Tentang Hati

Tentang Hati
Lantaran Pesta Lajang


__ADS_3

Ini adalah malam Minggu terakhir sebelum kami melangsungkan resepsi. Rencana awalnya kami mau menginap di rumah Mama, tetapi gagal karena kehadiran dua wanita somplak, Anggen dan Tya. Tanpa membuat janji, mereka datang mengejutkan. Ulah apa lagi yang akan mereka lakukan malam ini?


"Apartemen Pak Aryan tuh di depan, kalian salah alamat," ucapku begitu melihat dua makhluk di luar nalar itu.


"Dikata Ayu teng tong, kali," balas Tya dengan mengibaskan rambut panjangnya.


"Mau ngapain ke sini?" jutekku karena menebak pasti akan ada kegaduhan sepanjang malam jika mereka datang.


Anggen mengangkat tangannya yang penuh dengan kantong belanjaan. "Pesta Lajang."


"Aku udah sold out, lajang dari mana?" tuturku mementalkan kalimat mereka.


"Siapa tamunya? Kok lama banget buka pintu, Sayang," tanya Dion yang menyusulku membuka pintu.


Mengetahui tamunya adalah gerombolan somplak, Dion melebarkan senyumnya dan segera mempersilakan merekà berdua masuk.


"Malam ini, kita pinjam Depenya ya, Mas!" ujar Tya dengan cengiran senyumnya.


Aku sudah mengode Dion untuk menolaknya tapi gak berpengaruh. Dia malah tersenyum dan mengabulkan permintaan wanita yang sedang sibuk-sibuknya mengejar cinta Pak Aryan itu. Selanjutnya Dion malah pamit ke apartemen depan setelah sedikit berbasa-basi. Mendapatkan lampu hijau dari suamiku, giranglah mereka. Menuju dapur dan membongkar barang bawaan. Aku hanya melihat sambil menggelengkan kepala.


*****


Dion PoV


Di apartemen Aryan, aku segera membaringkan diri di sofa ruang tamunya. Mataku yang sama sekali belum mengantuk, kupaksa untup menutup. Dugaanku, kedua wanita sahabat baru istriku itu pasti akan mengajak menghabiskan malam panjang bertiga. Oleh karenanya, mending aku mempercepat waktu istirahat. Aryan yang awalnya mengajak ngobrol akhirnya diam begitu aku memilih untuk segera tidur.


Sayangnya usahaku sia-sia. Pikiranku tak sejalan dengan indra penglihatan. Setelah sepuluh menit berlalu akhirnya aku memilih untuk kembali membuka mata. Segera duduk, berdiri dan keluar dari apartemen Aryan. Rasanya bingung mau melakukan apa. Akhirnya aku kembali lagi menemui Aryan.


"Ada apa? Kenapa bolak-balik gak tenang begitu?" Aryan tak bisa menahan rasa penasarannya.


"Gabut," balasku sambil membuka HP dan mulai berselancar di dunia Maya.


"Rosa, ke mana?" tanya Aryan berikutnya.


"Pesta lajang sama Trio Somplak," jawabku singkat.


"Istrimu lajang? Gadis bukan perawan yang bener," koreksi Aryan setelah pertanyaan yang ia sampaikan.


"Hm," gumamku singkat.

__ADS_1


Kami adalah sepasang suami istri. Meskipun belum tercatat resmi secara hukum negara tapi status kita sudah sah secara hukum agama. Jadi istilah gadis bukan perawan itu bisa dibenarkan, sedikit. Toh gak ada yang salah.


"Mereka nginep?" tanya Aryan lagi.


"Sepertinya begitu," jawabku sambil mengangkat telepon dari Kristy.


"Apa yang sepertinya begitu, Mas?" tanya Kristy karena mendengar jawaban yang kuberikan pada Aryan.


"Itu tadi aku lagi ngobrol sama Aryan. Ada apa, Kris?" tanyaku menanyakan maksud adik iparku itu menelepon malam-malam.


"Mama udah terlanjur masak banyak, Mas Dion ajak Mas Aryan ke sini aja deh! Kita makan malam bareng, biar aja Mbak Rosa sama temen-temennya," tutur Kristy dengan jelas.


"Mau gak ke rumah Mama? Makan besar," tanyaku pada Aryan tanpa menutup telepon Kristy.


Sebuah acungan jempol, Aryan berikan sebagai isyarat meng-iya-kan pertanyaanku.


Sebuah keputusan sudah diambil. Aku dan Aryan akan segera menuju rumah Mama setelah menutup telepon adik iparku itu. Dengan pakaian santai, kaos hitam dan celana dengan warna yang sama kami berdua menuju basemen. Bedanya aku bercelana pendek sementara Aryan memilih celana jeans panjang.


