
Pertama membuka mata, aku seolah tak percaya. Melihat ruangan pribadi yang dulu selalu menjadi tempatku menghabiskan waktu, kini terpampang nyata di depan mata. Kukerjapkan netraku berkali-berkali untuk meyakinkan bahwa ini bukan hanya mimpi. Tetap sama, kamar tercintaku yang sedang aku tempati kali ini. Senang tapi penasaran. Bagaimana aku bisa berada di tempat ini?
Berkali-kali menguletkan badan, akhirnya kuputuskan untuk beranjak dari ranjang. Merapikan rambutku yang berantakan dan keluar ruangan untuk mencari penjelasan. Yang pertama kutuju adalah dapur. Aku lapar. Berkunjung ke rumah Mama gak afdol kalau gak menghabiskan masakannya.
"Ma, masak apa?" tanyaku pada Mama yang kebetulan sedang membuat teh.
"Ayam lodho, kesukaan kamu," jawab Mama dengan senyum yang selalu aku rindukan.
Mendengar masakan yang terbuat dari ayam kampung dengan sedikit kuah kuning yang sebelumnya dibakar dan diungkep itu, membuatku tak bisa menahan diri. Dengan cekatan tanganku membuka penutup meja makan. Tersajilah makanan yang membuatku menelan ludah. Tanpa menunggu langsung kuambil piring dan mengisinya dengan nasi putih hangat dan ayam lodho yang sudah di potong-potong. Tak lupa urap pedas dan mi kering yang kuakhiri dengan siraman kuah di atasnya.
Sedap tak beradab.
"Pelan-pelan, Mbak. Bisa dibungkus pulang kok," sindir Kristy yang baru saja pulang kuliah.
"Enak, Kris. Udah lama gak makan beginian," ucapku sambil meneruskan suapan dan mengunyah dengan penuh semangat.
"Makanya sering-sering nginep sini! Mbak pasti masaknya itu-itu aja," ejek Kristy yang benar adanya.
Aku memang gak hobi masak tapi aku hobi makan. Untungnya, Dion yang lebih ahli, tak pernah berat hati untuk membantuku menyiapkan makanan pada waktu senggang. Tak jarang, dia yang menyerahkan diri sebagai chef pribadiku. Ah ... beruntungnya aku.
"Tumben, Mbak ke sini pas hari kerja?" selidik Kristy yang mengingatkanku untuk mencari Dion untuk menanyakan kenapa aku bisa ada di sini.
"Tanya Masmu, aja! Orang aku juga bingung, bangun tidur sudah ada di sini," jawabku santai.
"Tadi suamimu gendong kamu karena ketiduran di mobil," sahut Mama yang disambut gemuruh kata so sweet dari mulut Kristy.
"Lalu, Mas Dion sekarang di mana, Ma?" tanyaku karena tak melihatnya dari tadi.
"Aku dari depan, ngobrol sama Pak RT," balas Dion seraya memilih duduk di sebelahku dan tangannya iseng mengambil ayam lodhoku buat digadoin.
"Itu punyaku, Mas!" gerutuku.
__ADS_1
"Makan bersama itu romantis, Sayang," alasan Dion untuk melancarkan aksinya menyerobot makananku.
"Ngeles mulu kamu, Mas," timpalku yang dibalas cengiran senyum.
Ah ... suamiku itu, wajahnya selalu menggemaskan. Apapun ekspresinya selalu tampan. Mau nyengir kuda, zebra, jerapah atau apalah, bawaannya sedap aja dipandang. Pantesan dulu aku tetap kuat walaupun hati sebal karena selalu dikejar.
"Tumben kalian ke sini waktu hari kerja?" Kristy mengulang pertanyaan yang tadi sempat ia tanyakan padaku.
"Kami dari dokter," balas singkat Dion disela kunyahannya.
Mama yang sedari tadi mendengarkan langsung ingin tahu saat ada kata sakit diantara jawaban Dion. Pertanyaannya langsung tertuju pada siapa yang sedang kurang sehat. Sambil menunggu jawaban, Mama memperhatikan kami dengan seksama. Kubalas senyuman yang membuat Mama mengalihkan pandang pada Dion.
"Sepertinya kalian sehat semua," ucap Mama sebelum Dion sempat memberikan jawaban.
Rumah sakit bukan hanya tempat untuk orang yang kurang sehat. Meskipun tempat umum yang tak pernah mengenal hari libur itu identik dengan orang yang memerlukan penyembuhan melalui obat.
Dion mengangkat kedua ujung bibirnya membentuk lengkungan sempurna. Senyum yang sangat manis. "Alhamdulillah Dion dan Rosa sehat, Ma. Kami ke Sp. OG."
"Aku mau jadi aunty?" celetuk Kristy dengan antusias tinggi.
