
"Kris, mau gak?" tawarku saat aku menghampirinya yang tengah asyik di depan laptopnya.
Tawaranku diacuhkan oleh adik kesayanganku itu. Dia masih asyik dengan layar di depannya. Tak ku ambil pusing kelakuannya. Ku pilih untuk memanjakan diri di sofa dan mulai membuka bungkus gulaliku.
Boom!
Aku memecahkan plastik bungkus gulali dengan memukul-mukulnya persis seperti anak SD yang sedang meletuskan bungkus cikinya. Suara itu justru menarik perhatian Kristy. Dalam sekejap dia sudah mencomot gulaliku
"Malak anaknya siapa, Mbak?" selidik Kristy.
"Anaknya kunti di pohon mangga depan, tuh," jelasku ngasal.
"Iseng banget," seloroh Kristy.
"Salah sendiri, masa anak kunci, si tuyul, di beliin gulali warna merah jambu," ucapku tambah ngasal.
"Mbak, lagi dikacangin Mas Dion, ya? Kok rada-rada begini. Hayo ngaku, dapat gulali dari mana?" usut Kristy seraya meneruskan tindakan mencomotnya.
Aku melihat HPku yang bergetar. "Dibeliin Pak Aryan."
Mendengar penjelasanku, Kristy segera menghentikan makannya dan fokus melihatku. "Dalam rangka apa?"
"Oleh-oleh dari Harvard," jawabku santai.
"Ah, mengada-ada, modus doang, tuh. Mbak, jangan deket-deket sama Pak Aryan, nanti Mas Dion cemburu!" nasihat adikku dengan muka seriusnya.
"Iya," jawabku terus mengunyah gulali.
Mama yang kebetulan lewat menghentikan langkahnya setelah melihat kami sedang asyik berbagi gulali. Tak ku sangka, Mama ikut mencobanya.
"Rasanya masih sama seperti kamu kecil dulu, Sa," kata Mama sambil terus mengunyah.
"Masa, sih, Ma?" Kristy memastikan.
"Iya, Kris, dulu Mbakmu itu suka sekali makan gulali. Tiap ke pasar malam pasti minta dibeliin. Sampai papamu selalu bawa pulang kalau ketemu di jalan," kenang Mama.
"Jadi kangen Papa, deh, Ma," aku mulai melo.
"Asal jangan kangen sama yang beliin gulali, aja, Mbak," ledek Kristy.
"Memang, siapa yang beliin gulali?" Mama mencari jawaban.
"Pak Aryan," jelas Kristy.
Mama mengerutkan keningnya. Mengingat-ingat siapa pemilik nama yang baru saja Kristy sebutkan. Membuka memori untuk menemukan sebuah nama yang masih begitu asing di ingatannya.
"Pak Aryan, manajermu?" telisik Mama berikutnya.
"Iya, Ma. Kristy yakin kalau Pak Aryan itu naksir sama Mbak Rosa," tambah Kristy.
"Sa, kamu sudah punya Dion. Jangan terlalu dekat dengan laki-laki lain. Jaga perasaan Dion dan juga jaga hatimu," nasihat Mama.
__ADS_1
Aku hentikan kunyahanku. "Rosa hanya temenan kok Ma sama Pak Aryan. Dion pun tahu. Pak Aryan juga tahu kalau Dion itu pacarku. Mereka berteman juga, kok, Ma," jelasku panjang lebar.
"Pertemanan laki-laki dan perempuan itu berbeda. Mereka bisa terlihat adem-ayem tapi sebenarnya hatinya bergejolak. Kamu yang harus bisa menjaga jarak dan perasaan mereka," nasihat Mama lagi.
"Iya, Ma," aku menyimpan nasihat Mama di benakku.
*****
Sarapan pagi, rutinitas yang tak pernah aku lewatkan. Bagiku, sarapan itu adalah suntikan mood yang harus selalu ku jaga. Aku tipe orang yang gak bisa nahan lapar. Namun untungnya, hobi makanku berbanding terbalik dengan lonjakan kenaikan berat badanku. Seberapa banyakpun aku makan, tubuhku ya segini-segini saja. Itulah enaknya jadi, aku.
"Kris, Mbak nebeng ke kantor, ya," ucapku pada Kristy yang baru saja duduk.
"Tapi, Mbak yang nyetir, ya?" suruh Kristy.
"Perlunya nebeng tuh karena males nyetir," celetukku.
"Susah deh kalau berurusan sama pemalas," gerutu Kristy.
Meskipun nggerundel begitu, aku yakin Kristy senang karena aku nebeng mobilnya. Arah kampusnya dan kantorku yang sejalan tak membuat kami sering berangkat bersama. Dia lebih suka membawa mobilku. Sementara aku lebih memilih naik taksol ataupun ojol. Menurutku itu lebih seru, gak membosankan.
Sembari menunggu Kristy selesai sarapan, aku nge-chat Dion. Sepertinya dia begitu sibuk. Semenjak semalam, dia sama sekali tak menghubungiku. Padahal biasanya ia selalu sibuk menawarkan diri untuk mengantar atau menjemputku.
Chat-ku yang berisikan kata sapaan "Sayang" sudah terkirim. Sudah centang dua tapi belum berwarna biru. Setelah beberapa lama akhirnya chat-ku dibacanya juga. Namun, tak juga mendapatkan balasan. Bahkan sampai aku berada dalam mobil untuk perjalananku ke kantor, chat-ku diabaikannya.
