Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 101. Bryan Regan dan Arumi


__ADS_3

Selamat Membaca..


Aqiqahan Baby Delisha Annira Elshanum Alhamdulillah berjalan lancar sesuai dengan harapan Martin dan juga keluarganya. Kehadiran anak-anak Panti serta ibu-ibu pengajian membuka acara tersebut semakin terasa hangat dan bahagia.


Martin bersyukur karena banyaknya Tamu yang datang memberikannya ucapan selamat dan juga do'a tulus untuk putrinya. Nenek Masitha bahkan terbaru di saat mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an.


"Seandainya Amairah dan Axel cucuku hadir di antara kami, kebahagiaan ini pasti akan terasa lengkap, Ya Allah kalau memang mereka masih hidup maka berikanlah mereka kesalamatan dan kesehatan yang baik dan jaga dan lindungilah mereka dari segala marabahaya".


Martin terharu melihat anak kecil yang baru berusia 9 tahun itu dengan fasih dan lancar dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, Hati Martin menjadi hangat dan air matanya mengalir begitu saja.


"Ya Allah semoga putriku serta anak-anakku yang lainnya bisa membaca Alqur'an sebaik anak itu".


Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur'an, acara selanjutnya di lanjutkan dengan ceramah agama yang disampaikan oleh Ustadz Yusuf Mansyur.


Acara tersebut berlangsung hingga sore hari. Mereka bersyukur karena dari acara tersebut mereka mendapatkan resky yang banyak dari Martin dan juga keluarganya. Bahkan pengurus Panti asuhan pun mendapatkan resky yang tidak terkira, yaitu Umroh gratis untuk sepuluh orang Pengurus Panti asuhan yang sudah sangat berjasa dalam merawat, mendidik dan menjaga anak-anak yang kurang beruntung.


Acara terus berlanjut hingga sore hari, Kedatangan rombongan Dion, Maya dan Bryan menjadi sorotan dan perhatian khusus dari tamu undangan. Mereka berfikir jika yang datang itu adalah artis Korea Selatan. Mereka mengagumi sosok Dion dan Bryan, ibu-ibu bahkan meminta ijin kepada Dion dan Bryan Regan untuk berselfi bersama bahkan ada yang meminta tanda tangan mereka.


Dion dan Bryan hanya meladeni ibu-ibu pengajian tanpa mengeluh dan banyak protes. Mereka bersyukur karena dalam acara tersebut mereka menjadi idola sesaat.


"Aku perhatiin akhir-akhir ini, Kamu datang selalu saja terlambat apa ada yang membuat kamu seperti itu atau itu karena dari kamu sendiri?" tanya Martin yang heran melihat tingkah laku Diom akhir-akhir ini.


"Maya apa kamu sudah setuju jika Aku pindahkan kamu ke Sini saja, agar seseorang tidak capek-capek bolak balik Jakarta Surabaya, kasihan Dia jika harus seperti itu terus" ucap Martin yang melihat wajah Dion dan Maya bergantian.


"Aku serahkan sepenuhnya kepada Presdir saja, dari pada Nolak dan berakhir bonus aku dipotong kan gak enak kalau gitu" jelas Maya yang tidak bisa menolak lagi dan juga kasihan sama Dion yang setiap akhir pekan datang ke rumahnya yang berada di kota S.


"Bagaimana Dion, apa Kamu bahagia?" tanya Martin yang tersenyum penuh arti.


"Maksudnya Aaaapa, Dan kenapa bertanya kepadaku?" tanya Dion yang gelagapan saat tiba-tiba Martin menyudutkan dirinya.


"Hahahaha, gak usah Aku jelaskan karena kamu pasti tahu maksudku". jelas Martin.


Sedangkan Bryan Regan hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka, dan netra matanya mencari keberadaan seseorang dan sudut matanya yang tiba-tiba melihat seseorang yang berjalan menuruni tangga sambil menggendong seorang Bayi di dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kamu semakin cantik dan sangat cocok menggendong bayi, Andai saja waktu itu Aku tidak menolak keinginan ke dua orang tuaku yang ingin melamar kamu, mungkin kita sudah punya anak".


Maya langsung berlari kecil ke arah Arumi yang menggendong Baby Del, Mereka berebut untuk menggendong Baby Delisha untung saja Nenek Masitha datang dan mengambil alih Delisha ke dalam pangkuannya.


Hingga sore hari, mereka bergantian pamit pulang.


"Nenek kami pulang dulu, insya Allah kalau ada waktu kami akan mampir tengokin Baby Del" ucap Maya yang menciumi wajah Delisha Annira Elshanum.


