Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 237. Berhasil Lolos


__ADS_3

Selamat Membaca..


Buuukkkkk….


Pintu itu tertutup rapat dengan cukup keras. Dennis tidak ingin membuang waktu dan tenaganya, hanya untuk meminta tolong kepada mereka agar merasa iba dan bersimpati padanya karena hal itu hanya akan berakhir dengan sia-sia saja.


Dennis meringis kesakitan saat tanpa sengaja tangan kanannya bertumpu pada lantai, "aaahhh!!!" Keluhnya sembari mengelus lengannya yang sakit.


"Semoga kakak dan kakek segera datang menyelamatkan aku, dan semoga mereka menjaga ketat Ica putriku, semoga kakek membaca chatku yang terakhir yang aku kirim."


Dennis duduk bersandar di dinding sedangkan kakinya yang satu dia lipat dan yang satunya berselonjor lurus ke depan.


"Apa jangan-jangan kakek sudah mengetahui kebenarannya yang selama ini yang sudah aku tutupi dengan rapat-rapat dari siapa pun, sepertinya ada yang selama ini mengikutiku hingga kakek akhirnya mengetahui jika mereka ada hubungan istimewa yang sudah terjalin sangat lama," ujarnya yang kembali berusaha untuk mencari cara untuk keluar.


Liora tetap berusaha untuk mencari cara untuk lolos dari sana. Dia pun kembali teringat jika ada lubang asap yang bisa dia pakai untuk keluar dari sana.


"Aku harus mencari alat yang bisa aku pakai untuk naik," ucapnya lalu melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Liora menarik dengan perlahan meja ke dalam kamar mandi agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat orang-orang mengetahui rencana yang sedang dia merencanakan untuk kabur dari sana.


"Aku harus keluar dari sini lalu membantu Abang Dennis," tuturnya dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.


Liora juga menarik beberapa kursi untuk menutupi pintu agar menghalangi orang masuk, jika ada yang mengetahui jika dia sudah kabur dari sana. Dengan susah payah. Dia berhasil menyusun beberapa meja.


"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya lalu menaiki meja itu satu persatu.


Liora tidak putus asa,selama ada kesempatan dia akan selalu menempuh cara apa pun itu hingga dia berhasil keluar.


"Ya elah kenapa besinya juga sangat kuat, aku harus turun lagi untuk mencari besi yang bisa aku pakai untuk mencungkil besinya agar segera terbuka," terangnya.

__ADS_1


Dia memeriksa semua laci meja, hingga dia menemukan benda yang bisa dipakainya untuk membuka pintu besi itu. Beberapa saat kemudian, besi tebal itu bisa terbuka.


"Alhamdulillah, aku bisa meninggalkan neraka ini secepatnya dan menyelamatkan Abang," dia merangkak naik ke dalam cerobong asap dan tidak lupa kembali menutup rapat pintu besi itu.


Ia terus merangkak naik dengan pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun dan tidak diketahui oleh siapapun. Dia sudah memperkirakan jarak tempuh dari satu kamar ke kamar mandi lainnya. Hingga dia berada tepat di atas kamar mandi yang ditempati oleh Dennis. Banyaknya debu dan kotoran sisa dari asap sama sekali tidak dihiraukan di dalam pikirannya yang penting dia bisa bebas dari tempat terkutuk itu.


Liora tadi sempat kembali untuk mengambil besi yang dipakainya untuk mencungkil pintu tersebut. Dengan susah payah dia pun berhasil untuk membuka besi itu. Dia melihat posisi pintu lubang cerobong ventilasi asap dari lantai cukup tinggi. Tapi, dengan kemampuan bela diri yang dikuasainya sangat membantu usahanya untuk meloloskan diri.


Suaranya yang cukup besar saat dirinya melompat membuat istirahat Dennis yang baru hitungan menit itu, segera bangkit dari tidurnya. Dia berjalan ke sumber suara. Dia berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi dan betapa terkejutnya saat melihat wanita yang dicintainya lah pelaku dari keributan itu.


"Abang," ucapnya dengan langsung memeluk tubuhnya Dennis dengan erat.


Dennis meringis kesakitan saat tangannya Liora tanpa sengaja menyentuh tangan kiri Dennis yang terluka.


"Abang baik-baik saja kan?" Tanyanya lalu memeriksa seluruh tubuhnya Dennis dengan seksama.


