Tentang Hati

Tentang Hati
Foto Yang Berbicara


__ADS_3

"Kita temuin pengantin baru, yuk! Kita udah lama meninggalkan mereka," ajakku mencari keselamatan jiwa raga.


"Ayo! Kita main pengantin baru!" ucap Dion dengan senyum culasnya.


Sebuah cubitan ku hadiahkan pada pahanya. "Jangan mesum terus, halalin dulu!"


"Kalian jangan pacaran, aja! Tuh ditungguin buat foto bersama," Om Septian sudah berkacak pinggang di deket kami.


Rupanya benar, jika orang berpacaran itu dunia serasa milik berdua. Aku membuktikannya sendiri, karena asyiknya bercengkerama sampai kami tak menyadari kehadiran Om Septian. Dion terlalu indah untuk ku abaikan dan fokusku ke dunia sekitar menghilang saat aku bersamanya. Seakan aku terhipnotis oleh pesonanya.


Aku segera menjaga jarak dari Dion. Merasa malu karena tertangkap basah sedang memadu hati dalam cinta. Sementara Dion cuek, tak sedikitpun menggeser tubuhnya dari hadapanku.


"Punya pacar cantik dianggurin, Om? Rugilah," celetuk Dion tanpa rasa canggung.


Cup!


Tiba-tiba saja Dion mencium pipiku lembut. Senyumnya sengaja ia pamerkan untuk membuat Omnya semakin panas.


"Dasar, ponakan gak peka. Om kan juga pengen," gerutu Om Septian seraya beranjak melangkahkan kakinya.


"Ayo!" ajak Om Septian sebelum keluar dari pintu.


Aku segera bangun dari dudukku. Mengambil langkah maju, agar tidak lagi ditahan oleh Dion dengan manjanya. Alhasil Dion pun mengikuti langkahku. Terperanjat saat tiba-tiba telingaku tersapu oleh napas hangat dan suara manjanya.


"Kamu semakin membuatku tak bisa jauh darimu."


Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arahnya. "Jarak dari sini ke pelaminan Maya deket, Sayang! Kalau kamu terus-terusan gombalin aku, kita bisa nyampek tahun depan."


Kulihat dia tersenyum, aku pun kembali melangkah meninggalkannya.


"Ini dia yang kita tunggu!" ucap lantang Mas Rendra.


Semua orang pun lantas menoleh ke arah kedatangan kami. Pandangan mereka seperti paparazi yang menangkap basah pasangan selingkuh dan siap menjadikannya berita utama. Berbagai pertanyaan siap mereka hujankan pada kami.


"Yang nikah aku loh, Bro! Kenapa kamu yang mesra-mesraan terus?" sindir Mas Rendra.


Emang mulut Mas Rendra gak ada filternya. Ngomong begitu di hadapan keluarga besar. Aku kan jadi malu dan canggung. Beda dengan sepupunya yang memang tak tahu malu dan gak jaim.


"Aku mewakilimu," jawab Dion enteng.


"Buruan disahkan saja mereka, Mbak yu!" saran Ayah Mas Rendra pada Mami.


Mami malah tersenyum seraya melihatku. "Mau aku nikahin siri dulu aja mereka. Anak laki-lakiku ini rupanya sudah tidak sabar mencicipi malam pertama."


Apa lagi ini Mami? Dasar keluarga mereka, ya. Blak-blakan semua orangnya. Mencicipi malam pertama itu, kan? Ah ... tabu sekali dibahas, apalagi di keramaian begini. Benar-benar mengulitiku habis-habisan. Rasanya aku ingin mempraktekkan ilmu menghilang yang ku lihat di sinetron Jinny Oh Jinny. Malu!


Yang bisa ku lakukan hanya bersembunyi di balik senyuman canggung.


"Ide bagus, Mi. Secepatnya saja, ya!" Dion merasa mendapatkan jalan untuk memuluskan aksi mesumnya.

