
Selamat Membaca..
"Mereka sangat baik, betapa beruntungnya gadis yang nantinya jadi istrinya Tuan Muda."
Tatapan matanya sesekali melirik ke arah Axel yang berada di dalam kursi roda.
"Yaelah Abang, demi mendapatkan perhatian dari suster idamannya harus seperti orang yang penyakitan saja." Dennis tersenyum melihat kelakuan absurd nya Axel yang seperti remaja labil.
Axel didudukkan di atas kursi roda, Camelia mendorong hingga masuk ke dalam kamarnya Axel. Sedangkan Ica digendong oleh Amairah ke dalam kamar khusus tempat bermain ditemani dua Baby sitter yang sedari dulu menjadi Baby sitter andalan di keluarga mereka.
Dennis mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Tapi, bayang-bayang senyuman seorang gadis selalu datang menghantuinya. Senyuman itu tulus kupersembahkan hanya untuknya seorang. Suara ******* bahkan hembusan nafasnya masih mampu dia ingat hingga detik itu.
"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, aku tidak seharusnya selalu memikirkan tentang dia," kesalnya yang sudah berusaha untuk melupakan semua tentang gadis itu tapi semakin dicoba semakin sulit untuk melakukannya.
Berjam-jam Dennis berada di dalam kamar mandi, dia berusaha untuk menghapus bayangan gadis itu, tapi selalu saja datang menghantui kehidupannya.
"Kalau seperti ini, aku lama-lama bisa gila." Dennis membuang kasar nafasnya.
"Aaahhhhh!!!"
Dennis meninju tembok kamar mandinya hingga kepalan tangannya memerah dan perih yang dia rasakan tidak membuatnya bisa melupakan semua kenangan itu.
Selama berada di rumah Axel, Camelia merasa terbantu karena dia tidak perlu lagi repot-repot dan capek mengantar jemput putrinya. Setiap hari Amairah lah yang menggantikan posisi Camelia yang bertugas mengantarkan, menjaga, menunggui Ica hingga jam pulang.
Amairah sama sekali tidak pernah mengeluh dengan rutinitas barunya itu. Malahan dia sangat bahagia dan bersyukur karena dia bisa memamerkan kepada teman-teman arisannya kalau dia sudah memiliki seorang cucu perempuan.
Amairah tidak peduli dengan tanggapan dari orang-orang jika mereka mengetahui yang sebenarnya.
"Ica kalau nanti di sekolahannya ada yang gangguin ica, tanya sama nenek Grandma yah sayang, tidak usah takut ada grandma yang selalu jaga Ica," tuturnya sembari mengolesi selai kacang di atas rotinya.
"Emangnya ada yang gangguin putri Ayah di sekolahnya?" Timpal Axel yang ikut menimpali pembicaraan dua perempuan yang berbeda generasi itu.
Gadis kecil empat tahun lebih itu segera menggelengkan kepalanya untuk menyanggah perkataan dari Axel.
__ADS_1
"Tidak ada kok Ayah, Ica senang di sekolah barunya Ica banyak temannya yang baik sih," jawabnya dengan tingkah polosnya.
"Alhamdulillah kalau ica senang di sekolah barunya," ucap Amairah.
Camelia sedang ke rumah sakit karena tadi ada telpon dari atasannya katanya ada rapat penting yang harus dihadiri sehingga dia tidak ikut bergabung makan pagi bersama keluarga besar itu.
"Tapi Ica sedih Grandma," ucapnya dengan wajah sendu.
"Kenapa sayang, apa yang terjadi?" Tanyanya Amairah yang penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Ica menatap ke arah Amairah dan yang lainnya untuk berbicara seakan-akan dia meminta persetujuan sebelum berbicara. Hal itu membuat Axel penasaran.
"Ica putrinya Ayah, apa yang terjadi?" Tanya Axel yang jiwa kebapakannya muncul seketika ke permukaan setelah melihat reaksi wajahnya Ica.
Axel begitu khawatirnya dengan kondisi dari Ica.
"Ada ibu-ibu yang bilang sama Ica kalau Ica itu tidak punya Ayah dan bunda katanya kalian bukan keluarga kandungnya Ica, Ayah keluarga kandung itu apa?" Tanyanya yang ingin mengetahui apa itu keluarga kandung.
Mendengar penjelasan dari Ica, mereka satu sama lainnya saling bertatapan dan tidak mengerti dengan maksud dari orang yang berbicara seperti itu.
"Keluarga kandung itu adalah keluarga yang ada hubungan darah sayang, misalnya Grandpa dengan Ayah sama ica," Tutur Amairah yang terpaksa sedikit berbohong untuk menutupi kebenaran yang ada agar Ica tidak bersedih.
