
Selamat Membaca..
"Nenek, apa sudah siap pulang?" Tanya Bryan yang grogi dan malu dengan kelakuannya.
"Nenek belum mau pulang dan tidak akan pulang, jika Kamu tidak berterus terang kepada Nenek, siapa cewek itu dan bagimu posisinya cewek itu di dalam hatinya dan hidupmu bagaimana?" Tanya Neneknya yang sudah memegang tangannya Bryan.
Nenek Masitha menunggu Bryan membuka mulutnya untuk berbicara. Yang ada di dalam ruangan itu pun tidak sabar, Apa kah kali ini Bryan akan jujur atau tidak.
Alif dan Emaknya berada di dalam kamarnya karena berganti pakaian. Alif yang ngotot ingin ikut bersama neneknya pulang ke rumahnya. Ibu Nurmala pun akan ikut bersama mereka.
Mereka tidak ingin membiarkan Ibu Nurmala Dewi Sari sendirian di dalam Apartemen mewah itu, walaupun keamanannya cukup terjamin dan termasuk sistem keamanan yang cukup tinggi dan canggih.
Bryan dalam keadaan terdesak, karena rahasia besar yang dia jaga bertahun-tahun akhirnya terbongkar juga. Bryan kelimpungan dan tidak tahu harus menjawab apa. Bohong tidak menyelesaikan masalah, jujur tapi bagaimana caranya untuk menyampaikan semua itu.
"Bryan, Nenek mengerti dengan apa yang Kamu rasakan, tapi apa salahnya untuk berterus terang dan mencoba terbuka, sepertinya kalau Kamu jujur mungkin Arumi akan mempertimbangkannya."
Neneknya memegang tangannya Bryan, dengan penuh rasa sayang dan kelembutan. Nenek Masitha berharap Bryan lebih berani untuk memperjuangkan cintanya.
"Semuanya sudah terlambat Nek, Arumi akan menikah dengan pria lain yang jelas bibit,bebet dan bobotnya," jelasnya dengan wajah memelasnya.
"Kalau aku jadi Kamu, aku tidak akan menyerah sebelum janur kuning melengkung di depan rumahnya Tante Hermita," timpal Dion.
"Mantul banget tuh Mas, aku juga tidak akan mengalah dengan keadaan, apa lagi kan belum ada kata Sah di antara mereka juga," ucap Maya.
Alif dan Emaknya hanya duduk terdiam dan menjadi pendengar setia saja tanpa ada niat untuk ikut berbincang-bincang dengan mereka.
"Jadi cowok harus jentel men, jangan baru gitu sudah loyo," Maya tersenyum licik ke arah Bryan.
Dion dan Maya sengaja memojokkan Bryan agar dirinya bangkit dan berjuang untuk memperjuangkan cintanya. Lagian Arumi juga masih sangat mencintainya, walaupun ada rasa kecewa yang membuatnya memilih untuk menerima perjodohannya.
"Baiklah Aku akan berusaha untuk mencobanya, kalau pun nantinya Arumi tidak ingin berjuang bersamaku,maka aku akan memutuskan akan hidup seorang diri sampai akhir hayatku."
"Ngenes amat Bang nasibnya," ujar Maya.
"Kalau Aku tidak akan pesimis dan memutuskan untuk itu sih bang sebelum mencobanya," jelas Dion.
"Berusaha, berikhtiar dan perbanyak berdoalah kepada Allah, agar semua yang Kamu rencanakan bisa berjalan sesuai dengan yang Kamu harapkan."
"Belum mencoba sudah ingin menyerah, seharusnya pantang mundur, sekali ditolak yah coba lagi sampai diterima," ujarnya Maya.
Nenek Masitha lalu memukul pelan lengannya Bryan. Maya dan Dion tersenyum mendengar keputusan yang diambil oleh Bryan Regan Adams.
"Nenek kapan kita berangkat untuk bertemu Delisa?" rengek Alif.
"Oohh cicitnya nenek sudah ingin berangkat rupanya, maafkan nenek yang hampir melupakan janjinya nenek sama Alif."
__ADS_1
Nenek Masitha tersenyum lembut ke arah cicitnya. Nenek Masitha sebenarnya masih ingin berbicara tentang kebenaran siapa Alif, tapi dua urungkan niatnya itu. Nenek Masitha menunggu waktu yang tepat saja. Beliau ingin masalah tentang pemulihan nama baiknya Ahmed suaminya terlebih dahulu. Lagian Nurmala tidak mungkin kabur membawa Alif pergi dari mereka.
"Baiklah Nenek akan bawa Alif bertemu dengan dedek Delisha, kalau sama Dennis apa Alif tidak ingin bertemu dengannya?" Tanya Neneknya.
Alif spontan berteriak lalu berkata," Alif juga pengen bertemu dengan Adek Dennis, mereka kan adiknya Alif, iya kan Emak?" Tanya Alif ke Emaknya.
Ibu Nurmala hanya tersenyum menanggapi perkataannya Alif.
"Kalau gitu kita berangkat ke Rumahnya Nenek," ucap neneknya lalu memegang tangan kecilnya Alif lalu berjalan bergandengan tangan bersama cicitnya itu.
"Nenek sangat yakin Kamu cicit pertamanya Nenek."
