
Lirih suara yang sedang memanjatkan doa, terdengar hingga alam bawah sadar. Membangunkanku di sepertiga malam. Ketika mataku dibuai lembutnya suara dalam doa, mataku dihamparkan pemandangam yang sangat indah. Suamiku sedang khusyu' dengan curhatan pada Sang Pemilik dirinya. Berkencan dengan mesra, dibawah lantunan doa.
Terus kumemandang Dion tanpa melepas senyum hingga tak kusadari jika ia sedang melihatku juga. Bertemu pandang dan senyum tulusnya itu aku balas senyum canggung. Aku merasa malu, ternyata dia lebih dari yang kukira. Pemahaman dan pengamalan agamanya tak terbaca dari penampilan luarnya yang selalu modis dan fashionable. Tidak melulu berbalut koko dan atribut sejenisnya.
"Kenapa melihatku begitu?" tanya Dion begitu duduk di ranjang.
Jawaban untuk pertanyaannya adalah gelengan kepala. Susah mau berucap. Dion pun lantas mengusap rambutku. Senyum yang terukir manis dibibirnya seakan kontras dengan wajah lusuhnya semalam. Sehebat itukah kekuatan sepertiga malam? Mengubah penat menjadi wajah penuh nikmat ketika di tatap?
"Aku terlalu sibuk sampai mengabaikanmu hari ini. Apa ada cerita yang bisa kudengar?"
Tatapanku yang menyiratkan tanya sepertinya terbaca oleh Dion. Dengan senyum yang tak lepas dari bibir, ia mengusap lagi rambutku yang masih berada dalam kuasa tangannya. Sedikit menghela napas sebelum bercerita.
"Sayang, setiap pekerjaan pasti ada resiko yang ditanggung, untung dan rugi. Perputaran roda usaha itu akan selalu terjadi. Semua pasti ingin mencari keuntungan tapi suatu saat rugi pasti tak bisa dihindari," terang Dion dengan pilihan kalimatnya yang sangat enak didengar.
"Proyek kamu merugi, Sayang?" tanyaku dapat membaca kalimatnya yang tersirat.
"Terkena pinalti, Sayang."
Pinalti adalah denda yang harus dibayarkan jika suatu proyek mengalami keterlambatan penyelesaian sesuai dengan tenggak waktu yang telah disepakati.
"Lalu?"
"Udah ada jalan keluarnya kok, Sayang. Kamu tenang saja, ya," Dion mengulas lagi senyumnya.
__ADS_1
"Lantas kenapa mukamu kusut sekali semalam, Mas?" kulikku perlahan.
"Ada kejanggalan laporan keuangan. Sebulan ini, aku tidak begitu fokus di kantor, sepertinya ada oknum yang main curang," terang Dion masih bisa mengulas senyuman padahal sedang mengalami masalah runyam.
"Apakah berpengaruh besar pada perusahaan, Mas?" tanyaku semakin mendalam.
"Iya, aku kecolongan. Ini sudah terjadi beberapa bulan. Sedang diaudit," jelas Dion yang membuat tanyaku perlahan mulai mendapatkan jawaban.
"Proyek yang lainnya gimana, Mas? Apakah seperti itu, juga?"
Melihat kesibukannya akhir-akhir ini, jam kerjanya yang tidak teratur dan raut wajahnya yang kusut, aku tahu ada sesuatu yang tidak biasa. Dan benar, perusahaannya sedang terguncang. Buah kerja keras yang dirintisnya kurang dari lima tahun itu memang berkembang pesat dengan cepat. Saingan tidak sehat dalam dunia usaha memang tidak pernah bisa diprediksi. Naik cepat hari ini, bisa jatuh esok hari. Sepertinya itu sedang menyasar DR Art.
"Dua proyek yang tinggal tanda tangan tiba-tiba lepas dari genggaman, Sayang."
"Mas," lirihku menyerukan panggilan sambil mengusap punggung tangannya.
Bisa ya, Dion setenang itu? Ini realita atau hanya sandiwara? Masalah ini besar tapi dia tetap tegar. Kelangsungan hidup perusahaan sedang diujung tanduk. Masa depan semua orang dipertaruhkan. Bukan hanya karyawan tapi juga nasib kami seperti berada di tepi jurang.