"Belum pasti, Ma. Tadinya tinggal nunggu antrean dokter tapi gak jadi," jelasku sambil memikirkan jawaban selanjutnya jika Mama bertanya lagi.
Kristy mengernyitkan dahi. "Kok, gitu?"
"Mau nyari dokter yang wanita aja. Kebetulan dokter wanita yang praktek hari ini, masih muda dan cantik, jadi Rosa gak mau," jelas Dion seraya menyelipkan kalimat godaan yang kubalas dengan cebikan.
"Ada yang cemburu rupanya," seloroh Kristy penuh sindiran.
"Sepertinya ada yang baru sadar kalau aku terlalu tampan, Kris," timpal Dion dengan melirikku.
Ayam lodhoku terlalu sedap untuk aku tinggalkan, apalagi hanya untuk membalas ledekan mereka. Kubiarkan diri menjadi bahan tertawaan suami dan adik tercintaku itu. Toh yang mereka bicarakan adalah suatu kebenaran. Baik itu rasa cemburu yang Kristy bilang atau pun aku yang baru sadar memiliki lelaki tampan.
__ADS_1
"Kamu tahu, Kris, biasanya setelah menikah orang akan menemukan kejelekan pasangan. Aku malah sebaliknya. Semakin bersamanya semakin aku tahu kalau dia gak ada jeleknya," pujiku yang membuat Dion tersenyum.
Dion mengacak rambutku dengan tangan kiri. "Belum, Sayang."
Belum apanya? Selama sepuluh tahun yang aku tak suka hanya sikap gigihnya memperjuangkan cinta. Padahal itu juga bukan sebuah keburukan. Justru sebuah sikap pantang menyerah yang wajib dimiliki agar bisa tetap tangguh menghadapi segala masalah yang pasti akan datang. Lalu, apa jeleknya seorang Dion?
Cemburuan? Level wajar. Dan selama ini yang membuatnya diserang jealous hebat hanya seorang Mas Rud yang memang pantas ia cemburui. Pak Aryan? Dulu, sangat cemburu. Sekarang? Masih, tapi hanya sewajarnya saja karena ia lelaki yang pernah mencintaiku.
Pemarah? Sama sekali tidak. Dia adalah lelaki paling sabar yang aku kenal. Berada satu level di atas Pak Aryan. Sepertinya jodoh itu benar jika saling melengkapi. Aku yang ketus dipasangkan dengan Dion yang sangat lembut.
"Mas Dion, punya komunitas yang isinya cowok-cowok kayak Mas, gak? Mau dong dikenalin satu," celetuk Kristy menanggapi obrolan kami tentang kesempurnaan Dion.
"Pak Aryan, 'tuh. Dia nominator calon suami yang baik, walaupun tentunya pemenangnya tetap Mas Dion," ucapku mengingat apa yang baru aku pikirkan.
"Boleh, Mas Aryan sebelas dua belas sama Mas Dion. Mama pasti akan jadi mertua paling beruntung. Anak mantunya idaman semua," gurau Kristy dengan tawa senyumnya.
"Aamiin," sahut Mama tiba-tiba.
"Lampu hijau, nih," Dion kembali menggoda.
"Akunya pasrah kalau dijodohin, Mas Aryannya? Kabur dia," seloroh Kristy dengan tertawa ngakak.
"Aryan sudah punya calon?" Mama ikut bergabung dalam obrolan.
"Belum, Ma. Dia akan melapukkan diri kayaknya. Betah banget sendiri," timpalku mengabaikan kenyataan bahwasanya Pak Aryan betah sendiri karena belum move on dariku.
"Huss, gak sopan ngomong begitu. Doakan dia lekas menemukan jodohnya," perintah Mama setelah memarahiku karena berbicara gak baik tentang anak sulung lelakinya.
"Habis, aku jodoh-jodohin selalu ditolak loh, Ma. Tya bilang dia ban**," ucapku santai yang langgsung dihadiahi cubitan di hidung oleh Dion.
"Sayang, kapan Mas ngajarin kamu seperti itu? Kamu boleh bercanda tapi harus tahu batasannya. Dia Abang kita, jangan berbicara gak baik di belakangnya. Mas bakalan marah kalau kamu melakukannya sekali lagi, bukan hanya kepada Abang, tapi kepada siapapun."
__ADS_1
"Maafkan Dion, Ma. Belum bisa menjadi imam yang baik untuk Rosa," pinta Dion kemudian setelah menasihatiku panjang lebar.
Mama mengangguk sambil tersenyum. Aku hanya menunduk malu. Tertohok. Merasa minim akhlak itu seperti seorang harimau yang langsung mengecil menjadi kucing. Kehilangan keberanian untuk menatap yang lain.