Cinta Yang Tulus

Cinta Yang Tulus
BAB. 19. Kisah Nadia Jilid 2


__ADS_3

Selamat Membaca..


Amairah belum masuk ke dalam rumahnya, Dia masih duduk di kursi teras rumahnya. Amairah masih memikirkan perkataan Bram yang tidak ingin menerima dan bertanggung jawab terhadap calon anaknya yang dikandung oleh Nadia.


"Ya Allah gimana nanti kalau Axel bertemu dengan ayah biologisnya dan Dia tidak ingin" menerima Axel anakku" monolog Amairah.


Suasana malam itu sungguh terang diterangi oleh Sang Dewi Malam. Paginya kota S diguyur hujan sedangkan malam harinya sinar Sang rembulan menyinari seluruh kota S. Amairah memandang ke langit dan menikmati keindahan Bintang dan bulan. Suara Anjing menggonggong membuat Amairah berdiri dari duduknya dan segera berdiri dan mengunci pintu rumahnya.


Amairah sudah mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur. Tapi entah kenapa malam ini begitu sulit Amairah untuk memejamkan matanya, Amairah sudah memaksa untuk menutup matanya tapi sulit untuk tidur.


Amairah kembali menyingkap gorden Kamarnya. Dan kembali melihat ke langit.


"Ya Allah, Aku tidak ingin lagi menginjakkan kaki ke Ibu kota, Aku takut jika bertemu dengan Adam dan Aku tidak ingin mengenang dan mengingat masa lalu Aku" ucap Amairah.


Karena capek dengan pemikirannya sendiri yang entah jadi kenyataan atau tidak. Hanya othor yang tahu hehehehe.


Keesokan harinya di pagi hari, Amairah baru saja melaksanakan shalat subuh, seperti biasa Amairah akan menyempatkan dirinya untuk membaca ayat suci Al-Qur'an. Suara Amairah yang begitu merdu membuat seisi rumah menjadi adem dan tenang, rumah yang bercat hijau itu.


Pintu rumah Amairah digedor oleh seseorang. Amairah segera melipat perlengkapan shalatnya dan bergegas ke pintu depan karena yang menggedor pintu seakan-akan tidak sabar karena tidak berhenti mengetuk pintu.


Amairah ternganga melihat siapa yang datang. orang tersebut langsung menangis tersedu-sedu dan memeluk tubuh Amairah. Amairah yang diperlakukan seperti itu hanya bisa membalas pelukan dari Nadia.


"Ayok kita masuk gak baik berdiri terus, nanti kakiku karies loh Nad" ucap canda Amairah.


Nadia ternyata yang menggedor-gedor pintu, rumah Amairah di pagi hari.


"Duduk dulu nak, tarik nafas yang dalam-dalam dan minum air putih ini" ucap Amairah yang menyodorkan gelas yang berisi air putih.


Amairah sangat tahu bagaimana rasanya hamil tanpa Ayah dari calon anak yang kita kandung. Apa lagi harus hamil di luar nikah pasti beban dan tanggung jawabnya lebih besar lagi.

__ADS_1


"Ceritakan masalahmu hingga keadaan kamu seperti ini" tutur Amairah.


"Aku tidak bisa begini terus Amai, Aku lebih baik menggugurkan kandungan aku Amai" ucap Nadia yang semakin menangis saja.


Amairah mengerutkan alisnya tanda tak mengerti dengan jalan pikiran Nadia.


"Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik Nad, ingat kamu itu sudah dosa melakukan hubungan ini ditambah dengan membunuh janin yang sama sekali tidak berdosa, apa kamu tidak ingin melihat dia lahir ke dunia Nad?." Jelas Amairah yang memeluk tubuh Nadia yang sudah nampak acak-acakan.


"Bram tidak mungkin bertanggung jawab Amairah, Bram ternyata sudah punya istri" ucap Nadia lagi yang semakin terisak dalam tangisnya.


Amairah kaget mendengar penuturan dari Nadia. Amairah kembali teringat dengan kisah rumah tangganya dulu bersama Adam yang dirinya ternyata orang ke tiga yang masuk ke dalam hubungan mereka.


"Mungkinkah Meeta juga mengalami hal yang sama dengan Nadia?." monolog Amairah.


