Tentang Hati

Tentang Hati
Inginku Tak Seperti Inginmu


__ADS_3

Seharian dicuekin dan dihujani sindiran memang membuat perasaan tak enak. Nasihat yang diberikan Pak Aryan sudah menenangkan. Namun ada perasaan tak tenang lain yang terus bergelayut manja. Dion, seharian ini hanya sekali saja memberi kabar saat tak bisa menjemputku pulang kerja. Jarum jam sudah menginjak pukul sepuluh tapi dia belum juga sampai rumah.


Perasaan semakin menjadi saat teleponku tak diangkatnya. Berjalan mondar-mandir entah sudah berapa kali. Mencoba tetap tenang tapi nyatanya pikiran justru melayang-layang. Berpikiran positif meski kadang setan datang memprovokasi. Malaikat yang coba meluruskan jalanku kembali, saling tarik ulur dengan setan yang tak lelah memberi ujaran kecemasan.


"Mas, kamu di mana? Kenapa belum pulang?" tanyaku setelah teleponku yang keberapa puluh kali diabaikan, kini diangkat.


"Bukakan pintu! Aku ada di depan," pinta Dion yang langsung kuhamburkan diri untuk menyambutnya.


Wajah kusut yang berusaha ia sembunyikan di balik senyuman itu, tetap saja dapat jelas kubaca. Mata sayu yang coba ia binarkan nyatanya masih belum sempurna. Sebesar apa dia berusaha nampak biasa tetap saja aku tahu itu adalah sebuah sandiwara. Penyamaran agar aku tak mengkhawatirkan keadaannya.


"Minum, dulu!" ucapku sambil memberikan segelas air putih.


Diteguknya minuman itu sampai habis tak bersisa. "Kenapa ekspresi wajahmu begitu, Sayang? Ada masalah?"


Pintar sekali dia berlakon? Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Namun kenapa dia yang bertanya lebih dulu?


"Mas, aku mengkhawatirkanmu," tanyaku sambil duduk di sampingnya, menjeda aktivitasku yang membantunya membereskan peralatan kerja yang dia bawa.


"Apakah aku tampak mengkhawatirkan?" tanyanya balik sambil mengumbar senyuman.


"Iya."


"Bagaimana keadaan di kantor? Apakah membuatmu sangat tertekan?"


"Ceritakan padaku, Mas. Aku istrimu. Kita harus saling berbagi. Jangan suka menyimpan masalah sendiri."


Kugenggam jemarinya dengan lembut. Memberikan tatapan hangat agar bisa memberikan kenyamanan perasaan. Yang kuingin saat ini adalah dia mau berbagi. Bukan menyimpan sendiri beban yang membuatnya kacau tak berkesudahan.


"Tidak ada apa-apa, Sayang," ujar Dion sambil membelai rambutku penuh rasa kasih.


Kuhela napas kasar. "Apakah kamu tidak menganggapku istri, Mas? Selalu saja tak mau bercerita masalah yang kamu hadapi."

__ADS_1


"Aku mandi dulu ya, Sayang. Percayalah aku baik-baik saja," tutur Dion tetap dengan senyumnya yang dibuat sangat tenang.


"Aku bantu siapin air panasnya dulu, Mas," ucapku sambil mengekor langkahnya.


💧💧💧💧💧


Dion PoV


Pikiran yang masih dipenuhi oleh setumpuk masalah, selalu berusaha kutinggalkan saat kaki melangkah masuk rumah. Pekerjaan biar kutinggalkan di kantor. Penat biarlah menjerat dari jam delapan sampai tujuh belas. Saat kembali menemuimu, yang kuingin hanya melihat senyummu. Bukan gurat kekhawatiran yang sungguh hanya akan membuatku semakin dipenuhi beban.


Air panas yang kau tawarkan, tak kuangguk setuju. Kupilih mengguyur diri di bawah pancuran air. Meluruhkan segala resah agar hati menjadi damai. Aku sadar hidup ini bukan seperti jalan tol yang lengang. Kita bisa berjalan tenang dengan kecepatan suka-suka. Tak perlu khawatir disalip karena kita bisa menyalip semau kita.


Sayangnya hidup seperti jalanan yang harus kita tempuh untuk mencapai garis pantai. Bukan hanya lurus namun berliku-liku. Akan ada juga jalan meliuk berputar-putar saat harus melewati pegunungan sebelum kembali melandai menjemput pantai. Keruwetan yang bikin mumet. Namun akan menemukan bahagia saat mata disuguhi perjuangan panjang. Hamparan pasir yang diajak bermain oleh air dan juga deru ombak yang datang dan pergi adalah pesona yang sangat menyejukkan mata.


Seperti itulah masalah ini kuibaratkan, sedang berada pada liukan pegunungan. Harus sabar dan tetap bersemangat. Karena diujung sana akan ada keindahan yang menanti. Aku, sebagai pengendali kemudi, akan tetap fokus pada pekerjaan sebagai kendaraan. Kamu sebagai penumpang cukup duduk manis menikmati perjalanan. Tak perlu memikirkan bagaimana aku harus berkonsentrasi untuk membuat perjalanan berliku ini terasa mulus tanpa halangan. Biarlah aku yang memutar otak, kamu cukup berada di sisiku dengan tersenyum hangat.


