Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 144. Berulang Kembali


__ADS_3

Selamat Membaca..


Kamu mau sembunyi di mana


Aku bisa mengendus baumu


Jangan pernah lari dariku


Karena kita telah berjanji


Biar matahari bohong pada siang


Pura-pura tak mau panas


Tak perlu menyiksa diri sendiri


Sembunyikan cinta yang ada


Aku tak perlu bahasa apapun


Untuk mengungkap aku cinta Kamu


Aku tak pernah beristirahat untuk mencinta Kamu


Sesuai janjiku, promise


Seribu wajah goda aku


Yang kuingat hanya wajah Kamu


Janjiku tak pernah main


Sekali Kamu tetap Kamu


Aku tak perlu bahasa apapun


Untuk mengungkap aku cinta Kamu


Aku tak pernah beristirahat untuk mencintai Kamu sesuai janjiku.

__ADS_1


Amairah yang berjalan ingin ke arah kamarnya Aisyah, berpapasan dengan martin yang ternyata terbangun dari tidurnya dan mencari keberadaan Istrinya setelah menyadari jika Amairah tidak berada di sampingnya lagi.


Amairahsama langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat dan menumpahkan seluruh kebahagiaan di dalam pelukan Martin. Martin heran dengan sikap istrinya sendiri yang tanpa aba-aba langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya. Martin membiarkan Amairah mengeluarkan semua beban dan kesedihannya. Martin tidak ingin mengganggu ataupun melayangkan berbagai macam pertanyaan.


Martin hanya berharap semoga dengan memeluk tubuhnya mampu membuat Amairah bahagia dan lega. Tubuh Amairah bergetar hebat disela tangisannya. Amairah semakin memeluk erat tubuh suaminya dan mengeluarkan semua bebannya melalui tangisannya.


Beberapa saat kemudian, setelah dirasakan tangisan merah mereda martin melepas pelukannya lalu menangkap dagu istrinya dan menatap ke dalam bola mata merah dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus apa yang terjadi sayang kamu baik-baik saja kan tanya martin lalu menantikan bibir merah merona seperti gua delima itu terbuka lebar dan mengucapkan sesuatu kata bukannya perkataan yang terlontar dari bibir merah meronanya malahan Amairah saking bahagianya refleks mencium bibir Martin.


Hal tersebut membuat mata Martin melotot percaya dengan tindakan absurd tiba-tiba yang dilakukan oleh Amairah. Tindakan yang menurutnya sangat berani untuk melakukan kegiatan tersebut di luar kamarnya. Martin yang tahu persis sifat Amairah, jika berhubungan atau membahas sesuatu yang lebih intim yang sifatnya rahasia di hadapan orang lain pasti akan marah dan risih. Walaupun lorong antara kamarnya itu jarang ada yang melewatinya, jika mereka tidak diperintahkan langsung .


Martin membalas ciuman dari Amairah dengan memainkan lidahnya dan mengecap lebih dalam area rongga mulutnya. Martin seakan-akan ingin mengabsen seluruh gigi dan bagian-bagian mulutnya Amairah.


Martin semakin menautkan bibir merah merona bagaikan buah delima itu. Martin memiringkan sedikit kepalanya agar lebih leluasa dan memegang leher jenjang nan putih milik Amairah.


Hingga pasokan oksigen yang masuk ke dalam rongga mulut mereka semakin menipis dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri ciuman mereka. Martin menghapus saliva yang tersisa di pinggir bibirnya Amairah. Lalu Martin sigap dan menggendong tubuh istrinya dengan ala bridal style.


Amairah mengalungkan ke dua tangannya ke leher Martin dan sedari tadi selalu tersenyum menatap ke arah suaminya. Anak buahnya yang berjejer di sepanjang jalan yang mereka lalui refleks menundukkan kepalanya dan tidak ada yang menatap ke arah mereka. Sudah seperti itu jika tuan mereka melakukan hal-hal yang berbau hubungan suami istri mereka akan bertindak seperti itu.


Martin membuka pintunya mengunakan kaki panjangnya, pintunya pun terbuka lebar dan masuklah mereka, lalu menutup kembali pintu itu dengan kakinya kembali.


"Sayang turunkan aku yah, sepertinya berat Aku semakin bertambah, kasihan sama Kamu jauh loh gendong aku apa lagi tadi kita naik tangga," ucap Amairah yang merasa kasihan karena melihat peluh keringat sudah berkilauan diterpa cahaya lampu.


Martin hanya menciumi sekilas bibir Amairah agar diam dan tidak perlu mengkhawatirkan keadaannya.


Martin merebahkan tubuhnya Amairah di atas ranjang king size-nya. Warna gorden dengan seprei ranjangnya serasi dengan warna cat tembok kamar tersebut yang nantinya akan kembali menjadi saksi bisu penyatuan mereka.


Martin mematikan lampu kamarnya dan mengganti untuk menyalakan lampu tidur yang lebih redup dan remang-remang. Martin merangkak naik ke atas ranjang dan mulai menciumi rambut hingga ke kening lalu berpindah ke hidung mancung nan bangir sesekali menjilati hidungnya yang membuat Amairah kegelian.


"Aahh Mas geli."