Setelah satu jam melewati kemacetan kami sampai di rumah Mama. Dengan membawa sekeranjang buah dan sekantong jagung rebus kesukaan Mama kami masuk dengan menyunggingkan senyum. Kristy yang membuka pintu, membalas senyum kami dengan tak kalah manisnya.


"Begini tiap hari awet muda aku, Mas," celetuk Kristy sambil mengambil kantong jagung rebus dariku.


Dengan cengiran senyum, Kristy membalas ucapanku. "Dua-duanya."


"Aku ke atas dulu, ya. Mau ganti celana panjang dulu," ucapku sambil meninggalkan mereka yang berjalan menuju ruang makan dan aku segera menuju sebuah kamar di lantai dua.


Cukup lima menit waktu yang kubutuhkan untuk mengganti celanaku. Aku segera turun dan bergabung bersama mereka. Setelah mengucapkan salam sama Mama aku ikut duduk di samping Aryan untuk menikmati makan malam.


"Wah, Mama masaknya banyak banget," ujarku setelah melihat lebih dari lima jenis makanan yang terhidang di meja. Mulai dari urap, sambal teri kemangi, mi goreng, ayam lodho dan sayur lodeh keluwih lengkap semua.


"Ini semua kesukaan istrimu. Kurus-kurus begitu makannya banyak," jujur Mama membongkar rahasia Rosaku.


"Herannya gak gemuk-gemuk, ya, Ma?" sahut Aryan kemudian.


"Itulah enaknya jadi Mbak Rosa, makannya banyak tapi badannya segitu-gitu, aja. Mas Dion gak bangkrut kan ngasih makan Mbak Rosa?" goda Kristy sambil tertawa.


"Aku udah terbiasa dengan gaya makannya, dari pertama kenal," akuku santai karena aku memang sudah mengenal semua kelebihan dan kekurangan istriku dari dulu.


"Mbak Rosa beruntung banget, sih, punya Mas Dion. Coba aku juga begitu," seloroh Kristy bernada ngarep.

__ADS_1


"Kan ada Abang, Dik. Jadi kamu gak perlu iri sama mereka berdua," timpal Aryan yang disambut bahagia oleh Kristy.


"Bau-baunya ada yang mau naik level, Ma. Dari abang jadi sayang," godaku berikutnya yang membuat Mama tersenyum.


"Kalau emang jodoh kenapa gak?" sahut Mama.


"Lampau hijau, Bang. Buruan lamar!" provokasiku.


Aryan hanya tersenyum, begitulah dia. Hatinya sangat susah ditaklukkan. Sekalinya takluk malah sama istri orang. Kasihan sekali nasibnya. Namun istimewanya, cintanya tulus dan suci dari niat curang. Baginya hati tidak untuk dipaksa.


Keasyikan kami makan sambil mengobrol tak terasa sudah berlangsung lebih dari setengah jam. Makan tanpa mengobrol, tak akan terjadi kalau kami sudah berkumpul. Itulah serunya, bahkan kadang kami makan sambil lesehan di depan televisi. Suasana makan ala kampung yang justru kami rindukan. Nuansa kekeluargaan sangat terasa.


"Mama pergi dulu, ya. Mau ke tetangga depan sebentar. Kalian gak buru-buru pulang, kan?" ucap Mama setelah kami bersantai di teras rumah, menikmati malam yang cerah dengan taburan ribuan bintang di langit.


"Kami bisa nginep sini, kok, Ma," gurau Aryan.


"Beneran, Mas?" kepo Kristy.


"Nanti kalau dia naik level dari abang jadi sayang," timpalku menjawab pertanyaan Kristy menanggapi pernyataan Aryan.


"Itu sama aja bohong, aku tahu semuanya," seloroh Kristy.


Aryan tersenyum penuh pada Kristy. "Kamu tetep jadi adik Abang tersayang."


Saat kami sedang asyik bercanda, tiba-tiba HP Kristy berdering. Segera diangkat begitu yang menelepon adalah Rianti. Setahuku itu adalah nama teman seangkatan Kristy di jurusan kedokteran yang tak lain adalah istri Tuan Alexander Kemal Malik, bosnya Rud.


Namun apakah itu dia atau Rianti yang lain?


"Apa?" sebuah pertanyaan dengan nada meninggi keluar dari mulut Kristy.


Aku dan Aryan menoleh ke arahnya. Mendapati raut wajah Kristy yang menampakkan sebuah gurat rasa yang bernama tidak bahagia. Apa yang Rianti katakan?


*****


Cinta selalu punya ceritanya sendiri, seperti cinta bersegi antara Rosa dan ketiga lelaki di sampingnya. Ada juga kisah lain yang menarik untuk diikuti, seperti novel punya temen author ini.


Silakan dikunjungi ya!


__ADS_1


__ADS_2