Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 176. Kucing Hitam


__ADS_3

Selamat Membaca..


Jam weker berdering dengan kerasnya. Sudah pukul 06.00 pagi, Delisha belum bangun juga dari mimpi indahnya, Entah apa yang terjadi dengannya, hari ini begitu malasnya untuk mengakhiri mimpi indahnya.


Ia meraih jam wekernya lalu mematikan alarmnya yang sudah mengganggunya.


Delisha menarik dan merapatkan selimutnya, bergelung dalam selimut tebalnya itu. Selimut yang bermotif Doraemon ituberwarna biru tua.


Setelah melaksanakan shalat subuh, ia kembali memutuskan untuk melanjutkan tidurnya. Dia penasaran dengan kelanjutan mimpinya tersebut. Ia berharap dengan tertidur pulas kembali, maka mimpinya itu diputar kembali sehingga dia bisa melihat wajah dibalik topeng tersebut.


Di dalam mimpinya itu Delisha bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih, tapi wajahnya ditutupi oleh topeng sehingga ia tidak bisa melihat langsung kondisi wajah si Pria itu.


Tok... Tok... Tok...


"Non Del,, Nona Del bangun dong sudah pagi nih," teriak Aisyah yang mengetuk pintu kamarnya.


"Apa Nona lupa kalau hari ini acara perpisahan Non Delisha di Sekolah," dia berdiri tegap di balik pintu yang masih tertutup rapat itu.


Aisyah belum menyerah, dia kembali mengetuk pintu itu dengan sedikit lebih kuat dan keras dari sebelumnya.


Tok... tok..


"Ya Allah non Delisha kok hari ini susah amat dibangunkan, gak biasanya seperti ini."


Aisyah menggelengkan kepalanya, keheranan dengan sikap Delisha yang tidak biasa seperti hari-hari biasanya.


Dennis yang baru saja keluar dari kamarnya melihat Aisyah berdiri seperti patung di depan kamar adik kembarnya. Tangannya masih menempel di pintu yang terus mengetuk pintu itu.


Dia sudah menggedor pintu itu dengan sekuat tenaga, tapi sang pemilik kamar sedikitpun tidak bergeming.


Dennis yang keluar dari kamarnya melihat Aisyah yang kebingungan. Kamar Dennis kebetulan jaraknya berdekatan dengan kamar adiknya hanya lima langkah saja.


"Ada apa Aisyah, apa yang terjadi dengan Delisha?" Dennis kebingungan melihat wajah Aisyah yang keheranan itu.


Raut cemas jelas nampak di wajah mereka, karena tidak pernah melihat adiknya dibangunkan.


Biasanya malahan Delisha yang selalu membangunkan seisi penghuni istana itu. Dengan gaya khasnya yang ceria, aktif, suara cemprengnya selalu membuat rumah yang melebihi istana itu jadi ramai di pagi hari.


"Tolong minggir sedikit, biar Aku yang bangunin," jelasnya.


Aisyah menuruti perkataan dari Dennis tanpa banyak tanya. Ia pun langsung menyingkir dari depannya pintu.


"Del, kalau kamu gak bangun kakak akan tanya Kakek untuk batalin acara Kamu bersama teman-temanmu," tangannya masih setia menggedor pintu.


"Tidak biasanya Non Del seperti ini."


"Kalau Kamu tidak bangun juga, aku akan perintahkan kepada Aisyah untuk ikut bersama Kamu," hasilnya masih sama.


Delisha tersenyum manis ketika sudah berhadapan dengan pemuda berkuda putih itu dengan topengnya yang masih setia melekat di wajahnya. Hanya hidung mancungnya yang sangat jelas kelihatan.


Delisha baru ingin membuka topeng yang dipakai pangeran itu, tapi tiba-tiba menghilang dan Ia pun bangun dari tidurnya.


"Yah gagal lagi, padahal dikit lagi Aku bisa lihat wajahnya pangeranku."


"Kakak akan hitung mundur 5, 4, 3, 2, sa...." hitungan terakhir Dennis pintu itu terbuka.


