Tentang Hati

Tentang Hati
Wejangan Eyang


__ADS_3

Kupinang kau dengan bismillah, sebuah lagu yang melambangkan keromantisan sebuah ikrar suci yang bernama ijab qobul. Detik ini, lagu itu kalah romantis dengan kalimat satu napas yang diucapkan Mas Rendra. Ketegangan yang bergelayut manja di relung jiwanya berubah menjadi senyum bahagia kala kata "SAH" terdengar membahana.


Kelegaan itu bukan hanya milik pengantin yang berbahagia tapi juga milik semua hati yang menjadi saksi kehalalan mereka pagi ini. Alhamdulillah kuucapkan sebagai wujud rasa syukur sekaligus sebagai doa pembuka agar aku dan Dion disegerakan untuk berbahagia seperti mereka, dibawah sebuah ikatan bernama rumah tangga.


"Setelah ini, ganti kamu, ya, Nduk!" doa Eyang sambil mengelus kepalaku.


"Aamiin," jawabku penuh hormat kepada Eyang.


Eyang mengambil tangan kanan Dion dan menyatukannya dengan tangan kananku. "Le, Nduk, Jalan menuju pernikahan itu terjal. Jalan lurus itu sesekali akan menanjak dan mungkin akan menurun kemudian. Kekuatan hati akan membuat kalian tegar saat menghadapi kelokan jalan. Karena semua halangan itu akan berat , jangan sampai membuat kalian putar balik dan pindah haluan," wejangan Eyang yang kudengarkan dengan seksama.


Inilah yang aku butuhkan untuk penguatan hatiku. Ribuan bahkan jutaan nasihat dari sosok yang lebih berpengalaman. Eyang, beliau yang sudah melewati masa lebih dari delapan puluh tahun, tentunya memiliki banyak kisah yang ia gali sebagai pengalaman.


"Iya, Eyang," jawabku dan Dion bersamaan.


"Le, punya calon istri cantik itu gak gampang. Boleh cemburu tapi jangan berlebihan. Awas pacarannya jangan sampai kebablasan," sindir Eyang seolah bisa melihat kelakuan mesum cucunya dari kaca benggala.


Dion yang merasa disindir halus menjadi cengengesan. "Ah, Eyang tahu aja perasaan Dion."


"Eyang yang merawatmu dari bayi, mana mungkin tidak mengenalmu," papar Eyang sambil mengusap punggung cucu laki-lakinya itu.


"Nduk, jadi wanita itu yang harus dijaga adalah kehormatannya. Bukan hanya kehormatan dirinya tapi juga suaminya. Dan itu sudah harus mulai dijaga dari sekarang. Hati harus kokoh, jangan mudah goyah oleh hati yang lain," nasihat Eyang untukku.


Mengapa aku merasa jika nasihat Eyang ini seperti sedang menguliti perasaanku. Seolah Eyang tahu, bagaimana gejolak yang bermain di hatiku. Seolah tahu atau memang tahu? Atau hanya pengalaman yang ia gunakan sebagai nasihat?


"Iya, Yang, Saya harus banyak belajar dan perlu dukungan dari Mas Dion." ucapku seraya tersenyum canggung karena harus menyematkan kata Mas di depan nama Dion.


Dion nampak bahagia mendengar panggilanku. Kubalas dengan mengerucutkan bibirku.


"Eyang," Pak Aryan mencium tangan Eyang sebagai wujud penghormatan. Dia yang tadi duduk di sebelah Dion, menyapa Eyang setelah obrolan kami berakhir. Sepertinya dia memang sudah menunggu waktu yang pas untuk ikut mengobrol.


"Le, kamu harus dewasa, jangan manja-manja, lagi! Contoh, nih, Nak Aryan," ucap Eyang pada Dion.


"Dewasa dan tua itu seiring jalan, Yang," celetuk Dion


Eyang memukul lengan Dion hingga membuatnya memekik. "Tua darimana? Lihat! Dia dan kamu itu seumuran."


"Dion jauh lebih muda, Yang, dia udah tua," lagi-lagi Dion menegaskan usianya.


"Saya memang jauh lebih tua dari Dion, Yang," aku Pak Aryan untuk menghentikan perdebatan nenek dan cucu tersebut.

