Tentang Hati

Tentang Hati
Segitiga


__ADS_3

Aku pun menghentikan langkahku. Kali ini akan ku beri kesempatan Dion untuk berkata sebanyak yang dia mau dan sebanyak yang dia ingin ungkapkan.


" Kenapa kau menghindariku, apakah kini kau sudah mencintaiku?" tegasnya.


"Tidak," aku mengelak.


"Lalu kenapa kau tidak bisa menatap mataku?" tanya Dion.


"Sudahlah Di, apakah kita harus membahas ini? Jangan sampai Ara nanti salah paham," jelasku.


"Awalnya aku tidak berniat membahas ini. Tapi setelah melihatmu memakai anting ini, aku berubah pikiran." ungkapnya sambil memegang anting ditelinga kananku.


"Aku hanya memakainya Di, apakah salah?" tanyaku sambil melihat ke matanya.


"Tidak, kamu tidak salah karena memakainya, tapi mungkin perasaanmu ada yang salah?"


" Iya ... aku merasa bersalah, karena telah terlalu kejam membalas perasaan tulusmu kepadaku dengan kekecewaan," sangkalku.


"Benarkah hanya sebatas itu?" yakinnya padaku.


"Aku gak akan melukaimu lagi. Sudah cukup aku membuatmu kecewa. Sudah saatnya kamu bahagia!" ucapku sambil tersenyum.


"Seyakin itukah hatimu?" tanyanya sekali lagi.


"Iya," jawabku kali ini dengan lagi lagi menatap matanya.

__ADS_1


"Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang kenalkan aku dengan orang yang kau bilang teman tadi!" perintahnya.


"Aku tidak mau denger kata lain kali!" timpalnya.


Sungguh, aku bingung harus mengambil langkah seperti apa. Mas Rud hanya temen, kenapa aku harus mengenalkannya pada Dion? Apakah mas Rud gak akan salah paham jika itu terjadi? Tapi aku tau Dion gak akan menerima kata "tidak" kali ini.


"Dia hanya temenku, Di!" aku mencari alasan.


"Aku ingin mengenal temanmu," jawabnya kekeh.


Ku tarik nafas panjang dari hidungku. Menyiapkan kata iya untuk Dion.


"Baiklah, ayo aku kenalkan!" akhirnya aku menyerah.


Aku mencari ke segala arah. Tapi aku tak bisa menemukannya.


"Aku mencarimu mas. Ini kenalkan temenku mas, Dion," kenalku pada mas Rud.


"Jadi ini teman yang kamu maksud, Sa?" yakin Dion.


"Apa kamu mengenalnya?" tanyaku pada Dion.


"Kami sudah berkenalan tadi," balas Mas Rud.


"Kebetulan sekali," ucap Dion.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku balik duluan ya Di! Mas, ayo kita pulang!" ajakku pada mas Rud.


"Kamu pamit dulu pada Tria, nanti aku nyusul!" balas mas Rud.


Aku pun langsung meninggalkan mereka berdua. Menjumpai Tria dan Rio yang sedang asyik bercanda mesra. Sementara kedua lelaki itu, sepertinya masih terlibat percakapan.


"Jangan datang lagi, jika hanya akan membuatnya menangis!" kata mas Rud.


"Aku hanya memastikan, apa dia bahagia tanpaku," Dion memberi alasan.


"Aku akan membahagiakannya! Kau tidak perlu khawatir," ucap mas Dion sambil menepuk pundak Dion.


"Aku pegang janjimu! Tapi sekali saja kau kecewakan dia, jangan salahkan aku jika aku akan datang, untuk mengambilnya darimu!" ancam Dion sambil ganti menepuk pundak mas Rud dan berlalu pergi.


*****


"Sa, kita foto bareng dulu ya, sebelum kamu pulang!" Tria memintaku.


"Baiklah," aku mengiyakan permintaan Tria.


"Aku juga mau foto," tiba-tiba Dion datang dan sudah berpose di samping Rio.


"Sini, aku fotoin!" mas Rud yang baru dateng tiba-tiba menawarkan diri jadi sukarelawan.


Sesungguhnya, ada kecanggungan yang terselubung. Tapi masing-masing membohongi diri agar terlihat bahagia. Ku lihat wajah 2 insan yang bertunangan ini, aku tak tega jika harus merusak hari bahagianya. Biarlah aku yang mengesampingkan egoku agar semua nampak bahagia.

__ADS_1


Cekrek cekrek ....


Banyak kisah dibalik foto-foto yang sudah diambil. Keikhlasan, pengorbanan, kecemburuan, persahabatan dan tentu saja cinta.


__ADS_2