Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 172. Wujud Syukur


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kebahagiaan terpancar dari wajah anggota keluarga besar Martin Muhammad Al-ayyubi Lee. Pasalnya mereka sudah menggenggam bukti bahwa, Alif adalah putra sulungnya yang hilang hampir lima tahun lamanya.


Tiada kebahagiaan yang dirasakan oleh Martin, ketika membaca sebuah map yang berisi beberapa lembar kertas. Berkas tersebut berisikan hasil tes DNA Alif yang dilakukan oleh Martin di Rumah Sakit DA untuk meyakinkan kecurigaan dan dugaan beberapa hal yang mereka curigai beberapa hari ini.


Melalui syukuran Martin menyalurkan rasa bahagianya dan kegembiraannya dengan berbagi bersama seluruh anggota keluarganya dengan beberapa anak Panti Asuhan serta ibu-ibu pengajian Majelis Taklim yang ada di Sekitar Lingkungan komplek perumahannya.


"Alhamdulillah Nenek sangat bahagia Nak, dan semoga kebahagiaan lainnya segera menyusul setelah ini."


"Martin juga sangat bahagia dengan berita ini, Martin tidak bisa berkata apa-apa lagi Nek," matanya berbinar dengan indahnya menandakan dia sangat bahagia.


Dion dan Maya berjalan ke arah mereka. Nenek Masitha tersenyum menyambut kedatangan ke dua calon manten tersebut.


"Sini nak duduk di sampingnya Nenek," Neneknya menepuk-nepuk kursi kosong yang ada di sebelahnya.


"Makasih banyak Nenek," balasnya dengan senyuman yang tidak kalah manisnya.


Dion dan Maya duduk berdampingan dengan Kakak sepupu dan neneknya.


"Mas, kok Mbak Amairah gak ada?" Maya celingak-celinguk mencari keberadaan sahabat sekaligus calon sepupunya itu.


"Mbak Kamu masih sibuk dengan trio bocil Lee, ada yang mau ini ada yang mau itu dan masalahnya, mereka tidak ingin dibantu oleh Mbak Marni atau mbak Wati."


Nenek Masitha menyesap tehnya yang masih mengepul asapnya itu. Cangkir yang bermotif bunga-bunga itu di dalam genggaman jarinya yang sudah mulai keriput.


"Hari minggu lusa akad nikah kalian kan, tempat akad nikahnya di Mesjid atau di kediaman Mami Kamu?" Neneknya memandangnya dengan tatapan menyelidik.


"Insya Allah hari Minggu, Papi maunya di Rumah saja, katanya lebih dekat dan hemat waktu."


Maya ikut menikmati seduhan teh asli Thailand. Teh hijau kesukaannya Nenek Masitha terhidang di depan mereka.


"Aku mau lihat tingkah dan keseruan mereka, Mas disini saja yah temani Nenek untuk kontrol persiapan acaranya," Maya sedikit kesal dengan ulah Dion yang selalu mengekor dirinya ke manapun seakan-akan dia akan menghilang.


Maya pun berjalan dengan langkah kakinya yang cukup panjang. Maya sedari tersenyum karena lepas dari pengawasan dan pengawalan Dion.


Sekitar dua jam lagi acara syukuran akan segera dimulai. Banyak sanak saudara mereka yang sudah datang dan memenuhi rumah sangat besar dan mewah itu.


Dari luar negeri pun sudah datang, dari luar daerah dan kota Jakarta mereka juga sudah memenuhi Rumah tersebut.


Martin dan Neneknya menyambut kedatangan mereka satu persatu.


"Alhamdulillah Kita bisa bertemu lagi yah Mbak Masitha," terang Sepupunya Masitha ibu Naurah.


"Syukur Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul bersama di sini."


Nenek Masitha menuntun tamunya hingga ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan untuk tamu undangan.


"Silahkan dicicipi makanan yang ada, maaf makanannya hanya masakan sederhana saja," dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya.


"Mbak Masitha terlalu merendah, ini sudah sangat wooow luar biasa loh banyaknya," tangannya telaten mencicipi semua jenis masakan tersaji di atas meja.


Sedangkan di dalam ruangan lain, teriakan anak-anak menghiasi Kamar pribadinya Amairah.

__ADS_1


Ke tiga anaknya tidak ingin memakai pakaia,n jika bukan Mommy mereka yang memasangkan sendiri. Amairah sibuk mengurus tamu-tamunya yang kebetulan rekan kerjanya yang dari Bandung dan Surabaya hadir di acara mereka juga.


"Mommy! Delisha tidak ingin memakai pakaian ini," Del menggelengkan kepalanya dan menyingkirkan pakaian yang ada di hadapannya.


"Kenapa kok Delisha nggak mau pakai, apa bajunya kekecilan atau kebesaran sih sayang?" Amairah menatap dan memutar baju itu berulang kali di depan matanya.


"Bukan masalah itu Moms, tapi Delisha mau pakai baju yang mirip dengan Kakak Denis dan Axel Mommy," Delisha mengunci tubuhnya dengan menyilangkan ke dua tangannya di depan tubuhnya.


Mbak Marni segera bertindak setelah mendengar perkataan dari Nona mudanya itu.


Mbak Marni bahkan berjalan tergopoh-gopoh saking tidak inginnya terlambat membawa baju ganti untuk Delisha Nona mudanya. Saking cepatnya berjalan hingga dia tidak menoleh sedikit pun ke belakang.


Gara-gara ulahnya seseorang disenggolnya, hingga hampir saja terjatuh padahal dalam genggamannya ada nampan yang berisi beberapa minuman.


"Aaaahhhhhh!!!"


