Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 57. Kegagalan Bram


__ADS_3

Selamat Membaca...


Langkah yang lebar dari seorang Bram menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah sumringah untuk melihat kondisi kesehatan Dea yang katanya dokter sudah membaik. Langkanya sempat terhenti akibat adanya insiden Kecil yaitu OB tidak sengaja menumpahkan air bekas pel kelantai. Membuat Bram memutar langkahnya agar terhindar dari genangan air yang memungkinkan bisa membuat seseorang tergelincir dan terjatuh dan akhirnya bisa mencium tanah air tercinta.


Senyuman selalu Bram perlihatkan kepada semua orang dan Readers yang berpapasan dengannya. Bram sangat bersemangat dan antusias dan tak lupa untuk selalu berdo'a kepada Allah SWT untuk kelancaran rencananya. Sebelum membuka pintu, Bram membuka kenop pintu perlahan dan tidak bersuara agar tidak menggangu istirahat Dea dan tak lupa untuk berdoa.


Bram masuk dengan senyuman yang manis tapi apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan ekspektasinya, senyuman yang manis itu pudar seketika dan seakan-akan Bram berada diketinggian lalu dihempaskan ke dasar terdalam. Parcel buah yang dia bawa terjatuh ke lantai hingga isinya tercecer kemana-mana dan ada beberapa buah yang menggelinding memenuhi ruangan tersebut.


Dea yang dikabarkan telah sadar dari komanya menghilang di ranjang rumah sakit yang selama ini dia tempati di saat koma. Bram tersungkur ke lantai setelah mengetahui kalau Dea kabur dari sana dan tidak ingin bercerai dari Bram dan suatu saat akan kembali lagi dan di kertas itu tertulis dengan jelas kalau Dea tidak pernah mengidap penyakit apa pun sesuai isi dari secarik kertas yang dia baca.


"ini tidak mungkin ya Allah, pasti aku lagi bermimpi, Dea pasti ada di dalam kamar mandi"


Bram segera berdiri dan tak lupa melipat kertas tersebut dan menyimpannya ke dalam saku bajunya. Lalu berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi.


"Dea kamu di mana Dea, Aku mohon keluarlah dan jangan sembunyi dari saya, aku mohon Dea dengan sangat, tolonglah saya" ucap Bram yang sudah pasrah dengan keadaan yang ada.


Bram lalu mencari ke arah luar Dea dan menghubungi bagian informasi rumah sakit untuk menanyakan perihal kepergian atau kehilangan Dea. Bram berlari dan tidak ingin dirinya terlambat lagi. Bram berharap ada setitik terang tentang kepergian Dea yang tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya dari rumah sakit.


Bram berlari kencang ke arah tempat informasi dan hampir saja menabrak tubuh seseorang yang kebetulan lewat di jalan yang dilaluinya. Bahkan Bram hampir saja menabrak bangkar pasien yang sedang di dorong.


"Maaf Mbak Saya boleh bertanya?". tanya Bram yang sudah ngos-ngosan dan sulit untuk bernafas.


"Iya Pak boleh" ucap pegawai rumah sakit tersebut yang memakai pakaian seragam warna Pink soft bername tag Yasmin.


"Mbak kamar plamboyan nomor 13 apa pasiennya sudah diperbolehkan pulang atau gimana?, soalnya pasiennya itu kebetulan istri Saya dan Saya sama sekali tidak mendapat kabar sedikit pun tentang kepulangannya" jelas Bram yang semakin khawatir dan sedih dengan kepergian Dea.


"Sabar yah Pak Saya akan cek dulu" ucap pegawai tersebut.


Bram tidak habis pikir karena dia sudah membayangkan agar segera melamar Nadia dan melaksanakan aqiqah putrinya jadi terganggu. Bram kasihan dengan Nadia yang sering dipergunjingkan di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan sering dicap perempuan murahan. Pegawai tersebut dengan teliti memeriksa data-data tentang Dea.


"Dengan ibu Dea Ananta Toni sudah keluar beberapa menit yang lalu bersama seseorang pria pak" ucap Pegawai tersebut.

__ADS_1


Bram langsung kecewa dan hampir prustasi menghadapi Dea yang sudah menghilang.


"Makasih banyak Mbak" ucap Bram.


Bram terus berlari terburu-buru ke arah parkiran dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bram kemudian mengemudikan mobilnya ke arah rumah pribadi keluarga pak Toni. Bram bahkan sudah Ugal-ugalan di jalan raya saking pusingnya memikirkan Dea. Bram memukul setir mobilnya jika terkena dan terjebak lampu merah.


"Apa yang harus aku katakan kepada Nadia ya Allah pasti Nadia akan sedih lagi dan kecewa" ucap Bram.


Beberapa menit kemudian, mobil Bram sudah terparkir di depan rumah Dea dengan asalan. Bram menutup pintu mobilnya dengan kuat dan menimbulkan suara yang cukup besar. Bram berlari ke dalam rumah tersebut, tapi Bram kembali shock dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Rumah yang begitu besarnya, mewah dan megah harus terpampang papan yang bertuliskan Rumah ini dalam pengawasan pihak kepolisian. Dan bukan cuma itu ada lagi tulisan di bawahnya Rumah ini disita oleh perusahaan Volkswagen Atmadja.


