
Selamat Membaca..
Pranggggg….
"Itu tidak mungkin!! Mas pasti bohong kan?" Teriaknya yang berlari segera ke Martin tanpa perduli dengan kakinya yang tidak sengaja menginjak pecahan beling itu dari cangkir dan piring yang berhamburan di atas lantai.
Amairah sama sekali tidak memperdulikan itu semua, dan terus berjalan ke arah suaminya berada. Martin terkejut saat menyadari kehadiran istrinya di dalam ruangannya. Dia pun segera mematikan sambungan teleponnya, lalu mendekat ke arah istrinya.
"Sayang, apa yang terjadi padamu? Tolong tenanglah," tanyanya yang sangat khawatir melihat keadaan istrinya yang nampak tegang itu.
"Aku yakin seharusnya bertanya sama Mas, apa yang terjadi pada putraku Dennis?" Tanyanya yang balik bertanya pada Martin.
Martin kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari istrinya tercinta. Dia tidak tahu harus memulai dari mana menjawab. Disisi lain, dia khawatir jika anaknya menghadapi bahaya. Martin segera meraih tubuh istrinya lalu memeluknya dengan erat. Martin mengelus lembut punggung istrinya agar sedikit tenang.
"Mas!! Tolong jujur padaku, apa yang terjadi dengan putraku, katakan Mas?" Tanya Amairah yang melepaskan pelukannya lalu menggoyang tubuhnya Martin untuk segera membuka mulutnya untuk berbicara jujur.
"Dennis putra kita…" perkataanya terputus saat perlahan tubuhnya Amairah ambruk di dalam pelukannya.
"Amairah!!!!" Teriaknya sambil meraih tubuh istrinya yang pingsan itu ke dalam pelukannya.
"Sadarlah sayang!! Maafkan Mas yang tidak mampu menjaga anak-anak kita dengan baik," ratapnya yang menangis tersedu-sedu melihat tubuh Amairah yang sudah tidak sadarkan diri.
Nenek Masitha yang kebetulan melewati ruangan itu terkejut mendengar teriakannya Martin. Dia pun bergegas masuk ke dalam dan ingin melihat apa yang telah terjadi. Dia dibuat shock melihat banyaknya bekas darah segar, yang berada di lantai yang berbentuk telapak kaki itu. Dia langsung menutup mulutnya, saat melihat cucunya Martin yang memangku istrinya yang sudah tidak sadarkan diri lagi, sedangkan kakinya Amairah menetes darah yang cukup banyak.
"Mbak Marni!!! Teriaknya yang begitu keras dan menggema di seluruh kediaman Lee.
Semua orang yang mendengar teriakannya tersebut segera berlari ke sumber suara. Mereka berdatangan ke arah ruangan pribadi itu, dan dibuat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Marni cepat ambil kotak p3k!!" Teriaknya lagi yang sudah jongkok untuk membantu Martin membersihkan lukanya Amairah.
Apa yang terjadi dengan istrimu Martin?" tanyanya yang ingin mengetahui penyebab kejadian itu.
__ADS_1
Martin yang ditanya malahan hanya terdiam saja dengan tangisannya yang tidak berhenti. Dia tiba-tiba tidak bisa berbicara sepatah kata pun, lidahnya tiba-tiba keluh seketika. Para maid dan Mbak Wati segera membersihkan ceceran darah dan pecahan beling itu yang tercecer memenuhi ruangan tersebut. Salah satu dari mereka segera menghubungi Aisyah di kamarnya.
"Mbak Aisyah!! Mbak Aisyah!!" Teriaknya sambil mengetuk pintu kamar itu yang tertutup rapat.
Aisyah yang mematikan hpnya sedari semalam gara-gara Nathan yang selalu mendiamkannya sehingga dia memutuskan untuk menon aktifkan hpnya seharian itu lalu dia mengistirahatkan tubuhnya agar tidak kelelahan. Dia segera mengambil hijab instannya lalu memakainya segera.
"Ada apa, kenapa mesti teriak-teriak?" Tanyanya saat pintu sudah terbuka lebar.
"Nyonya Muda pingsan dan kakinya terluka Mbak," jawabnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
Aisyah segera berlari dan meninggalkan maid tersebut tanpa berbicara lagi. Wajahnya nampak sangat panik, dia sudah ketakutan jika terjadi sesuatu kepada Amairah. Sesampainya di dalam ruangan itu, dia melihat Amairah yang sudah dibaringkan di atas ranjang king size-nya yang kebetulan ada di dalam ruangan itu.
"Apa yang terjadi padanya Nek?" Tanyanya dengan memeriksa kedua telapak kakinya Amairah.
Nenek Masitha hanya mengarahkan pandangannya ke arah Martin tanpa menjawab sedikit pun. Aisyah mengarahkan pandangannya sesuai dengan arah pandangan Nenek Masitha.
"Apa yang terjadi dengan Nyonya Muda, Tuan?" Tanyanya sembari memeriksa kakinya Amairah yang sudah dibalut dengan perban itu.