__ADS_1


"Nanti malam, kita nikahkan mereka! Ayo, kita foto keluarga, dulu!" Ayah Mas Rendra memutus rantai obrolan yang sukses membuatku terjepit rasa malu.


Eyang, Ayah dan Bunda, Dion sekeluarga dan juga Om Septian mencari posisi yang pas untuk berpose. Setelah mendapatkan arahan dari fotografer, akhirnya dapatlah beberapa foto dengan formasi anggota keluarga lengkap.


"Ganti Eyang dan Om Septian, foto bareng pengantin," Ayah berucap seraya mengarahkan Eyang menuju posisinya di samping Mas Rendra. Sementara Om Septian berdiri di samping Maya.


Seluruh keluarga besar, secara bergantian berfoto bersama pengantin. Mengabadikan momen penting kehidupan Mas Rendra dan Maya. Kini giliran keluarga besar Wijaya, keluarga Dion. Dan betapa terhormatnya karena aku diajak serta, menjadi bagian dari keluarga yang masih menjadi calon keluargaku ini.


"Calon pengantin, ayo, foto sama pengantin!" Om Septian memandu sesi foto berikutnya.


"Siang ini kamu pengantinnya, nanti malam kami yang jadi pengantin baru," seru Dion dengan santainya di hadapan Mas Rendra.


"Pengantin malam kesekian," sindir Mas Rendra.


"Gak 'pa 'pa malam kesekian, yang penting namanya tetep malam pertama," seloroh Dion seraya berpose dengan menyunggingkan senyum terbaiknya.


Cekrek!


Kami pun turun dari pelaminan. Bergantian dengan keluarga dari pihak Maya. Aku memilih ikut bergabung dengan Mbak Sharika dan Mas Dito. Baby Arrki sedang menikmati bobok siangnya, jadi ditinggal di rumah dengan Mbak Rini, pengasuhnya.


"Kalian kapan balik Jakarta? Bareng Mbak, aja, yuk!" tawar Mbak Sharika.


"Dion belum bilang, sih, Mbak. Kalau Mbak kapan balik?" aku ganti bertanya.


"Sabtu sore kami baru balik, Sa," jawab Mbak Sharika.


"Kamu pindah ke kantor Dion, aja! Buat apa punya calon suami bos kalau kamu kerja di kantor lain," usul Mbak Sharika yang diangguki oleh Mas Dito.


Dion pun ikut menimpali. "Dia gak mau kerja sama aku, Mbak. Dia mau tebar pesona sama Aryan."


"Ish ... jangan fitnah kamu, Di!" gerutuku.


Siapa juga yang mau tebar pesona? Kalau aku mau, gak perlu kerja di tempat Dion. Mending aku membantu Mama di perusahaan yang ditinggalkan Papa. Bukan itu alasannya, aku hanya ingin bekerja sesuai dengan passion yang ku miliki.


"Tapi Aryan memang penuh pesona, matang dan tenang," ungkap Mbak Sharika yang di pelototi oleh Mas Dito dan Dion. "Tapi cintaku hanya untukmu, Sayang," urai Mbak Sharika kemudian untuk meredam kecemburuan Mas Dito.


"Mbak, kok malah memuji sainganku, sih," gerutu Dion.


Mbak Sharika hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat kedua lelaki itu dibakar api cemburu. "Kapan kalian balik Jakarta?" Mbak Sharika mengulang pertanyaannya yang ditujukan untuk Dion.


"Maumu kapan, Sayangku?" tanya Dion sambil membenarkan letak rambutku yang tertiup angin.


"Terserah kamu, tapi jangan lama-lama. Aku harus kembali bekerja," terangku.


Dion mau menjawab tapi diurungkan karena harus mengangkat teleponnya yang berdering. Dia bergerak menjauhi kami untuk mencari tempat yang tidak terlalu berisik. Sementara Mbak Sharika juga pamit berlalu karena baby Arrki terbangun. Tinggallah aku dan Mas Dito, bingung mau ngobrol apa. Karena kami baru kenal di sini. Selain itu dia juga cenderung pendiam. Untungnya Dion segera kembali sehingga kecanggungan ini bisa teratasi.


