
Aisyah dan Nathan yang awalnya saling menjaga jarak karena malam pertama yang gagal. Tapi, kali ini mereka bersatu untuk mencari keberadaan Dennis. Tuan Besar Luis membaca pesan terakhir dari Denis sebelum nomornya tidak aktif.
"Martin,dimana Ica putrinya Suster Camelia berada?" Tanyanya yang saat teleponnya sudah tersambung.
"Ica ada di sampingku Kek, emangnya kenapa Kek?" Tanyanya balik.
"Dennis mengirim chat dan mengatakan jika Ica adalah putri nya bersama dengan Liora," terang Tuan Besar Luis.
Penjelasan dari kakeknya membuatnya tidak percaya begitu saja. Selama ini anaknya telah menyembunyikan kenyataan yang ada. Martin menyesalkan sikap dan tindakan Dennis yang menutupi hal besar seperti itu.
"Halo Martin, apa kamu mendengar apa yang aku katakan?" Tanyanya.
"Iya kek,aku bergerak semua perkataan dari kakek," jawabnya.
"Kakek akan segera ke Indonesia dan tolong jaga dan lindungi baik-baik anak cucumu dari segala marabahaya yang selalu mengintai kalian, dan perketat pengawasan yang ada di sekitar kediaman kalian," pintanya.
"Baik kakek, saya akan segera melaksanakan semuanya sesuai dengan perintah kakek," balasnya.
"Kakek tutup dulu telponnya, hati-hati dan katakan pada Amairah aku akan segera datang ke Jakarta," ucap kakeknya sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Martin segera menelpon bagian keamanan kediamannya dan melarang satupun dari anggota keluarganya dan seluruh orang yang bekerja di kediamannya untuk selalu waspada dan berhati-hati. Martin pun memperketat pengamanan di sekitar perusahaan.
Martin segera menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakeknya. Dan berjalan ke arah kamar pribadinya. Amairah belum sadarkan diri dari pingsannya. Mbak Marni dan yang lainnya bergantian menjaga Amairah. Camelia yang awalnya berniat untuk pergi ke rumahnya dicegah oleh Mbak Wati untuk tidak meninggalkan kediaman Lee barang sejengkal pun.
"Camelia, terima kasih kamu sudah menjaga dan merawat cucuku," ucapnya yang duduk di samping istrinya yang masih setia tertidur padahal sudah diperiksa oleh dokter pribadi keluarganya.
Camelia yang mendengar perkataan dari Martin tidak menyangka dengan apa yang terjadi sebenarnya dan sangat tidak memahami maksud dari perkataan tuannya.
"Pasti kamu kebingungan dengan perkataanku, dan sesuai yang aku katakan sebelumnya adalah bahwasanya Ica itu adalah cucu perempuanku yang menghilang beberapa tahun silam, Ica adalah anaknya Dennis dan Liora," jelasnya.
Camelia dan yang lainnya yang mendengar perkataan itu langsung menutup mulut mereka dan sama sekali tidak menyangka dengan semua yang terjadi di dalam keluarga besar itu. Nenek Masitha segera mendatangi tempat duduk cucunya itu.
"Martin!! Jangan asal bicara, apa kamu melupakan siapa Liora itu?" Tanyanya yang sudah menahan emosinya setelah mendengar kejujuran yang sangat membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Martin sangat mengetahui dengan jelas, tapi apa salah Liora dengan Ica nenek, mereka hanya menjadi korban dari dendam dan keegoisan dari Nurman, mereka sama sekali tidak salah," jelas Martin yang masih berbicara lembut di hadapan Neneknya itu.
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu tidak melarang mereka untuk berhubungan agar semua masalah yang terjadi sekarang tidak terjadi, dan apa kamu melupakan siapa orang yang telah menjebak Delisha putrimu itu?" jawabnya lagi yang sudah tersulut emosinya.
Ica yang mendengar perkataan dari Nenek buyutnya segera memeluk tubuh Martin dengan eratnya. Dia ketakutan melihat mereka saling beradu argumen. Matanya Ica sontak berkaca-kaca dan berusaha menahan tangisnya.
Camelia sebagai Ibu angkatnya segera berjalan ke arah Ica, tapi dicegah oleh Mbak Marni, Mbak Marni menggelengkan kepalanya tanda melarang Camelia untuk tidak ikut campur dengan masalah internal mereka.
"Nenek!! Apa tidak ada rasa iba nenek sedikit pun pada cucuku, lihatlah wajahnya yang ketakutan dan sedih saat Nenek tidak menginginkan kehadirannya di sini," timpal Martin.
Perdebatan mereka cukup alok dan membuat istirahat Amairah terganggu sehingga dia pun bangun dari tidurnya. Amairah mendengar suara ribut yang bersumber dari suami dan Neneknya.
"Mas Martin," ucapnya dengan suara yang cukup lemah.
Martin segera berjalan ke arah istrinya berada,"sayang apa yang kamu rasakan? Kalau ada yang sakit, Mas akan panggilkan dokter untuk segera datang ke sini," tutur Martin sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Ica langsung turun dari pangkuannya Martin lalu bergegas memeluk tubuhnya Amairah," Grandma, Nenek Masitha marah-marah kalau Ica tinggal bersama kalian di sini," tangisannya pun pecah yang sedari tadi dia tahan.
