
Dilan dan Milea?
Aahh Mas Rud! Bisakah sedetik saja, kamu tak membuatku mabuk karena cintamu? Wajahmu saja, sudah bisa membuatku bertekuk lutut. Apalagi sekarang aku bisa memilikimu dan selalu kau sirami dengan kata-kata manismu.
Sepertinya aku tak bisa lagi menginjak bumi. Selalu melayang dalam bahagia karena pesonamu yang makin membiusku. Benarkah aku sudah tergila-gila karena cintamu?
"Milea!" panggil Mas Rud.
"Dilan!" jawabku.
Dan kami berdua sama-sama tergelak. Merasa konyol dengan tingkah kami sendiri.
"Mas," aku mengeraskan panggilanku. Karena jalanan makin ramai selepas hujan mereda.
"Apa?" jawab Mas Rud.
Aku hanya diam. Sepertinya Mas Rud menunggu kalimatku berikutnya. Dan aku memang sengaja untuk diam. Melihatnya penasaran itu, sungguh membuatku bahagia. Bukan bahagia karena berhasil mengerjainya, tapi bahagia karena bisa melihat ekspresinya yang menggemaskan.
"Apa?" Mas Rud mengulangi katanya.
"Aku mengerjaimu," ucapku sambil menyandarkan kepalaku di bahu kirinya.
"Kamu berani ya, awas jangan sampai tertidur karena keenakan nyender!" ingat Mas Rud sambil berusaha menyentuh kepalaku.
__ADS_1
"Emang aku bocah apa, Mas? Diajak naik motor langsung tidur," kilahku.
"Kenyamanan bahuku ini, bisa mengalahkan empuknya kasur," terang Mas Rud.
"Mas, jangan terlalu gombal! Nanti Dilan dan Milea jealous, ngeliat kemesraan kita," bisikku di telinga Mas Rud.
"Biar saja! Kita akan membuat sejarah baru dengan cinta kita!" gombalnya.
"Bikin novel yuk!" ajakku spontan.
"Buat kado pernikahan kita ya! Mahar dariku." Mas Rud makin membuatku melambung tak terkendali.
Perempuan mana yang menolak bahagia jika janji pernikahan itu diucapkan sang pujaan hati. Entah itu tulus atau pun sekedar gombalan ala Dilan dan Milea.
Mas Rud tersenyum membalas pengakuanku. Dia mengelus lembut tanganku yang melingkar di perutnya. Aku merasakan kehangatan perasaan yang menyebar ke seluruh tubuhku. Mengalahkan rasa dingin yang diciptakan oleh rintik hujan yang kembali turun. Aku menengadahkan telapak tanganku. Merasakan butiran-butiran hujan yang mengumpul di telapak tanganku. Hujan selalu punya cerita yang dibawanya. Pernah aku bergelut kalut dengan derai hujan yang membasahiku.Tenggelam dalam balutan kesedihan bersama kisah Dion, yang kini perlahan bisa kutinggalkan pada masanya.
Kali ini, hujan membawakan aku kisah bahagia. Dia menceritakan indahnya kasih yang mengalun di bawah derai hujan yang tiada henti. Menyebarkan manisnya cinta hingga mendarah daging dan berkumpul di sumsum tulang-tulangku. Menuliskan rasa atas nama Rud Dinata dan Rosalia Citra Atmadja.
*****
"Tante, saya minta maaf karena membiarkan Rosa pulang basah kuyub," ucap Mas Rud pada mama.
"Gak 'pa 'pa, Nak, ini pasti Rosa yang ngajak basah-basahan," jawab mama.
__ADS_1
"Mama kok malah belain Mas Rud, sih?" aku cemberut.
"Ya udah, buruan masuk! Langsung mandi dan jangan lupa minum jahe anget!" Mas Rud perhatian.
Aku mengangguk.
"Mas Rud juga buruan pulang!" kataku.
"Kok malah ngusir, Sa," tanya mama.
"Rosa benar, Tan, saya pamit pulang dulu!" izin Mas Rud sambil mencium tangan mama.
Setelah Mas Rud menghilang diujung jalan, aku pun beranjak masuk. Mama mengikutiku dari belakang.
"Mama lihat, kamu senyum-senyum terus dari tadi, Sa. Sebahagia itukah anak mama yang cantik ini?" Mama menggodaku.
"Rosa bahagia karena bisa basah-basahan begini ma, dah lama gak main hujan," kilahku.
"Asal kamu bahagia, mama juga setuju," ucap mama ambigu.
Aku tersenyum. Mama membalas senyumku dengan sangat tulus. Aku hendak memeluk mama, namun mama mengelak.
"Buruan mandi! Jangan bikin mama basah ya!" ancam mama sambil mundur dan balik badan menjauhiku.
__ADS_1