Tentang Hati

Tentang Hati
Janji Kita


__ADS_3

Malam mingguku, sekarang tak lagi didera sepi. Ada kekasih, yang selalu menemaniku, pada malam panjang bagi muda-mudi ini. Tak ubahnya malam minggu sebelumnya, malam ini pun, Dion menghabiskan malamnya denganku. Bedanya, malam ini kami tak hanya berdua, namun bertiga dengan Kristy.


Iya ... Dion menginap di sini mulai kemarin malam. Dia mendapatkan amanat dari mama untuk menjadi bodyguardku dan Kristy selama Mama pergi ke Surabaya. Beliau menghadiri prosesi pernikahan anak dari sahabat mama sewaktu kecil.


''Kris, kapan Mama pulang?'' tanyaku.


Tak ada jawaban. Ku tunggu ... tunggu ...dan tak ada juga jawaban. Hmmm ... pantas saja! Kristy lagi asyik mengutak-atik laptopnya dengan Dion. Mereka, kalau sudah fokus seperti itu, aku ngomel ngomel pun bakalan diacuhkan.


Tak mau terlihat gabut, akhirnya aku melangkah masuk ke dalam kamarku. Ku buka pintu yang mengarah ke balkon. Terhampar langit malam yang cerah di atas sana. Satu, dua bintang mulai menemani sang bulan yang telah muncul dari peraduannya. Ku tatap sebuah bintang yang mengingatkanku pada sosok papa yang selalu ku rindukan.


Papa, engkau tak boleh lagi mencemaskanku. Sekarang, aku tak lagi kekurangan kasih sayang. Ada Dion yang sudah menggantikanmu di sisiku.


Sebelum ini, ada seseorang yang begitu yakin untuk menjagaku. Meyakinkanku untuk menggantikanmu di sisiku. Aku begitu percaya padanya, ku berharap besar akan janjinya, sampai suatu hari dia meninggalkanku tanpa alasan, Pa.


*Dia menghilang begitu saja, menorehkan luka yang menganga, luka yang sama seperti luka yang engkau tinggalkankan saat aku membutuhkanmu.


Papa* ....


Aku meneteskan air mata. Ujung mataku di penuhi butiran air yang mulai memerahkan indra penglihatanku. Mengingat Papa adalah kelemahanku.


Pa, apakah engkau percaya jika Dion akan selalu menjagaku? Apakah dia tidak akan meninggalkanku seperti Mas Rud?


Ku hela nafas panjang, ku tatap lekat langit yang mulai ramai dengan bintang yang mulai bertaburan.


Tok-tok-tok!


Pintu kamarku diketuk oleh seseorang di luar sana. Aku buru-buru menghapus air mata yang membentuk anak sungai di pipiku.


''Boleh, aku masuk?'' tanya suara yang ku kenal milik Dion.


Aku berjalan ke arah pintu. ''Aku akan keluar.'' Sebentar kemudian, aku sudah bisa menatap Dion langsung di depan mataku.


''Kenapa, jam segini sudah masuk kamar? Apa kamu kurang enak badan?'' Dion meraba keningku.

__ADS_1


Dia memperhatikanku dalam. ''Mengapa kamu menangis?''


Ku kerjapkan bola mataku untuk menjernihkan mataku agar tak nampak memerah. Aku menunduk untuk mengumpulkan senyumanku. ''Gak 'pa 'pa, Di, aku hanya ingin istirahat aja.''


Dion menggandengku. ''Ayo, ikut aku!''


Aku tak menolak sedikit pun ajakannya. Ku ikuti langkahnya yang ku sadari itu menuju kamarnya.


Dia mau apa mengajakku ke sini?


Aku memperlambat langkahku. Merasa risih harus masuk ke dalam ruang pribadinya meskipun itu di rumahku sendiri. Dion berhenti dan berbalik arah, saat menyadari apa yang aku lakukan. ''Aku hanya ingin mengajakmu melihat langit malam dari balkon.''


Ku jalankan lagi, langkahku yang sempat terhenti. Jemariku yang masih mengait di jemarinya, membuatku tak bisa menjaga jarak yang terlalu jauh darinya. Sampai di balkon, Dion langsung menarikku ke dalam pelukannya. Dia memelukku dari belakang, kepalanya ia sandarkan di ceruk leherku. ''Sudah ku bilang, aku tak mengizinkanmu menangis, apalagi di depanku.''


Aku mencari posisi ternyaman di pelukannya. Membuang kegalauan yang tiba-tiba saja membelenggu pikiranku. Rasa takut kehilangannya yang tiba-tiba saja membuncah, membuatku tak bisa menahan air mata. Rasanya aku menjadi lemah memikirkan hal itu.


''Aku mau, kamu menjalani harimu dengan bahagia. Jika kamu takut, maka hamburkan dirimu di pelukanku. Jika kamu bersedih, ceritakan semua rasamu padaku. Kamu adalah hidupku, Sayang. Aku akan mengupayakan apapun dan bagaimanapun caranya agar kamu bahagia. Beri aku kesempatan dan kepercayaan untuk mewujudkan itu semua.'' Dion mencium puncak kepalaku lembut.


