
Selamat Membaca..
Masih Flashback on..
Kehidupan yang dijalani Masitha muda bagaikan rollcoster yang berjalan sangat cepat. Kehidupan yang awalnya adem ayem berubah drastis sejak Nurman mulai mengacaukan kehidupan mereka. Karena harta, Tahta dan wanita yang membuat Nurman Hakim kalap dan melupakan persahabatan mereka dan tega membunuh sahabatnya sendiri yang selama ini telah berjasa dalam hidupnya.
Keputusan majelis hakim membuat Ahmed harus menjalani hukumannya seumur hidup di dalam penjara. Masitha awalnya sedang mengandung calon anak ke dua mereka terpaksa harus kehilangan bayinya akibat insiden itu. Kejadian itu sangat membuat Ahmed Muhammad Lee menyesali keputusannya yang menangkap basah perbuatan Nurman yang selama ini mencuri uang dan merugikan pabrik tekstil mereka bangun dirikan bersama.
Ada secercah harapan saat adiknya Nurman, Nirmala datang berkunjung ke Rutan yang katanya akan menjadi saksi kunci dari keterlibatan saudaranya, tetapi hingga Palu diketuk oleh Ketua Hakim Nirmala tidak menampakkan batang hidungnya.
Tubuh Masitha langsung terperosok ke lantai dan tidak sadarkan diri akibat mendengar keputusan dari Hakim yang memvonis Ahmed suaminya dengan hukuman seumur hidup. Istri mana yang akan sanggup mendengar keputusan tersebut.
"Ini tidak mungkin, kalian telah salah besar, bukan suamiku yang melakukan kejahatan tersebut, Tolong lepaskan Suamiku" ratap Masitha di saat dirinya sudah sadarkan diri lagi.
"Ibu harus sabar dan kuat, terima lah semuanya dengan ikhlas Ibu, kalau emang Suami ibu tidak bersalah suatu saat nanti akan terbebas dari tuntutan tersebut" ucap perempuan yang bekerja di Kantor pengadilan.
"Aku yang melihat langsung kejadian itu, tapi kenapa kesaksian ku tidak mereka perduli dan bahkan seakan-akan mereka tutup telinga dengan kenyataan yang ada" ucap Masitha lagi yang semakin terisak dalam tangisnya.
"Ibu harus sabar, kasihan juga suami ibu jika melihat ibu bersedih seperti ini" ucap perempuan itu lagi.
Beberapa bulan kemudian, Waktu terus berjalan Ahmed menjalani hukumannya dengan penuh kesabaran tanpa harus memberontak atau pun bertindak anarkis selama menjalani hukumannya. Ahmed berharap suatu saat nanti dirinya dinyatakan bebas dari hukuman. Masitha dengan sabar mendatangi rutan setiap hari untuk menjenguk suaminya.
"Mas, gimana kabarmu?" tanya Masitha yang sudah menangis melihat kondisi fisik suaminya yang tambah kurus selama di dalam penjara.
"Alhamdulillah Mas, baik saja Itha, kamu jangan bersedih dengan keadaan mas, Mas memohon jangan putus asa dengan pertolongannya Allah kepada kita, Mas yakin suatu saat nanti mas akan bebas dari sini" ucap Ahmed yang berusaha menenangkan istrinya.
"Jangan berharap Ahmed, itu hal mustahil jika kamu bisa terbebas dari sini, kamu itu seorang Penjahat dan pembunuh yang sangat kejam" ucap Mark yang tanpa mereka sadari kedatangannya Mark yang tiba-tiba.
"Mark, Aku mohon bantu mas Ahmed untuk terbebas dari sini, Aku yang jadi saksinya jika bukan Mas Ahmed yang membunuh Mas Abraham tetapi Nurman lah yang melakukan semua ini" ucap Masitha yang langsung berlutut di hadapan Mark prin Atmadja saudara kembarnya Abraham.
__ADS_1
"Mustahil itu, Nurman itu sudah mati dan terjatuh dari lantai dua dan kamu bilang Nurman yang melakukan itu semua haaa??, Gimana caranya coba dan sedangkan sidik jari yang tertinggal di pistol tersebut hanya sidik jarinya saja" ucap Mark sambil menunjuk ke Ahmed yang hanya bungkam seribu bahasa dan Kasihan melihat istrinya yang mengemis di kaki Mark.
"Masitha bangunlah dan cukup sudah kamu memohon kepada-nya, suatu saat nanti Dia akan menyesali keputusannya yang tidak bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan, Kamu harus kuat Masitha demi Al-ayyubi Lee putra kita" ucap Ahmed yang membantu istrinya bangkit dari posisinya dengan tidak leluasa bergerak karena tangannya terborgol.
Suasana haru semakin terasa saat petugas memberitahukan waktu berkunjung sudah habis, Masitha pun terpaksa pulang dengan rasa sedih yang semakin menggrogoti hati dan perasaannya.
"Benar kata Mas Ahmed Aku harus kuat untuk bertahan hidup demi putra kami, dan mulai besok Aku akan ke Pabrik untuk mengurus pabrik tersebut dan menuntut haknya suamiku Ahmed dan jika Mark tidak memberikan bagiannya suamiku tersebut, Aku akan melaporkan kepada pengadilan".
Mulai hari itu, Masitha sudah memutuskan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan kepengurusan di Pabrik yang sudah di didirikan oleh suaminya bersama dengan ke dua sahabatnya tersebut. Mark pun tidak menentang keputusan dari pengadilan negeri yang membagi tiga pabrik tersebut dan Nurman hanya mendapatkan paling sedikit bagian dari pabrik tersebut setelah mengetahui apa saja sumbangannya yang telah masuk ke Pabrik dan semua kerugian yang di derita oleh pabrik atas perbuatannya Nurman dihitung untuk keadilan bersama.
