
Selamat Membaca..
Abimanyu hanya menatap kepergian Delisha dalam diamnya. Hingga dia melihat ada benda berkilauan yang terjatuh tidak jauh dari Mejanya.
Dia bergegas melangkah untuk memungut benda itu. Baru saja ingin berteriak memanggil Delisha, tapi Delisha sudah jauh melangkah meninggalkan area Restoran itu.
Dia mengangkat gelang itu hingga ke depan matanya lalu menatap tak percaya.
Abimanyu segera berlari ke arah pintu keluar untuk segera mengejar Delisha. Ada hal penting yang ingin ditanyakan oleh Abi.
"Alex tolong bayar bill di Resto," dia lalu mematikan sambungan teleponnya lalu segera menyalakan mesin mobilnya.
Dia melihat mobil yang dipakai Delisha berhenti pas di bawah lampu merah. Dia pun semakin menambah kecepatan mobilnya ke arah mobil Delisha tapi baru beberapa meter, lampu hijau menyala membuat usahanya kembali sia-sia.
Dia memukul setir mobilnya dengan kuat karena telah kehilangan jejak dari Delisha. Dia tidak mungkin datang berkunjung ke rumahnya Delisha, tanpa ada niat dan tujuan yang jelas. Dan untuk saat ini, dia belum punya alasan yang tepat untuk bertandang ke rumahnya Tuan Martin calon Ayah mertuanya.
Delisha masuk ke dalam rumahnya lalu berjalan ke arah kamar putranya. Dia merindukan sosok putranya itu. Dia perlahan membuka pintu kamar itu, dan ternyata Lee sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka kesayangannya.
Dia pun berjalan dengan langkah kaki yang pelan, dia tidak ingin jika gara-gara langkahnya sehingga mengusik tidur putra semata wayangnya.
"Maafkan Mami sayang, pertanyaan yang kemarin Mami belum bisa jawab, karena Mami pun tidak tahu jawabannya."
Dia mengelus surau puteranya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Air matanya menetes membasahi pipinya.
"Maafkan Mami sayang," ucapnya yang sudah tergugu menahan tangisnya.
Dia berjalan ke arah balkon kamar anaknya. Dia menatap ke arah langit dan melihat banyaknya bintang-bintang dan bulan yang bersinar terang menerangi seluruh alam semesta malam itu.
Dia kembali teringat 9 tahun lalu saat dirinya dijebak oleh seseorang yang ternyata sahabatnya sendiri. Dia sudah tidak dendam ataupun marah. Memaafkan adalah hal yang paling tepat dia lakukan.
Yang dia sesali hanya lah hingga detik ini belum mengetahui siapa Ayah biologis putranya. Air matanya semakin menetes hingga sesegukan, suaranya sudah serak-serak basah.
Kadang putranya bertanya tentang Papinya dan dia selalu mengelak dan mengalihkan pembicaraan agar Putranya tidak mengetahui yang sebenarnya, jika dia terlahir tanpa seorang Ayah.
"Ya Allah ijinkan aku untuk bertemu dengan Papi dari Lee, aku tidak sanggup melihat kesedihan di wajahnya anakku, aku memang salah tapi kesalahanku itu tolong jangan dilimpahkan pada nasib putraku."
Perkataan itu terdengar hingga ke depan pintu. Mommynya mendengar keluh kesahnya. Amairah ikut menangis tersedu-sedu mendengar kesedihan sekaligus kegelisahan putri tunggalnya.
"Mommy dan Kakek Kamu sudah berusaha mencari pria itu, tapi hingga detik ini Moms dan Kakek belum berhasil juga, tapi Mommy janji akan terus berusaha untuk melakukan apa pun untuk mengetahui hal tersebut."
__ADS_1
Pintu itu tertutup rapat dengan perlahan. Lee tidur sangat nyenyak sehingga tidak merasakan kehadiran mereka.
Beberapa hari kemudian, Abi masih berusaha untuk bertemu dengan Delisha tapi usahanya kembali gagal. Hari ini,dia akan menemui Delisha langsung ke Perusahaannya. Dia yakin dan berharap agar apa yang dilakukan olehnya kali ini berhasil.
Lee berjalan ke arah resepsionis lalu bertanya kepada resepsionis tersebut. Dia membuka kaca matanya yang membuat ke dua resepsionis itu terpukau dengan penampilan dan wajah dari Abimanyu. Dengan hidung mancung,rahang bawah yang tegas,ke dua alis tebal, bibir yang merah dan seksi, kulit putih bersih.
