
Selamat Membaca..
Alif dan ibu Sumartini sudah bergabung dan berkumpul dengan Maya dan Dion di meja makan. Dion menatap kearah Maya sebelum mengucapkan pujian yang dilontarkan oleh Dion kepadanya.
"Kamu yang masak kah semua masakan ini?" tanya Dion yang keheranan dan sedikit tidak percaya dengan kenyataannya, jika Maya lah yang memasak beberapa makanan kesukaannya.
Dion bangga karena Maya sudah bisa masak makanan yang paling disukainya walaupun hanya masakan sederhana saja.
"Kalau begitu Alif, tolong pimpin doanya ya sayang," perintah Maya yang tersenyum simpul ke arah Alif.
Alif tanpa pikir panjang langsung membaca doa sebelum makan. Seperti yang biasa dilakukannya setiap hari selama mereka tinggal seatap di Apartemen mewah itu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah menyendok makanan ke dalam piring mereka masing-masing. Mereka makan dengan penuh hikmah dan tanpak dari raut wajah mereka kebahagian yang tidak terkira saat menyantap makanan tersebut.
"Sayang, Mas ingin berbicara sesuatu yang penting kepada Kamu," tutur Dion yang menatap serius ke arah Maya.
Dion yang berbicara pada saat sedang makan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Alif.
"Uncle!!! please kalau makan itu jangan bicara Alif tidak suka," wajahnya yang awalnya penuh rona bahagia langsung berubah garang lalu berdiri meninggalkan meja makan itu tanpa sepatah kata pun lagi.
Semua mata tertuju kepada Alif yang berjalan meninggalkan meja makan dengan wajah marahnya. Semua orang keheranan dengan sikap Alif yang tidak seperti biasanya. Maya Erlene Keysha dan Dion Haidar Tan tidak pernah melihat sikap Alif Faturahman yang seperti itu, hanya dikarenakan Dion yang berbicara dengan Maya pada saat sedang makan.
Ibu Sumartini merasa tidak enak hati melihat putranya yang bersikap seperti itu di hadapan Nona Muda dan Tuan Muda nya. Emaknya Alif meminta maaf kepada Maya dan Dion dan merasa sedih dengan sikap Alif.
"Maafkan Alif yah Mbak dan Tuan Dion, Alif dari dulu seperti itu, jika ada yang berbicara disaat makan, maka Alif tidak akan segan untuk menegur dan marah di hadapan orang itu," jelas Ibu Sumartini.
Emaknya Alif pun mengejar putranya dan berusaha untuk menenangkan anaknya itu. Alif menutup pintu kamarnya dengan sangat kuat sehingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Bruuuuuukkkkkk!!!
"Alif ini Emak nak, tolong buka pintunya," ucap Emaknya yang meminta tolong agar pintunya segera dibuka.
Alif yang mendengar perkataan dari Emaknya hanya duduk diam di atas ranjangnya dan entah kenapa jika Alif sedang emosi dia seketika melupakan rasa trauma yang dialaminya selama ini jika berada di dalam ruangan yang tertutup dengan keadaan seorang diri saja.
__ADS_1
"Alif maafkan Mas Dion dan Mbak Maya, mereka tidak tahu jika Alif tidak menyukai bila ada orang yang berbicara pada saat Alif makan," suara ibu Sumartini yang sudah lemah lembut itu masih tidak membuat Alif berubah pikiran dan membuka pintunya.
Raut wajah Emaknya sangat khawatir dengan keadaan Alif yang tidak ada reaksi sedikit pun dari arah kamar putranya. Tapi, Bu Sumartini tidak menyerah dan terus membujuk putranya agar membukakan pintu tersebut lalu kembali makan bersama dengan lainnya.
Maya dan Dion segera menyelesaikan makanannya yang sudah terlanjur terisi ke atas piringnya.
"Mas, kok sifatnya Alif mirip Axel putra sulungnya Mas Martin yah, Alif juga akan ngambek dan ngomel-ngomel jika dua lagi makan dan ada yang tiba-tiba berbicara, Axel tidak akan segan untuk menegur orang tersebut, siapa pun itu," terang Maya yang teringat beberapa tahun silam saat Axel.
"Aku pun sama dengan yang Kamu rasakan, wajah dan beberapa sifatnya Alif hampir semuanya sama dengan Axel, apa jangan-jangan Alif itu adalah Axel yah?" tanya Dion yang merasa curiga dan yakin jika Axel adalah Alif.
"Tapi, itu tidak mungkin banget deh sayang, Alif itu adalah putra tunggalnya Ibu Sumartini tidak mungkin jadi anaknya Mbak Amairah dan Mas Martin, mungkin kesamaan dan kemiripan mereka hanya lah kebetulan belaka saja," terang Maya yang sebenarnya di dalam hatinya sedikit membenarkan perkataan dan argumen dari Dion.
Maya dan Dion tidak memungkiri jika banyak kesamaan dari mereka, tapi Alif adalah anak kandungnya Bu Sumartini.
"Bagaimana kalau kita melihat Alif?" ajak Maya kepada Dion.
