Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 22. Penyesalan Nadia


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Nadia setelah mengetahui kalau calon bayinya adalah perempuan hilang sekejap mata saat Nadia melihat Bram berada di Kafe rumah sakit. Nadia segera mempercepat langkahnya ke arah Bram tetapi Bram malah pergi dan tak ingin menoleh sedikit pun.


"Bram tunggu" Teriak Nadia.


"Nad hati-hati jangan lari, ingat kamu itu sedang hamil" teriak Amairah yang khawatir melihat Nadia yang berlarian mengejar Bram.


Sedangkan yang dikejar semakin mempercepat juga langkahnya. Bram berlari hingga ke depan kamar perawatan Dea istrinya. Nafas Bram memburu dan ngos-ngosan.


"Ada apa Bram?." tanya Ibu mertuanya.


"Iya Bram ada apa, kamu seperti habis melihat hantu saja" timpal Bapak mertuanya.


"Tidak apa-apa kok Bu, aku hanya berlari karena takut jika Dea kenapa-kenapa" jawab Bram yang menutupi kenyataan yang ada.


Nadia berhenti berlari ketika melihat Bram berhenti di depan kamar rawat Flamboyan no 4 dan sedang berbincang dengan seseorang. Nadia berjalan ke arah mereka dan niat Nadia ingin menjenguk istri dari Bram.


Bram mulai tampak pucat ketika melihat Nadia berjalan ke arah mereka. Keringat sudah bercucuran membasahi pipinya. Bram takut jika Nadia membongkar rahasia besar mereka.


"Assalamu alaikum Tante" ucap salam Nadia.


"Waalaikum salam nak, maaf kamu siapa dan sedang cari siapa yah?." tanya ibunya Dea.


"Kenalkan ibu, saya Nadia temannya Dea dan juga Bram" jawab nadia sambil melirik Bram sepintas.


"Temannya Nadia, sini duduk Nak, gak baik wanita hamil harus berdiri terus-terusan" ucap ibunya Dea.


"Makasih banyak" jawab Nadia sambil ikut duduk di samping ibunya Dea.


"Bram ada teman kamu yang datang menjenguk istrimu, tapi kamu diam saja seperti patung" ucap ibu Dea yang sedikit membentak Bram.


"Iya bu" ucap Bram yang bingung tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


"Kamu ambil minuman atau makanan apa kek, jangan bisanya cuma berdiri saja, dasar mantu tidak tahu diuntung" ucap Ibunya Dea.


Nadia kaget dan tidak menyangka kalau Bram akan diperlakukan seperti itu oleh mama mertuanya.


"Makasih banyak, tapi ibu tidak perlu repot-repot, saya tidak lapar kok bu" ucap Nadia.


"Maaf yah nak menantu saya ini tidak tahu apa-apa, dia sebenarnya sangat beruntung karena bisa menikah dengan putri dari orang kaya" ucap ibunya Dea yang lagi-lagi merendahkan Bram.


Bram hanya menunduk dan tidak tahu menyanggah perkataan dari ibu mertuanya. Nadia sedih melihat Bram yang diperlakukan kasar bahkan dihina di depan orang lain terutama di depan mata kepalanya. Hp Nadia berdering. Nadia segera mengambil hpnya dari tasnya.


"Assalamu alaikum" ucap Nadia.


"Nad, kamu di mana, apa kamu baik-baik saja??". tanya Amairah yang sudah mengkhawatirkan keadaan dari Nadia.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja Aksi, dan sekarang aku sudah di dalam kamar perawatan Dea nih, di Flamboyan kamar 4 , ke sini yah aku tunggu" ucap Nadia.


Tidak lama kemudian, pintu diketuk oleh seseorang. Dan masuklah Amairah ke dalam kamar tersebut. Ibunya Dea kaget melihat anak angkat dan saudara sepupunya. Karena setahu mereka Amairah itu sudah meninggal dunia dalam kecelakaan. Amairah pun tidak menyangka kalau Dia akan bertemu dengan Ibu Linda saudara sepupu dari ayahnya. Mereka terakhir kali bertemu saat dirinya menikah dengan Adam.


Ibu Dea langsung berdiri dan menampar pipi Amairah. Nadia kaget dan sekaligus tidak percaya karena Ibunya Dea langsung menampar wajah Amairah tanpa basa-basi. Amairah yang tidak mau membalas atau pun melawan.


