Tentang Hati

Tentang Hati
Paling Enak Jadi Rosa


__ADS_3

Pertama kali membuka mata pada pagi setelah memadu kasih semalam, rasanya kebahagiaanku sempurna. Mencintai seseorang tanpa bayangan orang lain itu sangan indah. Tak ada resah, yang ada hanya ingin mengulang lagi dan lagi. Ah ... aku menjadi mesum. Pikiranku diisi oleh sesuatu yang ingin terjadi lagi.


Saat membuka mata, yang kulihat adalah dia. Wajah yang tertidur pulas dengan tangan yang masih memelukku dari depan. Jemariku tak kuasa bertahan untuk tak bermain di wajahnya. Menelusuri hidung mancungnya dan berakhir di bibirnya yang selalu menggoda. Dengan hati-hati kucuri sebuah kecupan kecil darinya. Cukup sekilas walaupun sebenarnya aku ingin dibalas.


Saat aku masih dibuai oleh pikiran tentang kelembutan semalam, tiba-tiba sebuah kecupan mendarat begitu saja di bibirku. "Kalau mau lagi, bilang!"


Senyum nakal Dion tersungging sempurna. Membuatku ingin lagi bermain di sana. Saling bertaut, semakin menuntut dan aku dibuat bertekuk lutut. Dibuai sentuhan, kedalaman perasaan serta gejolak rasa yang semakin tak bisa diredam. Membawaku tenggelam, menyelam dalam dan terendap di dasar kenikmatan.


"Aku hanya ingin sedikit mencicipi," ucapku dengan isyarat jari yang tersentil sedikit di bagian ujung telunjuk dengan ibu jari.


"Dihabiskan juga gak masalah," terang Dion dengan wajah bangun tidurnya, muka bantal tapi tetap menawan.


"Ini 'tuh ibarat bonchap pada novel yang udah end. Meredam kangen," jelasku seraya ingin beranjak tapi aku urungkan ketika sadar bahwa tubuhku hanya terbungkus selimut yang sama dengannya.


"Kok, gak jadi?" goda Dion saat melihatku kembali menenggelamkan diri di bawah selimut.


"Kamu mandi duluan, aku mandinya lama," alasanku padahal aku merasa malu jika diantara kami harus mengalah untuk melepaskan selimut untuk yang lain.


Dion terkekeh. Dengan santai ia membuka selimut dan beranjak dari tidurnya. Sebelum mata sok suciku kembali ternoda, kututup indra penglihatanku dengan selimut. Aku tak mau kembali berurusan dengan pikiran kotorku sendiri.


"Awas gak bisa bernapas," ingat Dion dengan suara yang terdengar makin mendekat.


"Ngapain balik lagi? Buruan mandi!" usirku masih bersembunyi dari balik selimut.


"Mandi bareng, yuk!" suara Dion yang menggoda di dekat telingaku yang tertutup selimut.


Makin kugenggam erat selimutku. Mengantisipasi dari ulah iseng Dion yang tiba- tiba menariknya. "Aku, gak mau!"


"Ayo, dong!" ajakannya memaksa tetapi yang tersampaikan ke telingaku adalah desahan manja.


Bulu kudukku meremang. Membayangkan sesuatu yang terjadi semalam akan terulang kembali. Bukan seram karena kehadiran iblis jahanam tetapi kenikmatan yang kutakut akan menjadi candu dan membuatku selalu ketagihan.

__ADS_1


"Aku gendong, ya? Biar romantis kayak di novel-novel gitu," tawar Dion dengan semakin menggoda.


Ya Tuhan ....


"Romantislah ala Dion, gak usah ikut-ikutan di novel." alasanku tanpa henti.


"Ini juga bagian dari keromantisan Dion yang baru mau dilaunching. Laga premier, Sayang," ujar Dion sambil membuka selimut di atas tubuhku.


Merasa jika udara dingin mulai menyeruak, menjalar di lapisan kulit ariku, kututup mata dengan kedua belah tangan. Tak ingin menambah noda pada mataku yang sudah tiada suci lagi karena menikmati setiap lekuk tubuhnya. Tepatnya tak ingin menambah season pada pagi buta ini.


"Kenapa harus menutup mata?" tanya Dion dengan entengnya.


"Lalu, aku harus menutup apa kalau gak mau melihatmu polosan begitu," jujurku yang dihadiahi gelak tawanya.