Aisyah yang mendengar seruan dari Martin segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah luar. Dia memperhatikan raut wajahnya Martin yang sangat serius dan dia sudah bisa mengambil kesimpulan jika keadaan mereka sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah genting yang telah menimpa anggota keluarganya. Baru beberapa detik dia duduk, hpnya Aisyah berdering nyaring.
Aisyah tanpa banyak pikir dan basa basi dia segera mengangkat teleponnya dari Bryan," Halo, ada apa? Itu tidak mungkin, pasti ada kekeliruan dari informasi itu?" Tanyanya yang tidak percaya dengan perkataan dari Bryan.
"Dari tadi, kami terus berusaha untuk menghubungi nomor hp mu tapi, selalu tidak aktif," ujar Bryan yang sedikit jengah dengan sikapnya Aisyah setelah menikah.
"Jadi, kamu sekarang ada di mana, dan tuan Muda Dennis di mana?" Tanyanya yang sudah nampak tegang itu.
"Saya, Axel dan yang lainnya terus mengikuti jejak dari sinyal hpnya Dennis, mereka menuju ke arah barat laut, sepertinya menuju hutan," ucapnya yang melihat ke arah peta dan kompas yang ada di hpnya sesuai dengan sinyal sos yang dikirimkan oleh Dennis.
"Aku akan segera menyusul kalian, dan segera hubungi Tuan Mark agar mengirimkan anak buahnya untuk membantu kita, sepertinya pertarungan kali ini kita sama sekali tidak boleh menganggap remeh mereka lagi," terangnya yang menerawang kemampuan dan kemajuan yang dimiliki oleh Nurman beberapa tahun belakangan ini.
"Atur strategi dengan baik, dan kerahkan semua anggota tim terbaik yang ada dan tunggu aba-aba selanjutnya dariku," jelasnya lalu mematikan sambungan teleponnya dengan sepihak.
__ADS_1
"Apa aku ikut denganmu?" Tanya Martin saat melihat Aisyah yang akan meninggalkan tempat itu.
Aisyah menolehkan kepalanya ke arah Martin," tidak perlu, Tuan hanya perlu menjaga keamanan Amairah dan yang lainnya yang ada di sini, dan tolong segera hubungi Pak Heri dan Dion untuk membantu Tuan di sini dan satu lagi hubungi pihak kepolisian dan katakan kepadanya sesuai dengan yang terjadi," terangnya lalu berjalan meninggalkan Martin yang berdiri terpaku di tempatnya.
Nenek Masitha segera menelpon nomor hp dokter pribadinya untuk segera memeriksa keadaan dari Amairah. Sedangkan Dennis yang berusaha untuk mengulur waktu, taktiknya ketahuan oleh mereka.
"Jangan harap kamu bisa melakukannya, dan hp ini harus kami buang," ucapnya sambil menggeledah tubuhnya Dennis yang ingin mengambil hpnya lalu membuangnya di atas aspal panas siang hari itu.
Dennis berusaha untuk melakukan perlawanan tapi hal itu percuma saja, karena tangannya yang terborgol dengan mulutnya yang disumbat.
"Jangan harap keluargamu bisa datang menolongmu," ucapnya lagi.
Beberapa saat kemudian mobil mereka berhenti di depan pagar yang cukup tinggi dan sangat kokoh itu. Pintu terbuka secara otomatis setelah si bos mereka menempelkan wajahnya di depan komputer kecil yang terletak di sekitar pagar. Liora yang sudah berusaha untuk mencari jalan keluar dari sana, tanpa sengaja telinganya mendengar suara seseorang yang sangat dikenalinya.
"Sepertinya itu suaranya Abang Dennis, kenapa bisa ada di sini?" Ia segera berjalan ke arah pintu dan memeriksa dengan seksama melalui lubang pintu yang sangat kecil itu. Hingga dia melihat tubuh pria yang sangat dicintainya itu digiring oleh anak buah kakeknya ke dalam ruangan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya.
"Silahkan beristirahat di dalam sana, sepertinya tubuhmu butuh waktu untuk istirahat," ucap Si Botak.
"Dan jangan harap untuk bisa lolos dari sini," sahut yang satunya lagi lalu mendorong Dennis sekuat tenaganya hingga tubuh Dennis terjerembab ke lantai.
Buuukkkkk….
Pintu itu tertutup rapat dengan cukup keras. Dennis tidak ingin membuang waktu dan tenaganya hanya untuk meminta tolong untuk mereka merasa iba dan bersimpati padanya karena hal itu hanya akan berakhir dengan sia-sia saja.
...Makasih banyak atas dukungannya terhadap Cinta Yang Tulus, jangan lupa untuk mampir juga ke novel terbaruku dengan judul:...
...1. Pesona Perawan...
...2. Dilema diantara dua pilihan...
...by Fania Mikaila Azzahrah...
__ADS_1
...Makassar, Jumat, 29 Juli 2022...