Masitha pun membangun usaha tersebut mulai lagi dari nol bersama anaknya yang masih terbilang sangat muda tetapi Masitha bisa mengandalkan putra tunggalnya itu. Hari-hari terus berlalu, Hingga Mashita sudah jarang ke Rutan untuk menjenguk suaminya z yang awalnya setiap hari sekarang tinggal dua kali sehari, itu pun permintaan dari Ahmed sendiri sehingga mau tidak mau Masitha menuruti permintaan dari Suaminya dengan berat hati.
10 tahun kemudian, Andrew Al Ayubi Lee sudah menyelesaikan pendidikannya di Perguruan tinggi dan kembali ke kota S untuk melanjutkan dan memajukan usaha dari orang tuanya. Ayubi dengan ketekunan dan kesabarannya mampu membuat usaha ke dua orang tuanya semakin maju dan berkembang. Hal ini membuat seseorang menjadi marah dan murka. Tetapi apa yang orang tersebut lakukan selalu gagal dan Ayyubi berhasil mengembangkan sayapnya pabriknya hingga ke luar negeri yaitu ke Singapura.
Tetapi keberhasilan tersebut ternoda dengan berita buruk yang mereka dapatkan. Ahmed Muhammad Lee dinyatakan meninggal dunia di dalam penjara karena penyakit yang selama ini dideritanya yaitu penyakit jantung. Masitha dan Ayyubi sangat terpukul Setelah mengetahui informasi tersebut. Masitha dan putranya langsung mendatangi Penjara tersebut dan memohon kepada petugas kepolisian dan pegawai rutan untuk mengijinkan Ayahnya di makamkan di TPU sekitar rumah mereka yang sekarang.
Sehingga banyak dari mereka yang merasa sangat kehilangan sosok orang yang baik. Mereka bersedih dan berduka atas kematian pak Ahmed yang sangat baik di mata mereka.
"Ayah begitu cepat kamu meninggalkanku, Kamu tega mas, Aku tidak bisa hidup lagi tanpa kehadiran kamu disisiku" ratap Masitha yang menabur bunga di atas gundukan tanah yang masih basah sebagai tempat peristirahatan terakhir kalinya Ahmed Al Ayubi Lee.
"Ayah do'akan Andrew agar bisa menjaga Mama dan meneruskan perjuangan Ayah di pabrik dan tenanglah Ayah di Sana, Andrew berjanji akan memberikan yang terbaik untuk pabrik ayah" ucap Andrew sangat terpukul atas kepergian sosok ayah yang sangat baik dan bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Satu persatu pelayak meninggalkan pemakaman tersebut. Tinggallah Masitha dan putranya Andrew. Mereka masih betah berada di dekat rumah peristirahatan terakhir Ahmed.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup dengan tenang sampai kapan pun, dan tunggu lah pembalasanku".
Waktu terus berlalu, Masitha menjalani hidupnya dengan status single parents tetapi berhasil mendidik putra tunggalnya dengan cara yang sangat baik. Pabrik yang mereka bangun pun semakin memperlihatkan tajinya di mata pesaing maupun rekan bisnisnya. Hanya dalam jangka waktu yang relatif singkat, usaha yang dikembangkan oleh Andrew semakin berkembang. Hingga suatu hari dia mengutarakan keinginannya kepada mamanya untuk menikahi gadis pujaan hatinya.
Bagaikan gayung bersambut, keinginannya tersebut langsung disetujui oleh Masitha dan sebagai mamanya Masitha sangat bahagia mendengar kabar tersebut.
__ADS_1
"Alhamdulillah Mama sangat bahagia dengan rencana kamu nak, kalau begitu kapan kamu ingin menikahi perempuan tersebut?" tanya Masitha di saat mereka duduk di ruang keluarga rumahnya.
"insya Allah dalam Minggu ini Ma, Andrew tidak ingin menundanya lagi takut ada yang nikung Abdrew" ucap Andrew m sambil tersenyum menanggapi perkataannya sendiri.
"Alhamdulillah kalau begitu, Mama akan menghubungi Paman dan Bibi kamu agar segera datang dan membantu kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya" ucap Masitha.
Andrew bersyukur memiliki seorang Mama yang tidak pernah memberikan beban dan tuntutan apa pun kepada anaknya dan memberikan kebebasan dan D
dukungan dalam bentuk apa pun sesuai dengan keputusan putranya itu.
Hari yang dinanti pun tiba, pernikahan antara Andrew Al-ayyubi Lee dengan Monika Jufry Alexandre pun berlangsung cukup meriah, semua orang yang hadir turut berbahagia atas pernikahan tersebut.
9 bulan kemudian dari pernikahan mereka lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat dan montok dan mereka memberi nama putranya Martin Muhammad Al-ayyubi Lee.
...********Bersambung********...
Alhamdulillah ada Notif dari NT dan CYT bulan lalu Updatenya 60k kata lebih, semoga bulan ini FANIA dapat update melebihi dari target yang ditentukan. Amin yra 🙏💪.
FANIA Ucapkan Makasih Banyak atas dukunganta' kepada Cinta Yang Tulus karena DukunganTa' sangatlah berarti 🤗✌️.
Boleh Fania minta setangkai bunga mawar merah untuk Cinta Yang Tulus 🌹 biar Fania semakin semangat Untuk ngeHalu dan semakin semangat ngetiknya 🤭✌️
Semoga apa yang FANIA tulis bisa menjadi hiburan dan sekaligus menjadi teman santai ✌️.
jangan Lupa untuk tetap mendukung CYT Yah Kakak 🙏.
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Jum'at 06 Mei 2022
__ADS_1