Tentang Hati

Tentang Hati
Sudah Pergi


__ADS_3

Maya PoV


"Mas Rendra, bukankah itu Mas Rud?" tunjukku pada sesosok lelaki yang berdiri di depan pintu kamar rawatmu.


"Kita lihat saja dari sini!" pinta Mas Rendra.


Aku menghentikan langkahnya dan menggamit lengan Mas Rendra.


"Mas Rud sepertinya menangis, Mas!" aku berucap.


"Dia belum ikhlas ninggalin Rosa yang begitu dicintainya dengan cara begini, May!" Mas Rendra menjelaskan.


"Loh, kok malah pergi, gak jadi masuk!" aku bingung.


"Sssstttt ...!"Mas Rendra mengisyaratkanku untuk diam.


"Ayo masuk!" ajak Mas Rendra setelah laki-laki di depan pintu itu beranjak pergi.


Aku pun mengikuti langkah Mas Rendra.


"Gak usah ceritain, apa yang kamu lihat tadi!" ingat Mas Rendra.


Aku pun mengangguk tanda mengerti. Walaupun sebenarnya hatiku masih bertanya, kenapa ... kenapa dan kenapa? Banyak sekali tanya yang menggantung di pikiranku.


*****


"Di," aku memanggil Dion.

__ADS_1


"Diamlah! Aku gak mau mendengarmu meracau!" tegas Dion.


"Sakit," kataku.


"Kamu akan semakin sakit, jika terus saja mengirimi dia WA dan menelepon tanpa ada balasan darinya," jelas Dion lantas mengambil HP dari tanganku.


"Kenapa dia tega, Di?" tanyaku dalam tangis.


"Kalau dia sudah memutuskan seperti ini, dia pasti punya alasan yang kuat!" Dion menghiburku.


"Aku mau tau alasannya, Di!" aku benar-benar terlihat kacau.


"Beri dia waktu, untuk bisa menjelaskan semuanya. Mungkin sekarang belum waktunya kamu tau! Bukankah kamu mengenalnya lebih dalam?" Dion terus menghiburku.


Kata-kata Dion, mampu membuatku berpikir sedikit lebih jernih. Sepertinya memang aku juga harus memahami kenapa dia memilih jalan ini. Bukan hanya fokus kenapa aku yang merasa paling tersakiti. Tapi namanya aku ... seorang wanita ... hati lebih dominan dibanding pikiran, kejernihan pikiranku itu tak berlangsung lama, dan kembali tangis yang meraja. Aku butuh waktu.


*****


Maya PoV


"Jadi, Mas Rud tadi ngeliat ini! Pantesan gak jadi masuk dan langsung pergi," ungkapku.


"Aku rasa bukan itu alasan Rud memilih pergi," Mas Rendra memberikan kalimat.


Aku melihat ke arah Mas Rendra. Sepertinya Mas Rendra tau benar, dibalik kisahmu dan Mas Rud yang menyakitkan ini.


"Ini rumit! Jangan paksa aku untuk menceritakannya!" pinta Mas Rendra yang sadar ku perhatikan.

__ADS_1


Tok-tok-tok!


Mas Rendra berinisiatif mengetuk pintu dulu.


"Gak 'pa 'pa Mas kita masuk sekarang?" tanyaku.


Mas Rendra membuka pintu dan mulai melangkah masuk.


"Normalkan ekspresimu!" pinta Mas Rendra


*****


Mendengar suara ketukan di pintu, aku mulai melirihkan isak tangisku. Dion pun melepaskan pelukannya pelan-pelan. Maya dan Mas Rendra terlihat ragu-ragu berjalan ke arahku.


Maya yang biasanya amat cerewet, kini hanya membisu. Dia mendekatiku dan memelukku erat sekali. Dion dan Mas Rendra berjalan menjauh dan memilih duduk di sofa.


"Rosa beruntung memilikimu," ucap Mas Rendra.


"Dia harusnya lebih beruntung, jika bisa bersama Rud!" Dion menjelaskan.


"Dia akan kurang beruntung, jika kehilangan Rud dan kamu gak ada di sisinya!" Mas Rendra menegaskan.


"Kamu gak menyalahkanku, aku ada di sini sekarang?" tanya Dion.


"Aku justru berterimakasih, dan sepertinya, Rud pun akan melakukan hal yang sama," ungkap Mas Rendra.


"Bisakah aku menemuinya?" tanya Dion.

__ADS_1


"Nanti aku usahakan! Sekarang jagalah Rosa!" pinta Mas Rendra.


__ADS_2