Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 161. Curhatan Ibu Nurmala


__ADS_3

Selamat Membaca..


Sore harinya, mereka sudah berkumpul di dalam ruangan pribadi khusus Nenek Masitha. Ruangan itu ditempati mereka jika ada hal yang penting ingin mereka ceritakan dengan yang lainnya.


"Ibu Nurmala silahkan duduk di sini di sampingnya Amairah, kenapa harus berdiri di sana saja," tutur Amairah.


Ia lalu menepuk kursi yang kebetulan hanya itu kursi kosong berada di dalam sana. Ibu Nurmala awalnya segan, tapi didesak terus oleh Amairah dan Nenek Masitha. Beliau memutuskan untuk segera duduk.


"Baiklah Karena ibu Nurmala sudah hadir di sini, Saya akan bertanya langsung kepada ibu Nurmala tentang peristiwa beberapa tahun yang lalu, di mana ada peristiwa yang cukup memilukan yang membuat tiga keluarga saling bersitegang dan yang jadi korban salah satunya adalah Suami Ibu Masitha pak Ahmed Al-ayyubi Lee," jelas Pak Heri selaku pengacara pribadi yang dimiliki oleh ibu Masitha.


Pandangan mereka tertuju pada sosok Nurmala kunci pokok saat terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap Kakak kembarnya Tuan Besar Mark Prin Atmadja kakeknya Amairah.


Walaupun Ibu Masitha selaku istrinya Ahmed sekaligus menjadi saksi kunci juga, tapi kesaksiannya tidak berguna karena Nurman berhasil memanipulasi semuanya dengan sangat baik sehingga kesaksiannya tidak berguna sama sekali. Bahkan hakim,jaksa penuntut umum pun menganggap kesaksiannya tidak berguna.


"Bagaimana Ibu, apa kah Ibu bersedia membantu Kami dengan cara, yaitu akan menjawab semua pertanyaanku dengan jujur sesuai dengan kenyataan yang ibu lihat waktu itu?" tanya Pak Heri.


"Insya Allah, Saya akan menjawab semua pertanyaan dari bapak dengan jujur sesuai yang Saya lihat waktu itu," jawabnya.


Pak Heri lalu memberikan alat perekam suara ke tangan Amairah, agar Amai membantu Papanya berkerja. Semua ini juga untuk restu yang dia harapkan dan tunggu sedari dahulu.


Ibu Nurmala pun mulai berbicara dari alasan hingga awal kedatangannya di gudang, dia jelaskan tanpa ada yang dia tutupi.


Sebelum dia berangkat ke gudang pun tak lupuk dia utarakan, di saat Nurman mendorong tubuh bapaknya saat di berikan nasihat untuk segera berubah dan bertaubat.


Mereka yang ada di dalam ruangan itu menjadi pendengar setia dan menyimak dengan seksama semua yang dijelaskan oleh Ibu Nurmala.


"Semua yang dikatakan oleh Nurmala sesuai dengan yang aku lihat juga, tapi kenapa saat itu Aku tidak mengetahui jika Nurmala juga ada di tempat kejadian?"


Air matanya Nurmala menetes membasahi pipinya dan tidak sanggup lagi bercerita. Amairah segera menenangkan Ibu Nurmala yang tubuhnya sudah bergetar hebat menahanqw tangisnya.


"Gak apa-apa Mbak menangislah jika Menangis bisa membuat Mbak lega, bukti yang Kami butuhkan sudah cukup," terang Pak Heri.


Nenek Masitha segera memegang kedua tangan Ibu Nurmala dan ikut bersedih jika harus kembali mengingat kejadian memilukan beberapa tahun silam itu.


"Ternyata Kakek sedikit pun tidak bersalah, kasihan Kakek jika kita tidak berjuang untuk menuntut keadilan," terang Amairah.


"Dengan alasan itu lah, Nenek bersyukur sekali karena berkat adanya Nurmala diantara kita, keadilan untuk Kakek Kamu akan segera kita dapatkan," ucapnya.


"Alhamdulillah Bu, semua penjelasan dari Mbak Nurmala sangat penting dan Saya yakin apa yang kita rencanakan dan lakukan akan segera mendapatkan hasil yang maksimal," jelas Pak Heri.


"Kalau gitu jangan ditunda-tunda lagi, besok pagi Papa segera ke Pengadilan untuk mengurus semuanya."


"Iya Papa, akan segera mengurus hingga nama Kakek Kamu kembali baik dan segera dipulihkan seperti sedia kala."


Mereka tersenyum lega karena akhirnya jalan untuk memperbaiki nama Kakek buyutnya trio bocil bisa kembali baik lagi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan pernikahan Maya dan Dion?" tanya Pak Heri.


"Sebaiknya segera dilaksanakan saja Pa, kasihan mereka gara-gara Amai sehingga mereka terpaksa menunda pernikahannya."


"Alhamdulillah kalau seperti itu yang Kamu harapkan, Papa sangat bahagia dan bersyukur memiliki putri sebaik Kamu nak."