"Kenapa, sih, Mbak, manyun begitu?" telisik Kristy.
"Chat-ku di read doang, tapi gak dibales sama Dion," ceritaku.
"Nah lo, marah, kali," pendapat Kristy.
"Gara-gara semalam kali, Mbak,? Kristy mengingatkanku.
"Bisa juga, sih, Kris. Dion tahu darimana, coba?" gumamku.
"Ada orang iseng, kali, Mbak," ucap Kristy.
Mungkin, akan selalu ada orang berhati buruk diantara orang berhati baik. Kuncinya selalu berbuat baik kepada semua orang karena kita tidak tahu siapa diantara mereka yang keji hatinya. "Nanti, deh, aku hubungin dia, lagi. Mungkin dia lagi di jalan."
Kristy membelokkan mobilnya ke dalam area kantorku. "Pak Aryan, ada gak, Mbak? Aku pengen tahu kayak apa orangnya."
"Gak usah tahu, nanti naksir," ucapku sambil bersiap-siap turun.
"Terimakasih, ya, udah nganterin, Mbak. Nih buat jajan," ku sodorkan selembar kertas berwarna merah yang baru saja ku ambil dari dompetku.
"Nanti, aku jemput, lagi, ya?" tawar Kristy.
"Gak usah, aku gak kuat bayar kalau tiap nebeng bayar seratus ribu," gurauku.
Kristy tergelak. "Ah, Mbak tau, aja."
*****
__ADS_1
DR. Art, sebuah papan nama terukir indah di depan gedung yang dijadikan Dion sebagai kantornya. Bangunan berlantai tiga ini memiliki desain unik dengan warna yang kalem, sangat artistik.Tanpa ragu ku langkahkan kaki memasuki gedung itu. Melewati pintu kaca yang lebar, aku menuju meja resepsionis.
"Selamat siang, Bu! Ada yang bisa saya bantu?" seorang wanita berhijab menanyakan kepentinganku berkunjung ke kantornya.
"Pak Dionnya ada, Mbak?" tanyaku.
"Apa ibu sudah ada janji?" tanya wanita itu lagi.
"Belum, Mbak," jawabku.
"Maaf, Ibu, Bapak Dion sangat sibuk. Jika ingin bertemu harus ada janji dulu," tuturnya lagi.
Bagaimana bisa buat janji, orangnya saja tidak bisa dihubungi. Kalau ada kabar darinya, aku gak bakalan datang ke sini.
"Tolong bilang dulu, Mbak, kalau Rosa mencarinya," pintaku agak memaksa.
Resepsionis itu kekeh menolakku. "Maaf, Bu, Bapak sedang meeting di luar."
Akhirnya aku putuskan untuk meninggalkan kantor Dion. Kecewa? Pasti! Sudah dibela-belain nyamper ke kantornya, malah sia-sia. Jam makan siang yang rela ku gadaikan demi dirinya, nyatanya hanya bikin hati dongkol.
Ku hentikan perjalananku di kedai bakso yang berada di sebelah kantor Dion. "Bakso satu aja, Bang!"
Sembari menunggu pesananku datang, aku kembali mencoba untuk nge-chat Dion lagi. Namun sayangnya, aku kembali diabaikannya. Bahkan sampai pesananku datang, tak ada juga balasan darinya. Sebal!
"Eme, Pak Dion makin hari makin ganteng, aja, ya?" seorang gadis tomboy di sebelah mejaku mulai mengajak bicara teman di seberang kursinya.
Penyebutan nama Dion membuat telingaku sengaja ku pasang untuk mendengar celotehan berikutnya. Meskipun nama Dion itu banyak tapi sepertinya Dion yang mereka bahas adalah Dionku, tunangan tampanku yang sedang mengacuhkanku. Hal ini bukan asal tebak saja, tapi ID Card yang tergantung di leher mereka sudah menjelaskan itu semua.
"Iya, nih, jadi mood booster aku!" balas gadis berjilbab pink yang dipanggil Eme itu.
"Pak Dion udah punya pacar belum, sih?" gadis tomboy itu lagi-lagi mengorek informasi.
"Menurut kasak-kusuk, sih, udah punya. Tapi gak ada yang tau, pacarnya itu kayak gimana. Kamu tau gak, Liska? jelas Eme.
"Aku malah gak tahu apa-apa, makanya nanya kamu," papar gadis tomboy yang bernama Liska tersebut.
"Jangan-jangan, pacarnya Pak Dion tuh buruk rupa, makanya diumpetin," tebak Eme.
"Kayaknya," timpal Liska santai.
Hai ... hai ...! Pacarnya Pak Dion itu aku, Rosa yang cantik. Bagaimana bisa kalian berpikir kalau aku buruk rupa?
Pak Dion ... kenapa aku jadi lebih asyik menikmati ghibahan gadis centil itu?
Haist!
Aku harus menghubungi Dion lagi. Dimana dia sekarang?
Mulai ku sentuh layar HPku yang menampilkan angka-angka membentuk susunan nomor telepon Dion. Lagi dan lagi tak diangkatnya. Menyebalkan sekali. Tiba-tiba saja teleponku berdering. Nama Dion terukir sebagai pemanggilnya.
"Kamu ada dimana? Aku ke kantormu gak ada. Aku telepon gak diangkat. Aku chat gak dibalas. Kalau marah itu ngomong, jangan diem aja!" cercaku setelah mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Aku tunggu di ruanganku!"
Tut-tut-tut!