab pertanyaanmu dengan gumaman "ehmmm" , itu saja. Tak ingin memperkeruh suasana jika aku terlalu banyak bicara. Kami saling terdiam untuk beberapa waktu sampai kamu memilih untuk mengajakku mengobrol.
__ADS_1
"Ini kebetulan atau kesengajaan?" tanyamu penuh selidik.
"Rosaku telah kembali," gumamku lirih.
"Mungkin kita jodoh," jawabku enteng.
"Cukup mereka berdua saja yang memperebutkan saya, Pak. Jangan ikut-ikutan atau saya akan marah," ancammu.
Mendengar ancamanmu, tak akan membuatku mundur. Aku justru senang. Senang karena itulah yang selalu ku nantikan. Ancamanmu, keketusanmu, asal kamu tahu itu adalah bahagiaku. Aneh memang! Namun begitulah cintaku.
Aku bukan Rud yang hadir kembali setelah merelakanmu diambil lelaki lain. Dan aku juga bukan Dion, pejantan tangguhmu yang akhirnya berhasil memenangkan hatimu. Aku adalah aku! Aryan, sang pencinta yang penuh keikhlasan.
"Bapak yakin cinta sama saya?" tiba-tiba kamu bertanya tentang perasaanku.
"Tidak! Untuk apa aku mencintai tunangan orang?" jawabku.
"Tapi ... bohong!" sergahmu.
"Iya," aku ku.
Diam ...
Aku benci seperti ini. Merasa canggung ketika bersamamu. "Sa, ketusin aku, dong! Aku ingin yang terjadi pada Dion, terjadi juga padaku," pintaku dengan senyum smirk.
"Awww ...," pekikku menahan sakit karena kamu menyikut perutku dengan tenaga ekstra.
Kamu pun lantas berjalan menuju gerbong kita. Ku ikuti dengan langkah pasti dan senyum tersungging. Bahagiaku hari ini, mendapatkan keketusanmu.
*****
Dua lelaki itu nampak sedang mengobrol. Terlihat kaku karena wajah mereka sama-sama datar tanpa senyuman. Terang saja, aku yakin jika mereka sedang membicarakanku, sama-sama kekeh untuk mendapatkan hatiku.
Huh ... aku lelah seperti ini. Ku langkahkan lagi kakiku yang sempat terhenti. Menyiapkan Oksigen ekstra untuk cadangan napas saat aku kembali bersama mereka.
Tanpa permisi, langsung ku lewati Dion yang duduk di pinggir. Kemudian duduk tanpa menghiraukan Mas Rud yang ada di hadapanku. Perlahan ku rebahkan kepalaku di bahu Dion.
"Tidurlah jika sudah mengantuk, aku akan menjagamu," janji Dion seraya membelai puncak rambutku dan meninggalkan sebuah kecupan lembut di sana.
Mataku yang tak sengaja melihat Mas Rud menemukan jika ia tak menyukai apa yang baru saja ia lihat. Adegan mesraku dengan Dion sanggup membuatnya melengos dan menghela napas dalam. Sebentar kemudian matanya terpejam. Entah apa yang sedang terjadi dengan hatinya.
Mas, jangan membuat hatiku ragu! Bukan hal yang mudah untuk melupakanmu. Tidak sedikit waktu yang ku butuhkan untuk bangkit dari rasa sakit yang kamu tinggalkan. Dan bukan orang lain, Dionlah yang selalu ada untukku saat aku terpuruk. Ku mohon jangan mengusikku, lagi!
Ku tundukkan pandanganku. Mata itu sungguh membuatku terhanyut dengan sorotnya. Seolah bisa berbicara dan aku bisa mendengarnya.
Stop!
Aku sudah tidak tahan lagi. Ku tegakkan tubuhku. Melihat benda yang melingkar di pergelangan tanganku, menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Dion sudah terlelap, begitupun dengan Pak Aryan. Hanya aku dan dia yang masih terjaga. Keadaan semakin membuatku tak nyaman. Berdua dalam kesunyian dan kedalaman perasaan yang mencekam.