"Polos teriak polos. Aku seharusnya yang tutup mata, eits! ngapain tutup mata? Aku malah mau menutup bibirku dengan ini," goda Dion tanpa henti sambil menunjuk bibirku.


Kucubit lengannya yang otomatis membuka penutup mata sebelahku. Pekikanku bersamaan dengannya yang mengaduh kesakitan. "Kenapa gak bilang kalau kamu sudah pakai celana?" gerutuku sebal karena merasa ia kerjai.


"Apa perlu aku lepas lagi?" goda Dion seraya mengacak puncak rambutku dan berlalu pergi dari hadapanku.


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di pipi kiriku. Tak kusadari jika suamiku yang baru saja berulah itu kembali dan mencuri sebuah sentuhan di sisi luar wajahku. Membuatku terhenyak dan sebentar terpaku. Merasa kecolongan tapi rona merah tak bisa kusembunyikan dari kedua belah pipiku. Aku bahagia.


"Mandi bareng, yuk!" godanya lagi dengan senyumnya yang paling menawan sebelum dia berlari kecil karena cubitanku kembali akan kudaratkan pada lengannya.


******


"Hai, Abang!" sapaku renyah begitu Pak Aryan membuka pintu apartemennya.


"Hai, Adik Abang!" balas Pak Aryan tak kalah renyah.

__ADS_1


"Kami sarapan di sini, ya?" ucapku seraya nyelonong masuk ke apartemennya.


Dion dan Pak Aryan kutinggalkan di pintu, masih mengobrol entah dengan tema apa. Aku langsung menuju meja makan dan menata sarapan yang tadi Dion buat ketika aku sedang mandi, nasi goreng kambing rasa cinta, begitu Dion menamainya. Kusiapkan tiga piring dan tiga gelas air putih di atas meja. Tak lupa aku membuat dua gelas susu hangat untuk kedua lelaki yang sedang mengobrol itu.


"Semua sudah siap! Ayo, kita mulai sarapan," ajakku begitu mereka berdua menampakkan diri di dapur.


Tanpa menunggu, kami mulai menyantap hidangan di meja dengan lahap. Semua fokus dengan menu nasi gorengnya. Segera di habiskan dan akan memulai pembicaraan. Begitulah yang biasa kami lakukan. Walaupun terkadang kami berbicara di tengah sedang makan.


"Pak, Jumat depan saya cuti, ya?" ujarku setelah meletakkan gelas air putih yang sudah tak menyisakan isinya setetes pun.


"Ada apa?" tanya Pak Aryan menyimpan rasa ingin tahu yang besar.


"Ke KUA, Bro. Biar sah di mata negara," jelas Dion mewakiliku.


"Akhirnya, aku ikut lega. Kemarin aku sempat was-was dengan keputusan kalian," ungkap Pak Aryan dengan senyum termanisnya.


"Khawatir aku ninggalin, dia?" seloroh Dion berikutnya.


Sepertinya kekhawatiran itu dirasakan semua orang. Ketika aku setuju untuk menjadi istri siri Dion, semua menggunjingku. Mengatakan aku tak pandai dan tak mawas diri. Mereka kasihan jika aku ditinggalkan begitu saja. Padahal kenyataannya, aku yang selama ini berpeluang lebih besar meninggalkannya karena kehadiran Mas Rud kembali.


"Harusnya, Bapak khawatir kalau Dion saya tinggalkan," celetukku tanpa ragu.


"Sepertinya, percuma aku mengkhawatirkan kalian," timpal Pak Aryan kemudian.


Aku dan Dion saling memandang dan kemudian mengukir senyum bersamaan.


"Jumat depan aku yang akan mengantar kalian, bagaimana? Kalian harus menjawab iya! karena aku memaksa," ujar Pak Aryan dengan santai tapi penuh penekanan.


"Kupikir punya Abang itu enak, ternyata jadi adik itu harus siap jadi korban pemaksaan," gerutuku.


"Yang jelas, enak punya suami kayak aku, Yang," ujar Dion sambil mencium keningku mesra.

__ADS_1


"Dan juga punya Abang sepertiku, Sa," timpal Pak Aryan dengan menaikturunkan kedua belah alisnya.


"Yang paling jelas adalah ... enak jadi Rosa. Punya suami limited edition dan punya Abang yang multitalent," banggaku dengan senyum penuh kemenangan.


__ADS_2