Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 70. Kekhawatiran Martin Yang Berlebihan


__ADS_3

Selamat Membaca..


"Aku harus membuat mereka berpisah, Apa pun caranya aku harus membuat mereka berpisah dan mereka tidak boleh bersatu untuk selamanya" ucap seseorang yang sedang duduk berpangku tangan di kursi kebesarannya.


Amairah mengakhiri presentasinya dengan senyuman yang cukup menawan membuat seseorang tersenyum melihat senyuman manis dari Amairah.


"Cantik tapi sayangnya, dia Kakak sepupuku"


Alexander tersenyum membalas senyuman dari Amairah. Alexander sempat terpesona oleh senyuman dan wajah Amairah, tapi ketika gerak geriknya terbaca oleh Ayahnya yaitu Pak Agung Wijaya dan langsung menegur melalu pesani chat.


"Jaga matamu, kamu tidak pantas untuk melihatnya seperti itu, Dia adalah kakak sepupumu".


Alexander langsung tersenyum ketika membaca chat dari Papinya. Mereka puas dengan penjelasan dari Amairah dan mereka sepakat dengan isi dari perjanjian tersebut.


"Makasih banyak, kita deal dengan apa yang asisten bapak Dion paparkan dan semoga perjanjian Kita berlangsung hingga beberapa tahun ke depan" ucap Pak Agung.


"Alhamdulillah makasih banyak Pak Agung, dan senang bisa bekerja sama dengan bapak" ucap Dion yang masih memakai bahasa formal kepada Pamannya.


Mereka satu persatu meninggalkan ruangan meeting Perusahaan Alena Teknologi tbk. Mereka sangat puas dan bahagia karena perjanjian mereka berhasil. Dion berjalan beriringan bersama dengan Maya tanpa mereka sadari. Amairah tersenyum melihat kedekatan yang tanpa mereka sadari. Bahkan Amairah berjalan agak pelan dan mundur beberapa langkah ke belakang. Hingga Amairah berpapasan dengan Alexander. Sedangkan kamera yang terpasang di tubuh Dion belum sempat Dia matikan, sehingga apa yang Amairah lakukan terekam dengan sempurna dan tersambung langsung ke HP Martin.


"Hay, kamu ada waktu gak malam ini?" tanya Alexander ke Amairah.


"Maaf Saya tidak terbiasa keluar malam dan kebetulan tidak ada yang menemani putra saya" ucap Amairah.


"Kalau gitu aku langsung datang ke rumah kamu saja sambil berkenalan dengan putramu" ucap Alexander lagi.


"Silahkan datang kalau bapak ingin datang ke rumah" ucap Amairah.


"Jangan panggil bapak, aku masih muda dan belum menikah loh lihat dengan jelas, kan nampak dari wajahku" ucap Alexander agung Wijaya yang memajukan wajahnya ke hadapan Amairah yang membuat Amairah memundurkan langkahnya serta wajahnya tapi langsung memukul tangan Alexander dengan map yang di pegannya.


"Pak aku itu belum rabun gak usah segitu reaksinya kali" ucap Amairah yang tertawa kecil dengan melihat tingkah laku Alexander yang menurutnya lucu dan jahil.


Sedangkan Seseorang yang berada di balik kursi kebesarannya wajahnya sudah nampak sangat merah dan urat-urat di lehernya sudah nampak menonjol dan mengepalkan tangannya menandakan bahwa dirinya sangat marah setelah melihat istrinya bercanda dan tertawa bersama pria lain.


Dion dan Maya yang berjalan di depan mereka semakin akrab saja bahkan mereka sudah saling bertukar nomor hp.


"Nanti malam aku chat, ga apa-apa kan ?" tanya Dion yang ingin tahu posisinya di hati Mata Maya sebagai apa.


"Kalau Chat biasa gak apa-apa kok, silahkan saja dengan senang hati" ucap Maya yang malu-malu kucing.


"Serius nih gak apa-apa kalau aku chat kamu atau jangan-jangan ada yang marah lagi jika aku dekat dengan kamu" ucap Dion yang melihat langsung ke dalam bola matanya Maya.


"Masa aku harus bilang sama dia kalau aku sudah punya tunangan kan bisa gagal pedekatenya kalau gini".

__ADS_1


Maya langsung spontan menggelengkan kepalanya. Maya tidak mau pusing dengan memikirkan Tunangannya tersebut, bagi Maya itu urusan dibelakng saja. Sekarang nikmati masa mudanya mumpung belum nikah.


"Ayok jawab dong May kalau kamu sudah punya tunangan biar hati ini happy gitu".