"Oh gitu yah, Ica senang punya keluarga kandung," ujarnya dengan bahagianya.
"Ayo sayang lanjutkan makannya, nanti kita terlambat ke sekolah," perintah Amairah.
Dennis yang ikut memperhatikan tingkah lucu Ica melihat senyuman di bibirnya langsung dejavu. Dia merasa mengenal senyuman itu. Dennis terdiam dan memikirkan baik-baik perasaan yang tiba-tiba itu muncul dalam benaknya.
Kedatangan Ica di dalam keluarga besar mereka membawa kebahagiaan dan semakin mempererat hubungan diantara mereka. Lee yang selama ini tidak punya teman semakin bahagia karena tidak kesepian dan sendiri lagi. Apa lagi Ica mampu membuat suasana ramai dengan celotehan dan tingkahnya.
Jauh dari kediamannya keluarga Lee, ada seorang perempuan yang duduk di gazebo rumahnya. Dia mengelus perutnya dengan halus, air matanya menetes membasahi pipinya.
"Maafkan Mami sayang," ucapnya dengan lelehan air matanya membasahi pipinya.
__ADS_1
Dia kembali teringat dengan masa lalunya empat tahun lebih. Dengan berat hati dia terpaksa membuang darah dagingnya sendiri ke Panti Asuhan. Terpaksa dia melakukannya demi untuk menutupi kesalahan besar yang dia lakukan. Hingga detik ini satupun dari anggota keluarganya yang tidak mengetahui aibnya itu.
Bukan pilihan yang terbaik yang ditempuh waktu itu. Dengan hamil diluar nikah tanpa suami, dengan usia yang masih muda terpaksa setiap hari menutupi kehamilannya dari orang-orang. Termasuk dari kakeknya.
Dia adalah cucu tunggal di dalam keluarganya. Kedua orang tuanya sudah lama berpisah sedangkan, Mamanya dua tahun lalu meninggal dunia akibat penyakit yang sudah lama dideritanya.
"Mami merindukanmu putriku, Mami ingin sekali melihatmu, memelukmu dan menggendongmu, Nak."
Dia pernah kembali mencari keberadaan putrinya di Panti Asuhan tetapi, ternyata putrinya sudah diadopsi oleh orang lain.
Flashback on..
"Ibu saya dulu pernah bilang tolong jangan biarkan anakku ada orang yang mengadopsinya karena suatu saat nanti saya akan kembali lagi kesini," ucapnya yang sedikit kecewa bercampur marah setelah mengetahui jika anaknya sudah diadopsi oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
"Maafkan kami Bu waktu itu ibu panti asuhan yang lama sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu tapi kami waktu itu mengalami kekurangan biaya sehingga beberapa anak panti kami berikan kepada orang yang telah Sudi dan berbaik hati untuk mengadopsi mereka" jelasnya dengan sedikit kecewa dengan keputusan mereka waktu itu.
Dia kembali terduduk di kursinya dengan tangisannya yang sudah pecah.
"Putriku maafkan Mami nak" sesalnya yang membuat dadanya sesak dan sangat menyesali kenyataan yang baru diketahuinya.
Ibu Panti asuhan yang baru ikut menyesal dan hanya bisa memberikan alamat lengkap orang yang telah mengadopsi putri dari orang tersebut.
"Ibu tolong katakan padaku siapa yang mengadopsi anakku?" Tanyanya yang tidak sabar dia ingin mengetahui hal tersebut.
Dia berhadapan dengan Ibu Panti asuhan dan niatnya datang kesana untuk melihat anaknya setelah empat tahun lebih dia titipkan di Panti tersebut. Tapi apa boleh buat anaknya sudah tidak berada di sana lagi.
"Sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya Bu, atas keputusan kami itu," ujarnya.
"Makasih banyak Bu, semoga Puteri saya baik-baik saja dan hidup dengan orang yang tepat, permisi Bu" ujarnya lalu meninggalkan ruangan itu Bu panti asuhan.
Dia pun mencari alamat sesuai yang diberikan oleh pengurus Panti asuhan. Dengan berharap besar agar dia bisa menemui putrinya. Tetapi rasa penyesalan dan kesedihan itu masih menaungi kehidupannya. Rumah orang yang mengangkat anaknya sudah kosong beberapa hari dan satupun tetangganya tidak ada yang tahu kemana perginya pemilik rumah yang dia datangi itu.
Flashback off..
__ADS_1
Kedatangan kakeknya yang sedari tadi berdiri di belakangnya pun sama sekali tidak disadarinya. Dia masih asyik dengan lamunannya, matanya memerah, hidungnya sembab setelah beberapa saat dia menangis.