Martin pun memindahkan ciuman ke area leher jenjang putih mulusnya. Martin membuka seluruh kancing pakaian yang terpasang indah di seluruh baju Amairah. Perlahan tapi pasti hingga pakaian yang membungkus tadi tubuh seksi Amairah sudah dilempar oleh Martin ke sembarang arah.


Tubuh seksi, mulus dengan body yang seperti gitar Spanyol itu selalu membuatnya kelimpungan dan hilang kendali hingga tanpa aba-aba menghisap puncak mount Everest milik Amairah dengan penuh nafsu dan rakusnya. Martin seakan-akan sedang memuaskan dahaganya yang kehausan setelah melihat gunung kembarnya sang istri.


Lenguhan panjang terus tercipta dan terlontar dari bibirnya Amairah. Ada getaran aneh yang muncul dari dalam dirinya yang meminta lebih untuk segera dipuaskan. Penerangan yang remang-remang semakin membuat syahdu suasana di antara mereka.


Martin mengetahui kalau istrinya sudah menginginkan lebih dari sekedar jilatan dan hisapan semata saja. Martin semakin memainkan dan memelintir puncak mount Everest tersebut hingga dirinya tidak sanggup untuk menahan lagi hasratnya yang tertahan itu.


"Mas kok lama banget?" ucapnya yang sesekali menggigit bibir bawahnya perlahan untuk mengurangi rasa yang muncul dari dalam dirinya yang paling terdalam dan ingin segera dituntaskan.

__ADS_1


"Sabar sayang," ucapnya yang kepalanya timbul tenggelam di daerah paling sensitifnya Amairah tepat di hadapan segitiga bermuda.


Amairah tidak tahan dan sanggup lagi untuk menahannya begitu pun yang dirasakan oleh Martin. Martin berhenti sejenak untuk membuka pakaiannya yang membalut tubuh kekar yang berotot seperti roti sobek yang siap disantap.


Amairah mempermainkan daerah roti kotak-kotak itu dengan jari lentiknya yang membuat Martin menggebu-gebu sesaat dan tidak tahan jika Amairah berhenti di daerah itu.


"Tubuh Mas semakin hari semakin seksi saja, Amai tidak bisa jika dalam sehari saja tidak menyentuhnya," Amairah yang sekarang berada di atas tubuhnya Martin yang berinisiatif untuk memulai permainan yang sedari tadi Amairah tunggu, tapi Martin belum ingin melakukan dan memenuhi keinginan dari istrinya yang sudah berkabut gairah.


"Aku sengaja membentuknya untuk menyenangkan hatimu sayang," tutur Martin yang tidak tahan dengan sentuhan dari jari jemari halus Amairah yang mempermainkan dadanya tersebut.


Mereka saling bergantian untuk saling menyalurkan hasrat mereka satu sama lainnya. Hingga Martin yang tak kuasa lagi menahannya dan membalik tubuh Amairah sehingga Martin yang sekarang memimpin jalannya permainan mereka.


"Tubuh Kamu pun setiap harinya membuat Mas bahagia dan selalu ingin melahapnya hingga habis tak tersisa," bola matanya yang berbinar memancarkan kilatan kabut gairah yang sudah tidak tertahankan.


Hingga mereka pun mulai melakukan permainan hingga mencapai kenikmatan surga dunia yang tidak terkira secara bersamaan. Martin tumbang di atas tubuh istrinya. Nafas mereka ngos-ngosan saling memburu.


Amairah meraih tissue yang ada di sampingnya tepat di atas meja nakas ranjangnya. Kemudian membantu Martin untuk dan mengeringkan seluruh peluh keringat yang bercucuran membasahi seluruh tubuh keduanya.


Martin menciumi kening istrinya lalu berkata,"Kamu selalu bisa membuatku bahagia dan sudah mampu untuk mengimbangi permainanku sayang."


Amairah membersihkan seluruh tubuhnya Martin,sisa dari penyatuan mereka hingga bersih, begitu pun sebaliknya yang dilakukan oleh Martin. Martin lalu menggendong Istrinya masuk ke dalam kamar mandi dan mendudukkan tubuhnya Amairah ke dalam bathtub yang masih kosong belum terisi air hangat. Martin menuang sabun aromaterapi yang mampu membuat mereka tenang dan rileks.


"Sayang besok sore kita balik ke Indonesia bersama dengan ke dua anak kembar kita," tutur Amairah sudah mengolesi seluruh dengan sabun. Martin menatap tidak percaya ke arahnya.


"Serius?" tanya Martin ingin memastikan bahwa perkataan dari Amairah bukan sekedar isapan jempol saja.


Amairah menganggukkan kepalanya tersenyum manis.


"Alhamdulillah akhirnya kita akan balik ke tanah dan akan berkumpul dengan keluarga lagi seperti dahulu," jelas Martin.


Martin memeluk tubuh istrinya," Makasih Istriku."


Yang penasaran dengan kisah hidup dan perjalanan mereka mengarungi bahtera rumah tangganya, yuk pantengin terus saja Updatednya.


Makasih banyak atas dukungannya terhadap CYT 🥰🥰


Tetap Dukung Cinta Yang Tulus dengan cara: Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Gift Poin/Koinnya juga dong kakak Readers dan Favoritkan 🙏


...********Bersambung********...

__ADS_1


by Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, Takalar SulSel, Kamis, 09 Juni 2022


__ADS_2