"Tidak ada yang marah kok, lagian aku belum Nikah dan tidak punya pacar juga soalnya". jawab Maya yang semakin malu saja.


Tidak ada salah dengan yang dikatakan oleh Maya dan seperti itu lah kenyatannya yang salah kalau Maya menjawab belum punya tunangan.


"Aku akan berjanji untuk buat kamu yang akan meminta aku untuk melamar dan segera menikahimu".


"Maaf pak, kalau boleh tahu nanti bonusnya yang katanya ke Korea Selatan jadi gak?." tanya Maya yang ingin memastikannya saja.


"Insya Allah jadilah itu kan sudah diagendakan oleh Presdir jadi kamu jangan khawatir jika perusahaan tidak menepati janjinya" ucap Dion.


"Alhamdulillah kalau gitu, hore akhirnya bisa ke Korea Selatan tanpa bayangan cowok yang menjadi tunanganku". ucap Maya yang sengaja mengecilkan suaranya agar tidak kedengaran hingga ke telinga Dion.


"Kamu tadi bilang apa?" maaf aku tidak mendengar baik suara kamu.


"Gak ada kok, mungkin bapak salah dengar saja" ucap Maya yang berlari kecil hingga ke arah Parkiran mobil.


Dion, Maya dan Amairah sudah berada di dalam mobil dan siap untuk berangkat.


"Makasih banyak yah atas waktunya dan lain kali Aku akan berkunjung ke rumah kamu" ucap Alexander.


Martin yang dibuat pusing oleh seseorang yang telah berhasil membeli sebagian saham perusahaan Eratex yang ada di Kota S pusing sekarang semakin dibuat pusing setelah melihat dan mendengar langsung percakapan antara Amairah dengan anak dari kliennya Pak Agung Wijaya. Martin ingin meninju hidung pria tersebut yang menurutnya sudah lancang mendekati dan menggoda Istrinya secara terang-terangan.


"Kenapa hati Sangat marah saat ada pria lain yang mendekatinya, Aku tidak suka jika ada Pria lain yang melihat senyumannya".


Martin memandang langit sore itu, Martin masih tidak percaya dan tidak menyadari kalau dirinya telah jatuh cinta kepada istrinya sendiri tapi sulit untuk mengungkapkannya dan mengetahui kenyataan yang ada di dalam hatinya. Amairah merasakan pusing di kepalanya tapi tidak memberitahukan kepada Dion atau pun Maya. Amairah hanya mengambil minyak angin aromatherapy yang ada di dalam tasnya lalu menggosokkan ketengkuk belakangnya. Mobil pun sudah berhenti dan Amairah langsung saja berjalan masuk ke lobby perusahan tanpa sepatah kata pun karena kepalanya yang sudah pusing berkunang-kunang.


Martin yang mengetahui kalau istrinya sudah datang segera mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian kerja yang harganya sangat murah dibandingkan dengan apa yang dia pakai sebelumnya. Martin awalnya sangat tidak percaya jika ternyata Amairah bekerja di Perusahaannya sendiri selama ini. Andai saja tidak ada insiden muntahnya Amairah di pakaian Pak Heri mungkin selamanya dirinya tidak tahu kalau sang istri bekerja di bawah pimpinannya sendiri.


Martin melihat Amairah yang berjalan sempoyongan masuk ke dalam lift. Sehingga Martin berlari ke arah Lift yang nantinya Amairah keluar dari Lift tersebut. Martin sedari tadi memperhatikan rekaman langsung yang dikirim oleh Dion ke HPnya. Martin terus berlari lalu masuk ke dalam Lift yang berlawanan dengan Amairah dan menuju lantai tempat di mana Ruangan Amairah berada, Tapi Lift tersebut tidak terbuka walaupun Martin sudah menekan tombolnya berulang kali tapi tidak berhasil sedangkan Lift yang dinaiki oleh Amairah sudah hampir sampai ke lantai 15 Sehingga Martin memutuskan memakai tangga darurat untuk sampai ke lantai tersebut. Martin sampai ke Lantai 15 tempat Ruangan Amairah sebelum Lift yang dinaiki Amairah terbuka. Nafasnya ngos-ngosan karena harus berlari kencang agar dirinya tidak terlambat.


