
Selamat Membaca..
Kegembiraan yang dirasakan oleh Maya ketika calon suaminya mengabulkan permintaan dan permohonannya untuk menjadikan ibu Sumartini sebagai asisten rumah tangganya.
Maya langsung menuju rumah kontrakan Ibu Sumartini bersama putra kecilnya Alif Faturahman. Tapi, ada sedikit insiden kecil yang terjadi saat di jalan menuju kosan Ibu Sumartini.
Jalan yang sudah becek dipenuhi dengan lumpur, bau comberan di sisi jalan yang dilaluinya sama sekali tidak menyurutkan semangat dan niatnya untuk menjemput ibu Sumartini. Walaupun sesekali Maya menutup lubang hidungnya.
"Ya Allah apa Alif dan ibunya bisa hidup dan tidur dengan tenang dalam keadaan yang seperti ini."
Maya menggelengkan kepalanya saat memasuki pekarangan kosan tempat tinggal mereka. Sampah berserakan di mana-mana, pakaian pun tergantung memenuhi depan kamar penghuninya. Maya kemudian mengetuk salah satu pintu kamar itu yang bercat hijau.
"Assalamu alaikum," ucap Maya yang masih mengetuk pintu itu.
"Waalaikum salam," ucap seorang anak laki-laki sambil berjalan tergesa-gesa ke depan pintu.
Pintu utama hampir rapuh itu perlahan terbuka dan menampilkan wajah tampan bocah kecil baru berusia sekitar delapan tahun itu. Bocah itu tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
Alif melap sedikit tangannya sebelum meraih tangan Maya untuk dia cium punggungnya.
Maya pun tidak segan untuk mengulurkan tangannya tersebut kehadapan Alif. Maya mengelus lembut rambut yang sedikit panjang dan berwarna kecoklatan milik Alif.
"Alif siapa yang datang nak?" teriak ibunya Alif yang menyusul putranya yang tadi pamit untuk membukakan pintu.
Ibu Sumartini setelah mengetahui siapa yang bertamu ke kosannya segera berjalan dengan tergopoh-gopoh ke depan pintu. Tersenyum tulus ke arah Maya.
"Masuk Mbak, maaf kamarnya sempit" ucap Ibunya Alif.
Ibu Sumartini mempersilahkan Maya duduk di lantai yang tidak beralas apa-apa itu. Alif segera mengambil sarungnya yang sering dia pakai tidur untuk dijadikan alas tempat duduknya Maya. Alif pun membentangkan sarung itu lalu mempersilahkan Maya untuk duduk.
"Silahkan duduk Kak, lantainya sudah tidak terlalu dingin," tawar Alif.
Maya tersenyum melihat reaksi Alif yang diluar dugaannya.
"Makasih banyak dek," ucap Maya sambil tersenyum manis ke arah Alif.
"Maaf yah Mbak, Kami belum punya alas lantai jadi hanya pakai sarung dulu," ucap Ibunya Alif.
Alif pun ikut duduk di samping ibunya di atas tikar sarung itu.
"Tidak apa-apa kok Bu, Maaf kedatangan Maya ke sini untuk menawari Ibu untuk bekerja dan sekaligus tinggal bersama Saya kebetulan saya lagi cari orang yang bisa bantuin saya jaga rumah dan masakin Maya," tawar Maya.
Maya menatap ke arah dalam bola mata Ibu Sumartini yang seperti seseorang yang sedang gelisah. Maya kemudian menyentuh punggung tangan Ibu Sumartini.
__ADS_1
"Mak terima saja tawaran Kakak Maya, dari pada kita harus tinggal di sini dan setiap hari melihat dan mendengar orang yang berkelahi gara-gara kalah taruhan judi," tutur Alif yang merengek pada Emaknya.
Hal ini adalah permintaan pertama Alif selama ini tidak pernah sedikit pun berniat atau pun bermimpi untuk meminta sesuatu pada Emaknya karena Alif tahu dengan sangat persis kondisi keuangan Emaknya yang hanya buruh tani yang digaji harian saja.
"Betul sekali yang dikatakan Alif dari pada hidup di lingkungan yang tidak baik seperti ini terus menerus dan bisa berdampak buruk dengan perkembangan psikis dan mental Alif."
"Bagaimana Mak, terima saja yah, Alif tidak mau lihat ada ibu-ibu yang bertengkar dengan suaminya setiap hari," Alif Semakin merengek pada Emaknya.
"Tapi apa kami akan tinggal bersama Mbak Maya atau akan bolak balik pulang ke rumahnya kalau pekerjaanku sudah beres?"
Wajah Emaknya Alif langsung sendu seketika dan kebingungan jika harus pergi pagi dan pulang malam bagaimana dengan nasib anaknya, jika harus ditinggal seorang diri di lingkungan yang tidak aman seperti di Kosannya.
"Alif berharap Emak menyetujui permintaan dari Mbak Maya."
Wajah sendu membayangi wajahnya Ibu Sumartini dan ada rasa segan untuk memenuhinya permintaan dari Maya dan Putranya.
"Semoga ibu Sumartini bersedia ikut bersamaku dan tinggal di Apartemenku."
Dengan berbagai pertimbangan yang matang Ibu Sumartini pun menyanggupi keinginan dari Maya dan putra kecilnya.
"Baiklah Saya mau Mbak, kerja di rumah Mbak," ucap Ibu Sumartini.
"Alhamdulillah, makasih banyak Bu," ucap Maya dengan wajah yang langsung berseri-seri.
