
Selamat Membaca..
Ketakutan yang tiba-tiba dirasakan oleh Alif membuat Maya seketika itu terkejut melihat reaksi Alif yang menurutnya aneh. Hanya karena Maya yang meminta Alif untuk tidur di kamarnya sendiri hingga tubuh Alif bergetar hebat, peluh keringat bercucuran membasahi pipi dan seluruh tubuhnya.
Alif nampak ketakutan dan bersembunyi dibalik tubuh Emaknya. Maya yang melihat hal itu tersentak kaget.
"Ya Allah apa yang terjadi padamu dek?" ucap Maya lalu membungkukkan tubuhnya di hadapan Alif agar terlihat lebih sejajar dengan tinggi Alif.
"Maaf Mbak Alif emang seperti ini jika dirinya diminta untuk tidur atau berada di dalam ruangan seorang diri," jelas Emaknya Alif.
"Kalau emang seperti itu, baiklah Alif tidak perlu tidur sendirian, Alif tidurnya sama Emak saja, bagaimana Alif?" tanya Maya yang sangat khawatir dengan kondisi Alif yang memungkinkannya trauma terhadap ruangan kosong dan dia berada sendirian di dalam ruangan itu.
"Ya Allah maafkan aku yang tidak bisa berkata jujur di hadapan Mbak Maya, aku takut jika aku jujur apa yang terjadi pada Alif selama ini akan berakibat buruk, Alif akan meninggalkanku, cukuplah aku saja yang tahu hal itu."
Kekhwatiran itu sangat nampak terukir jelas di wajah ibu Sumartini. Tapi, segala upaya Ibu Sumartini berusaha untuk menutupi kegundahan dan kegelisahan hatinya.
"Alif tidak perlu takut lagi, karena Alif akan tidur bareng Emak, iya kan Emak?" tanya Maya yang menatap ke arah ibu Sumartini.
"I-ya Nak, benar apa yang dikatakan Mbak Maya, kalau Alif tidak akan tidur sendirian, tapi Alif akan tidur bareng sama Emak jadi Alif tenang dan tidak perlu takut lagi," ucap Ibu Sumartini yang memenangkan Alif dengan memegang ke dua lengannya Alif.
Alif pun langsung memeluk tubuh Emaknya itu dan berangsur-angsur terdiam dan tidak seperti sebelumnya yang keadaannya sangat mengkhawatirkan.
"Kenapa perasaanku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibu Sumartini dengan kondisi Alif, tapi apa?"
"Semoga saja Mbak Maya tidak curiga dan tidak banyak tanya lagi tentang kondisi Alif."
"Kalau begitu Alif Mbak antar ke dalam kamarnya supaya Alif bisa istirahat," ucap Maya.
Mereka pun masuk ke dalam kamar yang telah disediakan oleh Maya khusus untuk mereka. Ibu Sumartini bisa beristirahat dengan tenang karena hari ini ia dilarang
Sedangkan di dalam kediaman Nenek Masitha, tawa gembira sejak Baby Del dinyatakan akan ikut bersama dengan Daddy-nya ke Korea Selatan. Delisha Annira Elshanum putri kecil dari Martin Al-ayyubi Muhammad Lee.
Mereka berangkat ke Bandara dan akan terbang ke Korsel dengan memakai pesawat pribadinya. Martin tidak ingin ke bersamaannya dengan tuan putrinya harus terganggu dengan penumpang lainnya.
Baby Del sudah duduk dengan manis di kursinya, sedangkan Martin kembali membuka beberapa berkas yang harus dia periksa dengan teliti yang nantinya akan dia berikan pada Perusahaan yang berencana ingin menanamkan modalnya di Perusahaannya.
Baru beberapa menit pesawat tersebut meninggalkan Bandara internasional Soekarno Hatta, Delisha sudah tertidur pulas di Kursinya yang dibuat khusus untuk dirinya seorang. Dengan memakai baju serba pink kesukaannya dengan jaket yang cukup tebal membungkus tubuhnya.
