Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 165. Bahagia Itu Simple


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati.


Kesenangan bermula dari kebersamaan bersama orang-orang terdekat, terutama keluarga.


Kebersamaan dengan keluarga momen penting dalam menggapai rumah tangga bahagia.


The warmth in the family is not measured by the size of the house, but the breadth of happiness that occupies it.


Fun begins with being together with the closest people, especially family.


Togetherness with family is an important moment in achieving a happy household.


Setelah shalat isya, satu persatu pamit kepada Neneknya untuk segera pulang ke rumah masing-masing.


Mulai hari itu, ibu Nurmala dan Alif diputuskan untuk pindah ke rumah utama milik nenek Masitha.


"Ibu Nurmala, pasti Maya akan kesepian tanpa Ibu dan Alif, sedih sangat yang Maya rasakan," tutur Maya sebelum pulang ke Apartemennya.


Maya sangat tidak ingin berpisah dengan Alif dan Emaknya, tapi disisi lain Maya bahagia karena ibu Nurmala dan Alif sudah menemukan kebahagiaan yang selama ini mereka inginkan.


Maya memeluk tubuh ibu Nurmala dengan penuh kasih sayang sebagai ungkapan perpisahan mereka. Maya menangis dalam pelukan emaknya Alif dan menumpahkan seluruh gunda gulananya.


Ibu Nurmala mengelus punggungnya Maya yang sudah bergetar hebat menahan tangisnya. Maya sangat kehilangan, tapi cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah juga.


"Makasih banyak Mbak selama ini sudah sangat baik sama Kami, Mbak rela menerima Kami untuk tinggal di Apartemen dan dengan tangan terbuka menerima kami dengan suka rela, padahal Kami hanya orang luar," tuturnya Ibu Nurmala.


Ibu Nurmala mengantar Dion dan Maya hingga ke depan rumah hingga ke Garasi mobil rumah mewah itu.


"Maya sangat bahagia selama kalian tinggal bersamaku, Saya sangat senang, tapi aku tetap harus mengikhlaskan Ibu untuk tinggal bersama Mbak Amairah, mereka lebih berhak atas ibu dan Alif," jelasnya.


Keharuan yang terjadi di antara mereka, menjalar hingga ke hati yang lainnya yang berada di tempat itu.


Mereka sama-sama menghapus jejak air matanya. Mereka antara bahagia dan kehilangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan.


Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Setiap bahagia pasti ada yang merasakan kedukaan. Ada timbal balik antara yang satu dengan yang lainnya.


"Kami minta maaf Emak, jika selama ini sudah bersalah kepada Emak dan kami sangat bahagia atas kehadiran Emak dan Axel selama ini di rumahnya Maya," tutur Dion.


"Sama-sama Mas, Saya yang seharusnya berbicara seperti itu, bukan kalian, Saya sangat bersyukur berkat kebaikan dan pertolongan kalian Saya masih hidup dan bernafas hingga detik ini," ucapnya dengan penuh rasa syukur.


"Ibu sangat bahagia dengan uluran tangan kalian dan pertolongan kalian Axel kembali dan berkumpul lagi dengan keluarganya," ucap Nurmala.


"Kami seharusnya yang berbicara seperti ini, berkat kegigihan dan perjuangan Emak untuk menyelamatkan nyawa Axel, hingga kami bisa bertemu kembali dan berkumpul seperti sedia kala lagi," ujarnya Dion.


"Emak baik-baik di sini yah, Maya pasti akan sangat rindu dengan Emak dan Axel," jawabnya dengan tersenyum manis ke arah Ibu Nurmala.


"Ibu juga akan mencari kebiasaan yang selama ini Ibu lakukan bersama dengan Mbak Maya, ibu ucapkan semoga pernikahan dan akad nikahnya Mbak segera terlaksana dan lancar hingga segera diberikan momongan."


Do'a setulus hati yang dihaturkan oleh Ibu Nurmala khusus untuk Maya dan Dion.


"Amin ya robbal alamin," jawab keduanya.


"Kalau gitu Kami pamit dulu Bu, kapan-kapan Kami akan datang lagi ke sini, Ibu juga kalau ada waktu sesekali datanglah jalan-jalan ke Apartemennya Maya, Kalau mau dijemput telpon saja yah Bu," ucap Maya sambil memegang tangan Bu Nurmala sedangkan air matanya sedari tadi sesekali masih menetes.

__ADS_1


Ibu Nurmala tersenyum ke arah Maya sebelum mobilnya berlalu dari hadapannya. Ibu Nurmala sudah lega dan sangat bahagia karena sudah aman dan terhindarkan dari rasa ketakutan, kecemasan, kekhawatiran dan keraguan serta kebimbangan yang berlebihan itu.


"Syukur Alhamdulillah makasih banyak ya Allah Engkau telah mengabulkan permohonan dan segala doaku selama ini, semua ini berjalan sesuai dengan apa yang Kami inginkan dan semuanya berkat campur tanganMu ya Allah."


Waktu terus berlalu, hingga jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Ke tiga trio bocil Lee sudah tidur di kamar masing-masing.


Martin masih berbicara beberapa hal penting bersama neneknya. Sedangkan Amairah sudah bersiap tidur.


Amairah kembali malam ini memakai pakaian yang cukup sangat seksi, kekurangan bahan yang sangat tembus pandang. Amairah memilih lingerie warna kuning untuk malam ini.


Amairah memoles wajahnya terlebih dahulu dengan berbagai make up-nya. Ia ingin tampil sempurna dan cantik di depan suaminya.