__ADS_1


"Kamu sangat dewasa dan kalem, Nak. Eyang yakin, kamu nanti akan menemukan wanita yang akan mencintaimu dengan sepenuh hati. Sabarlah, waktu itu pasti akan datang!" ucap Eyang sambil menepuk pundak Pak Aryan.


Sang empunya pun berterimakasih dengan nasihat Eyang.


"Nak Rud, sini! Kenapa memilih sendiri di situ?" panggil Eyang pada Mas Rud yang duduk tak jauh dari kami.


Mendengar panggilan Eyang, Mas Rud pun bergegas menghampiri Eyang dan mencium punggung tangan beliau. Ia dudukkan dirinya di samping Eyang. Memasang senyum manis dan sikap menghormat pada Eyang.


"Bagaimana kabarmu, Nak? Sudah lama kita tidak mengobrol," sapa Eyang.


Mereka nampak begitu akrab. Kalimat pertanyaan Eyang seolah menyiratkan jika dulu mereka sering mengobrol. Itu mungkin saja terjadi, mengingat dia adalah teman akrab Mas Rendra dan Mbak Sharika. Bisa jadi, dulu dia sering menginap di sini dan menghabiskan waktu dengan Eyang.


"Rud, baik-baik saja, Eyang," jawab Mas Rud penuh senyum.


"Apakah hatimu juga baik?" goda Eyang.


Pertanyaan yang terdengar janggal di telingaku. Seorang Eyang menanyakan masalah hati? Apakah Eyang tahu apa yang terjadi di antara kami? Ataukah beliau hanya menebak? Ataukah memang beliau sudah tahu semuanya?


Mas Rud sedikit tergelak dan melihatku yang ada di sebelah kiri Eyang. Dia berdehem sebelum kembali berbicara. "Hati Rud sedang tak baik, Eyang. Rud ingin menikah juga seperti Rendra tapi calonnya masih ...," Mas Rud tak meneruskan kalimatnya. Lagi-lagi dia mencuri pandang padaku. Kupalingkan pandanganku pada Dion dan ternyata dia juga sedang menatapku. Apakah dia menangkap pandangan Mas Rud padaku tadi? Kuulas senyum untuknya. Bukannya membalas senyum, dia malah melengos seolah tak melihatku yang sedang melihatnya.


Kenapa dia?


"Masih ... masih ...," Mas Rud tetap tak meneruskan kalimatnya.


"Masih dijagain orang, Eyang," celetuk Pak Aryan sambil cengengesan.


Eyang melihat Mas Rud. "Jangan nungguin jodoh orang, Le! Awakmu bagus, atimu yo kudu bagus. Masih banyak wanita lain yang bisa kamu pilih. Jangan memilih hati yang sudah ada pemiliknya."


Menunduk. Mas Rud menundukkan pandangannya. Aku mengenalnya, itu adalah cara dia meredam emosi. Menahan kalimat penyangkalan agar tidak keluar di hadapan Eyang. Sebentar kemudian dia kembali mendongakkan kepalanya dan mengulas senyumnya. "Baik, Eyang."


Entah tulus atau tidak, tapi aku rasa itu hanyalah basa-basi. Meskipun aku berharap jika itu adalah keputusan yang ia pilih. Meninggalkanku, ceritaku dan kenangan indah yang hanya membuat rumit perasaan yang sudah mulai berganti. Dan seharusnya ia juga melepaskan perasaannya serta membuka hati untuk cinta yang lain.


"Putune Eyang kabeh, rungokno, yo! Le, Nduk, hati itu memang bukan robot yang bisa diprogram sesuai keinginan pemiliknya. Hati punya ruang yang hanya akan diisi oleh satu pemenang cintanya. Jika ada dua kandidat pemenang yang dipaksa untuk berdiam di ruang yang sama, maka hati tersebut akan terluka. Oleh karenanya, biarkan hati memilih siapa penghuni yang akan menempati ruangannya. Jangan menculik penghuni yang sudah berdiam di hati orang lain. Jodoh tak akan memasukkan penghuni yang salah kepada hati yang menjadi kediamannya. Jangan memaksa cinta!" Eyang memberikan wejangan dengan begitu serius.


