
Selamat Membaca..
Sedangkan di dalam Resto, Abi masih berlutut seperti sebelumnya. Rasa lelah, capek pasti sudah sangat dia rasakan. Tetapi, demi menerima dan mendengar langsung dari mulutnya Delisha. Jika dia dimaafkan dia sama sekali tidak peduli dengan kesakitan yang dia rasakan.
"Ya Allah aku mohon bukalah pintu maafnya Delisha untukku, dan sadarkan lah dia jika aku sangat mencintainya dan siap menjadi imam dalam hidupnya serta mendampinginya dalam keadaan apa pun itu."
Delisha melaksanakan shalat wajib dan sunnahnya dengan sepenuh hati dan khusyu. Tak lupa meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kegundahan dan kegelisahan hatinya.
Dia tidak memungkiri, jika di dalam hatinya sudah terukir namanya Abimanyu. Tapi ketakutannya turut andil dalam memilih jalan yang terbaik untuk masa depannya.
Disaat sujud terakhirnya tadi, wajah Lee terbayang, seakan-akan putranya berbicara padanya, "Mami Lee sangat bahagia punya Papi, Lee tidak sedih lagi."
Hingga detik ini ucapan anaknya terngiang-ngiang di telinganya. Delisha menghabiskan waktunya di dalam Mushola selama berjam-jam. Dia kesana sekitar jam setengah empat dan keluar setelah ba'da isya.
"Bismillahirrahmanirrahim," ucapnya sambil melangkah ke arah luar Mushola.
Delisha berjalan ke arah Restoran yang tadi siang mereka tempati lunch. Suasana dalam Mall semakin ramai. Dia berjalan dengan langkah yang kecil, tapi tanpa sengaja telinganya menangkap suara seseorang yang berbicara tentang Abimanyu yang masih berlutut hingga detik ini.
"Itu tidak mungkin Abang bisa bertahan untuk terus berlutut dari jam 3 sore dan sekarang hampir jam delapan," dengan senyum simpulnya.
Langkahnya semakin dekat ke Resto dan entah kenapa Delisha penasaran ingin melihat apakah yang dikatakan orang-orang benar adanya atau hanya kabar angin semata saja.
Langkah kakinya langsung terhenti saat melihat kalau Abimanyu masih berada di tempat semula dengan berlutut.
"Terbuat dari apa hatimu Abang? orang-orang sudah mengambil gambarmu hingga mereka saling berbisik-bisik, tapi sedikit pun tidak membuatmu goyah sedikitpun."
Delisha mengambil posisi tempat duduk yang sedikit menjauh dari sana. Dia berniat mengamati langsung sampai sejauh mana pria yang melamarnya dan papi kandung putranya bertahan untuk memperjuangkan dirinya.
Delisha memanggil pelayan dan memesan beberapa makanan dan minuman untuk menemani dirinya. Delisha duduk begitu elegan dengan sesekali mencicipi makanannya.
Delisha melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul kurang 15 menit jam 9. Pengunjung Mall pun sudah mulai berkurang.
Bodyguardnya memberikan kode kepada Abi jika Delisha tidak jauh dari tempatnya sedang menikmati beberapa dessert khas di Restoran tersebut. Delisha sudah menguap dan mengantuk. Dia kembali melihat ke arah jamnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tetapi Abi hanya tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Bagi Abi berlutut seperti ini sudah biasa, apalagi tadi asisten pribadinya Nathan datang dan memaksanya untuk memakai alat khusus di lututnya agar tidak lecet dan terluka.
Awalnya Abi menentang keputusan dari Nathan, tapi karena Nathan terus memaksa dengan berat hati Abi terpaksa memakainya. Tanpa alat itu pun Abi bisa bertahan lebih lama lagi karena sudah terbiasa dari dulu saat dirinya tinggal di tempatnya berlatih taekwondo.
Nathan segera membukim Restoran tersebut dari jam 9 hingga jam yang tidak ditentukan. Pemilik Restoran malahan bersyukur karena mendapatkan pemasukan tapi tanpa mengeluarkan modal yang berarti dan banyak.