"Ibu tidak pernah perlu merisaukan tentang Alif karena kalian berdua akan tinggal bersamaku di Apartemen pribadiku dan Kalian tidak akan tinggal di sini lagi untuk selamanya," ucap Maya yang berusaha menyakinkan kepada Ibu Sumartini.
"Benar apa yang dikatakan Mbak Maya, kalau kami tidak perlu tinggal dan hidup di sini lagi?" tanya Alif dengan antusiasnya.
"Iya Alif tidak perlu lagi kembali ke sini untuk selamanya dan semua barang-barang pribadinya Alif yang tidak penting tidak usah Alif bawa pulang," ucap Maya yang entah kenapa ada perasaan berdesir dari dalam hatinya.
Perasaan hangat tiba-tiba dirasakan oleh Maya ketika melihat senyuman manis dari wajah tampan Alif.
"Iya Mbak akan belikan Alif banyak pakaian baru dan juga mainan," ucap Maya.
"Bagaimana dengan sekolahnya Alif Mbak Maya, karena Saya sudah carikan sekolah yang cocok untuk Alif tapi, tidak ada yang mau menerima Alif sebagai murid di Sekolahnya dengan berbagai alasan yang cukup membuat saya heran," jelas Ibu Suamartini.
"Ibu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua, serahkan semuanya pada Maya, Maya yang akan mengurusnya dengan baik dan Alif hanya siap bersekolah dan harus rajin sekolah dan giat belajar hanya itu yang Mbak minta kok dari Alif," ucapnya.
"Kalau gitu Kami kemas-kemas barang-barang Kami dahulu Mbak," ucap Ibu Sumartini.
"Baik Bu," jawab singkat Maya.
Beberapa saat kemudian mereka sudah menutup rapat pintu kamar yang beberapa hari ini sudah ditempati oleh Alif bersama Emaknya.
__ADS_1
Alif sangat bahagia karena akan kembali bersekolah. Ibu Sumartini pun merasa lega karena sudah terbebas dari kosan yang sangat tidak layak untuk dijadikan hunian. Ibu Sumartini kemarin tinggal di sana dengan terpaksa karena, tidak ada pilihan dan jalan keluar lainnya yang paling bagus.
ibu Sumartini sangat bersyukur karena berkat pertemuannya yang tidak terduga dengan Mbak Maya yang bisa mengeluarkan dia dari lingkungan yang tidak kondusif dan sehat itu.
"Silahkan masuk ke mobil Maya," ucap Maya yang membukakan pintu mobil untuk Alif dan Emaknya.
"Wooow mobil Mbak Maya sangat bagus yah, tempat duduknya sangat empuk harum lagi dan bersih," puji Alif dengan lugunya.
"Kita ke Mall dulu untuk beli beberapa lembar pakaian untuk Alif sama Emak yah, besok Mbak akan ajak Alif untuk mendaftar di Sekolah terbaik yang ada di Sekitar Apartemen Mbak, jadi sekarang kita cari perlengkapan sekolahnya Alif terlebih dahulu," ucapnya.
Maya lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dan mengemudikan mobilnya ke arah jalan raya untuk segera bergegas meninggalkan lingkungan yang cukup kumuh itu.
Mobil Maya sudah berbaur dengan pengendara jalan lainnya. Suasana jalan yang terbilang ramai tapi, Untung tidak terjadi kemacetan yang berarti. Sehingga mereka cepat sampai ke tempat Parkiran Mall.
Alif dibuat terkejut dan heboh melihat bangunan yang tinggi mengjulang ke atas langit.
"Mbak ini bangunan apa namanya kok tinggi banget yah?" tanya Alif yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di sekitar area Mall.
Maya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu dan polos Alif.
"Maaf Mbak ini pertama kalinya Alif ke Mall, Ibu tidak pernah membawa Alif jalan-jalan untuk lihat kondisi Mall itu bagaimana, maklumlah Kami tidak punya uang lebih Mbak," tutur Ibu Sumartini panjang lebar dan tersenyum malu.
"Kalau gitu mulai detik ini kalau Mbak ada waktu Mbak akan ajak Alif ke Mall, Alif mau gak tak ajakin nanti ke sini lagi?" tanya Maya saat mereka sudah berjalan masuk ke area Mall.
"Alif mau Alif tidak akan pernah menolak untuk Ikut bersama Mbak Maya," ucap Alif kegirangan.
Mereka pun sudah berjalan memasuki pintu Mall. Tingkah lucu dan polosnya Alif membuat Maya tersenyum bahagia. Mereka berbelanja beberapa potong pakaian untuk Alif dan emaknya serta perlengkapan dan kebutuhan sekolahnya Alif.
Maya juga berbelanja kebutuhan sehari-harinya seperti kebutuhan pokok dan bumbu-bumbu dapurnya dibantu oleh Ibu Sumartini dalam memilih bahan makanan yang bagus dan juga bumbunya. Mereka berbelanja hingga sore hari.
............
Syukur Alhamdulillah target ke tiga Novel Fania sudah tercapai π₯°.
FANIA sangat bersyukur dan bahagia karena masih ada yang baca Karya recehan FANIA ππ.
Bantu FANIA dong Kakak Readers dengan Cara LIKE πRate Bintang 5 β GIFT π dan Favoritkan β₯οΈ.
Kalau bisa Adek, kakaknya, emaknya serta tetangga dan kekasihnya tetangganya pun diajak untuk baca Cinta Yang Tulus π€βοΈ
...*********Bersambung*******...
by Fania Mikaila AzZahrah
__ADS_1
Makassar, Minggu, 29 Mei 2022