
Aku, Dion dan Pak Aryan saling memandang. Masing-masing hati berkecamuk. Pak Aryan dengan rasa penasaran yang mengelilingi luasnya pikiran. Aku, entah belenggu rasa seperti apa yang sedang mengganggu. Berbagai kecemasan yang bersatu, menyeru dan berubah menjadi deru. Semakin membuat pikiran tak karuan. Sementara Dion, bagaimana gejolak hatinya aku tak bisa lagi menebaknya. Kuyakin semua yang ada dipikiran Pak Aryan, kecemasan yang kurasakan dan ketenangan yang harus tetap dia tunjukkan sedang bermuara pada dirinya.
Namun, Dion berusaha untuk selalu nampak tenang. Agar aku juga tertular dan tidak semakin terbawa kecemasan. Dia mengambil napas dan membuangnya perlahan. Dengan usapan yang dia berikan pada rambutku, lelaki ini mengungkap kenyataan pada Pak Aryan.
"Kami menunggu hasil tes urine."
"Apa ada masalah? Kenapa harus tes urine?"
Dion meraup wajahnya pelan. Napas yang tadi sempat diaturnya, kini coba dia kuasai lagi. Gemuruh yang membahana di perasaan, coba ia tulikan pada pendengaran. Menata kalimat agar tidak berserak dan melebihkan cemas yang sudah mengemas.
"Tekanan darahnya tinggi dan air ketubannya sedikit. Kita menunggu hasil tes urine untuk mengetahui langkah apa yang selanjutnya bisa diambil."
Pak Aryan menganggukkan kepala. "Tenanglah, pasti ada jalan keluar."
"Dibuat santai aja, Sa. Jangan takut! Nanti tekanan darah kamu bisa naik lagi."
Kepala bisa mengangguk, tetapi jauh di lubuk hati ada was was yang makin memanas. Aku yang gampang grogi semakin tak terkendali jika situasi seperti ini. Pikiranku sudah tak bisa kupilah lagi, mana cemas dan mana rasa ketakutan. Semua membaur dan aku tak lagi bisa membuat mereka kabur.
Hening yang tercipta diantara kami bertiga membuat rasa semakin menggelora. Hanya sentuhan Dion yang memberikan ketenangan. Terkungkung dalam kebisuan kata. Saat suasana hati semakin menjadi, panggilan namaku kembali, membuat gugup semakin jauh dari kata meredup.
Langkah kaki seakan terseok, jalan yang tak jauh terasa begitu membuat rapuh. Detak jantung memacu, membuat pikiran semakin tak menentu. Dokter yang nampak serius membuat ketegangan menanjak lurus. Kupandang Dion dengan seribu rasa yang membuncahkan dada. Hanya dengan menggenggam kami saling memberikan penguatan.
"Dok, saya ngeflek. Baru tahu waktu tadi ke toilet."
"Kalau begitu, silakan Ibu berbaring! Saya akan mengecek pembukaan."
__ADS_1
Menuruti perintah dokter, aku mengikuti prosedur. Berbaring sebentar dan menahan sedikit sakit yang menggigit. Kembali ke meja setelah pemeriksaan itu selesai.
"Sudah pembukaan tiga, Bu."
Kami memerhatikan penjelasan dokter dengan seksama. Pengalaman pertama dengan kehamilan membuat kami belum banyak memahami masalah persalinan.
Dokter memerintahkan suster untuk kembali mengecek tekanan darahku. 150/110.
"Setelah ini, Ibu silakan ikut suster untuk melakukan Nonstress tess (NST) dengan cardiotocography atau CTG, untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan!"
Lagi-lagi aku hanya mengiyakan. Pikiranku sudah tidak bisa mencerna dengan tepat. Pokoknya apa yang dibilang dokter aku lakukan. Aku dibawa ke sebuah ruangan, ada alat yang katanya akan menunjukkan detak dan aku harus menekan sebuah alat jika itu terjadi. Entahlah, otakku tidak bisa banyak mengingat.
