
Delisha masih mengalungkan tangannya ke leher Abimanyu. Mereka masih saling beradu pandang. Hingga beberapa orang yang berada di dalam ruangan tersebut, mengundurkan diri tanpa pamit. Mereka memberikan waktu yang lebih untuk keduanya untuk saling meresapi dan mendalami apa yang terjadi di dalam hati mereka.
Lee menarik tangan dari Mama Amairah serta yang lainnya dan tak lupa memberikan kode kepada semuanya untuk pergi dari sana.
Lee awalnya menutup kedua matanya setelah menyadari bahwa Mami dan calon Papinya sedikit bermesraan di mata mereka.
"Apa kita jadi berangkat jalan-jalannya?" Sembari tersenyum kearah Delisha yang masih terdiam tanpa berkedip sedikit pun.
Abimanyu yang melihat Delisha tidak ada reaksi dikitpun berinisiatif menciumi pipi Delisha sepintas.
Abimanyu memajukan wajahnya dan segera mencium sekilas pipi Delisha yang bagian kiri.
Delisha baru tersadar dari lamunannya. Sedari tadi sibuk berselancar di dunia lamunannya hingga bibir dingin menyentuh pipinya barulah kembali tersadar.
"Aaaaaaaahhhhh!!!"
Kedua matanya melotot hingga membulat sempurna sedangkan mulutnya terbuka lebar saking terkejutnya dengan perlakuan dari Abimanyu.
Abimanyu meletakkan telunjuknya ke atas bibirnya Delisha. Bukannya terdiam malahan Delisha menggigit jarinya Abimanyu.
Abi segera menarik tangannya dari dalam mulutnya Delisha. Wajahnya memerah saking perihnya jarinya bekas gigitan giginya Delisha.
Delisha melihat jemarinya Abi yang merah dan sedikit ada darah yang keluar dari jari itu. Dia pun menarik tangannya Abi lalu menghisap jemarinya untuk mencegah aliran darah yang semakin banyak.
Nampak raut wajah penyesalan dari wajahnya Delisha atas tingkah refleks Delisha tadi.
Abi malahan tersenyum melihat wajah khawatir dan ketakutan yang terpancar dari wajahnya Delisha.
"Sudah, enggak apa-apa kok tidak sakit juga," tuturnya agar Abi berhenti menghisap telunjuknya Abi.
Delisha berhenti melakukan hal tersebut sesuai perintah dari Abi.
"Maaf yah Abang, aku tidak sengaja," ujar Delisha dengan sangat menyesal atas reaksi refleksnya.
Semenjak kejadian beberapa tahun lalu yang disebabkan oleh Abimanyu juga, Delisha sering bereaksi tak terkendali. Mungkin trauma yang dia rasakan membuatnya kadang kala melakukan tindakan yang membuat dirinya dalam keadaan bahaya.
"Stop!!! Abang tidak apa-apa kok, ini hanya luka yang sangat kecil, jadi jangan khawatir, aku tidak akan mati jika hanya luka seperti ini," jelasnya lalu menarik tubuhnya Delisha ke dalam pelukannya.
"Maaf Delisha tidak sengaja, Delisha pikir Abang akan menyakiti Delisha," terangnya dengan membalas pelukan dari Abimanyu dengan buliran air matanya yang sudah membasahi pipinya.
"Abang tidak merasa disakiti, jadi stop yah dan Abang tidak ingin melihat Delisha menangis lagi, mulai detik ini Abang akan marah jika Delisha menangis," sembari menghapus air matanya Delisha yang mengalir membasahi pipinya.
Delisha menganggukkan kepalanya dan setuju dengan permintaan dari Abi tersebut.
"Sudah nangisnya, ayo sana mandi, apa Kamu lupa kalau kita akan pergi bersama Lee?' tanyanya yang memberikan senyuman yang hangat untuk Delisha.
"Makasih Abang, aku mandi dulu kalau gitu, Abang nunggunya di bawah saja, gak enak sama yang lain kalau kita berduaan di dalam kamar," jelasnya lalu berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Abimanyu pun berjalan ke arah luar dan tidak lupa menutup rapat pintu kamarnya Delisha calon istrinya.
Abimanyu tersenyum mengingat apa yang terjadi barusan bersama dengan Ibu dari anaknya.
"Mungkin sebaiknya aku jujur sama dia kalau sudah nikah, aku takut jika dia tahu lebih duluan takutnya dia akan trauma dan menolak pernikahan kami."
