Tentang Hati

Tentang Hati
Sah


__ADS_3

Pantulan wajah ayuku yang sudah dipoles make up, kupandang dengan teliti dari kaca meja rias di depanku. Kebaya putih yang identik dengan kesucian sudah melekat di tubuhku. Benar-benar tak terbersit di benakku jika kepergianku ke Jogja untuk menghadiri pernikahan Maya dan Mas Rendra ternyata juga akan menorehkan cerita yang sama, pernikahanku.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Kenapa menangis?" tanya Mama seraya menyerahkan selembar tisu padaku.


"Apakah ini bukan mimpi, Ma?" tanyaku balik.


Bagiku ini susah dipercaya. Menikah dengan Dion memang sudah ada dalam agenda hidupku. Namun tentu saja bukan dalam waktu secepat ini. Terkesan dipaksakan meskipun sebenarnya aku juga tidak sepenuhnya terpaksa. Aku hanya masih gak percaya jika sebentar lagi statusku akan berganti.


Mama menggenggam jemariku. "Ini kenyataan indah, Sayang. Mama yakin kamu akan bahagia. Dion akan selalu menjagamu seperti yang dilakukan Papa dulu."


Mendengar kata Papa hatiku semakin membuncah. Bagaimana bisa aku menikah tanpa sempat meminta izin Papa di pusaranya. "Rosa belum mengenalkan Dion pada Papa, Ma."


"Mama menarikku ke dalam pelukannya. Mengusap punggungku dengan lembut dan penuh kasih. "Papa pasti juga bahagia melihatmu menemukan lelaki yang baik seperti Dion."


Kuanggukkan kepalaku. Meyakinkan hati jika ini adalah keputusan terbaik untukku. Memilihnya sebagai pendamping hidupku untuk selamanya. Untuk apa berlama-lama jika pada ujungnya menikah dengannya juga. Ini hanya masalah waktu, datang lebih cepat atau sedikit terlambat.


"Mas Dion adalah jodoh terbaik untuk Mbak Rosa, ingat itu." Kristy yang sedari tadi hanya menyaksikan kini ikut menghambur ke dalam pelukanku dan Mama. Bertiga menitikkan airmata karena bahagia. Berada di titik ini adalah mimpi yang terwujud lebih cepat dari yang kukira.


*****


Duduk bersebelahan dengan Dion, calon suamiku, membuatku diserang oleh rasa deg-degan yang berkepanjangan. Aku tak sanggup untuk melihatnya. Bahkan untuk meliriknya pun aku harus mengumpulkan serpihan-serpihan keberanianku yang tercecer. Sungguh kesakralan sebuah prosesi akad yang akan digelar ini sudah membuatku demam panggung.


Papa, inikah calon penggantimu untuk menjagaku? Lelaki yang sekarang ada di sampingku, duduk sejajar di bawah payungan selendang putih ini. Diakah lelaki yang akan menggenggam erat jemariku, menyeberangi jalan lurus, berbelok, berbatu dan berliku dalam perjalanan rumah tanggaku? Diakah yang akan menjadi pengambil tanggung jawab atas kesalahanku yang dulu menjadi tanggung jawabmu? Diakah yang akan menjadi pelembut untuk kekeraskepalaanku? Diakah calon Bapak untuk anak-anakku?


"Hmmm ...." Dion berdehem, membuat lamunanku berserakan.


Airmataku yang sempat akan jatuh karena mengingat Papa, bergelayut manja lagi di kelenjar penghasilnya. Beralih jadi letupan detak jantung yang semakin menggila. Kenapa rasa ini tak berhenti? Tak seperti biasanya ketika aku duduk di dekatnya. Rasa ini begitu istimewa, seistimewa kisah yang akan kami awali malam ini. Lembaran baru perjalanan hidup, dengan status sebagai suami dan istri.


Tatapan lembut diiringi senyum manisnya sedikit meredakan gejolak rasa yang tak terkendali. Seperti sebuah obat dari sakit yang sedang mendera. Entah kenapa aku menjadi tersipu. Merasa malu mendapatkan tatapan dari seseorang yang sudah biasa melakukan itu pada hari-hari sebelumnya.