Mereka sudah berjalan ke arah Parkiran mobil apartemen mewah itu. Mereka masing-masing sudah duduk di kursinya.
"Nenek kalau Alif panggil Tuan Muda Martin dengan sebutan Daddy apa kira-kira Tuan Martin tidak marah sama Alif?" Tanya Alif dengan wajah polosnya.
Sedari dulu Alif ingin memanggil seseorang sebutan Ayah atau bapak untuk seorang Laki-laki, tapi Alif tidak berani dan tidak tahu sama siapa. Kalau sama Dion kan dipanggil Ancel.
Alif merasa sedih jika dirinya dicap sama teman sekolahnya tidak punya bapak. Bahkan banyak yang sering mengolok-olok dan membulynya dengan anak ha ram. Tapi, bukan Alif namanya jika dia tidak membalas ucapan mereka dengan lebih parah lagi. Bahkan Alif pernah berkelahi dengan temannya gara-gara hal seperti itu.
Ke dua bola matanya Nenek Masitha berkaca-kaca, begitu terharu dan terenyuh hatinya mendengar perkataan dari cucunya Alif.
"Insya Allah Daddy Martin pasti bahagia, senang dan tidak akan marah jik Alif nanti panggil Daddy sama tuan muda," terangnya.
"Nenek serius?? Nenek tidak bohong kan?" Tanya Alif yang penuh harap.
"Iya Nenek serius dan Nenek sangat yakin jika Daddy kamu akan bahagia jika Alif panggil Daddy," jelasnya.
"Mulai hari ini Alif akan panggil Daddy tuan Martin dan Nona Muda Amairah dengan panggilan Mommy, hore Alif sangat bahagia," Alif bahkan saking bahagianya hingga melompat-lompat kegirangan di Atas tempat duduknya.
Hanya pantatnya saja yang bergerak karena tidak mungkin tubuh yang cukup tinggi itu berdiri di atas mobil, apa lagi untuk melompat.
Ibu Nurmala mendengar dengan seksama pembicaraan putranya dengan Nyonya besar di bagian kursi depan. Beliau hanya tersenyum melihat kebahagiaan putranya.
"Jika Kamu bahagia, Emak pun sangat bahagia melihat kamu senang."
Emaknya Alif sesekali melihat dan memperhatikan interaksi ke duanya melalui kaca spion mobil yang dia kendarai.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mereka sudah tiba di kediaman Nenek Masitha.
"Alhamdulillah sampai juga, Alif jalan duluan saja, Nenek ingin bertemu dengan tukang kebun Bapak Rizal,Kamu duluan saja masuk, tunggu nenek di dalam saja," terang Nenek Masitha.
"Baik Nek, tapi nenek jangan lama-lama, Alif takut," ujar Alif yang sedari tadi mengikuti langkah kaki Nenek Masitha hingga ke depan kebunnya.
"Alif tidak perlu takut kok, kan ada emak juga, ada banyak orang di dalam rumah, Alif tidak sendirian kok," ucap Nenek Masitha yang membujuk Alif.
__ADS_1
"Alif sama Emak saja yah Nak,Emak akan temani Alif sampai nenek balik dari Kebun," Ibu Nurmala berusaha untuk merayu putranya.
Alif jika menginginkan sesuatu kadang butuh rayuan maut dengan berbagai cara agar bisa menerima alasan yang diberikan kepadanya.
"Alif tidak mau!! Alif mau ikut sama Nenek," bentak Alif yang bersikeras ikut bersama Neneknya.
Nenek Masitha pun membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dengan tubuhnya Alif. Nenek Masitha hanya terkejut melihat reaksi Alif yang sangat berbeda dengan cucunya Axel.
"Sayang, cucunya Nenek, gak baik bentak Emak apa Alif tidak kasihan lihat emak kalau dibentak seperti itu,apa Alif ingin ada juga orang yang bentak Alif?"
"Tidak apa apa kok Mbak, emang gitu Alif kalau menginginkan sesuatu tapi tidak dipenuhi kadang emosinya langsung meledak-ledak begitu saja, untung kalau Alif tidak menghancurkan barang-barang yang ada di hadapannya," jelas Emaknya Alif.
Ibu Nurmala yakin jika sifat tempramen dan gampang emosinya itu gara-gara kecelakaan maut itu yang mereka alami dan berbagai penyiksaan yang dialami oleh Alif sebelum berhasil dia selamatkan.
"Ya Allah apa yang terjadi kepadamu cucuku, kenapa Axel cucuku yang dulu dengan yang sekarang sangat berbeda."
Air mata Neneknya berlinangan membasahi wajahnya yang sudah banyak keriputnya.
Jangan Lupa untuk Mampir ke Novelku yg judulnya:
Sang Penakluk
Bertahan Dalam Penantian
Tidak Ada Jodoh Yang Tertukar
Tetap dukung Cinta Yang Tulus dengan cara:
Like Setiap Episodenya 👍
Favoritkan ♥️
Gift Poin atau Koin Seikhlasnya 🎁
Rate Bintang 5 ⭐⭐⭐⭐
Vote nya juga masih ada 💚
********Bersambung*******
by Fania Mikaila Azzahrah
__ADS_1
Takalar, SulSel, Sabtu 18 Juni 2022