Amai ingin kewajibannya dia penuhi dan jalankan dengan sebaiknya. Tubuh putih mulus dan glowing itu terpampang jelas, siapa pun yang melihatnya pasti akan tergiur dan terpana hingga ileran melihat tubuh yang begitu menggoda bi ra hi seorang pria normal.


Sekitar satu jam Amairah menunggu kedatangan Martin yang tidak kunjung datang. Dia memutuskan untuk tertidur lebih duluan.


"Heeeeuuuummm."


Amairah sesekali menguap berulang kali, dia sudah sangat ngantuk, matanya sudah tinggal lima what.


"Mas mungkin masih sibuk dan banyak yang mereka bahas hingga tuntas, aku tidur duluan saja dari pada menunggu Mas Martin,"


Amairah menarik selimutnya hingga menutupi hingga sebatas dada dan lehernya karena merasa sangat dingin.


Beberapa menit kemudian, Martin sudah kembali dan masuk ke dalam kamarnya. Dia lalu menutup pintu dengan rapat serta tidak lupa mengunci kenop pintunya.


Martin melihat Amairah sudah tertidur pulas. Ia hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu cantik alami walaupun dalam keadaan tertidur lelap.


Martin memutuskan untuk masuk ke dalam kamar ganti pakaian dan bergegas untuk membersihkan seluruh tubuhnya sebelum ikut ke atas ranjang bersama istrinya.


Martin mengulas senyuman manis dan penuh arti ke arah istrinya. Martin membalik tubuh Amairah hingga menghadap ke atas, dengan matanya yang masih setia tertutup itu.


Martin menarik tali pengikat lingerie itu dengan sangat hati-hati dan penuh kelembutan. Wajahnya semakin memerah saat melihat puncak gunung mount Everest itu tidak tertutupi benda atau kain apa pun.


Martin perlahan menindih tubuh istrinya lalu perlahan menghirup aroma wanginya dari tubuhnya Amairah yang membuatnya hilang kontrol dan tangannya langsung tidak terkendali lagi.


Martin men ciu mi leher jenjangnya Amairah dan sesekali mengecup leher itu dan meninggalkan beberapa tanda kissmark yang berwarna merah kebiruan hampir ke seluruh daerah itu.


"Tubuhmu, aromamu ini membuatku hilang kendali dan jatuh cinta berulang kali.


Martin turun ke arah yang lebih membuatnya tertantang lagi. Dia mengecup dan memelintir sesekali puncak gunung dan bukit kembar itu.


Martin sama sekali tidak bosan me nikmati puncaknya, seakan-akan dia kehausan. Lenguhan kecil mampu lolos dari mulutnya Amairah.


"Heeeuuummmppphhh."


Martin tersenyum melihat istrinya. Martin memiliki durasi waktu yang lama di atas daerah ekspansinya.


Setelah puas, ia turun hingga ke daerah bagian tengahnya Amairah. Tempat yang selalu membuatnya hingga mabuk kepayang dan tersenyum-senyum.


"Kenapa punyamu semakin membuatku melayang hingga terbang ke langit tingkat tinggi."


Keadaan mereka sama-sama sudah po los, tanpa ada benang selembar pun yang melindungi tubuh keduanya.


Martin mulai menancapkan benda pusakanya hingga ke daerah yang paling terdalam milik istrinya. Sangat pelan dan hati-hati agar istrinya tidak merasakan sakit sedikit pun.

__ADS_1


Membuat mata indah dengan bulu mata yang lentik itu terbuka lebar dan hanya tersenyum melihat wajah suaminya yang sudah penuh dengan peluh keringat.


Martin semakin memompa di atas tubuhnya sang istri. Suara-suara seksi yang sangat lembut meluncur bebas dari bibir mereka.


"Ooohhh Baby, aku suka, punyamu semakin membuatku tergila-gila hingga tidak ingin berhenti," racau Martin.


Martin kalap hingga tidak ingin berhenti untuk melakukan berbagai macam penetrasi dan stile yang dia lakukan. Amairah hanya mengimbangi permainan Suaminya.


Beberapa menit kemudian, lava panas pun menyemburkan hingga membasahi bagian rahim terdalam milik Amairah.


Martin beringsut turun dari atas tubuhnya Amairah. Sedangkan Amairah tersenyum penuh kelegaan dan kebahagiaan karena mampu membuat suaminya bahagia.


Martin berbaring di samping istrinya yang sudah ngos-ngosan saking lelahnya mereka bertempur hingga mencapai nikmat yang tak terkira. Mereka sama-sama terbang melayang hingga ke nirwana.


Ibadah yang paling panjang dalam hidup adalah hidup sebagai pasangan suami istri.


Menikah adalah ibadah yang paling terpanjang di dalam hidup.


The longest worship in life is living as a husband and wife.


Marriage is the longest worship in life.


*Sesibuk apapun, sejauh apapun pergi, keluarga merupakan tempat pulang'. Uang dan popularitas tak mampu membayar kebersamaan dengan keluarga.


No matter how busy you are, no matter how far you go, your family is your home'. Money and popularity can't afford to be with family*


Fania ucapkan Syukur Alhamdulillah dan Makasih banyak kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan selalu


Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak 👌✌️.


Judulnya:



Sang Penakluk


Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



...********Bersambung********...


...by Fania Mikaila AzZahrah...

__ADS_1


...Takalar, Sulawasi Selatan, Rabu, 22 Juni 2022...


__ADS_2