
"Kenapa gak masuk?" tanya Pak Aryan saat mendapatiku menghentikan langkah sejenak di depan ruang rawat Mas Rud.
Aku menggigit bibir bawahku. "Bisakah, Bapak masuk duluan?"
Pak Aryan menatapku. "Tentu saja bisa, kamu baper, ya?" tanya Pak Aryan kemudian dengan senyum smirknya.
Aku tak menjawab, ku ikuti langkah Pak Aryan memasuki ruang rawat Mas Rud. Rupanya Mas Rud sedang menerima tamu lain selain kami. Seorang lelaki tampan, berperawakan gagah tengah mengobrol dengan Mas Rud. Mereka berdua menoleh, saat kami melangkah masuk mendekati keduanya.
"Tuan Aryan Satya Dharma," lelaki tampan itu menyapa Pak Aryan.
Pak Aryan menjabat tangan lelaki itu dengan ramah. "Tuan Alexander Kemal Malik, apa kabar? Tidak menyangka kita bisa bertemu di sini."
Tuan Alex melihat Mas Rud. "Aku mau menjemput bodyguardku."
Pak Aryan mengangguk, mengerti siapa yang dimaksud oleh Tuan Alex. "Kami mau menjenguk bodyguard anda, Tuan," jelas Pak Aryan sebelum Tuan Alex bertanya tujuan kedatangan kami.
"Silakan!" Tuan Alex mempersilakan kami menemui Mas Rud. Aku pun tersenyum pada Tuan Alex, suami Rianti yang juga bos dari Mas Rud itu. Pak Aryan mempersilakanku duduk di kursi samping ranjang Mas Rud.
"Ini, Pak Aryan, Mas, yang kemarin membantuku membawa Mas ke sini," jelasku.
Mas Rud tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Saya, Rud, terimakasih sudah membantu saya kemarin, Tuan."
Pak Aryan menyambut uluran tangan Mas Rud. "Panggil Aryan saja, bagaimana keadaanmu?"
Mereka terlibat dalam obrolan mengenai kejadian kemarin. Entah mengapa aku merasa mereka begitu akrab padahal baru saling mengenal. Sementara mereka mengobrol, aku bergelut dengan pikiranku sendiri.
Bagaimana bisa, Mas Rud, menjadi bodyguard Tuan Alex? Mengapa harus jadi bodyguard? Mengapa ia memilih pekerjaan yang mengancam nyawanya? Beralih dari seorang manajer ke bodyguard, pertanyaan yang susah ku temukan jawabannya.
"Sa, kamu ngobrol dulu aja sama Rud, aku ada urusan sebentar dengan Tuan Alex," ucap Pak Aryan yang kemudian meninggalkan kami berdua, dia kemudian duduk di sofa dengan Tuan Alex.
Tersenyum, itu adalah hal pertama yang ku lakukan setelah berdua dengannya. Aku bingung mau mengobrol apa, karena niatku ke sini memang hanya untuk mengembalikan HPnya.
Aku mengambil Hp dari tasku. "Aku ke sini mau balikin ini, Mas."
Aku menyerahkan HP itu ke tangan kanannya. Tapi di luar pikiranku, tiba-tiba saja dia menggenggam jemariku dan menahannya tetap di jemarinya. Aku sigap menarik tanganku tapi genggaman tangannya lebih kuat.
Ya Tuhan ... apa lagi yang dia inginkan? Dalam situasi seperti ini, masih saja cari-cari kesempatan. Apakah dia juga tidak ingat kalau di sini ada Tuan Alex, bosnya. Apa dia tidak berpikir bagaimana jika Tuannya itu melihat apa yang dia lakukan. Bodyguard kok main perasaan sama perempuan? Bukankah bodyguard itu harus fokus pada tugasnya. Ah, sungguh aku tak mengerti sikapnya.
"Rud, kita harus segera meninggalkan Rumah Sakit ini, apa urusanmu sudah selesai?" Tuan Alex menghampiri kami dan berkata dengan suaranya yang penuh wibawa.