"Bram ternyata menikahi perempuan itu karena mereka dijodohkan Amai, walau pun kami sudah pacaran sekitar 1 tahun tapi itu tidak ada gunanya Amai karena Bram patuh terhadap perjodohannya, dan bodohnya Aku baru tahu hari ini Amai" terang Nadia.


"Mungkinkah Meeta juga hidupnya seperti Nadia disaat saya menikah dengan Mas Adam, kenapa hal seperti ini terjadi juga di kehidupan sahabatku, apa kah ini salah satu caramu ya Allah untuk menyadarkan aku tentang posisiku dulu sewaktu menikah dengan Mas Adam??." tanya Amairah pada dirinya sendiri.


"Semalam sepulang dari kantor, Aku mencoba untuk mendatangi rumah Bram dan aku tidak menyangka kalau ada perempuan yang nginap di rumah Bram, Aku pun bertanya kepada perempuan itu dan betapa kagetnya aku setelah perempuan itu menyebutkan kalau dirinya adalah istri dari Bram, mereka menikah 1 tahun setelah kami pacaran dan bodohnya aku harus tertipu dengan tipu daya dan rayuan Bram sehingga Aku menyerahkan semuanya kepada Bram" jelas Nadia lagi.


"Tapi apa kamu jujur dihadapan istrinya Bram tentang hubungan kalian dan kehamilanmu?". Tanya Amairah yang bingung menghadapi kisruh permasalahan sahabatnya.


"Tidak Amai, Aku tidak mungkin seberani dan setega itu untuk menghancurkan rumah tangga orang lain walau pun aku juga butuh pertanggungjawaban dari Bram, aku masih punya hati nurani Amai, Aku tidak mau jadi duri dalam rumah tangga mereka, cukuplah aku yang menderita jangan biarkan ada orang lain yang ikut menderita dengan hubungan terlarang kami Amai" jelas Nadia lagi yang sudah menangis histeris.


"Yang sabar yah Nad, kalau boleh jujur Aku bingung permasalahan kalian ini, dan aku sangat tidak menginginkan kamu jadi pelakor Nad, walaupun kondisi kamu yang hamil" ucap Amairah.


"Kalau gitu aku gugurkan saja yah Amai, Aku tidak melihat anakku hidup tanpa seorang Ayah dan pasti aku akan jadi bahan gunjingan dari orang-orang dan semua orang akan mrmbully aku Nad, pasti ke Dua orang tuaku juga akan sedih dan kecewa huuuuhuuu" Ucap Nadia lagi.


"Jangan nekat Nad, jangan kamu lakukan itu, itu tidak baik dan jangan sampai terjadi sesuatu pada kamu jika kamu membunuh calon bayimu" ucap Amairah yang tidak setuju dengan jalan keluar yang dipilih Nadia.

__ADS_1


Baby Axel kemudian datang membawa mainannya dengan gaya super lucunya.


"Mommy.. Mommy.. Axel lapar Mommy" ucap Axel yang langsung berlari ke arah pangkuan Ibunya.


Nadia kaget melihat Axel, dan sekaligus bahagia karena Axel sangat lucu dan menggemaskan membuat Nadia langsung berhenti menangis dan mendekati Axel untuk menggendongnya.


"Sama Aunty yah Nak, mau yah Aunty gendong?." ucap Nadia yang mengulurkan tangannya ke hadapan Axel.


Axel langsung menyambut tangan Nadia. Dan tertawa terbahak-bahak dalam pangkuan Nadia. Nadia berfikir sejenak untuk memilih mempertahankan bayinya atau menggugurkan kandungannya.


"Putramu sungguh lucu Amairah, Aku senang bermain bersama Axel" ucap Nadia yang bermain bersama Axel.


Akankah Nadia menggugurkan janin yang dikandungnya atau kah mempertahankannya...??


Apa kah Bram akan bertanggung jawab terhadap calon bayinya atau kah akan terus menghindar dan menolak hal tersebut???


Kasihan juga dengan nasip Nadia 🤧🤧.


Amairah kembali teringat dengan kisruh rumah tangganya yang hampir sama dengan yang dialami oleh Nadia.


Bersambung..


Typo dalam pengetikan mohon dimaklumi yah 🙏🙏✌️


Makasih banyak atas dukungannya dan yang sudah mampir untuk baca 🙏🥰.


Fania Mikaila Azzahrah


Makassar, 28 Maret 2022

__ADS_1


__ADS_2