
Keputusan untuk menulis novel akhirnya sudah final. Setelah menyelesaikan semua rutinitas malam, mulai dari berberes, mandi dan makan, aku memilih menyalakan laptop sambil menonton televisi. Menulis sekaligus mencari tambahan inspirasi. Cerita yang sudah tergambar jelas, kubuatkan coretan tentang siapa saja tokohnya.
Karakter setiap tokoh sudah tergenggam erat. Saatnya mencari nama yang sesuai dan tidak pasaran. Unik dan mudah diingat. Ternyata pencarian sebuah nama itu memakan waktu. Tidak bisa asal comot. Pengen pakai nama Alex, tapi sudah ngetop di Nikah Kontrak-nya Tya Gunawan. Mau Pakai Wisnu, tapi takut bikin baper Aldekha Depe, tokoh wanita yang di PHP Wisnu di Istri Kedua Tuan Krisna, novel terkenal karya Syala Yaya. Arga keren, tetapi sudah punya Nafasal di novel Menikahlah Denganku.
Bingung. Masa mau dikasih nama Bambang, Ismed, Zainudin atau malah Young Flash. Rasanya itu gak mungkin. Mereka sudah jadi penghuni abadi novel Balas Dendam Cowok Kampungan karya author somplak Linanda Anggen. Lalu, siapa nama tokohku?
Pengen meminta bantuan, tapi pada siapa?
Phone a friend?
Kurasa teman-temanku yang unik itu akan memberikan ide nama yang aneh-aneh. Bisa-bisa tokohku diberi nama Elang, Garuda, Pipit atau malah Parkit? Namun, bukankah itu nama Tokoh di novel baru Aldekha Depe yang berjudul Aku, Si Pelakor!
Ask the audience?
Membuat novel aja stag di pencarian nama, mau sok-sokan minta pendapat pembaca. Ah, mengapa susah sekali mencari label sebuah raga?
50:50? Apalagi ini? Aku sedang membuat novel bukan ikutan kuis Who Wants to Be a Millionaire?
Akhirnya keputusanku berlabuh pada otak tercerdas di internet, Mbah Gugel. Dengan kata kunci yang bergantian puluhan kali, kudapatkan sejumlah nama yang menarik hati.
Masalah nama selesai. Saatnya mencari judul yang menjual. Target pasar yang kuincar adalah wanita dengan rentang usia 18-40 tahun. Tertanam di otak jika cerita novelku akan masuk dalam kategori pembaca usia itu. Masa di mana kehaluan tentang sosok seorang lelaki sempurna menempati rangking pertama.
Berdasarkan pengamatan, kudapati jika pembaca sangat gandrung dengan novel bergenre romantis. Dan novel yang laris adalah yang memilih judul dengan mencatut kata terpaksa, dipaksa, CEO, Nikah Kontrak, Kaya dan Tampan. Oleh karenanya, novel pertamaku kuberi judul "Dipaksa Cinta CEO Tampan." Keren, kan?
Kuembuskan napas lega. Setelah berkutat lebih dari satu jam hanya untuk mencari nama tokoh dan judul yang pas, kuistirahatkan pikiranku sebentar. Sepertinya sepele, tetapi nyatanya sangat menguras otak. Kuteguk segelas air tanpa sisa. Menghilangkan dahaga yang tak terasa menyerang.
Kuambil camilan yang ada di meja hadapanku. Mencomotnya sambil mengetik kata kunci pencarian baru. Visual lelaki tampan untuk cover, itu adalah hal yang ingin kutemukan. Nampaklah banyak wajah menawan. Mulai dari bule-bule dengan rahang tegas dan berewok tebal hingga oppa korea yang cantik maksimal, semua ada.
Aku adalah golongan wanita yang menyukai wajah-wajah Asia. Oleh karena itu aku lebih memilih visual oppa Korea. Walaupun aku minder karena mereka lebih cantik, tetapi hati tak bisa dibohongi bahwa aku menggilai mereka.