Aku diam, aku memang sudah menggantungkan bahagiaku padanya. Karena itulah, aku takut jika suatu saat aku akan kehilangan sandaranku. Aku gak mau itu terjadi, makanya aku menangis.


Aku menunduk. Dion meraih daguku dengan jarinya, dia arahkan mataku untuk saling bertatapan dengan mata indahnya. ''Aku akan segera menghalalkanmu, agar bisa segera mengambil alih tugas almarhum papa untuk menjaga dan membahagiakanmu.'' Dion memberikan kecupan hangat di keningku.


Ku eratkan pelukanku. ''Selalulah di sampingku, meskipun aku memarahimu, meskipun aku membuatmu cemburu, meskipun aku telah membuatmu bosan dengan sikap manjaku!''


Dion membalas erat pelukanku. ''Kalau aku bisa meninggalkanmu, aku gak ada di sisimu sekarang ini, Sayang.''


Entah apa yanng merasukiku, tiba-tiba saja ku hujani dia dengan ciumanku, di pipi kanan, pipi kiri, dan ... aku berhenti di hadapannya. Ku tatap wajahnya, ku perhatikan bibirnya yang menggoda itu. Aku berjinjit dan ....


Dion mengecup keningku lebih dulu. ''Sudah ku bilang, simpan ini hingga aku menghalalkanmu!''


Aku tersenyum menggoda. ''Katamu pertahananmu mulai runtuh?''


Dion mengacak rambut di puncak kepalaku. ''Ayo, keluar sebelum aku berubah pikiran!'' Dia menggenggan jemariku dan membawaku turun ke ruang keluarga.

__ADS_1


"Masih sore juga, udah berduaan di kamar aja,'' Suara Mas Rendra menyambut kehadiranku dan Dion.


Ucapan Mas Rendra itu sama sekali tak membuat kami terpancing untuk menjawabnya. Kami sudah terbiasa dengan kata-kata nakalnya itu. Aku justru tertarik dengan kehadiran sahabatku, yang tak lain adalah tunangan Mas Rendra, Maya. Ku peluk hangat, sahabat yang kemarin tak ku jumpai di kantor itu. Sementara Dion memilih untuk duduk di sofa bersebelahan dengan Mas Rendra.


''Ada apa nih, tiba-tiba mampir? gak kabar-kabar lagi,'' tanyaku.


Mas Rendra menelan keripik yang ada di mulutnya. ''Mampir doang, apa kita mengganggu kesenangan kalian?''


''Aku yang ngajak mampir, Sa, aku dah lama gak main ke sini. Eh, taunya ada Mas Dion juga.'' tutur Maya.


''Ini kan rumah keduaku,'' Dion menjawab.


''Belum kawin, woy. Jangan main nginep-nginep aja!'' Mas Rendra mengingatkan sepupunya itu.


Kristy datang dengan membawa nampan di tangannya. ''Mama yang minta Mas Dion nginep di sini buat jagain aku dan Mbak Rosa, kok, Mas Ren.''


Mas Rendra meneguk teh yang baru saja disajikan Kristy. ''Wah, Mama salah nih. Kalian justru dalam bahaya kalau yang jagain Dion.''


Aku dan Maya memilih untuk larut dalam topik pembicaraan kami sendiri. Membiarkan Dion, Mas Rendra dan Kristy dengan obrolan mereka juga. Aku menoleh, saat Mas Rendra memanggil namaku.


''Ada apa, Mas? Kenapa melihatku begitu?'' tanyaku saat Mas Rendra memperlihatkan tatapannya yang penuh selidik.


''Kamu gak diapa-apain 'kan, sama dia?'' tanya Mas Rendra sambil menunjuk Dion dengan jari telunjuknya.


Ku lihat Dion nampak santai saja dengan tuduhan sepupunya itu. Dia melihatku, menunggu jawaban apa yang akan aku berikan atas pertanyaan mesum Mas Rendra.


''Diapa-apainlah, Mas. Dion kan lelaki normal. Lagian kalau Dion gak ngapa-ngapain, aku yang bakal minta diapa-apain.'' jawabku santai.


Ku lihat Dion tersenyum puas dengan jawabanku. Biar saja sesekali menggoda Mas Rendra, negatif thinking terus, sih, sama Dion, pacarku yang penuh pertahanan ini.


''Malam ini, kita menginap di sini aja, Sayang! Aku takut sepupuku ini khilaf.'' ucap Mas Rendra yang disambut riang gembira oleh Maya.


Aku mendengar celotehan Mas Rendra, merasa geli sendiri. Persaudaraan yang aneh, bilang saja kalau memang ingin nginep rame-rame. Pakai alasan takut kami terjebak keadaan.

__ADS_1


Modus!


__ADS_2