Abimanyu hanya tersenyum tipis melihat dua perempuan tersebut yang berdiri mematung seperti patung Pancoran saja.
"Pasti tubuhnya sangat seksi, hanya memakai jas stelan kerja saja sudah nampak keseksiannya apa lagi kalau sudah buka baju."
Hingga Abimanyu menjentikkan jarinya ke hadapan mereka. Apa yang dilakukan oleh Abi berhasil. Mereka tersadar dari lamunannya yang sudah berfantasi liar.
"Heeemmmm!!"
"Eeehhh Maaf Tuan ada yang bisa Kami bantu?" tanyanya yang tersenyum malu karena ketahuan sedang menghayal.
"Saya ingin bertemu dengan CEO kalian Nona Delisha Annira Elshanun Lee," jawabnya.
"Maaf Tuan Anda terlambat beberapa menit, baru saja CEO Kami berangkat," balasnya.
"Kalau boleh tahu beliau pergi ke mana?" tanyanya lagi.
"Makasih banyak atas infonya."
Dia kemudian memakai kaca mata hitamnya lalu berlari kecil ke arah mobilnya berada.
"Aku harus segera menyusulnya, kali ini aku tidak boleh gagal, baru kali ini aku ingin bertemu dengan seseorang selalu saja gagal, bahkan presiden Inggris dan Korea Selatan saja tidak sesulit ini."
Abimanyu segera menambah kecepatan mobilnya. Dia sering berfikir apa Delisha adalah perempuan yang selama ini dia cari atau bukan. Dia sudah memerintahkan kepada anak buah terbaiknya, tapi sedikit pun tidak ada tanda-tanda tentang hubungan Delisha dengan orang yang dia cari sejak lama.
"Nona apa kita langsung ke Inggris atau ke New York dulu?" tanya Aisyah Akyurek.
"Kita ke New York dulu lalu setelah itu Kita ke UK," jawabnya.
Aisyah segera menghubungi Pilot yang akan mengantar mereka karena adanya perubahan jadwal kunjungan mereka.
"Lee Mami akan ke luar negeri, Kamu tidak apa-apa kan sama Mama di sini?" tanya Delisha yang akan mengantar putranya terlebih dahulu.
"Lee kan sudah besar Mi, bukan anak kecil lagi, Mami kalau pergi saja Mi yang penting Mami nanti pulang dengan selamat," ujarnya lalu menciumi pipi kanan Maminya.
__ADS_1
"Mommy loves you so much Lee," Delisha memeluk tubuh putranya dari samping.
"Lee also really loves Mami with all of Lee's body and soul," Lee membalas pelukan maminya.
Pintu mobil itu terbuka lebar dan turunlah Lee dari dalam mobilnya. Lee mencium punggung tangan Maminya dengan penuh kasih sayang.
"Assalamu alaikum," ucapnya lalu berlari ke dalam halaman Sekolahnya.
"Waalaikum salam, jangan nakal yah!" teriak Delisha.
"Jalan Pak," perintah Aisyah kepada supir pribadinya.
Mobilnya perlahan sudah meninggalkan jalan depan sekolah internasional milik keluarganya. Delisha sangat bahagia karena putranya sangat pengertian dan tidak banyak menuntut kepada Maminya.
Air matanya kembali menetes melihat putranya yang tertawa riang gembira berlari ke arah kelasnya.
"Dia sudah besar tapi hingga detik ini pencarian Kita belum berhasil Aisyah, entah apa Papinya masih hidup atau sudah...." ucapannya terpotong karena tidak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.
"Nona bersabarlah sedikit lagi, karena feeling Aisyah tidak lama lagi kita akan bertemu dengannya."
"Amin ya rabbal alamin."
Aisyah pun bersedih dan pernah sekali Lee bertanya kepadanya tentang Papinya. Dia terpaksa berbohong dan mengatakan kalau bulan ini Papinya akan datang menemuinya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa, karena sudah sekian kali Lee bertanya seperti itu padanya.
Mobilnya semakin melaju dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera ke Bandara. Dia tidak ingin kembali kehilangan jejaknya Delisha pemilik gelang yang sekarang dipakainya.
Lee baru menyadari jika kotak bekalnya tertinggal di dalam mobil maminya. Dia berlari ke arah luar berharap mobil Maminya belum jauh. Hingga dia berlari secepatnya agar tidak terlambat.
Mobilnya tiba-tiba harus berhenti karena hampir saja dia menabrak seseorang.
"Aaaahhhhh Mami!!!"
...********To Be Continue********...
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Selasa, 05 Juli 2022
__ADS_1