Bram tidak kuasa menahan tangisnya, Air matanya membasahi wajah gantengnya. Bram ingin masuk ke dalam rumah tersebut untuk mencari Dea jangan sampai Dea bersembunyi di dalam dugaan Bram tapi semua pintu dan jendela terkunci rapat dan tersegel.


Kenyataan pahit harus kembali Bram telan mentah-mentah. Dea yang sudah kabur dari kota S dan pernikahannya yang rencananya sudah ada di depan mata harus terkubur dan hancur seketika. Bram masuk ke dalam mobilnya tapi belum sanggup untuk menyetir kembali mobilnya sehingga Bram beristirahat sejenak untuk memulihkan hati, perasaan dan pikirannya.


Bram melajukan mobilnya ke arah rumahnya padahal tadi pagi sudah berjanji untuk mendatangi rumah Nadia. Bram berjalan gontai menuju ke dalam rumahnya seakan-akan Bram belum makan dua hari saja, wajahnya tampak kusut dan rambutnya acak-acakan seperti seseorang yang telah berkelahi. Ibu Kartika yang melihat putranya dengan wajah yang masam dan tidak bersemangat segera menghampirinya, Bram yang duduk di kursi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kursi dan menutup matanya.


"Ada apa Nak, kamu baik-baik saja kan?." tanya ibu Kartika yang memegang pundak putranya.


Bram yang ditanya hanya terdiam seribu bahasa dan tidak tahu harus berbicara mulai dari mana.


Bram langsung memeluk tubuh ibunya dan menangis tersedu-sedu. Fan hal ini terjadi untuk kedua kalinya di dalam hidupnya Bram. Mama Kartika tidak menyangka kalau anaknya kembali terpuruk seperti saat dirinya dinikahkan dengan paksa bersama Dea Ananta.


Ibu Kartika tidak ingin memaksa putranya untuk bercerita dan membiarkan putranya untuk terbuka dan berbicara dengan sendirinya tanpa ada paksaan ataupun tekanan darinya.


"Maafkan Bram ma" ucap Bram kemudian di sela Isak tangisnya.


Ibu Kartika masih menunggu Bram agar berbicara lebih jelas lagi.


"Dea Ma" ucap Bram yang tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya.


"Ada apa dengan Dea Nak?, bicara lah yang jelas" Ucap Ibu Kartika.

__ADS_1


Pak Daniel yang kebetulan baru pulang dari Kantornya hanya menatap ke dua orang yang sangat penting dalam hidupnya dan perlahan berjalan ke arah mereka lalu duduk di samping istrinya.


"Dea sudah sadar dari komanya" ucap Bram kemudian.


"Alhamdulillah kalau begitu nak, mama senang mendengarnya" ucap ibu Kartika yang ikut bahagia mendengar kabar tersebut.


"Papa juga ikut bahagia mendengar Dea sembuh dari penyakitnya dan sudah sadar dari komanya" ucap Pak Daniel.


"Iya Pa, juga begitu walaupun sikap ke dua orang tuanya tidak baik tapi Dea masih menantu kita jadi sepatutnya kita bersyukur dan ikut bahagia" timpal Ibu Kartika.


"Tapi Dea itu keluar dari rumah sakit tanpa sepengetahuan dari Bram dan Dea ternyata sudah bisa berjalan pulang tanpa bantuan alat atau pun bantuan dari orang lain" ucap Bram dan mengambil kertas yang tadi dia lipat tadi di dalam saku bajunya dan memberikan kertas tersebut ke tangan papanya.


Pak Daniel lalu mengambil kertas tersebut dan langsung membacanya. Raut wajahnya yang awalnya nampak sumringah bahagia mendengar kabar Dea sembuh berubah drastis 180 derajat. Air mukanya nampak tegang dan urat-urat di wajah dan lehernya sudah menonjol menandakan Pak Daniel yang sangat marah.


"Ternyata selama ini kita telah ditipu oleh mereka, ini semua tidak bisa dibiarkan begitu saja, Mereka harus mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatan mereka" ucap Pak Daniel sambil memukul meja saking marahnya dengan penipuan yang dilakukan oleh pak Toni berserta anak dan istrinya.


"Iya Papa, Kuta harus melaporkan kejahatan mereka ke kantor polisi dan jangan biarkan mereka bebas menghirup udara segar biarkan mereka mendekam dalam penjara" ucap Ibu Kartika yang ikut emosi dengan kejahatan yang dilakukan oleh Dea dan ke Dua orang tuanya.


"Kamu harus sabar Yah Nak, kamu bercerai dengan Dea atau tidak kamu tetap menikahi Nadia dan biarkan papa yang mengurus para bedebah itu, dan persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk melamar Nadia dan kita cari waktu luang yang baik baru kita ke rumah Nadia dan bertemu dengan ke dua orang tuanya untuk membicarakan pernikahan kalian" ucap Pak Daniel panjang lebar.


Suasana yang awalnya tampak tegang sekarang berangsur mencair karena Bram yang akan segera melamar Nadia.


Ke Esokan Harinya oak Daniel mendatangi kantor polisi untuk melaporkan kejahatan yang dilakukan oleh Pak Toni, istri dan anaknya. Dan sekarang Ibu Anita dan Dea sudah masuk daftar hitam pencarian orang.


Bersambung...


...****************...


Jangan Lupa untuk selalu Like setiap Babnya dan tetap Dukung Cinta Yang Tulus yah 🙏✌️


Makasih banyak 🥰

__ADS_1


fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 14 April 2022


__ADS_2