Tentang Hati

Tentang Hati
Siapa Yang Mau?


__ADS_3

Tiada pengakuan yang keluar dari bibirku. Rasa malu masih membiaskan diri meskipun tadi sempat menepi. Keberanian yang tadi muncul begitu saja, kini juga hilang entah ke mana. Yang kulakukan hanya bisa menatapnya tanpa berbicara. Namun kuyakin suami tampanku itu mengerti apa yang diinginkan sang istri.


Dengan senyum merekahnya Dion membalik tubuhku dengan hati-hati. Mengungkung di bagian bawah tubuhnya, menikmati pemandangan indah dari perpaduan perut sixpack dan dada bidangnya. Saliva meliar dan gairah semakin tak ingin menyerah. Terus beradu untuk dihangatkan dengan madu.


Sebuah kecupan kecil, menyentuh lembut bibir mungilku. Kembali menjadi benih yang ingin disemai dan bertumbuh dengan indah. Namun sayangnya khayal liar seketika harus puas menjadi jinak.


"Tidurlah, Sayang. Mas mau membersihkan diri, dulu," pinta Dion seraya menarik tubuhnya dari atasku dan menutupi tubuhku dengan selimut tebal.


Napas berat yang kuembuskan menunjukkan kekecewaan karena hasrat ingin dibekap malah mel*knat. Kumiringkan tubuh seraya menghabiskannya dibawah tangkupan selimut. Usapan lembut kurasakan pada bagian puncak kepalaku yang tertutup.


"Tidurlah, Sayang. Ini sudah larut malam."


Gerutuan terus aku lontarkan. Mencaci kepekaan Dion yang sengaja ia sembunyikan. Tahukah dia jika aku ingin dimanja gara-gara membaca novel Tuan Saga. Kekesalan membuat rasa kantuk menjadi kikuk hingga aku menjadi suntuk. Perlahan kubuka selimutku dan turun dari ranjang. Mengingat jika benda pintarku masih tertinggal di sofa dan kini aku ingin mengambilnya.


Dengan langkah santai aku kembali ke kamar lagi. Suara gemericik air menjadi pertanda jika Dion masih berada di dalam sana dengan tubuh polosnya. Ish! Liar sekali khayalanku. Kembali kumenaiki ranjang dan membuat posisi persis seperti tadi. Membuka aplikasi Noveltoon dan meneruskan kisah Tuan Saga dan Daniah.


Selimut tebal membuatku merasa aman dari kata terciduk. Cahaya terang benda pipihku akan terhalang dari pandangan luar. Hingga dengan santai aku tetap meneruskan membaca meskipun kudengar pintu kamar mandi terbuka. Aku yakin Dion keluar hanya dengan balutan handuk di bagian bawah tubuhnya. Sementara punggung kekarnya yang pelukable itu terpampang sempurna.


Ah, aku tersakiti dengan pikiranku sendiri!


Kututup aplikasi bacaku. Pikiran ini harus kuredam dengan mata yang terpejam. Tenggelam dalam dunia mimpi dan berharap ada seberkas kisah yang indah. Belum juga sempat membuka gerbang alam bawah sadar, kurasakan udara dingin menyapa kulitku. Selimut yang disingkap oleh pemilik hatiku, membuatku meneruskan sandiwara. Sedang terhanyut dengan buaian alam yang penuh kepalsuan.


Dion berbaring di belakangku. Lengannya ia lingkarkan, melingkupi perutku yang dari tadi dimanjakannya. Napas hangatnya terasa menggelitik di balik telingaku yang kosong dari permainan rambut liarku. Berulangkali rambutku diciumnya, hingga aku bisa merasakan rasa kasihnya yang begitu dalam.

__ADS_1


"Kamu dah tidur, Sayang?"


Aku tahu jika pertanyaan itu tak memerlukan jawaban. Ia hanya ingin memanjakanku dengan suaranya. Entah aku sudah terlelap ataukah masih terjaga, baginya berbicara denganku adalah perwujudan rasa cinta yang ingin ditunjukkannya.


"Mas bukan gak mau memanjakanmu, Sayang. Hanya saja Mas takut kamu kelelahan. Ini sudah terlalu malam. Ibu hamil gak baik begadang."


Masih jelas kudengar semua penuturannya. Aku terharu. Kuyakin dia juga berkorban kenikmatan. Gejolak birahi lelaki lebih tak tertahan dibanding perempuan. Jadi, kuyakin di dalam sana tadi dia main sendiri.


