
Jadwal keberangkatan masih tersisa empat jam lagi. Semua barang sudah selesai di packing jadi tinggalah santai menikmati waktu. Dion mengajakku ke taman yang ada di bagian depan hotel. Sebuah lahan luas yang ditanami beraneka bunga dengan kolam ikan yang mengelilinginya. Cantik!
Banyak pasangan yang duduk di bangku taman. Sekedar berbincang ataupun mengawasi anak-anak mereka yang tengah bermain di sana. Aku dan Dion menjadi bagian dari mereka. Duduk bersantai, saling bercerita yang kadang diselingi tawa dan tak jarang cubitan serta gelitikan mewarnainya.
"Bahagia itu sederhana, ya, Di?" ungkapku melihat tawa orang tua yang melihat anak-anaknya berlarian kesana-kemari.
"Di?" tanya Dion yang sebenarnya adalah sebuah kata peringatan.
Kusadari kesalahanku. Senyuman yang kumanis-maniskan kupasrahkan padanya. "Mas Dion, Sayang."
"Lupa terus. Bisa-bisa kamu juga lupa kalau aku suamimu," gerutunya.
"Lupa-lupa dikit, dimaafin kan, Mas Dion Sayang?" rayuku dengan mengerling manja.
"Kalau aku yang lupa, dimaafin juga kan, Sayang?" celetuknya membalikkan kalimatku.
Kucubit pahanya dengan gemas. "Tidak! Aku gak mau berbagi walaupun sedikit dan dalam keadaan lupa."
"Kalau begitu aku juga tidak akan memaafkan kekhilafanmu," ucapnya enteng dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Sepertinya Dion baru saja mengamandemen Undang-Undang Percintaannya. Pasal 1 yang menyatakan bahwa Selalu ada maaf untuk cinta yang berkhianat rupanya sudah diganti dengan Maafku ada jika Maafmu pun tersedia atas khilaf yang tercipta. Tak mau kecolongan dan merugi kedua kali rupanya.
Ish!
"Masih minat untuk sedikit lupa?" selidiknya.
"Masih, tapi mau aku banyakin aja lupanya, nanggung kalau cuma sedikit. Hukumannya tetap sama, ini," jelasku untuk membuatnya semakin sebal.
"Emang mau khilaf apa?" Dion semakin gencar menyelidiki.
"Hmmm ... belum kepikiran, sih. Banyak soalnya," alasanku sambil nyengir.
"Emang apa kurangnya aku? Masih ada diluaran sana yang lebih menarik perhatianmu?" cerca Dion dengan santai tanpa beban sedikit pun.
Mataku berkelana, memutar ke kanan dan ke kiri mengikuti arah pikirku yang mencari jawaban. "Orang bilang rumput tetangga lebih hijau. Aku tidak percaya kalau tidak membuktikannya sendiri," ucap konyolku yang dihadiahi cubitan di hidungku.
"Kita bakalan tinggal di apartemen, gak ada tetangga yang menanam rumput," terang Dion mematahkan kalimatku.
"Kalau gak ada rumput, tetangganya aja," celetukku tak kehabisan bahan debat.
"Tetangga hijau? Kamu mau sama Hulk?" celetuk Dion yang membuatku tertawa.
Lucu. Selentingan kalimatnya itu tak pernah aku dengar sebelumnya dari celetukan para penyaji komedi. Masih fresh from the oven. Selera humor suamiku ini rupanya bagus juga. Apa jangan-jangan dia membaca novelku karya Linanda Anggen "Balas Dendam Cowok Kampungan" yang tertinggal di mobilnya waktu itu?
"Iya, aku baca novelmu," jelas Dion sebelum aku bertanya.
Lagi-lagi dia menebak dengan tepat apa yang sedang aku pikirkan. Lama-lama aku tak perlu bicara karena dia sudah bisa membaca pikiranku. Lumayan, kan? Hemat energi. Aku hanya perlu melihatnya, menatap wajahhnya, memfokuskan pada manik matanya dan kemudian kucium bibirnya. Ups! Kenapa aku jadi mesum kalau mengingat bibirnya?
__ADS_1
Ish!
"Balikin, novelku! Aku belum selesai baca," perintahku dengan sok galak.
"Ambil aja sendiri! Orang ada di rak buku deket sofa ruang santai, kok. Kamu lupa kalau sekarang kita serumah?" ucap Dion seraya menyentil keningku.
Pletak!
"Kayaknya otakmu agak konslet, deh, Yang," vonis Dion setelah aku melupakan sebagian ingatan yang berhubungan dengannya.
Mana ada cerita seorang Rosa otaknya konslet? Itu tuh bukan konslet tapi murni lupa. Ah ... bukan lupa tapi belum terbiasa jadinya lupa. Nah, kenapa ujungnya lupa juga? Atau memang benar yang dikatakan Dion? Bahwa aku sekarang jadi pelupa dan itu artinya ada yang tidak beres dengan otakku. Oh ... tidak!
"Yang, enak juga ya santai di taman begini?" papar Dion mengalihkan topik pembicaraan.
"Jelas enak, Sayang. Tamannya di London, perlu naik pesawat puluhan jam, dulu," terangku dengan nada bercanda.
"Kapan-kapan kita ke sini lagi, yuk! Kota ini menyimpan sejarah penting bagi cinta kita, Yang," ajak Dion seraya menuturkan jika London adalah kota yang harus dikenang sepanjang masa.
"Memang punya uang lebih?" selidikku agak meremehkan isi tabungannya.