Kesempatan ini aku manfaatkan untuk melepaskan tanganku. Tapi rupanya Mas Rud tak terusik oleh kedatangan bosnya. Dia tetap menggenggam jemariku. Aku merasa risih dengan situasi ini.
__ADS_1
"Apakah ini, wanita yang membuatmu lengah dan tertembak?" Tuan Alex tersenyum.
Aku hanya menunduk tapi dari sudut mataku masih bisa ku lihat kalau Mas Rud tersenyum menanggapi pertanyaan bosnya. Dia tidak menjawab iya atau tidak. Pak Aryan ikut mendekat ke arah kami. Sepertinya obrolan kami juga menarik perhatiannya.
"Kalian menyudutkan gadis cantikku?" celetuk Pak Aryan kemudian.
Tuan Alex memicingkan matanya. "Kalian memperebutkan wanita ini?"
Tawa menggelegar terdengar dari Tuan Alex. Dia melihat Pak Aryan dan Mas Rud bergantian. Mungkin dia berpikir kenapa aku yang biasa begini bisa diperebutkan oleh dua orang yang dikenalnya.
"Rud, kamu harus meminta bantuanku jika ingin mengalahkannya. Aku tahu Tuan Aryan ini goodboy, gak pernah sekalipun terdengar suka bermain dengan wanita, jadi aku yakin kali ini dia sungguh-sungguh mencintai gadismu," jelas Tuan Alex.
"Saya, yang akan memenangkan hatinya lagi, Tuan," yakin Mas Rud sambil melirikku.
Pak Aryan juga tak mau diam. "Tuan Alex yang terhormat, mengapa Anda membuka kartu, Saya."
Aku jengah mendengar mereka bertiga menjadikanku topik pembicaraan. "Saya, sudah memiliki calon suami, Tuan."
Bukannya berhenti, Tuan Alex malah semakin tertarik melanjutkan obrolan. "Jadi, kalian berdua memperebutkan calon istri orang, kalian sungguh bernyali!"
Rasanya aku ingin melenyapkan diri dari hadapan mereka secepatnya. Bisa-bisanya lelaki-lelaki ini menyudutkan seorang wanita lemah sepertiku.
"Hai, Rud, lepaskan genggamanmu, dia ini calon istri orang. Aku bisa mencarikanmu perempuan lain yang masih lajang," tawar Tuan Alex.
Aku lupa jika tanganku masih digenggamnya. Aku segera menarik tanganku tapi lagi-lagi Mas Rud menahannya. Aku tatap dalam manik matanya. "Lepaskan tanganku, Mas," aku melembutkan suaraku.
Mas Rud mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Sekarang aku melepaskanmu, nanti kalau aku sudah sembuh aku akan datang menemuimu."
Aku menutup telinga untuk semua kata yang diucapkannya. Ku menoleh ke arah Pak Aryan yang tengah mengobrol dengan Tuan Alex. "Mari kita pulang sekarang, Pak." Setelah melihatku, Pak Aryan pun berpamitan pada Mas Rud dan Tuan Alex.
"Kalau begitu, kami pamit dulu, Rud semoga segera pulih. Tuan Alex, kami undur diri dulu."
Aku cukup tersenyum pada Mas Rud dan Tuan Alex. Kemudian aku melangkah mendahului langkah Pak Aryan, untuk segera keluar dari ruangannya. Tak lagi ku tolehkan pandanganku pada Mas Rud. Sudah cukup hari ini dia membuat hatiku kalang kabut. Seenaknya saja dulu pergi meninggalkan luka dan baru saja ia bilang akan segera kembali tanpa beban. Memangnya hatiku ini apa? Bisa datang dan pergi sesuka hatinya.
Pak Aryan merangkul pundakku. "Teman yang baik, akan menguatkan temannya yang sedang lemah, apalagi lemah hati sepertimu."
*****
"Kenapa, Bapak mengajak saya ke sini?" tanyaku bingung.