Dia berjalan sangat cepat kearah pintu, jika tidak ingin rencana perayaan mereka akan digagalkan oleh Kakeknya.


Dennis tertawa terbahak-bahak melihat adiknya itu, jika diancam dengan menggunakan nama kakeknya. Reaksinya pasti akan nunduk seperti kerbau yang dicocol hidungnya menurut tanpa ada perlawanan apa-apa.


"Tunggu Delisha yah kakak, Delisha mandi dulu," ucapnya lalu menutup pintu kamarnya.


Pintu kamar itu tertutup dengan sangat keras, karena terlalu tergesa-gesa dan tidak ingin terlambat.


Aisyah dan Dennis Richie Arfathan tersenyum melihat tingkah laku Delisha.

__ADS_1


"Makasih banyak Aisyah."


Aisyah hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Tuan Mudanya.


"Aku tunggu Kamu di meja makan, 20 menit saja," teriak Dennis lalu berjalan menuruni anak tangga.


Delisha masuk ke dalam kamar mandinya, dia hanya mandi kilat tanpa ada ritual mandi seperti biasa yang dia lakukan. Tidak treatment perawatan kulit dan wajah yang dia lakukan. Demi menghemat waktu yang diberikan oleh kakaknya.


Delisha sampai melupakan mencharge hpnya yang tersisa sedikit saja. Dia berlari menuruni tangga dengan tergesa-gesa, hampir saja kakinya keseleo untung dia bergerak lincah untuk menghindari hal tersebut.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, dia duduk di samping kakaknya. Dennis yang melihat adiknya sudah duduk di dekatnya segera menyodorkan piring yang sudah berisi makanan kesukaannya.


"Thanks kakakku yang paling terbaik sedunia."


Delisha menoel pipi kakaknya. Delisa memperhatikan di meja makan hanya dia dan kakaknya saja, dia celingak-celinguk mencari keberadaan kakeknya.


Denis mengerti dengan apa yang dicari oleh adiknya lalu berkata, "Kakek sudah berangkat ke Bandara katanya mau ke Jepang."


"Oohh, kok gak pamit sama Delisha sih kak? biasanya kakek selalu tanya Delisha kalau akan berangkat," dengan wajahnya yang ditekuk dan bibirnya dimonyongkan.


"Gimana Kakek mau pamit sama Kamu, loh saja masih ngorok," jelasnya dengan tangannya yang sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Beberapa saat kemudian, mereka pun sudah bersiap untuk berangkat ke Sekolahnya. Hari ini Delisha tidak ingin di antar khusus oleh supir pribadinya. Dia ingin ikut nebeng bersama kakaknya.


Sekolah mereka berbeda, tapi Dennis selalu mendahulukan adiknya diantar terlebih dahulu selanjutnya gilirannya kalau mereka bersama.


Mobil mereka berhenti agak jauh dari sekolah, hal itu dilakukan agar tidak ada yang mengetahui siapa mereka.


"Makasih banyak Kak," pintu itu terbuka dia turun dengan wajah yang sumringah selalu menghiasi wajahnya.


"Jangan nakal, ingat kalau sudah selesai acaranya, harus hubungi kakak atau Aisyah," perintah Denis.


Denis mewanti-wanti adiknya dengan nasehat seperti seorang bapak kepada putrinya.


"Siap Bos," jawabnya sambil menirukan gaya seorang prajurit TNI.


Acara pun berlangsung dengan khidmat dan sangat meriah. Di wajahnya sedari tadi terpancar rona kebahagiaan, karena dinobatkan menjadi salah satu Siswi terbaik ke dua di Sekolahnya tahun ini.


"Alhamdulillah Makasih banyak ya Allah."


Setelah dari atas panggung, dia ikut duduk kembali bergabung dengan teman-temannya yang dari berbagai negara itu.


"Hey selamat yah bebs, Kamu kembali menjadi juara 2," ucap Vivian memeluk tubuh Delisha.


Vivian adalah salah satu teman baiknya Delisha selama ini.


"Kami bahagia loh dengan pencapaian prestasi Kamu bebs," timpal Cristin.