Seperti itulah aku ingin menjaga dan membahagiakanmu. Diamku jangan kamu salah artikan bahwa aku tak menganggapmu. Diamku adalah caraku untuk menjagamu. Aku tahu menikah itu melewati suka duka bersama. Iya, biarlah sekarang aku yang meringis tapi aku tak mau engkau ikut menangis. Kita akan melewati bersama, hanya saja untuk masalah ini biar kupikirkan sendiri. Kita berjalan bersama, aku penunjuk jalan dan kamu adalah bayangan yang akan selalu menemaniku.


"Sayang, mualmu bagaimana?" tanya Dion sambil tiduran di pangkuan, sesekali mengusap perutku yang masih rata.


Tanganku bermain dengan rambut tebalnya. Mengusap-usap dan sesekali mengacak-acak. "Mualku hanya kalau mau sikat gigi, Mas."


"Bisa gak mualnya biar aku saja, aku gak tega melihatmu mual setiap pagi."


"Kamu gak akan kuat, Sayang," ejekku sambil terus memainkan rambutnya.


"Dion kuat menghadapi apapun, asalkan bukan kehilanganmu," ujarnya dengan senyum manja.


Lelaki itu memang kuat. Fisik dihantam tendangan terasa lebih ringan daripada hati yang tersakiti. Luka badan bisa ditahan tapi luka hati akan tetap menyisakan perih. menanti bisa dilakukan. Namun ditinggalkan akan membuatnya lemah dan tak terarah. Fitrah lelaki adalah untuk ditemani. Dan adanya wanita adalah untuk berada di sisinya.


"Aku pernah meninggalkanmu dan kamu pun pernah meninggalkanku. Saat takdir menyatukan kita kembali, maka berpisah adalah kata yang sudah aku eliminasi dari pikiran," paparku sambil mengusap pipinya.

__ADS_1


"Sayang, aku selalu ingin melihatmu tersenyum seperti ini," akuku sambil menunjuk garis yang ada di sudut luar mata Dion.


Senyum yang tulus adalah pergerakan indera penglihatan mempersempit ruangan, memancarkan binar dan akan menghadirkan garis-garis di sudut luar. Sebuah kejujuran tentang kebahagiaan yang tak bisa disangkal.


"Bukankah aku selalu tersenyum seperti ini?"


"Kali ini, iya. Tapi dari kemarin-kemarin tidak," jujurku mengumbar fakta.


Dion bangun dari rebahannya. Memilih duduk di sofa sampingku. Merentangkan tangannya di belakang tubuhku. "Jadi, kamu merindukan senyumku, Sayang?"


Dion pun menarik kedua ujung bibirnya secara sempurna. Melengkungkan ke atas membentuk sebuah senyum yang sangat mempesona. Sungguh, hatiku seketika menjadi adem. Seolah memasuki ruangan ber-AC setelah berpanas di bawah terik mentari.


"Aku merindukan dirimu yang hangat dan penuh kasih sayang," ucapku malu-malu.


"Hangat dan penuh kasih sayang? Kamu menggodaku, Ny. Dion Wijaya, hm?" ujar Dion dengan mengerling manja.


"Aku menyindirmu," jujurku untuk memancing kejujurannya.


Dion meletakkan jari telunjuknya di bibirku. Memandangku hangat. Beberapa lama aku diajaknya menyelami perasaan lewat tatapan. Menelusuri kedalaman rasa dan keinginan untuk saling menghangatkan. Sebuah sentuhan lembut meraba bibirku. Saling menempel tanpa pergerakan bersamaan dengan mata yang saling terpejam. Cinta yang dalam itu sedang merasuki hati, menunjukkan tahtanya.


"Sayang, jangan tanyakan sesuatu yang belum ingin aku jawab. Aku mampu tanpa harus membuatmu tahu. Cukup di sisiku, beri aku cinta yang tak bertepi, maka aku akan bisa menghadapi semuanya."


Dion mengusap bibirku dengan telunjuknya. Mengecup sekali lagi dan membungkukkan badan. Mengusap perutku dan meninggalkan sebuah kecupan hangat juga di sana.


"Sayang, Tumbuhlah dengan sehat di rahim Mama. Kamu adalah wujud penyatuan cinta Mama dan Papa. Jadilah anak yang bahagia."


Terharu. Tiada kata yang bisa kubalaskan untuk setiap kalimat yang Dion ucap. Tiba-tiba saja air mataku meluruh. Tak pernah terlintas jika aku akan memiliki suami dengan hati yang sangat lembut dan penuh perhatian. Aku bersyukur. Anugerah terindah dan nikmat yang amat sangat.


"Mengapa kamu menangis, Sayang? Apakah ada kata-kataku yang salah? Apakah aku melukaimu?" Apakah ketidakjujuranku membuatmu merasa tidak berarti?" cerca Dion tanpa henti.


Kugelengkan kepala. Tangisku bukannya mereda tapi malah semakin manja. "Terimakasih sudah mencintaiku dan calon buah hati kita sedalam ini, Mas. Maafkan aku yang tak bisa memahami maksud hatimu. Aku menuntut tanpa mengerti bahwa kamu hanya ingin dimengerti. Aku bahagia memilimu."

__ADS_1


Dion meraihku ke dalam pelukannya. Kurebahkan kepala di dada bidangnya. Percayalah jika ini adalah sebuah kehangatan yang tak akan bisa aku ungkapkan. Ini adalah cinta. Cinta yang menggebu indah karena ketulusan dan kasih sayang.


__ADS_2