"Kita harus segera obati terlebih dahulu sebelum mereka mengetahui jika,aku kabur," tuturnya sambil menarik tangannya Dennis.


Mereka berciuman dan saling melepaskan kerinduan mereka dan bertujuan untuk mengurangi rasa cemas dan takut mereka. Ciuman yang begitu mesra dengan penuh gairah hingga mereka saling berlomba untuk menghirup sisa oksigen yang di dalam ruangan itu.


Mereka saling bertukar Saliva satu sama lainnya. Dennis seakan-akan tidak ingin melepaskan ciumannya hingga tangannya sudah menelusup masuk ke dalam bajunya Liora dan meremas puncak gunung Bromo miliknya Liora. Ia sudah hampir kebablasan dan melupakan tujuan awalnya awal mereka.


"Bang, sudah kita harus segera meninggalkan tempat ini jika masih ingin melihat indahnya dunia," terang Liora saat memutuskan kontak fisik mereka.


"Bagaimana caranya kita keluar dari sini? Lihatlah bagaimana tingginya bangunan ini dan penjagaannya yang sangat ketat," ucap Dennis.


"Abang tenang saja, makanya ikut dengan Liora dan jangan banyak tanya lagi sebelum mereka menyadarinya dan apa yang kita lakukan akan sia-sia saja," jawabnya dengan menarik kembali tangannya Dennis.


"Kamu yang duluan naik karena kamu yang mengetahui jalan keluarnya," ucap Dennis yang segera membantunya Liora untuk naik ke atas cerobong ventilasi udara tersebut.

__ADS_1


Dengan perlahan merangkak hingga ke ujung lubang tersebut yang mereka tempuh sudah cukup lama. Pakaian mereka sudah sangat kotor, tubuh mereka sudah berantakan tapi, mereka tidak pedulikan hal itu sehingga apa yang mereka lakukan berhasil juga. Mereka sudah ditunggu oleh seorang pria yang sedari tadi menunggunya.


"Paman," ucap Liora saat memeluk tubuh pria itu.


"Ambil senjata ini dan jangan lupa pakai baju anti peluru kalian dan cepatlah pergi dari sini sebelum kakekmu mengetahui apa yang kita lakukan," ujarnya dengan menyodorkan dua tas pinggang ke tangannya Liora.


Dennis dan Liora segera memakai pakaian anti peluru dan mengalungkan tasnya ke pinggangnya. Liora sangat bersyukur karena selama ini pamannya yang selalu diam-diam membantunya. Pak Rhenald adalah Kakak dari Papinya Liora.


"Kami pamit paman, makasih banyak atas bantuannya, paman jaga diri baik-baik, assalamu alaikum" ucap Liora sebelum melepaskan pelukannya.


"Kalian yang harus hati-hati, tidak perlu repot-repot risaukan paman pasti bisa jaga diri, di ujung jalan ada mobil hitam yang bisa kalian pakai, tolong jaga putriku nak," balas Pak Reinal sambil menepuk pundak Dennis.


Dennis hanya menganggukkan kepalanya, air matanya menetes membasahi pipinya melihat nasib keponakannya. Dia sangat menyesal dulu tidak membawa kabur keponakannya itu disaat adiknya meninggal dunia.


Dennis dan Liora berjalan perlahan dan sesekali bersembunyi di semak-semak belukar jika lampu mercusuar dan lampu sorot bersinar terang ke arahnya. Mereka bisa sedikit bernafas lega setelah mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawanya ke luar dari tempat itu.


"Abang, lihat ada hp, kotak p3k, beberapa senjata dan amunisinya, serta beberapa makanan," ungkap Liora ketika mereka sudah perlahan menjauh dari tempat itu.


"Syukur Alhamdulillah, kita sudah sedikit aman, mungkin kita sudah jauh dari sini barulah mereka menyadari bahwa kita sudah berhasil kabur" terang Dennis.


Liora tersenyum lega dan bahagia karena dia bisa bersatu dengan Dennis dan akan bertemu dengan putrinya.


...Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus, jangan lupa untuk mampir juga ke novel terbaruku dengan judul:...


...1. Pesona Perawan...


...2. Dilema diantara dua pilihan...


...by Fania Mikaila Azzahrah...

__ADS_1


...Makassar, Jumat, 29 Juli 2022...


__ADS_2