
Mas Rendra PoV
"May ... aku memang seorang pengagum wanita-wanita cantik. Aku mudah menebar gombalan pada sembarang wanita. Dan mungkin aku juga mudah jatuh cinta.
Tapi ... begitu aku mengenalmu, kegombalanku berhenti di kamu. Hatiku jatuh terperangkap tepat di hatimu. Aku tak bisa memungkiri, jika mencintaimu adalah akhir dari perjalanan panjang mencari wanitaku. May, bersediakah kamu menghabiskan sisa waktumu untuk menemaniku?" Tembakku sambil menatap Maya lekat.
Suasana menjadi benar-benar hening. Maya masih terdiam. Aku semakin gugup. Ini adalah situasi yang benar-benar membuatku sesak. Sesak karena harus menanti jawab atas rasa yang ku miliki padanya. Rasa cinta yang tulus, bukan sekedar rasaku pada perempuan-perempuan yang biasanya aku goda.
"May," aku tak sabar menanti jawaban.
Maya memberanikan menatapku, air matanya mulai bergulir. Dia kembali menundukkan pandangannya.
"Maaf, Mas," jawab Maya dengan suara yang terdengar bergetar.
"Maaf untuk apa May?" aku meletakkan kembali kalung yang ku pegang dan memegang kedua bahu Maya.
Maya tak mampu berkata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan kirinya padaku. Nampak sebuah cincin bertahtakan permata melingkar manja di jari manis Maya.
Deg!
Mataku fokus menatap cincin tersebut. Hatiku bergemuruh hebat. Aku melepaskab tanganku dari bahu Maya.
"Apakah aku sudah terlambat?" suaraku terdengar lebih lirih.
__ADS_1
Maya hanya mengangguk sambil memejamkan mata. Kami berdua terdiam.
"Kenapa kamu tak menungguku, May?" aku meminta penjelasan.
"Aku sudah menunggumu, Mas! Tapi dia lebih dulu datang memintaku pada kedua orang tuaku!" Maya menjelaskan.
Aku mengusap mukaku dengan kedua tanganku.
"Kenapa kamu gak minta aku datang menemui orang tuamu, May?" suaraku terdengar frustasi.
"Aku perempuan, Mas. Harusnya kalau Mas emang suka sama aku, bilang dong mas! Aku butuh kepastian, Mas!" terang Maya dengan nada meninggi.
"Apa kamu gak tau kalau aku suka sama kamu?" tanyaku.
Aku benar-benar menyesali kesalahanku.
"Tidak bisakah kita berjuang untuk cinta kita May? Aku akan menjelaskan pada orang tuamu!" aku mulai berkata dalam tekanan air mata.
"Terlambat, Mas! Aku gak mungkin menyakiti perasaan mereka! Relakan aku, Mas!" pinta Maya.
"May ...!" aku tak kuasa lagi berkata.
Air mata mengalir dari sudut mataku. Aku memeluk Maya.
__ADS_1
"Izinkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya, May! Maafkan aku, May!" aku memejamkan mata mencoba menguasai perasaanku.
Maya mengusap punggungku. Memberikan sedikit ketenangan atas luka cinta yang tak sempat bersama.
"Kita masih bisa berteman, Mas!" Maya mengucapkannya dengan lembut.
Aku masih terdiam. Dia melepaskan pelukannya padaku.
"Berteman? Yang ku mau menjadi teman hidupmu, May!" ucapku dalam emosi yang tak lagi bisa ku tahan.
Aku kehilangan kendali atas emosiku. Aku melangkah menjauhi Maya dan berdiri di ujung balkon. Ku lihat kalung yang ada di genggaman tanganku. Ku kepalkan tanganku dan siap untuk aku lemparkan kalung itu.
"Jangan, Mas!" cegah Maya sambil memegangi lenganku.
"Pakaikan di leherku!" kata Maya sambil membuka kalung di genggamanku.
Aku bingung dengan permintaan Maya. Setelah melihat Maya berdiri membelakangiku dan menyibakkan rambutnya, aku pun membuka pengait kalung yang ku pegang dan mengalungkam di leher Maya.
Maya membalikkan badannya.
Cup!
Dia mengecup pipi kananku. Belum sempat berpikir jernih atas ulah Maya, aku sudah kembali terkejut dengan bisikan Maya di telingaku.
__ADS_1