
Ketika jalan keluar belum kami temukan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami. Seorang laki-laki bercelana chino berwarna abu muda yang dipadu kemeja putih, keluar dari mobil tersebut.
Senyum manis tersungging di bibirnya yang indah. Hidung yang mancung itu terlihat menambah ketampanan yang dimilikinya.
Lelaki itu berjalan ke arahku. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya kali ini, apalagi saat ini, aku merasa bukan waktu yang tepat untuk kami. Aku belum siap bertemu dia, aku belum bisa mengawali bagaimana kami harus mengawali kata.
Kamu, mengagetkanku!
"Di," sapaku pada kekasih yang baru saja berdiri di sampingku.
Dion menggamit pinggangku mesra, "Hai, semua,"
Senyum itu tersungging indah di bibirnya. Mengisyaratkan jika dia begitu bahagia, sesungguhnya aku juga bahagia. Bagaimana tidak, rindu yang perlahan mulai menggebu karena kepergiannya, telah menemukan peraduannya. Namun, ada sedikit ruang yang terisi kerisauan. Mengapa dia datang saat aku berdiri tepat di sebelah kiri Pak Aryan. Dekat dan cukup dekat jarak yang membatasi kami.
"Kita bertemu lagi," tiba-tiba Dion menyapa Pak Aryan.
Dion mengulurkan tangannya, "Dion, pacar Rosa."
Lelaki ini, kenapa begitu banget memperkenalkan dirinya. Penyebutan statusnya itu rasanya menunjukkan ia cemburu dan tak ingin aku, sebagai miliknya akan didekati oleh orang lain.
Selintas kemudian, ku lihat Pak Aryan menyambut uluran tangan Dion. Dia sama sekali tak terpancing dengan perkenalan Dion.Pak Aryan nampak santai memperkenalkan namanya, tanpa embel-embel apapun. Ku akui, kedewasaannya tak diragukan lagi, benar-benar matang.
Aku jadi meragukan perkataan Mas Rendra yang menyebut Pak Aryan terkena kutukan manajer baru. Mana mungkin Pak Aryan menaruh hati untukku. Mungkin dia memang murni ingin berteman denganku.
Mas Rendra memecah suasana yang terasa kaku, "Dion, ayo ikut! Kita mau nonton."
Bukannya menjawab pertanyaan Mas Rendra, Dion malah meminta pendapatku dulu.
"Sayang, kita ikut mereka atau kamu mau kita menghabiskan waktu berdua?" Dion sengaja mengeluarkan kata-kata romantisnya di depanku.
"Rosa, bisakah kita merayakan pertemanan kita dengan nonton bersama?" Pak Aryan juga mengintimidasiku.
Kalau begini, apakah aku tidak dijebak mereka. Kalau aku bisa, aku akan memilih pulang dan tidur saja. Benarkah? Tentu saja tidak, aku memilih untuk menghabiskan waktu dengan kekasihku. Namun, menolak ajakan Pak Aryan, apakah sopan ku lakukan.
Aku melihat wajah semua orang, mereka nampak was-was menunggu jawabanku.
"Ayo, kita nonton!" jawabku penuh senyum.
"Kita naik mobilku aja ya, rame-rame," Dion mengusulkan.
Semua menyetujui usul Dion. Kami pun beranjak menuju mobil. Dion segera mengambil posisi di belakang kursi kemudi. Siapa di sampingnya? Tentu saja Pak Aryan. Aku dan Maya menempati bangku tengah. Sementara Mas Rendra harus terima duduk sendiri di bangku belakang.
__ADS_1
"Aku 'tu, harusnya di sini," Mas Rendra menunjuk kursi diantara aku dan Maya.
"Emang aku selirmu mas, ogah ahh," jawabku.
"Sabar, Sayang! Ini gak akan lama, kok. Walaupun kita terpisah, tapi hatimu selalu di hatiku." Maya menenangkan.
"Aku gak bisa sedetikpun, terpisah darimu, Sayang," Mas Rendra manyun manja.
"Please, deh ya, kalian tuh cuma terpisah sandaran kursi, jadi jangan serasa kehilangan sandaran hidup." gerutuku sebel.
"Alah, Dion juga bucin, kamu jangan sok risih deh, sa!" seru Mas Rendra.
"Tapi, aku tau sikon, sepupuku!" Dion buka suara.
