
Selamat Membaca..
"Bersiaplah Liora, Aku akan datang."
Dia tersenyum sangat tipis sehingga senyuman itu tak nampak di mata orang yang berpapasan dengannya.
Para Karyawannya melihat kedatangan orang nomor satu di Perusahaan. Mereka langsung menyingkir dari jalan dan segera menundukkan kepalanya jika mereka berpapasan.
Jika mereka tidak bersikap seperti itu, mereka akan dipecat tanpa terhormat.
Aura di sekitar Perusahaan menjadi seram sesaat kedatangan Dennis. Karena sifat seperti itu lah, dia berhasil menjalankan Perusahaan di usianya yang masih sangat muda.
Dalam kesehariannya hanya bekerja dan bekerja yang ada di dalam pikirannya. Hingga waktu untuk hangout bareng bersama teman sejawatnya tidak sama sekali.
Baginya bersantai di masa muda akan membuatnya menyesal di masa tua. Selama ada waktu, dia tidak akan menyia-nyiakan peluang tersebut.
Berkumpul bareng biasa saja dengan temannya, Dia enggan melakukannya, waktunya sudah tersita dengan usaha untuk memajukan Perusahaan keluarganya. Apa lagi untuk merasakan yang namanya pacaran dan jatuh cinta.
Baginya jatuh cinta itu tidak boleh ada dalam kamus hidupnya yang nantinya akan membuatnya hancur dan terpuruk dalam kesedihan dan kesengsaraan.
Rapat segera dimulai sejak Dennis sudah duduk di kursi kebesarannya. Delisha yang melihat kedatangan kakaknya, menatap jengah karena sudah dibuat menunggu hingga hampir dua jam.
Semua dewan direksi dan jajaran pemegang saham tertinggi tidak dapat berkutik. Walaupun mereka sangat tidak setuju dan ingin protes dengan sikap arogansi kekuasaan yang dimiliki oleh Dennis. Mereka tidak bisa berbuat apa, mereka hanya mampu marah dalam diamnya.
"Jadi hari ini meeting kita Saya tutup dengan ucapan, Saya bangga dengan kinerja kalian selama setahun ini, dan bonus untuk kalian yang sudah berjasa dan bekerja sangat gigih akan masuk kedalam rekening kalian."
Pernyataan dari CEO mereka membuat beberapa orang di antara mereka memancarkan kebahagiaan. Mereka saling berpandangan dengan senyuman yang menghiasi wajah mereka.
Dennis kembali berdiri dari duduknya padahal baru sekitar satu jam dia mendudukkan bokongnya.
Itulah kelebihan dari yang dimiliki oleh Dennis. Dia tidak akan segan untuk memberikan bonus tambahan yang lumayan banyak kepada karyawannya yang sudah berdedikasi tinggi untuk memajukan Perusahaannya.
Itu salah satu alasannya, mengapa banyak orang yang berlomba-lomba untuk masuk bekerja dan bergabung dengan Perusahaan yang dipimpin oleh Dennis. Tetapi, jangan sekali-kali mengecewakannya, jika hal itu terjadi bersiaplah untuk akhir dari karier bahkan hidupmu.
Dennis menatap ke arah luar jendela yang terbuat dari kaca tebal itu. Dia menatap ke arah seluruh penjuru Kota terbesar ke dua yang ada di Amerika Serikat.
"Tunggulah pembalasanku akan tiba, Delisha mereka akan merasakan sesuatu yang lebih dari yang kamu rasakan dulu, hingga air mata enggan untuk mengalir membasahi pipinya."
__ADS_1
Dia berdiri sambil menyandarkan sebagian tubuh tinggi tegapnya yang atletis itu di pinggiran meja kerjanya.
Tangannya terlipat saling bertumpu satu sama lain. Arah pandangannya jauh ke tempat yang tak terhingga jaraknya.
Hingga kediamannya terusik oleh dering handphonenya, yang bergetar di atas meja. Dia segera mengakhiri pikirannya yang sudah melanglang buana hingga ke masa enam tahun lalu.
"Hemm."
"Kami sudah mengirim semua data-data tentang gadis itu hingga tanpa terkecuali yang Bos inginkan," jelasnya dibalik telponnya.
Telpon itu berasal dari pengawal, sekaligus anak buah bayangannya yang selalu setia dan sigap jika dia membutuhkan mereka.
"Oke."
Seperti biasa, dia akan mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak tanpa basa-basi sedikit pun.
Dia kembali duduk di kursi kebesarannya, lalu menghidupkan layar laptopnya yang bersimbol sepotong apel yang digigit.