Pintu Lift terbuka Martin berdiri di depan pintu lift tersebut, Amairah langsung tersenyum ke arah Martin saat Amairah menyadari bahwa yang berdiri di depannya adalah suaminya sendiri. Amairah pun perlahan berjalan ke arah Martin berada tapi baru ingin meraih tangan Martin untuk dia cium, Tubuhnya sudah merosot ke Lantai. Martin yang melihat pun sigap dan segera menggendong tubuh istrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Amairah sudah pingsan karena sedari tadi sudah pusing tujuh keliling. Martin melarikan tubuh istrinya ke rumah sakit terdekat dari perusahaan Eratex.


Martin membaringkan tubuh istrinya ke kursi belakang mobilnya dan segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Martin menghubungi Dion tentang apa yang terjadi dengan Amairah. Martin sangat khawatir karena melihat wajah Amairah yang sudah sangat pucat pasi. Amairah sedikit pun tidak bergerak padahal sudah beberapa menit dirinya tidak sadarkan diri. Martin langsung mematikan mesin mobilnya lalu menggendong tubuh Amairah ke dalam UGD RS.


"Dokter tolong istriku" teriak Martin saat dia berhasil menidurkan tubuh istrinya di atas Bangkar rumah sakit.


"Tenang pak, kami akan memeriksa keadaan istri bapak dan kami harap bapak bisa tenang" ucap dokter tersebut.


"Bapak kami mohon untuk segera ke Luar nanti setelah istri bapak selesai di periksa baru kami panggil bapak untuk melihat istri bapak" ucap Sopan suster tersebut.

__ADS_1


Martin menuruti perkataan dari Dokter dan Perawat tersebut. Martin mondar-mandir di depan pintu UGD RS yang menggangu pekerjaan Dokter dan Suster yang berlalu lalang menangani pasien. Sehingga Martin tak segan untuk ditegur oleh Dokter dan Suster.


"Maaf pak, kalau bisa jangan mondar mandir di depan pintu cari tempat lain saja soalnya Bapak mengganggu pekerjaan kami" ucap Perawat tersebut yang sudah jengah dengan sikap khawatir Martin yang menurutnya terlalu berlebihan setelah mengetahui diagnosa dari Amairah.


"Tapi bagaimana keadaan istri saya yang sedari tadi masih pingsan dan belum bangun juga?" tanya Martin kepada Suster yang kebetulan ke keluar dari pintu UGD.


"Sabar yah Pak , Istri bapak sudah ditangani oleh dokter terbaik rumah Sakit kami, jadi kami mohon bapak untuk tenang dan bersabar menunggu hasil pemeriksaan medis dari istri bapak" tutur Perawat tersebut.


Martin langsung kembali duduk di kursi tunggu. Tapi dasar Martin yang tidak bisa duduk anteng sebentar-sebentar berdiri dan berjalan mondar mandir sehingga berulang kali ditegur.


"Mohon bapak bersabar dan menunggu kabar istri bapak di kursi tunggu yang ada di sana pak, demi kelancaran proses pekerjaan dokter dan perawat" ucap Security itu yang menyarankan agar Martin lebih tenang dan dan duduk di kursi tunggu saja.


Martin baru berjalan dua langkah, Dokter yang menangani Amairah pun memanggilnya.


"Suami dari pasien Ibu Amairah" teriak Dokter.


Martin langsung berlari ke arah pintu.


"Saya Suami dari Ibu Amairah" ucap Martin yang langsung menjawab dengan antusias.


"Silahkan masuk pak, Nyonya Amairah sudah selesai diperiksa dan dokter ingin bertemu dengan bapak" jelas Perawat tersebut.


"Makasih banyak Sus" ucap Martin lalu berjalan ke arah dalam UGD.


Martin melihat Amairah yang masih terbaring tapi keadaannya sudah sedikit membaik dibandingkan pertama kali di larikan ke Rumah Sakit karena wajahnya Amairah sudah terlalu pucat pasi lagi.


...******** Bersambung ********...


Kira-kira Apa yang terjadi dengan Amairah yah Readers jangan-jangan...??🤔🤔.


Maaf jika CYT itu Alurnya gado-gado bin campur sari yah. FANIA buat cerita mereka TIDAK TERFOKUS dalam satu Tokoh saja, sehingga cerita mereka setiap saat akan muncul walaupun hanya sedikit yah ✌️, Tapi FANIA dilema nih Mau bahas kisahnya siapa dulu 🤔


Amairah dengan Martin


Nadia dengan Bram


Maya dengan Dion atau kisah Adam dan Meeta yang membuat mereka harus bercerai atau


Kisah Tuan Besar Mark dengan Ke dua orang tua Martin..


by Fania Mikaila AzZahrah


Makassar, 24 April 2022

__ADS_1


__ADS_2