
Selamat Membaca..
Dion dan Maya sudah berangkat menuju kediaman Nenek Masitha. Mereka sama-sama tidak mengetahui apa maksud dari pemanggilan mereka.
Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi sudah berhasil lolos dari panjang dan padatnya kemacetan lalu lintas tersebut.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka hampir bersamaan masuk ke dalam garasi rumah Nenek Masitha hanya selisih beberapa menit saja.
Dion yang melihat mobil baru saja masuk ke area rumah megah tersebut segera menghampiri calon istrinya.
"Assalamu alaikum bebs,"ucapnya lalu mengalungkan tangannya ke tangan Maya.
"Waalaikum salam," balasnya diiringi dengan senyuman khasnya Maya.
Mereka berjalan masuk bergandengan tangan hingga suara bariton berhasil menginterupsinya yang membuat Maya refleks melepaskan pegangan tangannya di dalam genggaman Dion lalu tersenyum malu.
"Asyiknya bergandengan tangan yah," ucap Martin yang berjalan menuruni undakan tangga dengan langkah yang cukup lebar.
"Mas Martin," ucap Maya lalu berjalan ke arah Martin ingin menggendong tubuh kecil Delisha.
"Aunty cantik," teriak Baby Del saat melihat Maya langsung berlarian ke arah Maya.
Sedangkan Dennis masih setia memegang tangan Daddy-nya. Denis menatap ke arah adik kembarnya itu dengan wajah keheranan.
"Gimana kabarnya Princessnya Aunty?" tanya Maya saat tubuh kecil Delisha sudah dalam gendongannya.
"Alhamdulillah Delisha baik kok Aunty, oiya Aunty kapan Aunty akan menikah dengan uncle Dion?" tanya Del di hadapan Maya dengan wajah penasaran nan imutnya.
Maya tersenyum manis dan menarik hidung mancungnya Delisha.
"iiihh gemes deh, masih kecil juga sudah kepo dengan urusannya Aunty," ujar Maya yang tersenyum dengan tingkah Delisha yang menurutnya lucu.
"Kan katanya orang gitu, kalau Daddy sudah bertemu dengan Mommy Amai, Aunty akan menikah," ucapnya yang mengerkingkan ke dua mata indahnya.
Maya hanya tertawa terbahak-bahak saja dengan menanggapi perkataan dari Delisha.
"Nenek di mana Bang?" tanya Dion yang tidak melihat keberadaan Nenek Masitha yang sudah celingak-celinguk ke sana kemari.
"Nenek ada di dalam ruangan kerjanya bersama Bryan sedari habis shalat isya mereka gak keluar-keluar dari sana," jawabnya yang sudah berdiri diantara Dion dan Maya.
"Kami ke sana dulu," ujar Dion.
"Princess sama Daddy-nya dulu yah Aunty mau ikut Uncle," ucapnya lalu mengelus kepala Dennis yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang dewasa yang ada di hadapannya.
"Oke," ucap singkat Martin.
Mereka pun berjalan naik ke atas lantai dua di mana letak ruangan khusus milik neneknya sedangkan Martin berjalan ke arah Kamar anak kembarnya. Mereka sudah ingin tidur, tapi harus ditemani oleh Daddy mereka.
__ADS_1
"Mas apa kira-kira yah tujuan Nenek memanggil kita ke sini? kok Aku merasa cemas," jelasnya Maya yang nampak di raut wajahnya kekhwatiran itu.
"Mas pun tidak tahu dan tidak mengerti dengan alasan Nenek, tapi menurutku kita tidak perlu khawatir dengan semua ini," jawab Dion yang berusaha meyakinkan kepada Maya untuk tidak terlalu berlebihan.
Maya mendorong kuat pintu itu setelah berada di depan kamar pribadi milik neneknya. Orang yang berada di dalam sedangkan penghuninya tersenyum ke arah Dion dan Maya lalu menyambut kedatangan mereka dengan senyuman teduhnya yang terpancar di wajahnya yang mulai muncul keriput garis halus.
"Assalamualaikum Nek," ucap mereka barengan.
Mereka satu persatu mencium punggung tangannya Nenek Masitha.
"Kita masuk, sedari tadi nenek sudah menunggu kedatangan kalian," ucapnya yang menuntun mereka hingga berdiri di samping Bryan Regan Adams.
"Maafkan Kami yang terpaksa harus datang terlambat, maklum kami terjebak kemacetan yah tahulah Nek gimana kemacetan ibu Kota setiap harinya," tutur Maya.
Mereka duduk di kursi Dion dan Maya saling bertatapan setelah melihat jika di dalam ruangan itu Nenek Masitha ternyata tidak seorang diri saja, tetapi ditemani oleh Bryan yang sedari tadi tidak menatap mereka karena pandangan matanya selalu fokus dan tertuju pada laptopnya saja.
"Maafkan nenek yang telah mengganggu istirahat kalian dan meminta harus datang kemari," ucap sesal Nenek Masitha.
Maya memegang tangan renta Nenek Masitha lalu berkata,"tidak apa-apa kok Nek, Kami akan selalu siap kapan pun jika dibutuhkan."