Berbekal sedikit ilmu edit mengedit selesailah cover novelku. Walaupun jauh dari kata sempurna namun aku cukup bangga. Kuamati berulang kali, sedikit diutak-atik, akhirnya sesuai sudah dengan apa yang kuinginkan. Dengan senyum kepuasan, kulihat lagi dan lagi monitor yang menampilkan halaman luar novel pertamaku itu.
Ketika aku baru saja bangun dari duduk, suara bel terdengar nyaring memekakkan telinga. Kuputar arah langkahku dari sebelumnya ingin menuju dapur beralih ke depan,membuka pintu apartemen. Di otakku sudah tertanam bahwa yang datang adalah suamiku tersayang. Dan memang tebakanku gak meleset, Dionlah yang pulang.
"Martabak, Sayang."
Dion menunjukkan kantong yang dibawanya. Segera kupindahkan kepemilikan seraya mengucapkan terimakasih. Namun Dion justru menunjuk pipinya untuk diberi sentuhan. Tanpa ragu, langsung kukabulkan seraya berlari setelahnya.
"Sayang, jangan lari! Kamu hamil," ingat Dion sambil ikut berjalan mengikutiku yang sudah berjalan duluan menuju dapur. Mengambil piring sajian untuk meletakkan camilan berat yang Dion belikan.
Saat aku kembali ke depan televisi, Dion sedang duduk di depan laptopku tadi. Begitu fokus melihat hasil editanku. Sepertinya ada yang salah di matanya. Tangannya dengan lincah bermain di tuts keyboard. Tanpa berkomentar aku memilih untuk memperhatikan apa yang ia lakukan seraya memilih duduk di sampingnya.
"Kalau kayak gini, jadinya lebih bagus, kan?" ujar Dion setelah mengganti jenis font dan warna pada judulku. Penempatan hurufnya pun ia sempurnakan hingga jadi lebih menarik.
__ADS_1
"Gak rugi emang punya suami ahli desain," godaku sambil tersenyum.
"Kerugianmu memilikiku cuma satu, Sayang."
Kupasang ekspresi penuh tanya. Tatapan kutajamkan dan mata kupicingkan. "Apa?"
"Terlalu lama kamu memutuskan untuk menerima cintaku," bisik Dion di telingaku.
Ya ... ya ... ya ... itu memang benar. Aku mengakui jika kerugian terbesar dalam hidupku adalah karena menolaknya berkali-kali. Namun akan kutebus dengan membuat sebuah novel cinta teromantis sebagai hadiah terindah bagi lelaki yang mencintaiku dengan sempurna ini.
"Ide cerita novel ini apa, Sayang?"
"Kisah nyata, Mas."
Dion menoleh kearahku. "Kisahmu?"
"Kisah kita," jelasku sambil melingkarkan lengan di perutnya.
Dion mengernyitkan dahi. Memandangku dan kemudian menatap layar laptop kembali. Menunjuk barisan judul dengan rasa tidak terima. "Aku tidak pernah memaksamu menerima cintaku," protesnya.
"Mana ada tidak memaksa kalau sekali kutolak tidak jera?"
"Itu perjuangan, Sayang," kilah Dion tetap fokus pada monitor.
"Haruskah aku ganti judulnya jadi "Terpaksa Cinta CEO Tampan Pejuang"?"
"Dulu kamu pernah jadi CEO," timpalku tak mau lagi jika harus mengubah judul novel.
"Sekarang, bukan."
Kuhela napas berat. "Terpaksa Cinta Bukan CEO Tampan Pejuang", begitukah judul yang harus kusematkan?"
"Itu baru benar."
"Sayang, itu kepanjangan. Pantasnya bukan jadi judul novel tapi judul sinetron ikan terbang."
"Katamu kisah nyata, kan?" Dion tak mau kalah berargumen.
"Iya, tapi kan kita juga harus memilih judul yang memiliki daya jual. Lagian judul itu jujur kok."
"Jujur kalau kamu terpaksa mencintaiku?" tuduh Dion dengan mengerucutkan bibir.
Bahasan ini kurasa akan panjang. Entah Dion beneran keberatan ataukah hanya guyonan, jika aku terus menjawab maka ujungnya akan menjadi forum debat. Cara jitu untuk menaklukkan amarahnya adalah dengan cara merayu. Mengabaikan keliaranku beberapa hari ini, maka kali ini pun aku akan melakukannya lagi.