Dion melepaskan rangkulannya dari bahuku. Mengambil dompet yang ada di kantong belakang celananya. Membuka dan kemudian mengeluarkan beberapa kartu debitnya. "Nih, pilih salah satu, buat kamu jajan!"
Mulutku ternganga dibuatnya. Ini bukanlagi seperti di novel-novel yang dikasih kartu tanpa limit, aku bahkan disuruh memilih. Emejing!
"Kartu banyak ada isinya, gak, nih?" ledekku dengan menerawangnya satu per satu.
Kalimat setahun sekali itu sepertinya yang membuatnya sedikit ragu dengan jumlah simpanan uangnya.
"Kamu bawa saja, aku lebih suka bergantung padamu," jelasku seraya memasukkan kembali kartu-kartu itu pada tempatnya. Menutup dompet dan mengembalikan ke tangannya.
"Apakah itu kata lain dari kamu berharap kita berdua kemana-mana?" pertanyaannya untuk mencari kebenaran.
Tentu saja kujawab iya. Sepuluh tahun lebih bersamamu, terbiasa kamu manjakan meskipun aku menolaknya, tapi tetap saja aku tak biasa jika harus sendirian. Apalagi sekarang kamu adalah milikku, semakin manjalah aku di hadapanmu.
"Kamu sudah membuatku tak bisa tanpamu," selorohku setelah terjeda oleh pemikiranku tentang pertanyaannya.
"Itu memang tujuanku mepet kamu terus, sejauh mana kamu bisa menolak pesona keturunan Wijaya yang terkenal tanpa cela," akunya dengan kekehan yang menyebalkan.
"Berarti keturunan Atmadja hebat dong? Bisa membuat keturunan Wijaya mepet sepuluh tahun," banggaku dengan menegakkan postur tubuhku bak ratu kecantikan.
"Tunggu, kamu akan bertekuk lutut dengan keturunan Wijaya!" ancamnya yang membuatku malah semakin tertantang untuk membuktikan.
Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!
Getaran dari sebuah benda yang berada di saku celana Dion bisa kurasakan oleh tangan yang kebetulan kuletakkan di pahanya. Sempat diabaikan saat dering yang pertama tapi tidak dengan dering berikutnya. Dion mengambilnya dengan sedikit kesusahan karena pengaruh posisi duduknya. Dengan sedikit menggeser tubuh, berpindahlah benda canggih itu dari saku celana ke tangannya.
"Mi," sapa Dion begitu telepon itu diangkatnya.
__ADS_1
"Kalian berdua lagi dimana?" tanya Mami setelah mémperhatikan dengan seksama.
"Taman," jelas Dion tenang.
"Honeymoon itu banyakin di kamar jangan di taman," seloroh Mami dengan senyum menggodanya.
"Kalau itu jangan disuruh, Mi. Ada yang pentingkah Mami mengganggu orang lagi honeymoon?" tanya Dion tanpa rasa canggung.
Mami malah semakin melebarkan senyumnya mendengar celetukan anak lelaki bucinnya. "Mami cuma pesen 1, oleh-oleh spesial dari London."
"Rosa udah borong oleh-oleh buat Mami," celetukku polos.
Dion mengusap puncak kepalaku sambil tersenyum. Aku pun memandangnya. Merasakan ada kalimatku yang salah tapi aku tak menemukan salahnya dimana. "Oleh-olehnya Mami gak dijual, Sayang."
Semakin kukernyitkan dahiku. Bingung!
"Mami menunggu kabar keterlambatan tamu bulananmu, putri cantikku," jelas Mami setelah melihat kebingunganku yang tidak mendapatkan penjelasan dari Dion.
Rona merah pun bersemu di wajahku. Tersipu oleh ucapan yang mengarah pada kegiatan malam yang baru saja kami lewati dalam dua season. Aku menoleh ke sembarang arah untuk menetralkan perasaanku.
"Istrimu malu-malu, sudah sampai season berapa kalian melakukannya hingga istrimu belum terbiasa?" goda Mami yang makin membuatku menundukkan kepala.
"Mami, kepo," timpal Dion yang tak tega melihatku malu karena digoda dengan hal yang sangat tabu.
"Ha-ha-ha ...," tawa Mami justru meledak mendengar kalimat Dion.
"Ingat pesen Mami, jangan berhenti kalau belum terasa perih! Semangat untuk mengerjakan PO Mami!" ucap Mami berapi-api sebelum menutup teleponnya.
Kami berdua saling berpandangan begitu layar HPku menghitam. Dion mengangkat
bahunya tanda tak mengerti sementara aku tak tahu harus menjawab apa. Pagi-pagi sudah ditodong sesuatu yang enak tapi memalukan jika diceritakan.
"Balik ke kamar, aja, yuk!" ajakku, pikiranku rasanya nge-blank setelah mendapatkan pesanan Mami yang absurd.
"Ternyata kamu anak yang berbakti," ucap Dion seraya mengikutiku berdiri, merangkul dan berjalan beriringan.
"Apa?" tanyaku seraya mendongakkan wajahku ke wajahnya.
Dion hanya memamerkan lengkungan sempurna di kedua ujung bibirnya. Menjeda jawaban yang seharusnya segera ia berikan. "Balik kamar dan PO Mami itu bukankah satu hal yang berkaitan?"
Setelah kucerna beberapa waktu, baru kupahami jika yang ia bicarakan itu adalah season tiga.
Alamak!
Kenapa pikiran Dion itu seperti pikiran Nafasal authornya "Menikahlah Denganku" yang menginginkan season 1 dan 2 yang sudah bikin reader lega, harus terus berlanjut sampai season 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, bahkan seratus?
Apakah mereka satu perguruan?
__ADS_1