
"Sayang," aku perlahan membuka mata setelah ku rasakan ada sentuhan yang mengenai lenganku.
"Ada telepon," ucap Mas Rud sambil menunjuk HPku yang bergetar.
"Halo!" angkatku setelah mengambil HP yang aku charge.
"Ini 'dah dijalan mau pulang kok, Ma! Mungkin 3 jam lagi, Rosa 'dah sampai rumah," jawabku.
"Iya, Ma!" tutupku.
"Dari mama?" Mas Rud mulai bicara setelah aku menutup telepon.
"Iya, Mas!" jawabku.
Telepon dari mama ini, sebenarnya telepon biasa, mama tanya aku sudah ada dimana. Tapi perasaanku kok gak enak, ada sesuatu yang mengganjal dihati.
"Ada apa?" tanya Mas Rud ketika melihatku melamun.
"Perasaanku gak enak, Mas. Ada apa ya di rumah?" tanyaku menerawang.
Mas Rud menggenggam jemariku. Begitulah caranya dia menenangkanku. Dan jurus ini akan selalu berhasil.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, positif thinking sayang!"
Aku tersenyum. Mencoba menghilangkan sedikit celah yang diisi kegundahan.
"Nanti aku anter kamu pulang! Kita pastikan bahwa semuanya baik-baik saja!" hibur Mas Rud
__ADS_1
*****
Sesuai perkiraanku, ketika pukul 15.00 aku sudah sampai rumah diantar oleh mas Rud.
Aku langsung masuk kamar karena mama mau ngobrol sama Mas Rud dulu.
"Nak, bolehkah Mama bicara sebentar!" Mama berucap dengan mimik serius.
"Iya, Tante!" jawab Mas Rud penasaran.
"Mama tau kalian dekat beberapa bulan ini. Apakah kamu sudah memikirkan untuk masa depan kalian seperti apa?" Mama mengutarakan pikirannya.
"Saya serius sama Rosa, Tan! Saya ingin hubungan ini bersatu di depan penghulu." jelas Mas Rud
"Tante setuju hubungan kalian! Masalahnya adalah Ardi. Semalam dia kesini ingin melanjutkan perjodohan yang sudah pernah ditolak Rosa." Mama menceritakan kegalauannya.
"Tante, saya akan segera membicarakan masalah ini dengan orang tua saya," Mas Rud memberi keyakinan.
"Baiklah, Nak, Tante akan menunggu kabar baikmu!" ucap Mama.
Mas Rud segera pamit setelah obrolan mereka mencapai titik temu.
*****
"Sa, ini!" Mama menyerahkan sebuah box kepadaku.
Dari gambar di boxnya, aku tahu itu adalah sebuah HP baru. Kenapa mama memberiku HP? Aku gak mintanya, bahkan HPku baik-baik saja!
__ADS_1
"Dari Ardi!" Mama memberi jawab dari pikiranku.
"Maaf, Ma, balikin aja! Rosa gak mau HP ini!" tolakku.
"Dia meminta melanjutkan perjodohan, Sa!" jelas Mama.
"Ma, Rosa gak mau!" nadaku meninggi.
Mama terdiam. Selintas ku dapati wajah mama begitu murung. Aku tau beban mama begitu berat.
"Mama tau, kamu dan Nak Rud saling mencintai. Tapi kamu tau sendiri siapa Ardi? Mama setuju hubunganmu dengan Nak Rud dari awal. Tapi ini bukan hanya soal mama dan kamu, tapi ada keluarga besar kita?" jelas Mama.
Aku benar-benar benci perjodohan ini. Mereka hanya memikirkan status sosial yang tinggi jika aku menikah dengan Ardi. Mereka tidak berpikir apakah aku bahagia atau tidak.
"Apakah Rosa gak punya hak untuk menentukan pilihan Rosa sendiri, Ma?" tanyaku.
"Hei, Sa! Kamu itu harusnya sadar! Kamu itu hanya anak seorang janda! Seharusnya kamu itu seneng Ardi mau sama kamu! Kamu itu gak tau diuntung!" ucap Pak Dhe Haryo yang tiba-tiba sudah ada di ruang keluarga.
"Tapi Rosa gak suka sama Ardi pak Dhe!" balasku ketus.
"Cinta itu hanya masalah waktu!" ngotot Pak Dhe.
"Kamu harus nikah sama dia!" putus Pak Dhe.
Aku sudah gak minat lagi mendengar keputusan sepihak dari Pak Dhe. Sementara mama, aku tau beliau sebenarnya juga tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi tekanan dari keluarga eyang membuat mama tak berdaya.
Aku meninggalkan mereka tanpa kata. Tak peduli lagi! Toh untuk apa aku peduli? Kalau mereka juga gak peduli dengan hatiku!
__ADS_1