Tulisan di pintu masuk sudah terpasang closed sedangkan Delisha menurutnya belum bisa menerima pengorbanan yang dilakukan oleh Abi.
"Apa aku harus mengujinya lagi yah?" Tanyanya dengan seulas senyumannya yang manis membuat Abang Abi meleleh.
Delisha sudah menghabiskan seluruh makanan dan minumannya. Dia pun berdiri lalu berjalan ke arah Abimanyu yang berlutut.
"Stop tes pertamanya Abang lulus dan masih ada lagi tes kedua yang Adek mohon untuk Abang penuhi permintaanku," ujarnya sembari membantu Abi berdiri.
Abi hanya tersenyum menanggapi perkataan dari Delisha, baginya apa pun persyaratannya yang penting Delisha menerima lamarannya.
"Sampai tes keberapa pun Abang akan jabanin walaupun harus menukarkan nyawanya Abang."
Delisha dibuat tersipu malu dengan perkataannya Abimanyu.
Awalnya Abi sangat sumringah bahagia karena berfikir dia sudah lulus dari persyaratan yang diajukan oleh Delisha sebagai calon suaminya itu, tapi mendengar penjelasan Delisha membuatnya bertanya-tanya.
"Jarak dari rumahnya dengan di Mall ini kan lebih jauh dibandingkan dengan alamat rumahnya serta apartemennya."
Delisha menatap ke arah Abi dengan penuh maksud yang terselubung.
"Tes kedua adalah Abang harus jalan kaki dari sini hingga rumahnya Abang yang ada di jalan XX," jelas Delisha.
Huk… Huk.. Huk..
Bunyi batuk dari seseorang yang ternyata sedari tadi bersembunyi akhirnya ketahuan juga. Delisha segera berjalan ke arah orang yang terbatuk dengan mengulurkan sebotol minuman air putih.
"Makasih banyak," tutur Nathan tanpa memperhatikan wajah dari orang yang telah menolongnya.
__ADS_1
Delisha tertawa terbahak-bahak melihat Nathan yang wajahnya sudah memerah melebihi dari warna buah ceri. Nathan semakin shock saat dia melihat Delisha yang telah memberikan botol air itu.
"Ketahuan," cicitnya.
Delisha heran mendengar perkataan dari Nathan sembari bertanya, "ketahuan maksudnya?"
"Hehehe ketahuan sembunyi di sini," jawab Nathan yang menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu sambil tersenyum cengengesan.
Delisha memutar tubuhnya lalu menghadap ke arah Abimanyu yang ikut tertawa melihat Nathan yang kepergok.
"Abang apa sanggup dengan persyaratan keduanya adek?" Tanyanya dengan menatap tajam ke arah Abi.
"Abang siap, andai bulan dan bintang bisa aku petik pasti Abang akan bawakan bulan dan bintang ke dalam pangkuannya adek tanpa menunggu waktu lama."
"Kalau gitu tidak perlu menunggu lama lagi, let's go, ucapnya lalu berjalan ke arah Nathan yang masih salah tingkah.
"Tolong jangan biarkan video atau gambar Abang tersebar semakin luas, aku tidak ingin mendengar ada kata gagal."
"Mereka sama saja, tidak ada bedanya pantas saja jodoh," cicitnya yang masih mampu didengar oleh Delisha.
Delisha kembali berjalan ke arah Nathan sedangkan Nathan refleks ngacir. Dia tidak ingin mendapatkan omelan dari calon istri CEOnya.
Abi berjalan memenuhi permintaan dari Delisha untuk memenuhi salah satu persyaratan yang diajukan oleh Delisha agar mereka melangkah ke jenjang pernikahan yang sudah ditunggu-tunggu oleh Abimanyu Adinata Kim.
"Abang akan buktikan apa pun itu yang penting kamu yakin cintaku besar dan tulus hanya untukmu seorang gadis kecilku."
Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus
jangan Lupa untuk mampir ke Novelku yg baru judulnya:
Dilema Diantara Dua Pilihan
Pesona Gadis Nelayan
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Makassar, Minggu, 17 Juli 2022