Amairah mengalihkan pandangannya ke arah Neneknya berada,"Nenek tolong jelaskan kepada Amairah, apa yang sebenarnya terjadi di sini dan kenapa Ica sangat ketakutan," pinta Amairah yang sementara melupakan masalah Dennis yang diculik oleh anak buahnya Nurman.
"Camelia, tolong bawa Ica pergi dari sini," perintah Amairah.
"Ica tidak mau pergi dari sini, Ica tidak mau jauh dari kalian," ucap Ica disela tangisnya.
"Sayang, Ica akan tetap tinggal bersama dengan kami disini sampai kapan pun, apa pun yang terjadi kamu tetap cucunya grandma," ungkap Amairah yang memeluk tubuhnya Ica dengan penuh kehangatan dan kasih sayang.
Ica menuruti semua perkataan dari Amairah. Tinggallah mereka bertiga, tapi tidak ada satupun yang berani membuka mulutnya untuk bicara. Mereka hanya saling berpandangan satu sama lainnya.
Hingga Martin berbicara memecah keheningan di antara mereka.
"Nenek kalau bersikap seperti ini, apa bedanya Nenek dengan Nurman? Tidak ada Nek!!, kenapa Delisha mampu melupakan kesalahannya Liora sedangkan Nenek tidak bisa," terang Martin dengan suaranya yang cukup besar itu.
Amairah langsung menatap ke arah Martin dan meminta penjelasan dari suaminya. Martin sebenarnya enggan untuk membuka mulutnya karena takut jika Amairah kembali shock dan jatuh sakit lagi.
__ADS_1
"Mas!!" Ucap Amairah yang sedikit mengeraskan suaranya.
"Ica adalah cucu kita sayang, dia adalah putri dari Dennis dengan Liora," ucap Martin yang menjelaskan semuanya yang terjadi di depan istrinya.
Amairah menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan fakta yang baru terkuak. Dia bahagia sekaligus sedih dan takut dalam waktu yang bersamaan.
"Tolong segera telpon Aisyah untuk bertanya tentang kondisi terakhir, apa putraku sudah ditemukan," ucapnya dengan derasnya air matanya yang membasahi seluruh pipinya.
Martin segera melaksanakan perintah dari istrinya,tetapi berulang kali dihubungi tetap tidak ada balasan dari Aisyah. Sedangkan di tempat lain, Aisyah dan rombongannya saling beradu tembak dengan anak buah dari Nurman.
Dennis yang berhasil lolos awalnya,tetapi mampu dikejar oleh pengawalnya Nurman. Mereka pun saling membalas tembakan. Mobil mereka sama sekali tidak berhenti dan saling kejar-kejaran. Tuan Luis dan Tuan Besar Mark serta bala bantuan dari Pak Heri serta Bryan segera berdatangan ke tempat kejadian.
Aisyah dan rombongannya terbagi dua, ada yang mengikuti Dennis dan Liora dan sisanya mengikutinya. Mereka perlahan berhasil menumbangkan sebagian besar anak buahnya Nurman dan sekarang mereka sudah berada di dalam istana Nurman.
"Ingat selalu lah berhati-hati, jika mereka tidak melakukan perlawanan apapun, cukup lumpuhkan mereka saja lalu serahkan kepada pihak kepolisian untuk segera diamankan," terang Aisyah saat sudah berada di dalam lokasi istana tersebut.
"Abang hati-hati," teriak Liora yang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Dennis tidak berhenti untuk melakukan perlawanan terhadap musuhnya, satu persatu bidikannya berhasil melumpuhkan lawannya. Senyuman Dennis terbit dikala melihat bala bantuan berdatangan untuk membantunya. Dengan pelan tapi pasti, mereka berhasil dikalahkan.
"Sebaiknya kita kembali ke Istana kakek sebelum terlambat," ucap Liora.
"Maksudnya?" Tanyanya yang tidak mengerti.
"Kakek Nurman sudah memasang beberapa bom di seluruh penjuru istananya dan kakek sudah pergi dari sana," ucapnya lalu memutar mobilnya.
Dennis segera menghubungi nomor hp dari keluarganya yang ada di sana, tapi satupun tidak ada yang aktif nomornya.
"Kenapa nomor hp mereka tidak ada yang aktif?" Tanyanya dengan mulai ketakutan dan cemas.
Liora menambah kecepatan mobilnya hingga seperti pembalap di sirkuit saja. Raut wajahnya Dennis sudah sangat mencemaskan keadaan dari anggota keluarganya.
"Ya Allah… lindungilah keluargaku dari segala marabahaya, dan sabarkanlah hati ini," doanya yang sedari tadi dia panjatkan.
__ADS_1
Liora segera menambah kecepatan mobilnya saat mendengar suara beberapa ledakan yang berasal dari istana Kakeknya Liora.
"Tidak!!!!!" Teriak Dennis.