Jantungku semakin memacu kala suara Ustaz Amar mulai membimbing lelaki di sampingku ini untuk mengikrakan ijab qabul. Akad suci, janji kepada Sang Pemberi Cinta, perlahan terlantun dari bibir lelaki yang tinggal menunggu kata "SAH" untuk menjadi suamiku. Segala rasa bertahta sama kuatnya di hatiku. Bahagia, haru bahkan rasa sedih mewarnai hati yang kini sedang berdiri diambang pergantian status.


Bahagia, bahwasanya pada akhirnya aku sanggup memilih lelaki yang akan menjadi sandaran hidupku selamanya. Lelaki yang sudah memperjuangkanku dan kini aku dan dia akan berjuang bersama dalam mahligai rumah tangga. Melewati hari panjang dalam tangis dan tawa bersama. Bermimpi memiliki anak-anak manis yang selalu menjadi penyemangat saat lelah melanda.


Namun, ada sedikit kesedihan yang menemani hari bahagiaku. Ketidakhadiran Papa di sini, memicu airmata yang jatuh tak tertahan. Bagiku, Papa adalah cinta pertama. Lelaki yang kucari kloningannya untuk kujadikan cinta terakhir. Penjaga hati dalam bingkai rasa yang bernama cinta antara seorang pria dan wanita.


Dan cinta itu kini kupasrahkan pada lelaki bernama Dion Wijaya. Lelaki yang baru saja mengikatku sebagai istrinya dengan ikrar yang terucap dari bibirnya dan disahkan oleh semua yang hadir menyaksikan bersatunya cinta kami dalam ikatan suci.


Uluran tangannya yang kusambut dengan tanganku berakhir dengan sebuah ciuman hormatku dipunggung tangannya. Sebuah kecupan penuh kasih lantas ia daratkan di keningku. Sebuah perasaan yang begitu indah, tautan cinta dalam kehalalan Sang Penguasa Hati.


"Mulai sekarang jangan panggil aku tanpa sematan kata Mas, ya," bisik Dion yang membuatku tertunduk malu.

__ADS_1


"Aku, suamimu sekarang," bisiknya lagi.


Darahku berdesir mendengar kalimatnya. Terdengar lebay tapi begitulah yang terjadi. "Mas ... Dion ...," ejaku dengan terbata.


Tatapanku yang tepat menghujam di manik hitamnya, mendapati sebuah pancaran bahagia penuh cinta. Kembali ia mencium keningku untuk kali kedua. Lagi-lagi aku tersipu, seperti anak gadis yang belum pernah disentuh pria.


"Cium aja terus, sampai kami malu dan bubar. Itu kan yang kalian mau?" sindir Om Septian dengan raut sebelnya.


"Om peka banget, gitu juga masih jomblo," sindir balik Dion.


"Sungkem dulu sama Papi, Mami, Mama dan Eyang," perintah Om Septian kemudian.


Dion menggandengku untuk mendekat ke Mama. Kupeluk dengan erat wanita yang telah berjuang sebagai single parent itu untuk membesarkanku dengan penuh perjuangan. Bukan hanya memberiku banyak cinta namun juga berusaha memberi materi seperti yang Papa berikan dulu. "Ma, maafkan Rosa. Belum bisa membahagiakan Mama sampai detik ini."


"Melihatmu menikah dengan Mas Dionmu, adalah puncak kebahagiaan Mama, Sayang."


Mama memelukku dengan segenap perasaan sayangnya. Buliran airmata yang mengalir, kurasa adalah bukti kebahagiaan beliau yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Inilah cinta seorang ibu yang sesungguhnya.


"Mama percaya, kamu adalah penjaga terbaik untuk istrimu," tutur Mama seraya menepuk pundak Dion.


"Terimakasih , Ma. Dion akan menjaga putri Mama melebihi menjaga diri Dion sendiri," yakin Dion dengan serius.


Kami pun beralih sungkem pada Mami. Bukannya suasana tegang, kami malah disuguhi kerlingan mata Mami yang penuh ambigu.


Ditodong cucu, sama saja dengan dipaksa melewati malam penuh gejolak. Malam panas di bawah kungkungan dinginnya AC yang menyala. Berbalur keringat dan pacuan napas yang terengah antara sakit dan nikmat.


"Malah melamun, udah bayangin, ya?" goda Mami tepat sasaran.


Malu!