"Sayang, Mas hari ini sangat senang. Melihatmu bermanja tanpa henti, membuat Mas merasa sangat kamu cintai."


Aku memang mencintaimu, Mas. Rasa yang makin lama makin membuncah. Meluap tak terbendung hingga melambung setiap kali aku engkau manjakan dengan perhatian yang tiada habisnya.


"Aku memang sangat mencintaimu, Mas."


Pengakuan tentang perasaan yang kumiliki atas namanya, membuatku menghentikan sandiwara. Kupikir dia akan kembali menghujaniku dengan kalimat-kalimat manis. Nyatanya, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Samar-samar kudengar dengkuran halus yang mengusik pikiranku. Apakah Dion sudah tidur?


"Di, aku mencintaimu. Rosamu yang dulu ketus sekarang berbalik menyayangimu akut. Seperti waktu panjang yang telah kamu habiskan untuk mengejarku, kini aku ingin menghabiskan waktuku untuk selalu berada di sisimu."


Kukecup bibirnya dengan penuh cinta. Tak terasa kristal beningku meluruh begitu saja. Ada rasa yang terantuk saat kuakui bagaimana cintaku yang kini semakin menggebu. Kumenyesal pernah menyia-nyiakannya dulu. Sekali lagi kusentuh bibir itu dengan jemariku. Mengusapnya pelan dan perasaanku semakin tak karuan.


Isakku semakin mengusik. Ingatanku dihamparkan kembali. Bagaimana bibir itu terlambat kunikmati. Wajah di hadapanku ini kembali kupandangi. Tak bisa kutepis jika aku ingin menangis.


"Di, aku mencintaimu."

__ADS_1


Lagi-lagi terlahirlah pengakuan yang sama. Lantaran memang itulah yang kurasakan. Apalagi dengan semangat kerja kerasnya, aku semakin yakin jika mencintainya adalah langkahku yang tidak pernah salah. Kutundukkan kepala. Tak sanggup lagi menahan buncahan perasaan. Kutenggelamkan wajahku dalam peluknya.


Dion mengeratkan lingkaran lengannya. Curiga jika ia mendengar semuanya, kuangkat kepalaku hingga bisa melihat netranya yang masih terpejam. Tiba-tiba sebuah kecupan melentur di keningku. Keyakinanku semakin kuat jika lelaki ini memang tersadar dengan semua yang aku ucapkan.


Aku terdiam. Kembali menelungkupkan wajah di dadanya. Biarlah semua terjadi, pengakuanku dan pendengarannya menjadi satu. Melahirkan cinta yang semakin menggebu.


Kurasakan sebuah ciuman pada puncak kepalaku. "Beraninya kamu memanggilku dengan sebutan, Di, Sayang! Apakah kamu kangen mendapatkan hukuman?"


Semakin kuhimpitkan tubuhku. Bersembunyi dari sesuatu yang mungkin akan mengancamku, kengerian balasan dari panggilan yang baru saja kulakukan. "Di itu panggilan sayangku untukmu, Mas."


"Coba angkat wajahmu!"


Kuberingsut dari dekapan Dion. Bukan meluruskan mata dengannya melainkan membalik badan, kembali pada posisi semula sebelum Dion datang.


"Aku kangen dengan panggilanmu, Sayang. Setelah sekian lama kata Di itu tak terucap dari bibirmu, mendengarnya lagi rasanya seperti dibawa kembali pada masa itu. Ketika hariku kuhabiskan untukmu. Sama seperti sekarang, di sini dulu aku meniti karier seraya meniti cinta. Bedanya, sekarang kamu ada di sampingku, menemaniku meniti karier kembali. Terimakasih ya, Sayang. Berkat kehadiranmu, Bahagiaku sempurna."


"Aku yang bahagia karena memilikimu, Sayang. Terimakasih sudah mengejarku tanpa mengenal lelah. Maafkan jika sampai detik ini aku belum bisa menjadi istri yang terbaik."


Dion meletakkan dagunya di bahuku. "Kata maaf dan terimakasih, kita ganti jadi aku mencintaimu aja, gimana, Sayang?"


"Aku mencintaimu, Di."


"Sa, aku mencintaimu juga."

__ADS_1


"Di," panggilku seraya membalik badan lagi. Tanpa jeda langsung kul*mat bibirnya.


Dion pun membalas dengan pagu*an manja. Menyesap dan menggigit kecit setelahnya. "Hukumanmu, Sayang."


__ADS_2