Aku terlalu fokus pada kegundahan hatiku, sampai waktu yang ku lalui dari keluar rumah sakit, di mobil Pak Aryan hingga bisa sampai di sini terasa sebagai ingatan kosong. Di sini? Iya, sebuah taman kota yang sepi. Aku dan Pak Aryan duduk di sebuah bangku taman yang menghamparkan pemandangan air mancur yang jernih.
__ADS_1
"Kamu, harus menjernihkan hatimu, Sa. Makanya aku membawamu ke sini," jelas Pak Aryan.
Benar, suasana hatiku memang sedang kacau. Aku butuh menjernihkan pikiranku yang sudah teraliri limbah cinta masa lalu. Aku tak menginginkan ini tapi entah kenapa aku tak bisa mengendalikan perasaanku. Rasa yang timbul tenggelam untuk Mas Rud.
"Sambil makan, jangan sampai karena mikirin Rud, kamu jadi kurus. Bagaimana pertanggungjawabanku pada Dionmu, nanti?" seloroh Pak Aryan.
Pak Aryan membawakanku sebuah piring "Rujak Cingur" favoritku, menu yang beberapa waktu lalu pernah ku nikmati berdua dengannya di taman kota, iya di taman kota yang kini aku tempati. Aku tak menyadari kapan ia pergi dan tiba-tiba saja kembali. Seperti Mas Rud, tiba-tiba pergi dan kini kembali dengan membawakanku sepiring rasa yang kembali mengusik. Ah, kenapa Mas Rud lagi?
"Kenapa, Bapak, yang harus tanggung jawab atas diri saya kepada Dion?" aku lambat merespon pertanyaan Pak Aryan.
"Karena aku adalah temanmu," jawab singkat, padat dan jelas Pak Aryan.
"Kamu, masih mencintainya, Sa?" ulik Pak Aryan.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang juga bersarang di pikiranku selama ini. Pertanyaan yang belum juga ku temukan jawabannya. Pertanyaan yang sebenarnya ingin ku jawab tidak tapi aku ragu jika jawabannya memang adalah tidak. Pertanyaan yang harus ku jawab tidak, tidak dan tidak.
"Saya tidak ingin mencintainya lagi, Pak," jujurku.
Ku hela nafas dan ku sendokkan rujak cingur pedas itu ke mulutku. Aku harap gemuruh perasaanku bisa diredam oleh pedasnya makanan yang ku kunyah. Nyatanya, rasa ini lebih mendalam. Lagi-lagi ku ambil nafas panjangku.
"Tidak ada yang bisa mengendalikan perasaan, Sa. Kamu, ikuti kata hatimu saja. Itu hal yang paling benar," tutur Pak Aryan.
"Hati saya saja kelu, Pak. Ohya, barusan Bapak menasihati saya atau curhat, Pak?" aku berusaha bercanda untuk mengusir kegundahanku.
Pak Aryan tersenyum nyengir mendengar sindiranku. "Ya ... kamu sendiri 'kan tahu bagaimana perasaanku padamu."
"Jangan dilanjutin, Pak, saya sudah pusing mikirin Mas Rud, jangan paksa saya untuk mikirin Bapak juga," pintaku.
"Aku lelaki dewasa yang matang, mana mungkin aku melakukan itu. Aku sadar bagaimana posisiku diantara kalian, aku sudah cukup bahagia bisa menjadi temanmu." ucapnya sambil terus menyuapkan rujak cingur ke mulutnya.
Aku melihatnya. "Kalau Bapak sudah bisa menganggap saya sebagai teman, Bapak harus segera mencari calon istri."
"Kalau aku menemukan satu wanita sepertimu, aku pasti akan segera menikahinya," jelas Pak Aryan dengan kerlingan mata manjanya.
"Bilang aja, mau jadi bujang lapuk, Pak," ucapku santai.
Pak Aryan melirikku manja, tangannya mengacak rambut di puncak kepalaku. "Kalau kamu cerewet, aku bisa berubah pikiran."
*****
Hai readers, jangan lupa like n komen, vote juga jika berkenan.
__ADS_1
Jika ingin tahu lebih lanjut kisah Tuan Alex, silakan kunjungi novel Nikah Kontrak by Tya Gunawan.