__ADS_1
Pertama, kulepaskan dulu pelukanku. Kutangkup wajahnya dalam belenggu kedua telapak tanganku. Matanya kuperangkap dalam jerat. Sebuah kecupan kuberikan pada bibirnya. Sekilas tapi aku yakin akan membekas. "Jika kamu pikir dulu aku terpaksa mencintaimu, kamu salah, Sayang. Karena sekarang, aku yang akan selalu memaksamu untuk tidak berhenti mencintaiku."
Perlahan kuturunkan tanganku dari pipinya. Membuka kancing kemeja teratasnya. "Apakah kamu mau membuktikan enaknya kupaksa?"
Dion masih bergeming. Dia bersikap sangat tenang menghadapi kelakuanku yang semakin nakal. Hingga aku kembali membuka kancing kemeja berikutnya. Semakin turun dan tanggal semua. Perlahan kusentuhkan jari-jemariku, menelusuri dada dan menjelajah sampai pada perut ratanya.
"Itu kenapa visualnya bukan aku?" tanya Dion tiba-tiba yang mengambyarkan kegatelanku.
"Mas, mesra dikit, kek! Mau digoda malah bertanya."
"Jangan terlalu sering menggoda! Takut reader tentang hati ketagihan. Kasihan yang jomblo, Sayang. Panas-panas gak ada yang nyiram."
Dion benar. Entah kenapa, beberapa episode ini Depe bikin panas dingin. Kalau dispenser enak, hot n coldnya bisa buat bikin kopi atau es, kalau Dion dan Rosa kan bikin ngences.
"Aku gak mau pakai visualmu. Kalau reader jatuh cinta, gimana?" alasan kuatku mengapa memilih tokoh pria Korea.
"Kan ada Undang-Undang hak cipta, Sayang. Nanti kamu kena denda."
"Terus aku pakai foto siapa?"
"Kan, gak harus wajah orang. Bisa kartun yang bebas hak cipta, atau pakai objek kiasan." Dion memberikan saran seraya menunjukkan foto seekor kumbang."
"Wanita itu sukanya keindahan, Sayang. Wajah tampan itu daya pikat, biar pembaca terjerat."
Manusiawi sekali. Mata wanita itu begitu peka dengan pesona. Harga cabe yang melejit hanya sanggup bikin emak-emak menggerutu. Namun menatap lelaki tampan akan membuatnya menjerit karena mabuk kepayang.
"Apakah kamu juga begitu?" selidik Dion sambil menyelidik wajahku.
"Tentu saja, aku kan juga manusia. Namun, memandangmu sudah cukup bagiku. Kecuali, kalau lagi khilaf," ucapku yang membuat Dion menyentil hidungku karena sebal.
"Bagaimana kalau aku ganti dengan wajah CEO sungguhan tapi aman dari pelanggaran hak cipta?"
"Siapa?"
"Si Abang," sebutku untuk nama Pak Aryan.
"Tokoh utamanya aku tetapi kenapa visualnya dia?" protes Dion kali kedua.
"Biar dia laku, Sayang. Siapa tahu, ada yang jatuh cinta, kan bisa kita jodohkan?" ide konyolku kembali bergulir.
"Kalau yang jatuh cinta janda anak lima, gimana?" celetuk Dion yang membuat kami terkikik bersama.
Janda beranak lima bukan hal yang salah kok untuk seorang perjaka. Hanya saja, kita kadang terlalu berpikir picik dan sempit. Hukum timbal balik sepertinya masih bertahta di tangga pertama sebuah syarat dari calon pengantin. Gadis perawan dengan perjaka ting-ting. Walaupun sekarang lebih mengalami perluasan makna, berganti dengan kata single.
__ADS_1
"Berarti Abang untung besar, Sayang. Sekali membeli bonusnya berlipat," celetukku yang lagi-lagi membuat tertawa lebar.
Menertawakan Abang memang gak sopan. Namun, rasanya terlalu lucu jika kisah yang kami bahas, dingin tanpa cekikikan. Maafkan dua adik konyolmu ini, ya Bang?"