Saat kemesumanmu tertangkap basah, di situlah kamu terciduk.


"Rosa tuh, malu-malu tapi ngarep, Mi," Dion malah ikut menggodaku.


Sempurna sudahlah rona merah di wajahku. Bertubi terjebak dalam obrolan yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik.


Memalukan!


"Kamu jangan merusak trah Wijaya yang mengalir kental di darahmu. Wijaya itu penuh pesona, dingin dan panas berskala. Ingat Om Dirga Mahesa Wijaya dan Arif Saputra Wijaya, mereka adalah contoh-contoh Wijaya yang sukses menjerumuskan cinta pada wanitanya. Jangan sampai kamu merusak reputasi Wijaya. Tampan dan Memuaskan!" pesan Papi yang membuatku merinding disko.


Untuk membayangkan Wijaya yang Papi katakan itu saja aku sudah ngeri. Tampan dan Memuaskan? Ish ... horor.

__ADS_1


"Itu gak usah Papi khawatirkan. Darah Wijaya dalam diri Dion bahkan lebih kental dari Om Dirga dan Arifnya Khanza," sombong Dion dengan membusungkan dadanya.


Saatnya sungkem kepada Eyang. Pikiranku sudah dipenuhi dengan bayangan nasihat panjang seperti hari itu. Hatiku bahkan sudah kusiapkan untuk segala kemungkinan yang mungkin akan membuatku menahan sesak.


Dion duluan, dan aku menjadi yang berikutnya. Nasihat diberikan saat kami berdua sudah duduk berdampingan.


"Dalam rumah tangga itu yang penting adalah bicara bukan saling mendiamkan. Hanya itu yang Eyang pesankan untuk kalian," wejang Eyang dengan senyum mengukir di bibirnya.


Hah ... benarkah? Kenapa hanya singkat sekali? Saling Bicara bukan mendiamkan, apakah dari kalimat itu sudah menjabarkan maksud panjang dari sebuah nasihat hidup?


Sepertinya iya, hari ini aku bingung tapi mungkin suatu saat aku akan mengerti apa maksud pesan Eyang ini.


"Ayo, Sayang," ajak Dion undur diri dari hadapan Eyang, karena aku terhenyak dengan pikiranku dan jadi melamun.


Sentuhan pada lenganku, mengembalikan fantasiku yang meliar beberapa waktu.


"Ayo lomba, siapa yang duluan, nyelesaiin target PO dari Mami!" tantang Mas Rendra setelah kami berkumpul dengannya.


"Aku kalah start, pertandingannya tidak adil," celetuk Dion menanggapi.


"Kalah start tapi triple up tiap malam, jatuhnya sama aja," sindir Om Septian yang ikut bergabung dengan obrolan kami.


"Aku gak ngerti obrolan kalian, aku minyak aja, deh," seloroh Kristy dengan senyum malu-malu.


"Sini, Kris! Kamu harus banyak bergaul sama Kakak, biar pengetahuanmu tentang Ilmu kedokteran bertambah," jelas Om Septian modus.


"Kakak keberapa, 'tuh? Pertama apa Kedua? Jangan dengerin, Kris!" terang Mas Rendra menutup akses Om Septian yang mau tebar pesona dengan adik cantikku.


"Ponakan, sekali-kali memuluskan jalan Om cari tante buat kalian, kenapa, sih?" gerutu Om Septian.


"Ya kali Om, adik iparku merangkap tanteku. Jadi kayak sinetron televisi sebelah dong?" papar Dion dengan gaya sindirannya.


"Cinta itu tidak mengenal batas usia dan melampau dimensi kekerabatan," Om Septian tak patah kata untuk melawan ponakan-ponakannya.


Aku dan Maya membiarkan saja debat mereka. Memang seperti itu yang akan terjadi jika mereka berkumpul. Sementara Kristy yang menjadi topik pembicaraan juga tak menanggapi.


*****


Maafkan ya readers semua, author terpaksa menikahkan Dion dan Rosa secara siri dulu, sebelum menikah secara resmi. Ini author lakukan untuk menjaga mereka dari perbuatan yang dilarang sebelum pernikahan.


Silakan untuk pro dan kontra karena pada dasarnya netijen julid itu tercipta untuk membuat semangat menulis author semakin membara.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, ya!


__ADS_2