Aisyah berteriak kencang setelah dirinya tersenggol oleh Mbak Marni yang membuat dirinya berputar sedangkan nampannya masih setia di dalam tangannya.


Tubuhnya berputar hingga berhenti di depan tubuh seseorang. Isi dari semua minuman itu tumpah mengenai pakaian yang dipakai oleh pria itu. Gelasnya berjatuhan di atas lantai.


Praaaaaannnggggggg!!!!


Suara pecahan dari beberapa gelas tersebut mampu membuat beberapa orang menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.


Pria itu menarik tubuhnya Aisyah ke dalam pelukannya jika tidak maka tubuhnya akan segera berguling-guling di tangga.


Mereka berpelukan sangat erat. Hingga tidak ada sekat di antara mereka. Ke dua mata mereka saling bertemu. Hidung mereka saling bertabrakan. Nafas keduanya saling memburu. Hingga detak jantungnya berdetak kencang seakan-akan berburu ingin berperang.


Apa yang mereka lakukan berlangsung beberapa saat lamanya. Tidak ada diantara mereka yang ingin menyudahi atau pun mengakhiri kegiatan mereka berdua.


"Cantik."


Kata itu mampu meluncur begitu saja dari bibir seksi yang sedikit tebal milik Rizaldi. Wajahnya langsung memerah seperti buah tomat matang siap dipanen.


Rizaldi mendekatkan wajahnya ke telinga Aisyah. Nafasnya menyentuh permukaan wajah hingga pori-pori kulit Aisyah.


"Pelukannya sudah yah, pegal juga nih tangan."


Perkataan dari Rizaldi diakhiri dengan senyuman yang sangat memukau dan menawan di matanya Aisyah Akyurek.


Aisyah spontan menarik tubuhnya sehingga segera terlepas dari tubuh tinggi atletis milik dokter ganteng tersebut.


Wajahnya yang merona memerah itu membuat Rizaldi menyunggingkan senyuman tipisnya.


"Maaf."


Ia tersipu malu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. wajahnya tidak datar dan dingin malahan hari ini wajahnya sedari tadi berseri-seri. Dia pun melupakan kalau mereka sering berdebat bahkan bertengkar bagaikan kucing dan tikus. Tom and Jerry lah kekakuan mereka.


Aisyah kemudian jongkok dan memunguti beberapa pecahan beling dari gelas yang terjatuh tadi.


"Mbak," teriaknya ke arah salah satu Maid.


Maid yang dipanggil segera berlari ke arah Rizaldi berada.

__ADS_1


"Tolong bersihkan pecahan beling ini," pinta Rizaldi.


Setelah berbicara seperti itu, dia meninggal Aisyah yang membantu maid untuk membersihkan seluruh pecahan gelas tersebut di atas lantai keramik.


"Kenapa jantung ini berdebar sangat kencang setiap aku berdekatan dengannya."


Dengan terpaksa Amairah memakaikan pakaian anak laki-laki ditubuhnya Delisha sesuai permintaanya. Amairah hanya geleng-geleng kepala melihat kelucuan dan tingkah ajaib putri tunggalnya itu.


Acara syukuran penyambutan kembali Axel sudah berlangsung. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dari beberapa anak yatim-piatu bersama dengan Axel.


Setelah anak-anak menyelesaikan tugasnya, acara dilanjutkan dengan lantunan shalawat badar yang dipersembahkan oleh ibu-ibu pengajian.


Hingga giliran ceramah dari Ustadz Solmed yang menjadi pembawa ceramah tersebut. Acara hari ini sungguh berjalan dengan sangat sempurna dan tertib serta dengan penuh kekeluargaan.


Mereka larut dalam kebahagiaan mereka. Tidak ada seorang pun yang tidak ikut berbahagia dengan suka cita menyambut kembalinya Axel.


Makanan yang disajikan oleh Amairah adalah khas Indonesia mulai dari Sabang sampai Merauke. Dengan menu yang sangat menggugah selera pastinya.


Martin membagi beberapa bahan sembako serta hadiah khusus untuk anak-anak yatim piatu dan memberikan beasiswa untuk anak-anak yang mengaji tadi. Serta umroh gratis kepada seluruh ibu-ibu pengajian yang hadir di tempat itu.


Martin melakukan hal tersebut sebagai bentuk dan wujud Syukurnya kepada Allah SWT. Baginya apa yang dia peroleh selama ini adalah adanya campur tangan dari orang yang tulus mendoakan serta memberikan motivasi kepadanya untuk melewati berbagai ujian dan cobaannya.


Begitulah rezki melangkahlah dengan baik, jangan terlalu kencang mengejar, ngotot memburu nanti kita akan lebih lelah tanpa hasil. Keluarkanlah sedekah, nanti rezky akan datang menghampiri tepat waktu.


That's how sustenance goes well, don't chase too fast, insist on hunting later we will be more tired without success. Take out alms, later rezky will come to you on time.


Syukur Alhamdulillah Fania ucapkan kepada semua Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus, Fania minta maaf karena tidak bisa sebut satu persatu nama kakak 🙏🥰


Tetap Dukung CYT dengan:


Cara Like setiap Babnya


Rate bintang lima


Gift Poin atau Koin


Favoritkan agar selalu mendapatkan Notifikasi Updatenya.


Silahkan ramaikan juga novel Lainku dong Kakak, yang masih sepi sesepi hatiku ini 👌✌️.


Judulnya:



Sang Penakluk


Bertahan Dalam Penantian


Tidak ada Jodoh yang Tertukar



********To Be Continue********

__ADS_1


by Fania Mikaila AzZahrah


Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu, 26 Juni 2022


__ADS_2