Mereka cipika-cipiki satu sama lainnya. Cristin sahabat Delisha ikut bahagia dengan apa yang diraih olehnya. Mereka sedari dahulu memang mengakui kepintaran dan kejeniusannya gadis yang berasal dari Indonesia itu.


"Makasih banyak atas dukungan kalian, tanpa kalian Aku tidak akan seperti ini," ucap Delisha selalu merendah diri.


Sedari tadi ada sepasang mata yang melihatnya dengan wajah yang penuh amarah, cemburu, dendam serta benci yang bercampur jadi satu.


"Tersenyumlah selama Kamu masih bisa tersenyum dan tunggulah pembalasanku malam ini, bersiaplah untuk menangis darah."


Orang itu tersenyum manis, tapi penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan. Orang itu sudah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Delisha.


Acara berlangsung hingga siang hari. Mereka tidak ada yang pulang atau pun bubar. Karena khusus kelasnya mereka sudah merencanakan Pesta kecil-kecilan, nantinya akan diadakan di salah satu Villa milik Liora.


Beberapa saat kemudian, mereka bersiap untuk berangkat ke salah satu Villa milik Liora.


"Kalian sudah siap?" tanya Liora yang sudah bersiap mengemudikan mobilnya.


"Yes, let's go," ucap mereka secara bersamaan.

__ADS_1


Mobil mereka perlahan meninggalkan Sekolah menuju Villa yang ada di pinggiran Kota yang tepatnya berhadapan dengan Pantai.


Baru beberapa kilometer yang mereka tempuh, tiba-tiba ada seekor kucing hitam yang melompat ke depan mobilnya.


Liora segera menghentikan laju mobilnya kemudian mematikan mesin mobilnya itu. Liora kemudian berjalan turun ke arah depan mobilnya, tapi tidak menemukan keberadaan kucing itu lagi.


"Apa yang terjadi dengan kucingnya Liora?" tanya Delisha yang khawatir dengan kondisi kucing itu.


"Kucingnya sudah tidak ada, mungkin tadi terkejut sehingga melarikan diri dengan cepat," jawab Liora.


"Aku kasihan dengan kucingnya semoga kucing itu baik-baik saja," cemas Vivian.


Liora sudah memeriksa seluruh mobilnya dari depan hingga ke belakang, tapi hasilnya masih sama tetap kucing itu sudah kabur.


Vivian Wheeler ikut membantu mencari keberadaan kucing itu. Tapi, mereka sudah memeriksa dengan teliti hingga di sekitar area jalan dan hutan ternyata kucing itu tidak ada.


"Lupakan kucing itu, ingat hari ini Kita harus berenang-renang dan berpesta," terang Cristin yang berusaha mencairkan suasana.


"Betul apa yang dikatakan oleh Cristy oke," ucap Vivian.


"Gimana dengan anak-anak yang lain, apa mereka sudah sampai?" tanya Vivian.


"Mereka sudah sampai dan hanya menunggu kita saja," jawabnya Liora yang sedari tadi tersenyum penuh arti.


Delisha masih kepikiran tentang kucing itu. Dia teringat dengan perkataan Baby sitter nya dulu Mbak Marni tentang kucing tersebut.


"Non Delisha jika tiba-tiba ada kucing yang melompat mendekat ke arah kita biasanya itu pertanda kurang baik, jadi bagi yang mengalami hal itu diharapkan untuk selalu waspada."


Perkataan dari Mbak Marni hingga sekarang masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Ya Allah semoga saja kucing itu bukan pertanda yang tidak baik."


NB:


Ke depannya Cinta Yang Tulus sudah masuk season Duanya dengan kisah khusus dari ketiga anak-anak Martin dan Amairah.


Kisah mereka akan saya ceritakan saling bergantian.


Sempat ada yang bertanya"Kok sekarang ceritanya tentang anaknya? yah jawabnya memang Aku akan bahas kisah mereka di Season 2 nya.


Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak.


...Tetap Dukung CYT dengan:...


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Yuk ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


Judulnya:



Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



...********To Be Continue********...

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Takalar, Sulawesi Selatan, Senin, 27 Juni 2022


__ADS_2