Aku khawatir dengan sikapnya. Lelaki yang tak suka membagi cerita ini jangan sampai meledak saat semua yang dia jebak dalam pertahanan membludak. Saat detik itu terjadi, pasti dirinya akan jatuh dalam dasar yang susah untuk diberi kekuatan.
"Mas, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?"
"Tetap di sampingku apa pun yang terjadi. Kita berusaha dan berdoa bersama. Apakah kamu bersedia?" tanya Dion sambil menatapku lembut.
__ADS_1
Pertanyaan yang seharusnya tak perlu terungkap jika dari awal aku tidak berulah yang membuat orang kesal. Gamang dengan pilihan yang sebenarnya sudah jelas tanpa harus kuresahkan. Membuang mantan dan memantapkan hati pada kekasih yang ada di sisi. Jadi wajarlah jika sekarang ia bertanya kesediaanku untuk tetap bersamamu.
"Sayang, jika semua orang pernah meragukan hatiku? Apakah kamu pilihan terbaik atau hanya jadi sandaran saat tersakiti? Sekarang adalah saat yang tepat untukku membuktikan. Bukan pada mereka atau juga padamu. Namun ini adalah pembuktian pada diriku sendiri bahwasanya memilihmu adalah dari hati. Bukan pikiran yang kupaksakan ataupun logika yang kuolah menjadi rasa," terangku tulus.
Dion meraihku ke dalam pelukannya. Mengusap punggungku dengan penuh cinta. "Aku percaya padamu, Sayang. Rosaku orang yang tak pernah bisa bersandiwara. Dia jujur meskipun akan membuat hati seseorang menjadi ajur, luntur dan hancur."
"Kamu mengenalku dengan baik, Sayang. Aku tak akan pernah bisa berpura-pura," jelasku seraya semakin mengeratkan lingkaran tangan.
"Jika aku tak lagi seperti sekarang, apakah kamu masih mau bertahan?"
"Asalkan denganmu, aku siap berjuang. Kita lewati hari berdua suka dan duka."
Iya ... manis bicaraku kali ini bukan hanya sekedar pemoles untuk basa-basi. Ucapanku jujur. Plin-plan yang dulu tersemat sekarang sudah minggat. Yang tertinggal adalah setia. Satu hati untuk mencintai suami. Berjuang bersama melibas tangis dan menawan tawa untuk dijadikan abadi selamanya.
🌊🌊🌊🌊🌊
Dion PoV
Ketika aku sedang mendekapmu, yang ada di pikiranku adalah ingin seperti ini selamanya. Namun hatiku sendiri sebenarnya tengah bertarung. Keegoisan tetap mempertahankan atau melepaskan demi sebuah kebahagiaan. Namun hatiku merasa lega, saat kamu meyakinkanku bahwasanya kita akan tetap bersama melewati hari dalam suka dan duka.
Dengan usapan yang kuberikan pada rambut panjangmu, kuyakinkan bahwa perjalanan hidup kita yang panjang tidak akan terus senang. Tangis pasti akan datang mengiris. Namun tawa juga akan kembali membahana jika kita bisa melewati ini bersama. Bersatu hati melibas masalah menjadi saksi yang menguatkan bahwa gelisah tak akan membuat kita terpisah.
Akulah lelakimu, yang akan tetap memeluk meskipun aku sedang terpuruk. Keputusanmu untuk memilihku sebagai sandaran, akan aku buktikan bahwasanya aku adalah karang yang akan tetap tegar menghadang deburan ombak yang menghantam dengan begitu ganas.
__ADS_1
Demi bahagia yang harus kita ciptakan, demi baby yang sekarang sedang berkembang dalam rahimmu, maka aku akan selalu tersenyum memberimu pengharapan bahwa bahagia kita akan selalu ada. Bukan tercipta hanya karena adanya harta tapi cintalah yang membuat kita menjadi kuat.
"Sayang, hartaku akan kugunakan untuk membahagiakanmu. Namun jika nanti harta itu sedang mengajak petak umpet, maka yakinlah jika cintaku akan tetap membuatmu bahagia. Aku punya seribu cara untuk membuatmu tertawa. Percayalah, jika Dion Wijaya adalah bahagia untuk Rosalia Citra Atmadja."