Setelah melewati waktu yang ditentukan selesailah tes itu. Aku kembali ke ruang dokter. Mendapati Dion yang berbincang dengan wanita berjas putih itu. Aku kembali duduk. Sang dokter membaca hasil tesku yang baru saja diserahkan oleh suster.
Dokter Sitta menjeda kalimatnya. Aku dan Dion hanya diam tanpa berniat untuk menyela. Melepaskan sebuah senyuman, aku tahu jika wanita paruh baya itu ingin mengurangi kecemasan yang terlihat jelas terpampang dari wajah kami, terutama wajahku.
"Tenang, Ibu."
Dion menggenggam tanganku dan matanya menatap lembut seiring dengan senyumnya yang menenangkan. Aku mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Meredam kekhawatiran yang datang dengan kekuatan yang besar.
"Apakah saya harus melahirkan caesar, Dok?"
Dokter itu menyunggingkan senyumnya. "Ibu memiliki tiga pilihan untuk proses kelahiran buah hati, Anda."
Ada sedikit kelegaan yang menyasar pada hati yang direndam kecemasan.
__ADS_1
"Tetap bisa melahirkan spontan tetapi ada resikonya, Bu. Tekanan darah Ibu yang tinggi, dikhawatirkan akan kembali naik jika pembukaan lengkap karena adanya proses mengejan. Jika itu terjadi sangat berbahaya karena dapat merusak saraf bahkan resiko kematian."
Pikiranku nge-blank.
"Atau ibu memilih persalinan normal dengan induksi. Namun jika obat yang kami berikan tidak bereaksi sampai batas waktu yang kami tentukan maka dilanjutkan proses vakum."
Induksi dan Vakum? Meluruhkan lagi kelegaan yang sempat datang. Pernah kumendengar jika sakitnya diinduksi itu melebihi proses mengejan saat proses melahirkan spontan. Menepikan itu, aku semakin shock saat vakum juga tertangkap indra pendengaran. Bayang-bayang tentang ngerinya kepala bayi yang ditarik dengan sebuah alat dan perubahan bentuk yang menjadi konsekuensinya, serta akibat pada segi kecerdasan membuatku semakin didera rasa was-was.
Air mata mulai mengintip di sudut mata. Namun, kutahan sekuat tenaga. Aku harus tegar meskipun rasanya sudah dibelenggu oleh cemas yang menyebar. Demi bayi yang harus lahir dengan selamat, maka aku tak boleh lemah dan harus menjadi seorang ibu yang kuat.
Dion terus menggenggam jemariku.
"Namun, jika semua itu tidak berhasil, maka jalan terakhir adalah caesar."
Pikiranku semakin dalam terjerembab. Membayangkan induksi dan vakum saja sudah begitu mengganggu ketenanganku, apalagi jika harus dihadapkan pada tindakan pembedahan. Rasanya aku tak bisa membayangkan.
"Semua pilihan ada di tangan Bapak dan Ibu."
Aku menatap mata Dion. Menelisik pikiran lewat tatapan. Pilihan apa yang akan ia jatuhkan. Aku? Bingung. Melahirkan spontan, tentu saja hal sangat aku inginkan. Namun resiko yang terlalu besar membuatku takut. Pikiran terburuk tentang kematian datang menghantam. Jika kematian menjemputku, maka siapa yang nanti akan mengurus bayiku?
Seliweran pilihan lain juga bertubi menghinggapi. Sakitnya induksi dan seramnya vakum membuat pilihan semakin sulit ditentukan. Bagaimana dengan operasi caesar? Itu lebih menegangkan. Bayangan tentang perut yang disayat, ah ... aku gak kuat. Apalagi jika harus merasakan dua kali proses menyakitkan, melahirkan normal yang gagal dan akhirnya dioperasi juga. Aku tak kuasa.
Pikiranku semakin kalut dikejar oleh keputusan terbaik yang harus diambil dalam waktu tercepat.
"Saya beri waktu lima belas menit. Silakan Bapak dan Ibu pikirkan dengan matang. Nanti silakan temui saya lagi jika sudah memiliki keputusan."
__ADS_1