
"Mas," sapaku lembut.
"Hmmm, kamu memanggilku, Mas? Mengapa aku merasakan jika panggilanmu begitu mesra? Aku jadi ingin ...," Dion menjeda kalimat yang diucapkannya. Dia kemudian melepaskan pelukannya dan menggandengku untuk masuk ke kamar. Meninggalkan balkon yang menawarkan panorama malam yang indah di ibukota negara Inggris itu.
Dion melepaskan tanganku begitu langkah kami terantuk ranjang. Aku dibimbingnya untuk duduk di tepi ranjang dan dia pun duduk di sebelahku. "Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku mencintaimu, tapi tidak sebesar cintamu padaku," ucapku sambil menunduk.
Dengan lembut, Dion mengusap pipiku sebelah kiri. "Biarkan aku yang akan tetap mencintaimu lebih besar. Simpanlah cintamu yang lebih besar itu untuk anak-anak kita nanti."
"Apakah kamu tidak cemburu jika aku lebih mencintai buah hati kita daripada kamu, Sayang?" tanyaku sembari tersenyum simpul.
"Aku akan cemburu jika yang lebih kamu cintai adalah lelaki lain," jelasnya mengalihkan jemarinya dari pipiku menuju bibirku yang tersapu lipstik nude.
"Untuk apa aku lebih mencintai lelaki lain jika aku sudah berlimpah cinta darimu?" tanyaku seraya melembutkan penglihatan ke matanya.
"Aku mencintaimu," ucapnya seraya menyentuhkan bibir lembutnya pada bibir mungilku.
"Cintailah aku lebih dan lebih lagi," pintaku membalas kecupannya. Membasahi bibirnya yang selalu tampak sensual di mataku, hingga memantik sebuah gelora yang ingin dibahagiakan lebih.
"Aku akan selalu melebihkan semua yang kupunya untukmu, seperti ini," segera ia mel*mat bibirku yang dari tadi kugigit bagian bawahnya karena menahan rasa.
Lidahnya mulai menyapa, mengenalkan pada semua yang ada di ruang bicara itu bahwasanya dialah penguasa wilayahnya. Menyapu setiap jengkal dengan kehalusan rasa dan gerak yang menguras semua oksigen dan membuat napas kami semakin tercekat. nikmat tapi sekarat.
Lepaslah tautan rasa yang diwujudkan dengan bersatunya dua benda yang membangkitkan gelora itu. Saat sengalan napas tak dapat lagi diatasi maka terpaksa harus diakhiri. Mengalirkan sumber kehidupan untuk dicadangkan dan kembali bersiap untuk perjalanan yang lebih panjang.
Dion merebahkan tubuhku dengan perlahan, tangannya yang ia gunakan untuk menyangga belakang kepalaku perlahan ia tarik dan ia gunakan sebagai penyangga tubuhnya yang tengah mengungkung diriku di bawahnya. Aku terhipnotis dengan lembut tatapannya. Berada dengan jarak cukup dekat dan posisi seperti ini membuatku sungguh tak bisa mengendalikan detak jantung yang makin menggila.
Ia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Membuat kemiringan sudut yang tepat dan menyentuhkan benda kenyal itu pada pasangannya di wajahku. Bermula dari sebuah sentuhan lembut yang pelan, pelan dan kemudian menaikkan ritme gerakan. Membuka celah yang pada awalnya tertutup rapat dan memulai petualangannya di sana.
Jika jatuh cinta sendiri itu menyakitkan maka terlibat ciuman sendiri itu adalah pemaksaan. Ia menuntunku untuk ikut bermain dengannya. Berpasangan melewati sepetak ruang gelap yang akan menawarkan berjuta sensasi jika kami bisa meliuk dan membelit mengikuti arahan gerakan sang tour guide. Menjelajah sisi demi sisi hingga tak ada seinci pun wilayah yang tak tersentuh. Kenakalan kecil yang menghasilkan pekikan lirih menambah suara mengaduh yang penuh kenikmatan rasa.
Habis gelap pasti terbitlah terang. Menyelesaikan petualangan di ruang gelap kini berganti berseluncur di leher jenjang yang berlantai kelembutan berpadu kekenyalan. Tempat yang sangat tepat untuk mencetakkan sejarah peradaban baru sebagai pemilik yang sah.
__ADS_1
Buncahan rasa yang semakin mendera, menuntut untuk dimanja dengan perjalanan yang semakin menegangkan. Jalan yang mulus tanpa hambatan harus dikenalkan pada jejeran pegunungan yang penuh tantangan. Mendaki lereng terjal, berjalan memutar melewati jurang dan akan sampai pada puncak yang akan membawa pada titik pencapaian kebahagiaan. Dari situlah sebuah perjalanan inti untuk mencapai tujuan mulia akan bermula.
Menemukan sebuah persembunyian yang masih belum terjamah oleh tangan-tangan jahil yang akan merusaknya. Perlu usaha keras untuk bisa membuka akses pintu masuknya, tapi disitulah keahlian harus ditunjukkan. Perjuangan yang mengerahkan segala rasa, tenaga, dan kuasa. Tiada usaha yang akan menghianati hasil.