"Nurmala, Mbak ingin bertanya pada Kamu, Mbak harap Kamu bisa berterus terang kepada Mbak."


"Insya Allah Mbak, emangnya Mbak mau bertanya tentang apa?" tanya Nurmala.


"Mbak ingin mengetahui tentang Alif."


Ibu Nurmala menatap wajah Ibu Masitah sebelum membuka suaranya.


"Alif bukan lah anakku Mbak, dia anak yang diculik oleh Abang Nurman yang aku selamatkan sekitar kurang lebih lima tahun yang lalu."


"Apa!! apa yang ibu katakan?" tanya Amairah yang shock setelah mendengar perkataan dari Ibu Nurmala.


Amairah berdiri dari duduknya lalu memegang ke dua pundak Ibu Nurmala.


"Ibu, tolong bicara yang jujur, apa maksud dari perkataan Ibu?' tanya Amairah dengan wajah yang sangat serius.


Nenek Masitha mendekati cucunya yang sudah bereaksi diluar kendalinya.


Amairah pun kembali duduk di tempatnya. Nenek Masitha sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh cucu menantunya.


"Maafkan Amairah Nurmala, maklumlah Dia sangat khawatir dengan putra sulungnya," ucap Nenek Masitha yang memohon agar Nurmala mengerti dengan kondisinya Amairah.


"Nggak apa-apa Kok Mbak, Saya maklum dengan Nona Amairah, siapa pun yang berada di posisinya pasti akan bereaksi seperti itu, ibu mana yang tidak akan merindukan kehadiran anaknya," tuturnya.


"Makasih banyak Nurmala, tolong lanjutkan apa yang kamu ketahui tentang Alif."


Ibu Nurmala pun kembali melanjutkan penjelasannya setelah sempat terhenti gara-gara Amairah yang terkejut mendengar penuturan Ibu Nurmala.


"Alif adalah anak yang aku selamatkan dari tangan Abangku, waktu itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Abang lewat telpon dengan kaki tangannya, kalau Abang menyekap seorang anak kecil di dalam gudang."


"Terus apa yang terjadi dengan anak itu?" tanya Amairah yang tidak sabar menunggu kelanjutan kisah dari Alif.


"Saya terus menguping pembicaraan mereka, dan ternyata Abang ingin membunuh anak itu dengan menerjunkan mobilnya ke dalam jurang yang dalam agar Alif meninggal dalam kecelakaan," ucap Ibu Nurmala yang menerawang kejadian beberapa tahun lalu.


"Ya Allah Nurman kenapa Kamu begitu tega ingin membunuh anak kecil yang tidak berdosa dan bersalah sedikit pun padamu," ratap Ibu Masitha dengan dearaian air matanya.


Ibu Masitha sangat menyayangkan dan tidak percaya dan sering bertanya-tanya kenapa bisa ada orang yang bisa hidup dengan rasa dendamnya hingga bertahun-tahun lamanya.


Ibu Masitha menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan sikap Nurman yang sangat berbanding terbalik dengan yang dia kenal sejak kecil.

__ADS_1


Nurman dan Masitha sejak SD hingga ke Perguruan Tinggi mereka bersama. Tetapi, Nurman sudah mencintai Masitha sejak mereka masih SMP masih bau kencur.


Nurman mencintai Masitha dalam diamnya,dia sama sekali tidak berani mengutarakan perasaannya.


Padahal Masitha juga ada rasa. Hingga kedatangan Ahmed pemuda tetangga kampungnya yang melihat Masitha yang lebih berani untuk menyatakan cinta dan nekatnya melamar Masitha muda dulu.


"Ya Allah, Abang entah apa yang merasukimu hingga hati nuranimu tertutupi dengan kebencian dan dendam yang tidak berkesudahan."


Balas dendam hanya akan menutup banyak pintu. Menghilangkan banyak kesempatan, mengungkungnya untuk satu tujuan yang pada akhirnya hanya menghasilkan kepuasan semu.


Balas dendam terbaik adalah hanya dengan memperbaiki diri sendiri.


Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.


Semoga apa yang ditulis oleh Fania hari ini bermanfaat dan disukai oleh Readers.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus. Fania bersyukur karena masih ada yang baca novel recehanku🥰.


Jangan lupa untuk mampir dan baca novel Lainku yang judulnya:


...1. Sang Penakluk...


...(Kisah anak-anaknya Martin dan Amairah)...


...2. Bertahan Dalam Penantian...


...3. Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar...


...Cara untuk dukung CYT adalah:...


...1. Like Setiap Episodenya 👍...


...2. Gift Poin dan Koin seikhlasnya 🎁...


...3. Favoritkan untuk mendapatkan Notif up♥️...


...4. Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐...


...5. Bagi Sharenya dong Kak 👌...


...********To Be Continued********...


...by fania mikaila Azzahrah...


...Takalar, SulSel, Senin, 20 Juni 2022...

__ADS_1


__ADS_2