"Ayok kita lihat apa kah Alif sudah tidak marahan lagi," jawabnya Dion.
Mereka berdiri dari meja makan setelah menyelesaikan makannya dan Dion membantu Maya untuk merapikan dan menyimpan peralatan makannya yang kotor dan sisa dari makanan mereka masukkan ke dalam lemari pendingin.
"Bagaimana dengan Alif Bu?" tanya Maya yang merasa Khawatir dengan kondisi Alif.
"Masih seperti tadi Mbak, Alif belum membuka pintu kamarnya dan Alif tidak menyahut sedikit pun dari dalam," jawab Emaknya Alif.
"Ibu bergeser sedikit, Saya akan coba untuk membujuk Alif, semoga dengan cara yang Saya lakukan bisa membuat Alif berubah pikiran dan membuka pintunya segera," jelasnya Dion kemudian berjalan ke arah Ibu Sumartini lalu mereka berganti posisi.
Emaknya Alif langsung berpindah tempatnya ke arah belakang bergeser sedikit tepat di belakang punggung Dion. Guratan di wajahnya nampak kecemasan dan ketakutan.
"Ya Allah semoga saja putraku baik-baik saja."
"Alif ini Mas Dion, nanti siang Mas Dion mau ke Dufan itu dunia fantasi tempat bermain anak-anak yang sangat lengkap dan banyak sekali loh, Mas mau naik wahana biang Lala, rollcoster dan masih banyak permainan lainnya yang Mas ingin naiki loh," ujar Dion yang berharap agar Alif keluar dari Kamarnya.
Dion seakan-akan berbicara langsung di hadapan Alif walaupun kenyataannya ada pembatas pintu yang memisahkan mereka. Tanpa mereka sadari ternyata pintu itu berdecit pertanda ada yang membuka pintu itu. Alif sudah berdiri di ujung pintu lalu menyembulkan sebagian kepalanya ke arah luar.
__ADS_1
Alif memegang gagang pintunya dan hanya sebagian tubuhnya yang nampak di mata mereka.
"Serius!!! apa yang dikatakan Mas? Mas nggak bohong kan?" tanya Alif yang ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan oleh Dion benar adanya bukan hanya janji palsu dan memberikan harapan palsu saja.
Dion lalu mendudukkan dirinya hingga sejajar dengan tinggi tubuhnya Alif, lalu menautkan kedua jari mereka pertanda mereka berjanji dan tidak akan mengingkari janjinya Dion kepada Alif.
Dengan mata bening milik Alif sudah berbinar tanda bahagia dan tidak sabar untuk berangkat segera ke Dufan bersama Dion.
"Janji, tapi Mas serius kan ajak Alif ke sana? Mas gak bohong kan? entar Mas sibuk Lagi dan batalin janjinya lagi kayak dulu," ujarnya lalu loyo dan semangatnya seakan-akan menguap tinggi ke atas langit dan diterbangkan oleh angin seketika itu juga dan air wajahnya Alif langsung berubah seketika itu juga.
Dion refleks memeluk tubuh kecil Alif yang sudah sedikit berisi tidak seperti awal kedatangannya di apartemen itu. Dion mengelus rambut Alif dengan perlahan. Ada desiran aneh lagi yang tiba-tiba muncul dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Ya Allah kenapa perasaan seperti ini lagi muncul di dalam hatiku, setiap kali aku memeluk tubuhnya Alif?"
Maya dan Emaknya Alif tersenyum bahagia dan mereka terharu melihat kedekatan yang tercipta di antara mereka. Dion seakan-akan seperti bak seorang Ayah yang sedang berusaha membujuk putranya yang sedang merajuk.
"Kalau gitu Alif harus makan dulu, gak boleh Alif ke Dufan bersama Mas Dion kalau belum makan," ucap Maya yang berharap perkataannya di dengarkan oleh Alif.
Alif melepas pelukannya Dion lalu beralih memeluk kakinya Maya dengan kegirangan dan saking gembiranya sudah hilang seketika itu juga dengan tergantikan oleh perasaan bahagia menggantikan perasaan sedih dan marahnya.
Dion pun memegang tangan Alif lalu berjalan ke arah dapur dan menunggui Alif hingga selesai sarapan pagi.
Maya dan Bu Sumartini berjalan beriringan menuju dapur dan mengekor di belakang Dion dan Alif.
"Makasih banyak Mbak," ucap tulus Emaknya Alif.
"Sama-sama Bu, Kami sayang sekali dengan Alif seperti keluarga kami sendiri," jawab Maya.
Sedangkan di dalam ruangan lain, Pak Heri sudah tidak sabar menunggu kepulangan dan kedatangan anak dan cucunya. Segala persiapan mereka sudah persiapkan. Kebahagiaan sangat terlihat begitu jelas.
Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada kakak Readers all yang selalu setia mendukung Cinta Yang Tulus 🥰
Tetap Dukung CYT dengan cara: Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan untuk selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya, gift poin atau Koinnya dong kk, dan Votenya kalau ada ✌️👌.
__ADS_1
by Fania Mikaila AzZahrah
Makassar, Takalar, SulSel , Minggu, 12 Juni 2022