"Amairah sudah tiga tahun engkau pergi dariku, apa sedikit pun tidak ada rasa rindumu padaku dan kepada putri kecil kita, bukan waktu yang singkat dan aku terpaksa menjalani hari-hariku tanpa kamu disisiku."
Martin memegang ballpointnya lalu menatap ke arah luar jendela pesawat.
__ADS_1
Sedangkan Dion sudah mengikuti jejak Delisha yang tertidur lelap di kamarnya sendiri.
"Semoga mimpi Delisha jadi kenyataan dan Kami bisa bertemu dengan Amairah segera."
Harapan itu selalu ada di dalam hatinya, Martin sangat yakin jika suatu saat nanti Dia akan bertemu kembali dengan Amairah.
Martin mengistirahatkan tubuhnya dan ikut terlelap bersama dengan putri kecilnya. Martin memperbaiki letak posisi selimut putrinya sebelum menutup matanya menuju alam mimpinya.
Hingga beberapa jam kemudian, Pesawat mereka sudah mendarat dengan sempurna di Bandara internasional Incheon Airport Seoul, Korea Selatan.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Korea Selatan, semoga kerja sama kita kali ini berhasil sukses dan berjalan lancar sesuai yang diharapkan," ucap Martin dengan mengecilkan sedikit nada suaranya karena tidak ingin mengganggu tidur putrinya.
"Amin semoga saja, Apa baby Del sudah bangun?" tanya Dion mencari keberadaan Delisha di samping bosnya sekaligus suami dari Kakak sepupunya itu.
"Delisha masih tertidur, Aku akan gendong saja dari pada harus nunggu hingga dia terbangun dari tidurnya, pastinya kita harus menunggunya lebih lama lagi," tuturnya yang menatap lekat ke arah putrinya yang semakin besar wajahnya semakin mirip dengan Amairah istrinya itu.
Martin ingin digantikan oleh bodyguardnya untuk menggendong Baby Del, tapi Martin menolak keinginan baik anak buahnya itu.
Sore hari mereka sampai di Seoul sehingga Martin memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya, apa lagi cuaca yang cukup dingin. Martin disambut dengan guyuran hujan salju, sehingga membuat Martin malas untuk berkeliling Kota Seoul.
Martin menidurkan tubuh putri kecilnya di atas ranjangnya. Martin sebuah membeli satu unit apartemen yang cukup mewah di tengah-tengah Kota Seoul. Martin tidak ingin setiap kali berkunjung ke Korea harus repot-repot untuk menyewa Hotel sedangkan dalam sebulan dirinya pastinya menginjakkan kakinya di sana.
"Assalamu alaikum Nona Muda, Pesawat kita sudah mendarat di Bandara Incheon," ucap Aisyah Akyurek.
"Semoga pencarianku kali ini berhasil, tidak boleh gagal lagi."
Rose Amalia Horne berjalan menuruni tangga pesawat dengan perasaan yang optimis. Korea Selatan menjadi negara yang kesekian kalinya di kunjungi oleh Amairah hanya untuk mencari keberadaan putra sulungnya yang sudah tiga tahun menghilang.
Segala cara dan upaya pun telah dilakukan oleh Amairah dan Kakeknya, tapi kenyataannya sama sekali tidak membuahkan hasil apa pun, bahkan kabar yang mereka dapatkan simpan siur.
Ke esokan harinya, rumah yang awalnya nampak sepi dan terkesan tentram dan damai harus terusik oleh suara cempreng Delisha di pagi hari itu memenuhi seisi rumah.
"Daddy!! Delisha pengen ke Mall sekarang juga, bukan besok!" teriak Delisha yang menolak permintaan Martin.
Suara Baby Del memenuhi seisi kamarnya, Delisha ingin ke Mall, tapi Martin tidak mengijinkannya dan memberikan alasan kalau besok saja berangkatnya.
"Amairah andai kamu berada di samping Mas pasti hal ini tidak akan terjadi, Delisha pasti akan menurut dan akan mendengar semua perkataan kamu, hanya kamu lah yang bisa melembutkan hatinya putri kita."