"Dion!" Panggil Om Septian dengan suara lantang sekaligus melambaikan tangan.


Sontak Dion berjalan menemui Omnya itu. Tak lama ia kembali menghampiriku. "Foto lagi, yuk!"

__ADS_1


"Lagi?" tanyaku penasaran.


Tanpa menunggu persetujuanku, Dion menggandeng tanganku dan berjalan ke arah pelaminan. "Tuh, foto berdua sama Maya! Biar nanti bisa kangen-kangenan lewat foto."


Jangan ditanya apakah aku mau! Aku pasti tak akan menolaknya. Berpuluh jepretan gambar berhasil kami dapatkan. Mulai foto yang anggun, Anggen sampai Tya Gunawan ada, Eh ...


"Gantian, dong! Kalian berdua istirahat dulu! Saatnya pria tampan bikin kenangan," papar Mas Rendra.


Awalnya ia foto sendiri. Kemudian mengajak Sepupu bucinnya untuk berkolaborasi. Om Septian pun sama narsisnya, ikut foto bertiga. Tiba-tiba Mas Rendra memanggil Pak Aryan dan Mas Rud untuk ikut foto bersama. Bikin meleleh, lima pria tampan memamerkan pose menawan.


"Berasa pengen memiliki semuanya, ya, Sa?" gumam Maya yang samar-samar terdengar di telingaku.


"Hu uh, ciptaan Tuhan terlalu indah untuk disia-siakan," jawabku begitu saja.


Pletak!


Jitakan Maya yang amat ku rindukan mendarat tepat di kepalaku. Ku usap-usap sambil menggerutu. "Sakit, tau!"


"Kamu mau kedua lelaki itu dihajar Mas Dion?" ingat Maya.


"Biar seru," jawabku sambil tergelak.


"Hai, girls! Gabung sini kita foto kenangan Dh. Satya!" panggil Mas Rendra.


Dh. Satya adalah perusahaan percetakan kami. Ini berarti yang akan foto adalah Sang Pengantin, aku, manajer dan mantan manajer. Berlima? Sepertinya bukan situasi yang baik untukku.


Dion, dimana dia? Aku celingak-celinguk tapi tak menemukannya.


"Dion lagi nerima telepon, aman," bisik lirih Mas Rendra seakan menjawab pertanyaan yang bergelayut di otakku.


Aman!


Kenapa harus kata aman yang dipilih? Seolah aku akan berbuat menyimpang. Apakah berfoto bersama mereka termasuk tindakan terlarang juga?


"Dua wanita diapit lelaki ya, biar enak dilihatnya! Pengantin di pinggir gak 'pa 'pa kan, ya?" arahan Sang Fotografer.


Mas Rendra mengacungkan ibu jarinya, tak masalah dengan ide sang pengambil foto.


Akhirnya beginilah posisi yang tercipta. Mas Rendra, Maya, Pak Aryan, Aku dan Mas Rud. Sungguh surga dunia bagiku, diapit oleh dua lelaki tampan yang menaruh hati untukku. surga dunia? Mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi neraka yang membara.


"Rapetin, Mas, Mbak!" perintah fotografer ke arahku dan dua lelaki yang mengapitku. Pak Aryan masih memberiku jarak aman, tapi Mas Rud merapat erat padaku. Belum selesai aku terganggu dengan tindakannya, dia juga melingkarkan tangan kanannya pada pinggangku.


"Siap, ya!" aba-aba kamera siap.


Cekrek!


Tepat, tepat saat aku menatap matanya karena gamitan tangannya pada pinggangku. Saling menatap dan tertangkap kamera. Oh, ini diluar kuasaku.


Tatapannya yang amat teduh, seakan berbicara tentang luka yang mendalam. Rasa yang membuncah, ingin diutarakan namun ada sesuatu yang membuatnya urung dikatakan. Sebuah rasa yang hanya mampu dipahami oleh hati yang pernah saling bertaut.

__ADS_1


__ADS_2