Nenek Masitha pun tersenyum lalu menimpali perkataan dari Maya," Alhamdulillah Nenek sangat bahagia mendengar perkataan kalian."
Nenek Masitha yang bahagia karena ke dua cucu keponakannya mengerti dengan kondisinya saat itu.
"Jadi Kami dipanggil ke sini untuk apa Nek? sepertinya ada yang penting," ucap Dion lalu memperhatikan raut wajah nenek Masitha.
Perkataan itu membuat Maya dan Dion saling bertatapan satu sama lain. Mereka tidak menyangka jika hal itu yang menyebabkan mereka dipanggil malam-malam begini ke rumah itu.
"Nenek mau bertanya, di mana kalian mengenal Ibu Sumartini?" tanya Nenek Masitha yang menatap ke arah mereka satu persatu.
Maya dan Dion kembali saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Neneknya.
"Maya yang pertama kali bertemu dengan Ibu Sumartini Nek, awalnya Kami tidak sengaja bertemu di Sekitar Terminal yang ada di Semarang, waktu itu Maya menghentikan mobil karena ingin masuk ke dalam salah satu supermarket IndoApril kebetulan air putih mineral Maya sudah habis, tapi belum sempat masuk Maya Mendengar suara tangisan anak kecil, ternyata baru saja Emaknya Alif barang-barangnya dicuri oleh beberapa komplotan penjambret,"ucapnya.
Maya pun menjelaskan panjang lebar awal pertemuan mereka hingga Maya memutuskan untuk menjemput dan memperkejakan Ibu Sumartini di Apartemennya. Wajah keriput Nenek Masitha nampak sangat serius memperhatikan dan mendengarkan penjelasan secara seksama dari mulut Maya.
"Bryan segera lakukan pencarian di sekitar tempat yang dikatakan oleh Maya, hingga telusuri semua daerah yang memungkinkan untuk mereka datangi," titah Nenek Masitha.
"Baik Nek," ucap Bryan yang diserahi lagi tugas baru.
Bryan segera mengutak-atik komputernya hingga wajahnya sangat serius.
"Apa kalian memiliki fotonya Alif dan ibunya?" tanya Bryan yang tidak mengalihkan perhatiannya dari layar komputernya.
Maya segera mengambil hpnya lalu membuka galeri foto yang berisi tentang Foto Ibu Sumartini dan Alif Faturahman.
Bryan tersenyum setelah berhasil menemukan sedikit titik terang tentang informasi identitas asli yang sebenarnya tentang Ibu Sumartini.
__ADS_1
"Nenek apa tidak merasakan hal yang sama seperti yang Maya rasakan jika berdekatan dengan Alif?" tanya Maya yang ingin mengetahui reaksi dan tanggapan dari nenek Masitha.
Nenek Masitha sekilas menatap wajahnya Maya seusai berkata seperti itu.
"Nenek pasti merasakan hal yang sama dengan apa yang Kami rasakan, Dion yakin itu dan yang paling mengejutkan adalah sifat dan tingkah lakunya Alif sama persis dengan Axel," terangnya.
Nenek Masitha melirik ke arah Dion setelah berkata seperti itu.
"Iya Nek, apa yang dikatakan Mas Dion benar adanya, kemarin pagi saat Kami sedang sarapan Mas Dion makan sambil berbincang denganku, tiba-tiba Alif berteriak dan marah kepada Kami katanya dia tidak menyukai jika disaat orang makan ada yang bercakap-cakap, dan itu sama halnya dengan sikap Axel, Saya pernah melihatnya saat di Bandung di rumah kontrakannya Mbak Amairah," terang Maya panjang lebar.
"Nenek pun pernah melihat Axel seperti itu, dan katanya Pak Heri itu turunan dari sifatnya Kakeknya Amairah Tuan Besar Mark Horne Atmadja, Saya yang akrab dengan istirnya tidak pernah mengetahui hal tersebut," jelas Nenek Masitha.
Mereka saling berpandangan dan sama-sama sudah bisa mengambil kesimpulan dan sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing hingga buyar dengan suara dari Bryan yang menggangu mereka.
"Yes.."
Bryan berdiri dari posisi duduknya setelah dua jam bergulat dengan Komputernya setelah diperintahkan khusus oleh Nenek Masitha untuk mencari informasi tentang Emaknya Alif.
Jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg lainnya dengan judul:
...1. Sang Penakluk...
...2. Bertahan Dalam Penantian...
...3. Tidak ada Jodoh yang Tertukar...
Syukur Alhamdulillah FANIA sangat bersyukur karena masih ada yang membaca karya recehanku 🙏.
Makasih banyak Fania ucapkan kepada semua all Kakak Readers yang masih setia memberikan dukungannya kepada Cinta Yang Tulus 🥰.
Tetap Dukung CYT dengan cara:
...Like Setiap Episodenya 👍...
...GIFT Poin atau Koin 🎁...
...Favoritkan ♥️...
...Rate bintang lima ⭐⭐⭐⭐...
...Vote jika masih punya stoknya 👌...
...********Bersambung********...
by Fania Mikaila AzZahrah
Takalar, Sulawesi Selatan, Rabu, 15 Juni 2022
__ADS_1