"Iya nek Arumi juga mau pamit, Soalnya Mami Hernita nanti sore sudah datang dari London" ucap Arumi yang ikut pamit.


Martin mengantar sahabatnya hingga kedepan, "Arumi kamu bawa mobil sendiri atau aku panggilkan supir untuk mengantar kamu?".


"Aku...." ucapan Arumi terpotong setelah suara bariton seseorang dari belakangnya langsung menyahut.


"Tuan ijinkan Saya yang mengantar Nona Arumi" ucap Bryan Regan yang menawarkan bantuannya.


Martin melihat ke arah Arumi yang menunduk sedari tadi disaat Bryan sudah berada diantara mereka.


"Gimana Arumi, kamu mau ikut bersamanya Bryan atau Saya suruh supir..." ucapan Martin terpotong karena Arumi langsung menyala perkataan Martin.


"Aku ikut Kak Bryan saja, Kalau Kakak Bryan tidak keberatan dan saya tidak merepotkan" tutur Arumi yang wajahnya semakin memerah tersipu malu.


"Saya tidak pernah merasa direpotkan kok Nona" ucap Bryan.


"Tolong jaga adik cerewetku, ingat langsung pulang yah" Martin mewanti-wanti Arumi.


"Siap Bosku" jawab Arumi yang sudah duduk di kursi penumpang bagian belakang.


Mobil yang dipakai oleh Arumi pun meninggalkan halaman kediaman Nenek Masitha. Begitu pun juga dengan Dion dan Maya. Tinggallah Martin sendiri di depan rumahnya dan berdiri menatap indahnya cahaya sinar rembulan yang membuat hatinya terasa tenang dan adem.


"Heeeemmm" Bryan berdehem untuk mencairkan suasana di antara mereka yang sedari tadi tidak ada yang membuka mulutnya.


Arumi sibuk membalas Chat dari dari sahabatnya. Sedangkan Bryan melirik ke arah Arumi melalui kaca spion mobilnya.

__ADS_1


"Gimana kabarmu Arumi?" tanya Bryan yang berusaha memecahkan keheningan diantara mereka.


Arumi tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bryan, tapi melihat ke arah wajahnya Bryan.


"Seperti yang Kakak lihat" Jawab Arumi yang sedari tadi mencoba menetralkan perasaan dan hatinya. Sedangkan jantungnya sudah berdendang ria.


"Alhamdulillah kalau kamu baik-baik saja" ucap Bryan yang kembali menatap Arumi dan tangannya masih setia di balik kemudi mobilnya.


"Apa kamu masih marah dengan Kakak?" tanya Bryan.


Arumi kembali menatap ke arah Bryan.


"Kalau Aku marah, Aku tidak mungkin ikut mobil kakak, lagian yang berlalu biarlah berlalu, Aku tidak menyimpan dendam untuk hal seperti itu, Aku sangat mengerti Kakak tidak datang waktu itu karena kerjaan Kakak yang sangat penting dari segalanya" tutur Arumi.


"Maafkan Kakak, waktu itu Kakak sudah ada di jalan, tapi bos kakak ingin bertemu dan hal itu tidak bisa ditunda dan jika kakak tidak datang mungkin bos kakak sudah Mati" jelas Bryan.


"Sudahlah Kakak, tidak usah kenangan itu kakak ungkit lagi, biarkan semuanya menjadi kenangan yang indah di antara kita" terang Arumi yang sudah ada buliran air matanya di ujung pelupuk matanya, tetapi Arumi buru-buru menghapus air matanya agar Bryan tidak melihatnya.


"Walaupun kamu berkata seperti itu, Tapi Kakak tahu kalau kamu sangat sedih dengan kejadian waktu itu, Aku tidak bisa memaksa kamu untuk maafkan Aku, Tapi Aku ingin tahu Apakah Aku ada di dalam hatimu saat ini".


"Kakak, Aku tidak bisa melupakan kakak, sudah tiga tahun berlalu, tapi hati ini terus menunggu dan berharap kita suatu saat nanti bertemu kembali, Aku hanya bisa bilang Hati ini selalu untuk Bryan Regan seorang hingga maut menjemput ku".


Mobil mereka pun sudah berhenti di depan pintu masuk rumahnya Arumi. Bersamaan dengan pintu besar nan tinggi itu terbuka dan keluarlah Cairan Mami Hernita menjemput putri bungsunya.


Bersambung...


Makasih banyak Fania ucapkan kepada semua Readers yang memberikan saran, komentar dan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🙏.


Jangan Lupa untuk untuk Like setiap Babnya.


Typo Berterbangan mohon untuk dimaklumi ✌️.


by Fania Mikaila AzZahrah

__ADS_1


Makassar, Rabu 11 Mei 2022


__ADS_2