Pak Aryan terkekeh, " Jadi begini ya obrolannya sepasang kekasih itu, menggelikan."
"Jangan muntah ya, Pak, kalau kumpul sama kami!" kataku
"Aku bahagia bisa menjadi bagian dari pertemanan kalian, tidak perlu sungkan padaku." jujurnya.
Pak Aryan berganti mengulum senyum manisnya menengok ke arah kami, di bangku belakang. Dion melirikku dari kaca spion tengah. Aku tak menyadari itu, tapi Maya yang malah memperhatikannya dari tadi. Ku menoleh saat Maya menyenggol lenganku dan mengarahkan pandanganku pada pandangan Dion.
"Sepertinya aku salah waktu ya berada di sini? Perlukah kita tunda acara nonton kita?" ujar Pak Aryan.
Sepertinya Pak Aryan mulai gak enak dengan situasi ini, mungkin dia menyadari gelagat Dion yang memperhatikanku tadi
"Bapak, harus segera punya pacar," celetuk Maya.
"Ini lagi usaha," jawab ringan Pak Aryan.
"Perlu saya carikan, Pak?" tawar Maya kemudian.
"Kamu tau selera saya?" tanya Pak Aryan.
"Cantik? Pinter?" tebak Maya lagi.
"Membahagiakan," jelas Pak Aryan santai.
Suatu kriteria yang aneh menurutku. Baru kali ini, seseorang ditanya kriteria tapi jawabannya seperti itu. Kebanyakan akan cenderung ke fisik, karena kepuasan mata adalah titik awal dari kepuasan hati.
"Rosa gak masuk kriteria, kamu aman Dion," celetuk Mas Rendra.
__ADS_1
"Kok, aku sih, Mas?" tanyaku gak terima.
"Karena Maya hanya akan membahagiakanku," terang Mas Rendra.
"Terus, kamu pikir Rosa akan bisa membahagiakan Aryan?" tanya Dion.
Ku lihat ekspresi Dion yang tak menunjukkan lagi senyumnya. Dia pasti menahan sesak, dia gak akan bisa membiarkanku jadi objek candaan mereka, apalagi berhubungan dengan perasaan.
"Aku tau diri, Rosa pasti memilihmu kawan," Pak Aryan mencairkan suasana.
Entah kenapa, rasanya aku merasakan jika obrolan ini sudah mulai gak sehat, tapi aku gak tau bagaimana harus mengembalikannya kembali sehat.
Dering telepon dari HP Pak Aryan, seolah menjadi penolong untukku sedikit bisa bernafas. Setidaknya aku punya sedikit waktu untuk berpikir agar kondisi ini tidak berkepanjangan.
"Maaf ya, aku harus turun di depan, ada acara mendadak," jelas Pak Aryan kemudian.
Terimakasih Ya Robb, inilah jalan keluar yang kau berikan langsung atas doaku sebentar lalu. Hatiku melonjak bahagia, aku lega.
Aku terhanyut dalam hayalku, hingga tak sadar, Pak Aryan sudah tak ada lagi dimobil. Dan, aku juga gak menyadari jika mobil ini berhenti di sebuah apartemen, bukan Mall.
"Ren, bawa mobilku," perintah Dion.
Dion langsung turun. Aku bingung, apalagi sesaat kemudian pintu mobil sebelah kiriku, dibuka oleh Dion.
"Ikut aku, ada yang ingin ku bicarakan!" Dion menggandeng tanganku untuk keluar dari mobil.
Pikiranku kosong, gak tau apa yang Dion inginkan. Namun, aku ikuti langkah Dion tanpa membantah. Pasti ada sesuatu yang sudah tak dapat lagi di bendungnya, hingga kesabarannya mulai tak bersahabat.
Setelah keluar lift di lantai 19, ia memasukkan kode apartemennya pada pintu yang bernomor 285. Dia masih menggenggam jemariku lembut sampai di dalam apartemennya.
Dion kemudian memelukku, " Aku cemburu, Sayangku!"
Aku memaku di dalam pelukannya.Tak tau bagaimana harus merespon perlakuannya ini.
"Diamlah," ucapnya saat aku hendak pelepaskan pelukannya.
Aku diam, tak lagi berniat untuk jauh dari dekapannya. Ku biarkan dia melepaskan kecemburuan yang begitu kuat menderanya.
"Kamu milikku, hanya milikku,"
Cup!
__ADS_1