Ku tinggalkan dia, melangkah menyusuri lorong di antara kursi-kursi yang berpenghuni dan berhasil mencapai ruang kosong di antara dua gerbong yang tengah melaju. Ku hela napas panjangku. Menyandarkan tubuhku yang sedang lelah jiwa.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, kamu tak bisa pura-pura kalau cinta kita sudah usai. Jujurlah kalau kamu memang masih mencintaiku!" suara itu tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.
Terkesiap! Aku tak siap dengan kehadirannya yang sudah mengganggu waktu sendiriku. Belum sempat ku berpikir untuk menghindarinya, dia sudah memangkas jarak diantaraku dengannya. Tanpa permisi dia sudah menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Lembut ... lembut ... dan semakin lembut saat lidahnya mulai bermain di dalam mulutku. Memberikan sentuhan hangat yang sanggup membuatku terhanyut. Darahku berdesir dan air mataku meluruh. Entahlah perasaan apa yang sedang menjalariku. Dia terus memainkan lidahnya dan membuatku semakin tak bisa berpikir bahwa ini adalah sebuah kesalahan.
"Lihatlah, bahasa tubuhmu saja tak bisa menolakku!" bisiknya setelah melepas pag*tannya.
Plak!
Ku layangkan tamparan begitu aku sadar telah terjebak perasaan masa lalu dengannya. Ingin segera beranjak darinya tapi dia malah menarik pinggangku untuk merapat ke tubuhnya. Sebelah tangannya ia gunakan untuk menelusup ke tengkukku, menariknya dan kembali ia mem*gut bibirku. Masih dengan kelembutan yang sama bahkan lebih lembut dan penuh ga*rah. Dan bodohnya, lagi-lagi aku terhipnotis meski aku segera dapat menguasai diri. Berusaha ku lepaskan bibirku tapi ia malah semakin mengeratkan tangannya yang menelusup di tengkukku. Lidahnya semakin membelit tak terkendali.
"Awww," dia melepaskan bibirku setelah ku gigit lidahnya.
Ku injak kakinya dan ku hempas tangannya yang masih melingkar di pinggangku.
Plak!
Tak ku ucapkan sepatah kata pun. Ku tinggalkan dia tanpa menoleh. Hatiku bergemuruh tapi aku lega sudah menamparnya. Tamparan karena kekurangaj*ran yang baru saja ia lakukan, untuk dosa yang sempat aku nikmati.
Aarrgghh!
Berantakan! Dia sudah membuat hati dan moodku berantakan.
Huft!
Lagi-lagi ku hela napas panjang sebelum mendekati kursiku. Dion masih terlelap. Namun Pak Aryan, dia sudah terbangun. Menatapku dan kemudian menatap seseorang yang berada di belakangku, yang ku yakin itu adalah Mas Rud.
Cuek!
Aku yakin Pak Aryan cukup pintar untuk menduga apa yang terjadi antara aku dan Mas Rud. Biarkan, saja! Toh, dia juga mengerti bagaimana ruwetnya perasaan kami.
Tak ada kata yang terucap diantara kami bertiga. Aku dan Mas Rud kembali duduk. Saling berhadapan tapi mata kami sama-sama menoleh ke luar jendela. Dan dari sana bisa ku lihat pantulan wajahnya.
Aku menoleh saat tiba-tiba Dion menggenggam tanganku dengan mata terpejamnya. Lelaki ini, apakah ia sedang menutup mata dengan segala yang terjadi. Sebenarnya tahu tapi ia tak mau tahu. Benarkah begitu?
Ku balas genggamannya dengan kedua tanganku. Menggeser tubuhku dan kembali menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia belai rambutku masih dengan mata terpejamnya. "Tidurlah disampingku, jangan begadang sepanjang malam!"
Deg!
Ya ... Tuhan ... dia tahu! Aku yakin dia tahu semuanya. Bagaimana ini? Mengapa dia diam saja?
"Maafkan, aku!"
*****
Hai, semua! Kalian sebel gak sih nungguin up Tentang Hati? Kalau iya, sambil nunggu coba deh mampir di novel temen-temen Aldekha Depe. Ceritanya bagus-bagus, malah pada lebih bagus loh, silakan mampir, ya!
__ADS_1