
"Monday emang selalu menguras tenaga ya," keluh Maya.
"Makan siang apa ya yang enak?" Mas Rendra bingung.
"Dingin-dingin makan bakso kayaknya enak nih," usul Maya.
"Hhmmm ... boleh tuh," Mas Rendra menyetujui.
"Sa, mau ikutan ngebakso ma kami gak?" tawar Maya.
Tak ada jawaban dariku. Maya melongok ke mejaku. Mendapatiku tengah melamun. Maya dan Mas Rendra saling berpandangan dan menaikkan pundak.
"Sa," panggil Maya mendekat ke mejaku.
Aku masih tetap melamun.
"Sa," Maya menepuk pundakku.
"Aa .... a ... iya ... iya," jawabku kaget.
"Kamu kenapa, Sa? Dari tadi melamun terus," Maya penasaran.
"Gak 'pa 'pa, ayo malan," ajakku karena gak ingin menjawab keingintahuan Maya.
Aku langsung berdiri dari kursiku. Baru mulai melangkahkan kaki, langkahku terhenti saat ku lihat Mas Rud sudah berdiri di belakang mas Rendra.
__ADS_1
"Mas Rud ngebakso yuk, bareng kami?" ajak Maya.
"Kalian duluan aja, aku masih ada perlu sama Rosa. Nanti kami nyusul," jawab Mas Rud.
Mas Rud berjalan ke arahku dan menggandeng tanganku.
"Ikut aku, ada yang ingin ku bicarakan," ucap Mas Rud sambil menatap mataku dengan tatapan matanya yang lembut.
*****
Kami sudah duduk berdampingan di sofa ruang kerja mas Rud. Mas Rud menggeser duduknya untuk dapat sedikit berhadapan denganku.
"Kenapa tadi pagi kamu melihatku sampai kayak gitu?" tanya mas Rud to the point.
"Apa kamu mengingat sesuatu?" selidik Mas Rud dengan menatapku tajam.
"Iya, aku mengingat semuanya, benarkah itu kamu mas?" tanyaku penasaran.
"Iya itu aku," jawab Mas Rud sambil menggenggam tanganku yang tadi sempat dilepaskannya sewaktu kami duduk.
Benarkan apa yang ku pikirkan? Batinku
Ini benar-benar seperti mimpi. Lelaki tampan yang dulu hanya bisa ku tatap sekilas lalu itu, kini dihadapanku. Menatapku dan menggenggam erat tanganku.
" Apa kamu gak seneng?" tanya Mas Rud.
__ADS_1
"Rasanya seperti gak nyata, Mas!" aku meneteskan air mata.
Air mata apa ini? Bukankah seharusnya aku bahagia? Apakah ini air mata kebahagiaan itu?
Tangan Mas Rud menghapus air mata yang mulai bergulir di pipiku.
" Aku juga merasa ini seperti mimpi," balas Mas Rud.
"Sama sekali tak terbayangkan, jika pada akhirnya kita bisa bersama. Aku tak sengaja bertemu denganmu waktu itu dan aku juga gak tau bagaimana akhirnya kita benar-benar dipertemukan untuk saling bersama seperti sekarang." cerita panjang Mas Rud.
"Aku bisa merasakan, kamu juga merasa apa yang aku rasa, benarkan?" ulik mas Rud sambil terus menatap wajahku.
Aku tak sanggup lagi berkata untuk membenarkan pertanyaannya. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan kepalaku.
Sungguh aku tak bisa membayangkan bagaimana meronanya wajahku kali ini. Aku sungguh sangat malu, tapi aku cinta.
Aku mencintainya ya Tuhaaann!
Cinta yang ku pikir hanya sekedar hayalan tapi ternyata menjadi nyata dengan jalan yang begitu indah. Dia yang sekedar ku temui dijalan berulang kali, sampai akhirnya waktu berlalu tanpa aku bisa tau siapa dia. Kemudian, tanpa sengaja takdir mempertemukan kami di tempat kerja, benar-benar cinta menjadi nyata.
"Jangan menangis lagi, aku merindukan senyummu," ucap mas rud sambil menunjuk pipiku yang malu- malu menunjukkan 1 lesung pipi jika aku tersenyum.
Aku pun berusaha tersenyum, tersenyum bahagia atas rahasia cinta yang hadir diantara kami.
"Ayo makan siang, cinta gak akan membuat kita kenyang," goda Mas Rud.
__ADS_1