"Aku kira kamu sudah mati ternyata kamu masih hidup juga, kamu terlalu beruntung jadi orang, Kenapa gak sekalian mati saja sih" ucap Ibunya Dea lagi.


Ibunya Dea ingin kembali menampar Amairah tetapi tangan Ibunya Dea langsung dipegang oleh Amairah.


"ooh kamu sudah berani melawan yah, dasar wanita murah*** gara-gara kamu Keluargaku harus menderita menanggung malu, kamu itu selama ini sok suci sok alim tapi kelakuan kamu sungguh tidak patut untuk di contoh, punya suami tapi hamil dengan pria selingkuhanmu, untung saja Adam langsung menceraikan kamu" terang ibunya Dea.


Nadia yang langsung mendengar perkataan dari ibunya Dea kaget bukan main, karena ternyata masalah yang dihadapi oleh Amairah lebih parah dari yang dia alami.


"Jangan pernah berteman dengan perempuan hina ini, Nadia dia perempuan yang tidak baik bahkan harus hamil dari pria selingkuhannya" ucap ibunya Dea lagi.


"Ternyata Amairah yang kesehariannya penuh kesabaran, tenang dan tidak pernah mengeluh ternyata menyimpan sejuta lara dalam hatinya, kamu sungguh kuat Amairah" monolog Nadia yang melihat Amairah dan langsung sedih.


"Cukup tante!, Aku emang hina tapi aku tidak pernah memperlakukan orang lain seperti layaknya hewan, dan satu hal yang perlu Tante ketahui Aku bukan Amairah dulu yang seenak hati kalian untuk kalian hina dan makasih atas tamparannya" ucap Amairah yang baru kali ini sangat marah.

__ADS_1


"Amairah ayok kita pulang tidak usah meladeninya" ucap Nadia yang mengajak untuk pulang Amairah.


"Dasar loh anak pungut yang tidak tahu diri!!" ucap ibunya dea saat Amairah dan Nadia sudah diambang pintu.


Nadia memegang tangan Amairah untuk tidak meladeni perkataan ibunya Dea yang sudah kelewat batas.


Nadia sangat menyesal telah mengajak Amairah ke rumah sakit.


"Amai, maaf yah ini semua karena aku, andai saja aku tidak menemaniku ke rumah sakit pasti kamu tidak akan mendapatkan hinaan dari ibunya Dea.


"Tidak apa-apa Nad, dia sedari dulu tidak suka dengan kehadiranku di keluarganya, ga usah kamu pikirkan dan masukkan ke hati, ingat kamu itu sedang hamil" jawab Amairah yang tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di depan Nadia.


"Sekali lagi Aku minta maaf yah" ucap Nadia yang memegang ke dua tangan Amairah saat mereka sudah berada di dalam taksi online.


Sesampainya Amairah di rumahnya, Axel belum pulang. Amairah langsung masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di tepi ranjangnya. Amairah pun menangis tersedu-sedu sedari tadi Amairah sudah berusaha untuk menahan tangisnya.


"Ya Allah, sabarkan hati ini dan jangan biarkan aku jadi manusia yang pendendam" sebaik doa yang diucapkan oleh Amairah. Karena kelelahan menangis, Amairah tertidur tanpa mengganti pakaiannya.


Axel dan pak Heri mendatangi pemakaman istrinya pak Heri. Pemakaman umum tersebut terletak di pinggiran kota S. Suasana pemakaman yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat menjadikan TPU tersebut tidak pernah terkesan angker, bahkan saking banyaknya orang yang berziarah setiap hari menjadikan TPU tersebut tidak seperti makam lainnya.


Makam yang berukuran kurang lebih 2x3 meter itu dengan keramik warna biru tua yang nisannya bertuliskan nama Mia Wijaya Yun seseorang yang selalu menjadi pemilik seluruh isi hati pak Heri dan teman sekaligus istrinya.


Bersambung..


Makasih banyak Fania ucapkan kepada Readers yang telah memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus.


Maaf jika Typonya meresahkan ✌️🙏.


Tetap Dukung CYT dan BDP Yah Readers 🙏


By fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 29 Maret 2022

__ADS_1


__ADS_2