Boneka yang awalnya tertata rapi di atas ranjang dan lemari sudah teronggok di atas lantai kamarnya yang bernuansa pink itu. Martin hanya menggelengkan kepalanya melihat ulah dan perbuatannya Delisha.
__ADS_1
"Sayang dengerin Daddy, bukannya Daddy tidak mau bawa Delisha ke Mall, tapi kita berangkatnya besok saja yah, lihat ke jendela sayang sedang turun hujan salju, jadi berangkatnya besok saja yah," ucap Martin yang memberikan pengertian kepada putrinya.
Martin duduk di samping putrinya yang sedang merajuk karena keinginannya tidak dipenuhi. Tapi Delisha tetap ngotot dan tidak ingin mendengar alasan apa pun yang dilontarkan oleh Daddy-nya itu.
Baby Del langsung berdiri dari duduknya. Dan mengjauh dari jangkauan Martin.
"No.. No.. Delisha tidak mau besok tapi, sekarang, kalau Daddy tidak bisa antarin Delisha, Delisha akan pergi sendiri ke Mall," ucap Delisha yang langsung meraih mantel bulunya lalu segera memasang sepatu bootsnya khusus untuk musim dingin.
Martin terdiam dan terpaku di tempatnya, Martin hanya mengelus wajahnya dengan gusar. Seperti itulah kebiasaan Delish jika keinginannya tidak dipenuhi maka dia akan marah-marah merajuk bahkan akan pergi dari rumahnya di bantu oleh duo's Baby sitternya yang tentunya atas pengawasan dan ijin dari Nenek buyutnya.
Tapi yang terjadi pasti sekarang berbeda karena mereka sekarang berada di dalam luar negeri bukan di Jakarta.
"Sayang sini duduk di sampingnya Daddy, Sayang Daddy hari ini tidak bisa. Delisha kan tahu kalau Daddy ke Korea itu karena kerjaan Daddy yang banyak," ucap Martin sambil menepuk pelan ranjang kosong yang ada di dekatnya.
"Tidak mau, apa pun alasannya Delisha harus ke Mall hari ini juga, gak ada tapi-tapian lagi, sebelum Daddy ijinin Delisha ke Mall Delisha akan mogok makan dan mogok bicara segala-galanya mogok apapun itu," teriak Delisha yang beringsut mengjauh dari Daddy-nya.
Martin yang sudah kehabisan akal dan cara akhirnya memutuskan untuk mengijinkan Delisha berangkat ke Mall bersama beberapa bodyguardnya.
"Oke Daddy ijinin Delisha ke Mall, tapi tidak boleh nakal dan harus selalu diawasi sama mereka," ucap Martin sambil menunjuk ke arah pengawalnya yang sedari tadi berdiri menyaksikan perbicangan dan tawar menawar antar Ayah dan anaknya.
Baru lah Delisha bisa tenang dan tersenyum ketika Martin menggolkan keinginannya itu.
"Hore Delisha bisa jalan-jalan dan shopping di Mall, Delisha mau beli boneka yang banyak," ucap Delisha yang berjingkrak-jingkrak di atas ranjangnya.
Delisha pun langsung mencium pipi kanan dan kiri daddy-nya.
"Makasih banyak Daddy-nya Delisha yang cakep," ucap Delisha yang berhasil membujuk dan merayu daddy-nya.
............
Ternyata sudah tanggal 31 saja, tak terasa yah Readers ๐๐.
Fania sangat bersyukur karena masih ada yang mampir untuk baca Novel recehanku ini ๐๐ฅฐ.
Mohon maaf jika cara berbicara Delisha yang tidak cadel seperti bab sebelumnya, ada kendala yang Fania hadapi jika memberikan dialog yang cadel seperti itu untuk Delisha.๐คงโ๏ธ
Semoga suka dengan ceritanya Cinta Yang Tulus โ๏ธ
MAKASIH BANYAK ATAS DUKUNGANNYA TERHADAP CINTA YANG TULUS, DAN TERKHUSUS UNTUK READERS YANG MASIH SETIA UNTUK BACA SETIAP BABNYA ๐๐ฅฐ
...********Bersambung********...
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Selasa, 31 Mei 2022