Dia perlahan berjalan menuruni undakan tangga dengan senyuman yang tidak pernah pudar. Orang-orang yang melihatnya ikut bahagia.
"Semoga senyumannya itu selalu terpatri di wajahnya dan membuat putriku bisa bahagia dan melupakan kesedihannya yang telah terjadi padanya selama ini."
Amairah menatap ke arah calon menantunya. Dia sangat berharap jika Abi mampu membuat bahagia putri semata wayangnya.
"Bagaimana dengan Delisha Nak?" Tanyanya saat Abi sudah duduk di sampingnya.
Dia tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari calon mami mertuanya,"Alhamdulillah Delisha sudah mandi moms, mungkin sebentar lagi juga turun."
"Baru saja dibicarakan orangnya sudah muncul juga tuh," timpal Dennis yang ikut duduk di tengah-tengah mereka sembari menunjuk ke arah Delisha.
Abi langsung mengalihkan perhatiannya ke arah tangga sesuai intrupsi dari Dennis. Abi pangling melihat wajah dan penampilan Delisha seperti anak remaja saja.
"Cantik," cicitnya.
Perkataannya didengar langsung oleh Dennis dan Axel yang kebetulan berada di sampingnya.
"Mami!!" Teriak Lee yang berlarian ke arah Delisha yang berjalan ke arah mereka duduk.
"Bagaimana apa Lee sudah siap berangkat?" Tanyanya yang memeluk puteranya.
Abi pun pamit kepada mereka yang berada di dalam ruangan itu.
"Abi minta ijin untuk membawa Lee jalan-jalan Moms," ujarnya dengan sedikit malu-malu.
"Kok cuma Lee, berarti adik gue loh gak ajak dong kalau gitu?" Teriaknya Dennis yang sengaja mengeraskan suaranya hingga terkesan seperti orang yang berteriak.
Dennis senang jika menggoda calon iparnya dengan candaan. Abi yang diperlakukan seperti itu tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"Jadi aku tidak diajak ternyata hanya Lee yang diajak," ucapnya yang pura-pura sedih dengan menimpali perkataan dari kakak kembarnya.
"Kalau maminya Lee gak ikut pasti gak lengkap," balasnya.
Mereka tertawa mendengar jawaban dari Abimanyu. Delisha pun pamit kepada Mommynya serta kepada yang lainnya.
Mereka berjalan ke arah luar seperti layaknya keluarga kecil. Lee berada di tengah-tengah mereka dan diapit oleh kedua orang tuanya.
"Lee mau ke mana sayang?" Tanyanya saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Delisha memilih duduk di kursi belakang, sedangkan di bagian jok depan adalah Lee. Delisha ingin melihat putranya merasa bahagia dan hubungan mereka semakin dekat. Sudah hampir 9 tahun lamanya Lee hidup tanpa kasih dari seorang Ayah.
__ADS_1
Delisha berharap Abi bisa menggantikan posisi papi kandungnya Lee walaupun hanya sekedar Papi sambung saja.
"Ya Allah makasih banyak, engkau telah memberikan setitik dan secercah harapan dan kebahagiaan untuk putraku, aku sangat berharap Abang bisa menjadi Papi yang baik dan penuh tanggung jawab."
Mobil mereka sudah meninggalkan halaman rumahnya Martin dan melaju dengan kecepatan sedang. Mobil mereka sudah bergabung dengan pengendara mobil lainnya.
Aku mau nikahnya sama kamu
ku tak mau bila selain kamu
ku bahagia bersamamu sampai tua
ditemani lucunya anak kita
Aku tak punya alasan
Untuk tak merindukan dirimu
Aku pun tak punya hati
untuk menduakan cintamu
sungguh aku sangat bersyukur di pertemukan denganmu
oh bidadari yang selalu menyejukkan hati
di matamu ku melihat masa depanku
melihat jutaan kebahagiaan di setiap senyummu
kutatap lekat matamu dekat
kugenggam kedua tanganmu dengan begitu erat
Ku mencintaimu Di saat lapang atau berat mengisi hari-harimu dengan cinta yang hangat jika nanti aku yang pergi
Aku ingin pergi di pelukanmu
Aku mau nikahnya sama kamu
Aku tak mau bila selain kamu
ku bahagia bersamamu sampai tua
ditemani lucunya anak kita
...Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus....
__ADS_1
...by Fania Mikaila Azzahrah...
...Makassar, Jumat, 15 Juli 2022...