Saat usaha berhasil membuka tabir, tinggallah menikmati kedahsyatan dari rasa yang bernama surga dunia. Kehangatan yang akan menyembur, mengalir memenuhi sebuah rongga merupakan titik pertama yang akan berubah menjadi kumpulan titik-titik dan akan menjadi makhluk lucu menggemaskan jika tertulis jadi maka jadilah.
Deru napas yang saling berpacu meski perjalanan sudah usai, butiran keringat yang menjajakan diri sepanjang jalan yang telah dilalui akan menjadi saksi sebuah langkah baru yang sudah berakhir dan mungkin akan dimulai lagi. Dua tubuh yang kelelahan, memasrahkan diri di ranjang. Menarik selimut tebal untuk menutupi sesuatu yang tak layak diperlihatkan.
"Terimakasih," ucap Dion sembari mengecup lembut keningku yang masih dipenuhi keringat. Meraihku ke dalam pelukannya, merasakan kenyamanan hingga sama sama terlelap dalam kebahagiaan melewati malam bersejarah yang tak terlupakan.
*****
"Sayang," bisik lembut Dion yang samar-samar memanggilku yang sedang bermain di alam mimpi.
Sebuah kecupan kurasakan menghangatkan pundakku. Ya ... kami masih terbangun dalam sebuah pelukan manja yang menghangatkan. Keromantisan yang kupikir hanya ada dalam dunia novel ternyata kualami sendiri. Memiliki suami yang romantis menyadarkanku bahwa halu itu tak sepenuhnya palsu.
"Hmmm," gumamku malu, karena menyadari kalau kami hanya berselimutkan kain. Tubuh polos ini membuatmu malu, apalagi untuk melihat tubuh polosnya. Walaupun semalam mata suci kami telah ternodai, tapi kalau sadar begini, malu itu tetap saja terasa.
"Apakah kamu menyesal telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga, karenaku ?" tanya Dion dengan menyunggingkan senyumnya.
"Iya," jawabku sambil menelan ludah karena menyadari ada sesuatu yang tidak semestinya di bawah sana. Pergerakan yang menggelikan yang membuat fokusku mulai menghilang.
"Iya?" Dion mengulang pertanyaan dengan jawaban yang kuberikan.
"Iya, aku menyesal karena merelakan itu padamu semalam dan mungkin akan terulang lagi sekarang," jawabku malu-malu.
Dion terkekeh. Sepertinya menyadari jika aku sudah menemukan keganjilan dari tubuhnya.
"Memang kamu udah kapok?" tanyanya menggodaku.
Kejujuran yang menyesatkan kalau pertanyaannya begini. Dijawab iya atau enggak akan jadi bumerang buat diri sendiri. Jika iya, maka itu sama saja menyetujui ajakan petualangan yang ia tawarkan. Kalaupun menjawab tidak, rasanya juga tidak akan mengubah keputusannya untuk menikmati perjalanan kedua saat dingin masih menyergap. Maju mundur tetap kena juga.
"Iya atau tidak, kamu sudah tidak bisa keluar dari perangkap, Sayang," jelas Dion seolah bisa membaca apa yang sedang kupikirkan.
__ADS_1
"Aku atau kamu yang memulai?" tanya Dion dengan senyum nakalnya.
Diam, pertanyaan jebakan itu tak perlu aku beri jawaban.
"Aku atau kamu? Tidak ada pilihan untuk pergi mandi!" jelasnya untuk sebuah pilihan yang ada dipikiranku, pergi mandi.
"Singa yang lapar itu, hanya butuh daging, Sayang."
Kututup bibirnya dengan jari telunjukku. "Kamu bukan singa dan aku bukan daging. Ayo, qiyamul lail, dulu! Imam yang baik adalah yang membimbing makmumnya ke surga, bukan ke ...," terangku sengaja menjeda kalimat.
"Aku mencintaimu," ucapnya seraya mengusap rambutku. "Mandilah, dulu."
Kubalas dengan senyuman atas perlakuan manisnya padaku. Menggulung selimut sedemikian rupa hingga membalut tubuh polosku. "Aww ... apa yang kamu lakukan? Kamu menggodaku dengan tubuh polosmu, itu. Maaf, aku tidak tergoda!" ujarku menggodanya dengan memutar balikkan fakta.
"Sini, kalau kamu tergoda!" panggilnya seraya menunjukkan wajah menggoda.
Lemparan bantalku tepat mengenai bagian bawah tubuhnya. "Tutup, tuh! Jangan suka main sembarangan."
Dion hanya tersenyum dengan kelakuanku. Bukan hanya dia, sebenarnya aku juga ikut tertawa. Bahagia bisa menggoda suamiku, seperti hari kemarin saat dia menggodaku dengan tingkah mesumnya.
"I love you," ucap Dion sebelum aku mulai melangkah ke kamar mandi.
"Abdi nyaah ka anjeun," balasku menghentikan langkah dan menatapnya penuh senyum.
"Aku tresno karo kowe," Dion sok membalas ucapan cintaku pakai bahasa Jawa.
Kudekati Dion dengan tatapan menggoda. "Holong rohang ku tu ho."
"Uda suko ka adiak," aku Dion sembari mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Sa cinta ko," bisikku di telinganya.
"Aku tresno marang sliramu," ucap Dion seraya menarikku dan secepat kilat mengecup bibirku. "Mandi, gih! Atau kamu memilih season dua?" seloroh Dion dengan kerlingan nakalnya.
__ADS_1