Wajahnya langsung sumringah melihat layar laptopnya.
"Aku harus segera menjalankan rencana ku, agar dia segera tahu bagaimana rasa terpuruk dan hancur dalam waktu yang bersamaan."
Senyuman lebar dan paling manis dipersembahkan oleh Delisha untuk kakaknya saat pintu sudah terbuka dan tampaklah wajah Kakak kembarnya.
Senyuman itu tidak kalah hangat yang diberikan oleh Dennis untuk adiknya. Seperti itulah, sikapnya yang akan berubah hangat dan humble, jika berada di sekeliling keluarga intinya saja atau pun orang terdekatnya.
"Kakak mau pergi!" tanyanya saat melihat di dalam genggaman tangannya kunci mobil.
"Aku ada sedikit urusan yang harus Aku selesaikan," jawabnya.
"Jadi kapan kita akan berangkat ke Inggris Kak?" tanyanya lagi.
"Bagaimana kalau Kamu duluan saja Dek, Kakak belum bisa berangkat besok," balasnya.
Mereka berjalan beriringan sambil berbincang-bincang santai.
"Kok bisa gitu sih Kak? kan Kakak sudah janji," ucapnya yang sedikit kecewa dengan keputusan kakaknya yang mendadak itu.
__ADS_1
Denis mengehentikan langkahnya, lalu memutar sedikit tubuhnya ke arah depan adik bungsunya.
Dia memegang ke dua pundak adiknya lalu tersenyum sebelum menjawab pertanyaan adiknya.
"Del, Kakak minta maaf untuk kali ini, Kakak tidak bisa memenuhi janji Kakak, tapi Kakak pasti akan menyusul Kamu ke London, UK," ujarnya lalu memeluk erat tubuh adik bungsu sekaligus satu-satunya.
Apa yang mereka lakukan tidak seorang pun yang berani mencuri dengar atau pun menguping hingga melihat dengan terang, jika ada yang kedapatan dan ketahuan dengan apa yang mereka lakukan pasti akan mendapatkan kartu hitam peringatan sebelum dipecat secara tidak terhormat.
"Tapi, tidak sekarang, insya Allah Kakak akan segera menyusulmu, jadi tidak perlu khawatir."
"Tapi, janji harus tidak boleh dirubah lagi," yang tangannya balas memeluk tubuh adiknya.
Dennis melerai pelukannya, lalu meninggalkan adiknya yang terpaku di tempatnya. Delisha belum pulang ke rumahnya karena masih ada beberapa pekerjaan yang ingin dia selesaikan sebelum kembali ke Tanah Air.
Dennis masuk ke dalam salah satu Mall terbesar yang ada di Kota. Dia berjalan ke arah Toko pakaian untuk mencari pakaian yang paling sederhana dan murah untuk dia pakai.
Dia bercermin sesaat setelah mengganti pakaiannya.
"Sempurna."
Dia segera membayar beberapa potong pakaian yang telah dipakainya. Dia membuang stelan jas pakaian kerjanya ke tong sampah.
Dia kembali melangkahkan kakinya setelah berhasil membayar biaya semua pakaian yang membungkus seluruh tubuhnya. Dia berbaur dengan pengunjung Mall lainnya. Hingga dia melihat seorang gadis yang duduk seorang diri menikmati makanannya serta minumannya.
Dennis tersenyum penuh arti melihat perempuan itu. Dia terus melangkah hingga tepat di belakang punggung gadis itu. Tangan kanannya meraih gelas yang kebetulan masih ada di atas meja yang ada di belakang gadis itu.
Dia berjalan seakan-akan kakinya tersandung hingga gelas yang berisi minuman yang berwarna merah itu hampir terlepas dari tangannya. Seluruh Isinya tumpah mengenai pakaian gadis yang duduk di sampingnya.
Gadis itu refleks bereaksi setelah air berwarna itu mendarat bebas di atas pakaiannya tepat di bagian dadanya.
Amarahnya membuncah, matanya memerah, hidungnya kempas kempis menahan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya dan bersiap memaki orang tersebut, tapi bibirnya langsung tertutup rapat dan lidahnya keluh saat melihat siapa orang yang berada hadapannya.
Amarahnya sekejap mata menghilang terbawa angin, hanya melihat senyuman dari wajahnya Dennis.
Dennis semakin tersenyum saat melihat reaksi dari cewek yang cukup cantik yang berdiri mematung di depannya.
Gadis itu mematung terdiam seribu bahasa, tapi getaran dan debaran jantungnya memompa dengan cepat.
__ADS_1
by Fania Mikaila Azzahrah
Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu, 02 Juli 2022