Kami berempat terdiam. Masing-masing berkutat dengan pikiran sendiri. Memahami semua yang dikatakan Eyang dan menyambungkannya dengan kisah kami. Semuanya terasa pas. Tali jodoh, mencintai hati yang berpenghuni serta jangan memaksa cinta adalah kalimat yang mewakili Dion, Mas Rud dan Pak Aryan. Lelaki-lelaki yang sedang bersaing untuk menjadi penghuni hatiku dengan cinta yang ditawarkan dengan cara yang berbeda.


"Cinta itu mudah datang tapi mencintai itu akan membutuhkan waktu seumur hidup. Jika cintamu berakhir tali perjodohan maka cintailah ia disepanjang hidupmu. Jangan ada hati yang akan kamu bagi karena menjadi yang kedua itu sakit rasanya."


Dion menatapku lembut dan menggenggam tanganku seolah meyakinkan apa yang baru saja Eyang kemukakan

__ADS_1


"Jika cinta kalian harus pupus karena datang pada waktu yang salah, ikhlaskan! Cinta itu menjaga bukan merebut." Eyang menepuk pundak Mas Rud. "Akan datang jodoh lain untukmu!"


Mas Rud nampak kaget dengan ucapan Eyang. Dia mencoba tersenyum. Yang bisa ku tangkap itu adalah senyuman yang dipaksakan. Ia menunduk dan sekilas melirikku.


"Nak Aryan, Eyang bangga padamu. Meskipun kamu kekurangan kasih sayang seorang wanita, Eyang yakin suatu saat akan ada seorang wanita yang akan melimpahkan banyak cinta untukmu."


Eyang tersenyum, mengedarkan pandangannya pada kami berempat. Seolah sedang mengevaluasi perasaan kami. "Kalian semua harus bahagia, Eyang tinggal dulu menemui pengantin baru. Semoga kalian segera menyusul, memperkenalkan tiga wanita kalian sebagai cucu mantu Eyang."


Kemudian Eyang beranjak pergi meninggalkan kami yang masih memaku. Aku bisa merasakan kalau kami baru saja diberi wejangan. Sebuah nasihat yang diperluas, padahal sebenarnya tepat menyasar.


"Apa Eyang tahu?" tanyaku yang entah ku tujukan pada siapa.


Dion menggeleng, Mas Rud masih menunduk sementara Pak Aryan tetap dengan senyumnya. Aku? Aku sibuk dengan berbagai pertanyaan.


"Kita sedang dihakimi, ya?" tanyaku lagi.


Semua masih terdiam. Tak ada yang ingin memberikan jawaban atas pertanyaanku yang datang bertubi-tubi. Namun itu tak membuatku berhenti bertanya. "Mengapa cinta kita rumit, ya?" pertanyaanku mulai konyol, berharap bisa memancing reaksi mereka.


Sebuah cubitan hidung aku terima. "Yang akan menghuni hatimu hanya aku. Jangan mengharapkan lelaki lain!"


"Salah sendiri, ditanya pada diem aja," celetukku.


"Aku berjaga di pintu hatimu, aja, Sa! Siapa tahu Dion keluar dan aku siap menggantikannya," seloroh Pak Aryan dengan cengiran senyumnya.


"Kita, gelud aja, yuk!" ajak Dion sembari menyunggingkan senyum culasnya.


Sementara Mas Rud masih terdiam. Tak ikut bereaksi dengan gurauan Dion dan Pak Aryan. Ia memilih mengambil segelas air putih yang ada di depannya. Berpikir sebentar dan kemudian meneguknya sampai tak bersisa.


"Selow aja, Rud," ucap Pak Aryan.


Lagi-lagi dia melirikku dan kemudian beranjak pergi. Tak ku sadari jika aku terus fokus mengikuti semua yang dilakukannya. Tak memperdulikan Dion disampingku dan juga Pak Aryan yang ku yakin juga bisa melihat apa yang ku lakukan.


*****


Cinta itu selalu hadir dengan berbagai cara dan kepada siapa saja. Seorang bodyguard bisa jatuh cinta pada nona yang dijaganya begitupun seorang idol bisa terjerat cinta terpaksa dengan sesama idol juga. Temukan keunikan cinta mereka pada dua novel di bawah ini.



__ADS_1


__ADS_2